Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
122


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu dari hari yang paling menyakitkan untuk Hiko dan keluarganya. Berlalu bukan berarti sembuh, terutama untuk Hiko dan Almeer. Bahkan anak sekecil itu sampai sakit sangking terlalu inginnya Ruby menjadi mamanya namun ia tidak bisa mendapatkannya.


Empat hari Almeer tergeletak lemas diatas brankar rumah sakit, dan Alhamdullillah hari ini ia sudah bisa menempati tempat tidur di kamarnya sendiri. Berulang kali ia merengek meminta bertemu Ruby, berulang kali pula Hiko menolaknya. Ia bisa saja mencari Ruby, tapi ia tidak mau menjual kesedihan pada wanita itu. Ia harus memaksa putranya untuk lebih kuat lagi, dan belajar untuk tidak berharap lagi pada seorang Tabina Ruby Azzahra.


"Nak ..., kita bicara sebentar." Pinta Maria pada Hiko setelah melihat Almeer tidur terlelap.


Hiko mengangguk, ia mengikuti Maria yang keluar lebih dulu. Mereka duduk di ruang tengah, Handoko sudah duduk disana bersama Genta.


"Apa apa, Pa, Ma?" tanya Hiko.


Melihat wajah-wajah serius itu, Genta sadar diri dan ia pergi meninggalkan ruang tengah.


Hiko duduk dihadapan Handoko dan Maria, bersiap mendengar permintaan kedua orang tuanya.


"Buka hatimu untuk orang lain, Nak. Putramu butuh seorang ibu." Ujar Handoko.


Persis seuai dengan dugaan Hiko.


"Terimalah salah satu wanita yang dipilihkan ustadz Arsy untukmu. Jika dia patuh pada Allah, agama dan orangtuanya, In Shaa Allah dia akan menyayangi Almeer seperti ia menyayangi darah dagingnya sendiri." Lanjut Handoko.


"Almeer butuh sosok seorang ibu, Nak." Tambah Maria.


"Hiko butuh waktu, Ma." Jawab Hiko. "Biarkan Hiko menyembuhkan luka ini."


"Sampai kapan?" tanya Handoko, "Kesendirianmu hanya akan membuatmu menggali kenangan-kenangan dengannya, membuatmu terus nyaman dan enggan membuka hati untuk orang lain."


"Hiko butuh waktu, Pa." Hiko mempertegas ucapannya. "Tidak mudah untuk Hiko menerima kehadiran wanita lain. Berapa tahun Hiko tinggal bersama Nara, tapi sedikitpun Hiko tidak bisa membuka hati untuknya."


"Karena kamu masih menyimpan harapan jika Ruby akan kembali padamu." Jawab Handoko.


"Saat ini sudah berbeda, Nak. Ruby sudah memutuskan untuk bersama pria lain." Tambah Maria.


Hiko diam, memang benar apa yang dikatakan kedua orangtuanya. Saat ini berbeda, tidak ada yang sedang ia harapkan tapi ia ragu bisa membuka pintu hatinya untuk wanita lain. Ia takut jika ia menerima seseorang untuk mendampinginya, ia tak bisa mencintainya dan malah membuat wanita itu terluka. Memikirkan itu membuat Hiko menghela nafas panjang, mencoba untuk menata hatinya.


**********


Waktu berlalu begitu lambat bagi Hiko. Walau ia lebih menyibukkan diri untuk membunuh perasaanya, mengalihkan pikirannya, tapi tetap saja terasa sangat lambat, sangat. Sudah hampir sebulan Hiko tak pergi keluar rumah, bahkan untuk menjemput Almeer. Ia lebih senang duduk di studionya, menatap semua foto-foto Ruby yang ada di dinding.


Seperti siang ini, ketika ia tak memiliki janji dengan siapapun ia menghabiskan waktu duduk diatas sofa, memandangi gambar seorang wanita berhijab yang sangat nyaman dipandang mata. Bukan untuk menyumpahi ataupun mengumpati foto itu, dia hanya terus menggali cintanya pada wanita itu. Ia biarkan semakin dalam semakin dalam dan berharap menemukan keputusasaan disana.


