Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
116


__ADS_3

Usai mengantar Almeer, Hiko pergi ke jalan Malioboro. Bukan karena ada pemotretan disana, hanya sedang ingin jalan-jalan saja, siapa tahu Allah membuatnya bertemu dengan seseorang disana. Jalanan Malioboro belum terlalu ramai pagi ini bahkan tergolong sepi.


Ia duduk di salah satu bangku yang ada di trotoar jalan, mengambil foto apapun disana yang bisa di foto. Tiba-tiba saja bidikan kemeranya terhenti di seorang sosok yang duduk berjarak sekitar lima bangku di depannya.


Senyum melebar di bibir Hiko, beberapa kali ia mengambil gambar wanita cantik berkerudung kuning itu. Puas dengan kameranya, ia menatap wanita itu dari kejauhan. Ia hanya ingin menatapnya tanpa menghampirinya. Jika Allah mengijinkan mereka bertemu, maka Ruby pasti akan menyadari keberadaannya.


Ruby hanya tertunduk dan sibuk membuat sketsa di tablet-nya. Sesekali ia meneguk sebuah air mineral yang ada di sampingnya.


Lama ia menunduk, ia merasa mulai ramai. Ia mendongakkan kepalanya, beberapa bangku didepannya yang tadinya kosong kini sudah hampir terpenuhi orang. Tapi, tatapan matanya terhenti di sesosok pria yang sedang menatapnya dengan senyuman, jauh didepannya sana.


Ruby mengembangkan senyumnya, tertawa kecil tersipu malu, ia menunduk sebentar kemudian menatap pria itu lagi.


"Dari tadi?" tanya Ruby tanpa suara.


Pria itu mengangguk.


Ruby kembali tersenyum, ia memasukkan tablet dan air mineralnya ke dalam tas kemudian berdiri.


Disisi lain Hiko juga berdiri, Allah telah memberinya kesempatan hari ini untuk bertemu Ruby. Ia beranjak menghampiri Ruby yang juga sedang menghampirinya.


"Assalamu'alaikum, Ruby." Sapa Hiko.


"Wa'alaikumsalam, mas Hiko." Jawab Ruby


Keduanya saling menatap dan tersenyum malu-malu mendengar cara mereka memanggil satu sama lain.


"Mas gak ada kerjaan nih?" tanya Ruby.


Hiko menggeleng, "Gak ada, aku pengangguran."


"Pengangguran banyak uang ya, Mas." Goda Ruby.


"Aku gak sekaya dulu, By."


"Yang penting ada penghasilan kan? Buat hidup dan buat sedekah." Ruby tersenyum menatap Hiko


Hiko tertawa kecil, "Iya, Alhamdullillah. Kamu kenapa disini pagi-pagi begini? gak kerja?"


"Kerja, Kok. Aku kerja bisa dimana aja mas, filenya ada disini." Ruby menepuk tas yang menggantung di bahu kirinya.


Hiko mengangguk, "Tas ranselmu kemana? udah gak pake tas ransel nih sekarang?"


Ruby tertawa kecil dan menunduk.


"Mau jalan-jalan?" tanya Hiko.


"Boleh. Mau kesana atau kesana?" Ruby menunjuk kebelakang punggung Hiko dan kebelakangnya.


"Kesana aja." Hiko menunjuk kebelakang Ruby.


Keduanya pun berjalan berdampingan, kali ini hanya berdampingan tanpa bisa bergandengan.


"Dimana studio animasimu, By?" tanya Hiko memulai percakapan mereka.


"Tidak jauh dari tempat tinggalmu, Mas. Makanya aku dan teman-teman sering makan mampir ke cafemu, dan aku tidak tahu kalau kamu pemiliknya."


"Ada untungnya kamu gak tahu itu cafe punyaku, By."


"Memangnya kenapa?"


"Bisa-bisa kamu meminta gratisan terus."


"Ihh ..." Ruby melayangkan tangannya ingin mencubit Hiko, namun dengan cepat ia menahannya.


Hiko terkekeh kecil melihat tingkah Ruby, Ruby sendiri tertunduk malu.


"Sudah lama perut dan tanganku gak ada memar biru, soalnya yang biasa menganiayaku pergi jauh. Dan baru ketemu lagi udah mau menganiayaku."


"Kamu masih aja nyebelin, Mas. Udah punya anak satu juga, masih aja jahil." kata Ruby.


"Emang paling enak jahilin kamu." Jawab Hiko, Ia sedari tadi sudah gemas ingin mencubit pipi Ruby yang sedang kesal.


"Kan bisa jahilin orang lain, Mas. Mas Genta misalnya."


