Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
Bonchap 2-2


__ADS_3

Karena suaminya masih sibuk mengurus foto pre wedding dari client-nya, Ruby dan Almeer harus pulang sendiri. Almeer tidak pergi mengaji sore tadi. Sebagai gantinya, usai salat Maghrib, Ruby mengajari putranya mengaji.


Hingga jam makan malam, Ruby belum mendapati tanda-tanda suaminya datang. Padahal ia sudah tahu jika suaminya akan pulang malam, karena Hiko beberapa kali meneleponnya jika pria tersebut ada kesempatan.


Sekitar pukul sepuluh malam, di antara suara musik cafe, Ruby mendengar deru mobil Hiko yang berhenti di depan rumah. Perlahan ia meninggalkan Almeer yang sudah terlelap dan pergi menyambut kedatangan suaminya.


"Assalamu'alaikum," salam Hiko ketika masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam, Mas." Ruby mencium punggung tangan suaminya dan mendapat balas kecupan di kening.


"Maaf, ya. Ku tinggal sampai selarut ini," ucap Hiko.


Ruby mengangguk dan tersenyum. "Kemanapun kamu pergi, jika masih aku sebagai tempatmu untuk pulang, aku tidak mempermasalahkannya, Mas."


Hiko terkekeh, ia mencubit gemas pipi Ruby kemudian merangkulnya dan mengajak masuk ke dalam.


"Aku mandi dulu ya, By."


"Mau aku siapkan air hangat, Mas?" tanya Ruby.


Hiko menggeleng. "Aku pakai air dingin saja."


Mereka berdua pergi ke lantai dua. Hiko masuk ke dalam kamar mandi dan Ruby ke kamar untuk menyiapkan baju ganti suaminya. Setelah itu ia kembali ke bawah untuk menyiapkan makan malam suaminya.


Usai mandi dan berganti pakaian, Hiko pergi ke dapur untuk makan malam. Ruby menemani suaminya sambil berbincang tentang apa yang sudah dijalaninya hari ini. Sampai selesai makan, Hiko dan Ruby melanjutkan percakapan mereka di kamar.


"Ooh iya, Mas. Aku baru inget." Sambil menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur, Ruby teringat sesuatu. "Ternyata di sekolah Al banyak banget ya fans kamu," cetusnya.


Hiko merebahkan tubuhnya di kasur. "Walau aku sudah pensiun dari dunia entertain, fans aku masih tetap banyak, By." Ia memindahkan kepalanya ke pangkuan Ruby. "Cemburu?" goda Hiko.


"Cuma bilang gitu doang dikata cemburu." Ruby mencubit perut Hiko. "Nyebelin, ih."


"Kan nggemesin kalau lagi cemburu." Hiko menusuk pipi Ruby dengan jari telunjuk, bergantian kanan dan kiri sampai istrinya itu gemas dan menggigit jarinya. "Sakit, By."


"Biarin! Ngeselin, sih."


"Kalau jutek gini makin gemes loh, aku."


"Aku tinggal, nih?" ancam Ruby seraya menegakkan badannya.

__ADS_1


"Jangan doong." Hiko memeluk erat pinggang Ruby dan membenamkan wajahnya di perut istrinya tersebut. "Di bumi bagian mana lagi aku bisa mendapatkan Tabina Ruby Azzahra yang lain?"


"Nggak usah nggombal, deh."


Hiko menatap istrinya dan tersenyum jahil. "Kalaupun aku menemui nama yang sama, aku tidak akan mendapatkan yang sepertimu," ujarnya dengan mencubit gemas hidung Ruby. "Jika bisa kulakukan, setiap napas kuingin bersyukur padaNya yang sudah mengirimkan wanita sesempurna kamu pada pendosa sepertiku, By."


"Aku juga seorang pendosa, Mas," sahut Ruby. "Masih teringat jelas bagaimana Allah mengambilmu dariku. Itu karena niatku menikah denganmu hanya sebatas untuk menutupi aibku."


Hiko menarik badannya dan duduk. "Bukan kesalahanmu, By. Aku penyebabnya."


"Kita, Mas," ralat Ruby, "masing-masing dari kita menjadi penyebabnya."


Hiko tersenyum dan menangkup pipi istrinya kemudian memberikan kecupan di kening tersebut. Cukup lama sebelum akhirnya ia lepaskan.


"Jika tidak ada kesalahan itu, aku tidak akan belajar dan mendapatkan banyak hal, By," ujarnya. "Kepergianmu membuatku jatuh, terpuruk,menangisi takdirku, menganggap semua itu tak adil dan membenci diriku sendiri. Sampai di suatu hari, Allah menjawab semuanya, By. Dia memberiku air mata, air mata kebahagiaan ketika kamu kembali menjadi istriku."