"Ko! Gue gak bisa jemput Al hari ini!"


Genta datang membungkukkan badannya, menahan sakit diperutnya.


"Kenapa, Lo?" tanya Hiko.


"Gue makan makaroni panggang level delapan tadi pagi, sekarang perut gue sakit. Lo jemput Al sendiri aja!" Genta barlari ke arah belakang.


Hiko terpaksa berdiri dari kenyamanannya dan menghampiri meja resepsionisnya.


"Lan, nanti kalo pak Jimmi datang suruh tunggu ya. Aku mau jemput Almeer dulu." pesan Hiko pada gadis berambut pendek yang sedang duduk dibelakang meja resepsionis.


"Siap, Mas."


"Thanks, ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Mas."


Hiko pun beranjak pergi ke sekolah Almeer. Beruntung ia datang tepat waktu, tak sampai Almeer harus menunggu terlalu lama.


"Papa!!" Almeer berlari keluar gerbang ketika melihat Hiko baru keluar mobil.


"Hati-hati, Al!" Teriak Hiko.


Bruk!!


Almer terjatuh ditengah trotoar. Hiko berlari menghampiri Almer, namun seorang wanita berhijab syar'i datang lebih dan membantu Almeer berdiri. Ia mengusap lutut Almeer yang kotor dan sedikit tergores.


"Terimakasih sudah membantu putra saya." Ucap Hiko.


Wanita itu menatap Hiko yang juga ikut berjongkok membantu Almeer. Wanita itu hanya tersenyum, merapatkan kedua tangannnya didepan dada. Lalu ia memegang pipi Almeer sejenak kemudian pergi tanpa sepatah katapun.


"Tantenya baik." Ujar Almeer.

__ADS_1


Hiko hanya tersenyum. "Kamu hati-hati donk, Al." Kata Hiko.


"Habisnya seneng banget Papa jemput aku."


Hiko kengusap kepala Almeer dan mengajak Almeer masuk ke dalam mobil.


"Pa! Kata bu Guru besok harus bawa crayon yang besar, soalnya crayonku di rumah kan kan udah banyak yang pendek. Boleh kalau kita beli?" tanya Almeer sebelum Hiko menyalakan mesin mobil.


"Ya udah, kita mampir ke toko ATK dulu ya beli crayon buat Almeer besok."


"Horeeeee!!"


Hiko pun menyalakan mobilnya dan menuju ke salah satu pusat perbelanjaan di Jogja. Tujuan utama mereka ya toko ATK, tidak yang lain. Hiko dan Almeer agak tergesa-gesa, karena waktu Adzan Dhuhur beberapa saat lagi akan berkumandang dan Almeer selalu ingin sholatnya tepat waktu.


Hiko antri didepan kasir, untuk membayar crayoon dan beberapa mainan yang sempat Almeer ambil. Ia mengedarkan pandangannya kebeberapa sudut tempat hingga pandangannya terhenti di sebuah cafe yang ada di seberang toko ATK.


Ia melihat wanita cantik berkerudung hitam sedang duduk dicafe itu dengan ibunya dan juga seorang laki-laki yang ia kenali. Itu Ruby, Nyai Hannah dan juga, Habibie.


Mereka telihat sedang membicarakan sesuatu yang serius, sesekali ia melihat Ruby tersenyum sangat lembut. Ternyata sangat menyakitkan ketika melihat Ruby tersenyum begitu lembut pada pria lain tapi Hiko sudah harus belajar mengikhlaskannya.


"Pah, Ayo!"


Almeer menarik tangan Hiko ketika orang yang antri didepannya sudah pergi.


"Papa lihat apa sih?" tanya Almeer penasaran.


"Enggak apa-apa, sayang."


Hiko memangkas pandangan Almeer dengan badannya. Ia meletakkan barang belanjaannya diatas meja kasir.


"Dua ratus tiga belas ribu, Pak." Ucap kasir setelah men-scan semua barkode di barang-barang belanjaan Hiko.