"Udah bosen, gak enak godain cowok."


"Lah, kan kamu bisa jahilin cewek-cewek yang antri antri di cafe kamu itu. Cantik-cantik, kan?"


"Buat apa jahilin yang belum halal, jatuhnya dosa."


"Nah, itu sadar. Kenapa masih aja jahilin aku?"


"Kan kamu--"


"Aku juga termasuk yang belum halal bagimu, Mas." Pangkas Ruby.

__ADS_1


Hiko terdiam, namun kakinya tetap melangkah seirama dengan Ruby. Ia menatap Ruby yang juga menatapnya.


"Aku mau halalin kamu lagi, By." Kata Hiko kemudian.


Ruby tersenyum kemudian menatap kembali ke depan tak memberikan jawaban.


"Aku akan menemui Abi dan Ummi, By."


"Aku belum memberimu jawaban. Mas."


"Apa kamu menolak lamaranku?"


Ruby menghentikan langkahnya dan sedikit menepi, Hiko mengikutinya.


Hiko menatap jari-jari Ruby memastikan tidak ada cincin terselip disana, "Apa kamu sedang berhubungan dengan orang lain?"


Ruby menggeleng, "Masih banyak yang harus ku kerjakan dalam kesendirianku, Mas." Jawab Ruby.


"Berapa lama aku harus menunggumu?" tanya Hiko.


"Jangan menungguku, Mas." Ia menatap Hiko sejenak kemudian mengedarkan pandangannya kemanapun, asal bukan wajah Hiko.


"Apa kamu sudah tidak memiliki perasaan padaku, By?"


Ruby tak menjawab, ia melangkahkan kakinya kembali.


"Apa kata-kataku waktu itu sangat melukaimu?" tanya Hiko


"Tidak bisakah kita hanya berteman seperti ini, Mas?"


Pertanyaan Ruby membuat langkah Hiko terhenti. "Apa karena Almeer?" tanya Hiko.


Ruby menghentikan langkahnya dan menatap Hiko, "Aku sangat menyayangi Almeer."


"Lalu?"


Ruby tersenyum, "Aku cukup memilikimu dalam do'aku, Mas. Aku tidak akan berharap lebih. Padamu atau siapapun."


"By ..."


"Aku masih Ruby yang keras kepala, Mas." Pangkas Ruby. "Jika kita bertemu lagi, aku harap kita akan membahas hal lain." Lanjut Ruby.


"Aku akan mengantarmu, By."


Ruby tersenyum, "Terimakasih, Mas. Tapi aku akan kembali sendiri."


"Assalamu'alaikum," Ucap Ruby.


"Wa'alaikumsalam," Jawab Hiko.


Ruby mulai beranjak menjauh dan Hiko hanya memandang punggung wanita yang dicintainya itu semakin menjauh. Ia sudah terlalu percaya diri selama ini. Ruby memang tidak menikah lagi, tapi ia juga tak pernah mengatakan untuk kembali lagi padanya.


Hiko berlari mengejar Ruby yang sudah hampir menghilang di antara pejalan kaki, melewati beberapa orang yang sedang santai menikmati uniknya Malioboro.


"By!"


Ruby terkejut mendapati Hiko berdiri didepannya dengan nafas yang sedikit tersenggal-senggal.


"Mas? kenapa?" tanya Ruby.


Hiko mengajak Ruby untuk menepi, Ruby pun mengikutinya.


"By, tolong maafkan aku." Ucap Hiko.


"Apa yang harus ku maafkan, Mas?"


"Aku terlalu banyak menyakitimu, tapi aku tidak akan menyerah, By. Aku ingin mendapatkanmu dan cintamu lagi."


"Kamu masih memiliki cintaku, Mas. Masih ..."


"Jika memang kamu masih mencintaiku, kenapa kamu tidak mengizinkanku menghalalkanmu?"


Ruby menggeleng.


"Aku akan berjuang mendapatkanmu, By."


Ruby kembali menggeleng, "Situasinya berbeda, Mas. Saat ini lebih sulit untuk kita bersama."


Hiko mengernyitkan keningnya.


Ruby memberikan senyum pengganti lukanya, "Sampai ketemu lain waktu, Mas. Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikumsalam ...."


Kali ini Hiko tak berani mengejar Ruby lagi, ia membiarkan wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


Apa yang membuat mereka sulit bersama? pertanyaan besar yang harus segera Hiko temukan jawabannya.


*********


Pertemuannya dengan Hiko membuat Ruby dengan terpaksa kembali ke kantornya. Niatnya keluar untuk mencari ide baru hanya sia-sia. Dia kembali dengan tangan kosong.