Ruby tersenyum mendengar penuturan suaminya. Rasa haru memupuk batinnya hingga membuat matanya berkaca-kaca. Ia memeluk suaminya erat-erat. "Aku mencintaimu, Mas. Sungguh sangat mencintaimu," bisiknya lirih.


Hiko membalas pelukan istrinya lebih erat namun tetap memberikan kenyamanan. "Aku berharap cintaku padamu lebih besar dari cintamu padaku, By. Aku tidak mau kalah mengenai itu."


Ruby mengangguk dan tertawa kecil. Ia melepaskan pelukannya, menatap wajah suaminya lekat-lekat kemudian memberikan kecupan singkat di sana.


"Kita sholat sunah dua rakaat dulu, By."


Bergantian mereka mengambil wudhu dan melaksanakan salat sunah dua rakaat. Tak sampai sepuluh menit mereka menyelesaikannya. Usai merapikan perlengkapan salat, Hiko mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur yang temaram.


Ruby sudah melepaskan hijab yang dikenakannya. Rambut panjangnya dibiarkannya tergerai dan ia menunggu suaminya yang masih mengunci pintu kamar. Pria itu sedang memastikan tak ada orang lain yang akan masuk ke kamarnya sembarangan.


Hiko segera menghampiri istrinya, yang dalam temaram pun masih terlihat jelas pancaran kecantikannya. Dikecupnya kening wanita tersebut, lembut dan penuh kasih sayang seraya mengucapkan doa. Perlahan ciuman itu turun, mengecup kedua pipi Ruby secara bergantian dan berakhir di bibir mungil itu.


"Papaaaa!"


Suara Almeer dan bunyi ganggang pintu yang mencoba dibuka beberapa kali membuat Hiko harus kembali menahan hasratnya.


"Iya, Sayang ...," jawabnya dengan mencari banyak kesabaran. Ia menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.


"Mau bobok sama Mama Ruby," sahut Almeer dari luar.


Hiko mengangkat kepalanya, menatap Ruby dan ganti menatap miliknya kemudian mengiba. "Kapan waktunya?" bisiknya.

__ADS_1


"Sabar dulu, Mas." Ruby terkekeh kecil sambil turun dari tempat tidur kemudian membukakan pintu kamar untuk Almeer.


"Kok lama, sih?" tanya Almeer seraya masuk dan naik ke tempat tidur.


"Kenapa nggak bobok sendiri di kamar kamu sih, Al?" tanya Hiko kesal.


Almeer merebahkan badannya tepat di tengah tempat tidur. "Mau sama Mama Ruby."


Hiko menghela napas berat. "Harus honeymoon, nih!" gumamnya seraya berbaring.


Ruby masih terkekeh tanpa suara. Ia kasihan melihat suaminya, tapi tak bisa dipungkiri jika sikap pria itu sangat menggemaskan di saat seperti ini.


...๐ŸŒธBersambung๐ŸŒธ...


...Jangan lupa apa, gaiz?...


...๐Ÿ‘ Tekan LIKE dulu....


...โœ๏ธ Tulis KOMENTAR juga....


...๐Ÿ… Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....


...Terima kasih....


๐Ÿ˜Ž: Thor! Katanya si Bonchap dimasukin buku? Kok malah masuk sini.


๐Ÿฅบ: Nganu ... gini loh ... trus gitu ... lah, trus kesitu ... paham?


๐Ÿ˜Ž: Ngomong yang jelas, Thor. Mau dikirim santet?


๐Ÿฅบ: Panjang ceritanya tuh.


๐Ÿ˜Ž: Trus kapan cetaknya?


๐Ÿฅบ: Kata Mbak Admin NT sih dalam waktu dekat ini kontrak kerjasamanya sama penerbit turun. Ntar kalo udah cetak belilah ya. Biar aku kaya, duitnya mo kubuat umroh. Aku tuh pengen sholat di depan ka'bah. Aamiinin yok. Semoga aku dan kalian yang baca tulisan ini bisa diberi kesempatan sholat di depan ka'bah. Aamiin.


๐Ÿ˜Ž: Aamiin ya Allah.


๐Ÿฅบ: Dah, bubar bubar. Tokonya mo tutup. Besok buka lagi jam tiga sore.

__ADS_1


๐Ÿ™„: Loh, Thor. Itu kapan Ruby jalan keg pinguin? Di cut mulu.


๐Ÿฅบ: Ntar, nunggu kucing bertelor sapi.


__ADS_2