Hiko mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada kasir. Tak lama ia mendapatkan uang kembalian dan barang belanjaannya. Hiko segera mengajak Almeer pergi dengan cepat, ia tak mau Almeer bertemu dengan Ruby dan kembali bersedih. Semua sudah lebih baik sekarang, Almeer sudah lebih jarang menyebut nama Ruby.


Adzan Dzuhur berkumandang ketika Hiko dan Almeer hampir sampai rumah. Sebab itu Hiko menghentikan mobilnya di lahan parkir masjid dan langsung melaksanakan sholat dzuhur disana.


Usai sholat ia bertemu dengan Ustadz Arsy yang sudah lama tak ia temui karena Ustadz Arsy dan keluarganya sedang melaksanakan ibadah haji, ia melepas rindu sedikit bercakap-cakap dan menceritakan apa yang telah terjadi dengannya.


Sedangkan Almeer sedang bermain dibawah pohon rindang yang ada di halaman masjid bersama beberapa anak seumurannya yang tinggal disekitar masjid.


Hiko dan ustadz Arsy yang sedang bercakap-cakap sampai menghentikan percakapannya melihat Almeer menghampiri wanita itu. Rupanya dia wanita yang sudah membantu Almeer saat terjatuh tadi.


Almeer terlihat mengucapkan terimakasih dan bercakap dengan wanita itu, tapi wanita itu berbicara dengan Almeer menggunakan bahasa isyarat.


"Namanya Husna, diamuslimah yang baik tapi ia mempunyai kekurangan, dia seorang tunawicara." Ustadz Arsy menjawab pertanyaan yang ada di benak Hiko.


Hiko menatap Ustadz Arsy dan mengangguk kemudian menatap Almeer yang sedang membalas Husna dengan bahasa isyarat yang alakadarnya untuk mengucapkan terimakasih. Tingkah polos Almeer mengundang senyum lebar di bibir Husna.


Almeer melambaikan tangan pada Husna kemudian lanjut bermain dengan teman-temannya sambil menunggu Hiko selesai bercakap-cakap dengan Ustadz Arsy. Husna pun melanjutkan langkahnya keluar dari halaman masjid.


***********


Almeer sudah memakai baju tidurnya, lampu kamar sudah gelap dan Hiko sudah berada disamping putranya untuk menemaninya sebelum Almeer terlelap.


"Pah!" Panggil Almeer.


"Ya?"


"Papah inget gak tante yang nolongin Al waktu jatuh didepan sekolah tadi?"


Hiko mengangguk.


"Tadi Al ketemu lagi di masjid, tapi ternyata tantenya gak bisa bicara, Pa." Ujar Almeer.


"Karena Allah menciptakan manusia tak ada yang sempurna, sayang." Kata Hiko.


"Seperti Almeer yang gak punya Mama ya, Pa?"


Hiko terdiam menatap putranya yang sedang tertidur memeluk dadanya.


"Al masih mau Mama Ruby bisa jadi Mamanya Al, tapi kalau Allah gak kabulin Al gak akan marah sama Allah. Yang penting Al bisa punya Mama yang sayang sama Al, sayang sama Papa, sayang sama Opa dan Oma." Kata Almeer.


Hiko hanya tersenyum, tak bisa menjawab permintaan Almeer. Mungkin permintaan Almeer adalah jawaban dari pertanyaannya selama ini. Kapan ia bisa melnjutkan langkah kehidupannya. Karena saat ini hidupnya bukan untuk diri sendiri, tapi untuk Almeer juga.

__ADS_1


Hiko mengusap kepala Almeer hingga anak kecil itu terlelap. Setelah memastikan putranya terlelap, Hiko meninggalkan kamar Almeer dan pergi ke meja kerjanya di lantai bawah.


Seperti biasa, di jam seperti ini Genta selalu bermain PES di ruang tengah sambil memaki-maki para pemain bolanya.


Hiko terdiam lama di meja kerjanya, tangannya mengambil beberapa lembar CV ta'aruf yang datang padanya dan membacanya satu per satu. Masih sama, tak ada yang menarik hatinya disana.


"Ta!"


"Hmm ..." Jawab Genta tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar TV Hiko yang lebar itu.