Bangunan tiga lantai dengan desain unik dan bertuliskan Yuru Yuru Studio adalah kantor Ruby, Studi animasi kecil-kecilan yang didirikan oleh Abriz dan Ruby sepulang mereka dari Jepang. Tidak perlu bingung dan sudah bisa ditebak siapa yang memberi nama studio animasi mereka, tentu adalah Abriz. Manusia aneh dan alay tapi punya otak sangat cemerlang juga setiap hari bermandikan uang.


Dalam Studio animasi itu masih memiliki sekitar lima puluh karyawan, termasuk Abriz dan Ruby. Abriz dan Ruby memiliki hak 50:50 di studio animasi ini. Tapi Ruby memilih menjabat sebagai penanggung jawab animator. Sedangkan Abriz, Jabatan tertulisnya adalah Directur Utama tapi pada kenyataannya dia adalah pekerja serabutan. Jadi tukang parkir iya, OB iya, tukang ketik iya, sekretaris iya, teknisi iya, apapun dia lakukan sesuka hatinya. Entah karena ahli diberbagai bidang atau memang otaknya kacau.


"Masih jam segini kok udah balik, By?" tanya Abriz ketika melihat Ruby baru masuk ke loby kantor, ia berjalan mengikuti langkah Ruby.


"Mau nyapu jalan raya lagi?" tanya Ruby melihat sapu di tangan Abriz.


"Udah barusan." Jawab Abriz, "Kamu kenapa udah balik?"


"Gak dapat inspirasi, Mas." Kata Abriz.


"Masih kepikiran mantan suami?"


"Emang kapan aku gak pernah mikirin dia." Sahut Ruby.


"Iya sih, sampai-sampai aku nyerah gitu aja. Hmm, gak dikasih kesempatan nih aku?" Goda Abriz.


"Udah, Mas. Nikah aja kamu sama kucing di gang sebelah situ." Balas Ruby.


"Tega banget." Keluh Abriz, "Kamu habis ketemu dia?" tebak Abriz.


Ruby mengangguk, "Iya, Mas."


Abriz mengangguk-anggukkan kepalanya, "Gak nyangka ya. Delapan bulan lo disini, kita sering ngopi ngopi santai di cafe yang ternyata milik dia dan kalian baru ketemu baru-baru ini. Unik banget emang takdir itu."


Percakapan mereka terhenti di depan sebuah pintu ruangan milik Ruby.


"Apa sebaiknya aku kembali ke Malang saja, Mas?" tanya Ruby.


"Enak aja! Trus kamu suruh aku ngurus ini sendirian?" Protes Abriz.


"Aku bisa bantu dari jauh."


"Gak gak, aku gak setuju. Kan kamu sendiri yang pilih Jogja buat kantor kita."


Ruby menghela nafas.


"Kalo emang kamu mau ngehindari dia, ya udah bilang aja sama dia kalo kalian gak bisa balikan lagi. Aku bisa pura-pura jadi suami kamu, biar dia gak deket-deket kamu lagi."


Ruby hanya melirik malas. "Saran kamu gak mutu banget sih, Mas."


Abriz tersenyum lebar, "Aku kan masih usaha deketin kamu, By. Kali aja bisa kaya di novel-novel itu. Pura-pura jadi suami, tiba tiba nikah beneran." Abriz mengangkat kedua alisnya beberapa kali.


"Udahlah, Mas. Aku mau kerja aja!" Ruby masuk ke dalam ruangannya.


Belum ia duduk di kursi kebanggaannya, ponselnya sudah bergetar. Nama Umminya muncul di layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Ummi." Sapa Ruby.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Ummi cuma mau mengingatkan, jangan lupa besok pagi ikut pengajian di pesantren Kyai Daud, ya. In shaa Allah Habibie juga akan hadir disana."


Ruby menghela nafas panjang, "Ummi ...,"


"Ruby, temui dia sebentar dan kenali dia dulu. Dia pria yang baik, Nak. Cobalah mengenalnya." Desak Nyai Hannah. "Besok sehabis subuh Aisyah akan menjemputmu untuk mengikuti pengajian di pesantrennya."


"Iya, Ummi." Jawab Ruby singkat.


"Kali ini, tolong ikuti kemauan Ummi. Abi dan Ummi tidak mau kamu salah memilih lagi, Nak."


"Iya, Ummi."


"Ya sudah, kamu baik-baik ya, Nak. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Ummi."


Ruby meletakkan sambungan teleponnya diatas meja kemudian merogoh sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan jam tangan milik brand ternama yang menjadi mahar pernikahannya dari Hiko.


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, vote dan bintang limanya ya kakak.


Terimakasih.


__ADS_2