"Gue mau nyariin Almeer mama."


"Hah!!" Genta langsung menatap Hiko dengan wajah terkejutnya. "Serius, lo?"


Hiko menggeleng, "Gue ragu. Tapi sampai kapan gue egois gini. Almeer butuh figur seorang ibu." Kata Hiko.


"Lo udah nyerah sama Ruby? Dia kan masih ta'aruf, Ko."


Hiko hanya terdiam, ia membuka laptopnya dan mengetik sesuatu disana. Genta yang penasaran segera melihat layar laptop Hiko.


"Lo serius, Ko!" Pekik Genta ketika melihat Hiko mengetik sebuah CV ta'aruf-nya.


"Ko ..."


"Gue nyerah, Ta!" Sentak Hiko, Ia menatap Genta. "Gue gak mau ngorbanin perasaan anak gue. Ruby udah bisa nerima pria lain, tapi gue masih stay disini sama perasaan ini."


"Darimana lo tau Ruby udah bisa terima cowok lain?" tanya Genta.


"Tadi siang gue lihat dia, umminya dan cowok yang bakal jadi calon suami dia. Dia bisa senyum sama tuh cowok, ati gue ancur, Ta. Gue gak ikhlas lihat dia senyum selembut itu ke cowok lain." Ujar Hiko.


Genta hanya diam, sebenarnya ia sangat mengharapkan Hiko dan Ruby bisa rujuk. Tapi apalah arti dia dalam kehidupan ini, pemilik cerita ini hanya Tuhan sedangkan ia hanya seongok daging yang bernyawa. Genta memilih pergi, mematikan TV dan kembali ke kamarnya.


Hiko menatap kosong layar laptopnya. Ia enggan ingin melanjutkan niatnya atau tetap mendalami perasaannya pada Ruby hingga benar-benar Hilang dengan sendirinya dan ia siap Menerim hati yang lain.


Ya Allah, aku mencintai salah satu dari hambamu. Dia adalah definisi kebaikanMu yang sangat nyata. Jika memang dia jodohku, tuntunlah kami hingga menjadi halal. Jika memang bukan, jangan membuatku lebih lama menunggu, berharap dan semakin memikirkannya.


"Bismillahirahmanirrahim...,"


Hiko kembali menggerakkan jari-jarinya diatas keyboard. Mengetik semua tentang dirinya hingga menjadi beberapa lembar kertas. Ia menyelipkan foto dirinya dan Almeer dalam CV tersebut, setelah di print Hiko menatanya kemudian memasukkannya dalam sebuah amplop coklat, esok subuh amplop itu siap untuk diberikannya pada ustadz Arsy.


**********


Subuh ini Hiko dan Almeer pergi ke masjid, sebuah map coklat terapit diantara jari dan telapak tangan Hiko. Map itulah yang akan ia siapkan untuk menjemput jodohnya kelak.


Usai sholat subuh, Hiko dan Almeer menunggu Ustadz Arsy hingga masjid kembali sepi.


"Ustadz Arsy!" Panggil Hiko ketika Ustadz Arsy baru keluar dari pintu masjid.


"Eeh, Nak Hiko masih disini? ada apa?"


Hiko menghampiri Ustadz Arsy. "Saya ingin menitipkan ini pada Ustadz." Hiko memberikan amplop coklat pada ustadz Arsy.


Ustadz Arsy menerima dan sudah bisa menduga apa isi didalam amplop itu.


"Ustadz lebih tahu tentang saya, saya minta tolong untuk dicarikan wanita yang menurut ustadz cocok untuk saya dan Almeer. Saya sudah menjelaskan setiap detail dari diri saya, termasuk masalalu saya. Saya serahkan semuanya pada Ustadz. Saya hanya mengajukan satu syarat Ustadz, dia bisa sayang pada Almeer."


Ustadz Arsy mengangguk, "In shaa Allah saya akan carikan wanita sesuai dengan keinginan Nak Hiko."


"Terimakasih Ustadz, terimakasih."


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, comment, vote dan bintang limanya kakak.

__ADS_1


Terimakasih.





__ADS_2