
Satu cup kopi sudah terhidang sejak tadi diatas meja, uap hangat sudah tak nampak lagi dipermukaan kopi tersebut karena sang pemilik tak kunjung menikmatinya.
Abriz melihat seorang wanita berkerudung krem sedang tidur berbantal lengan diatas meja dapur. Abriz mengambil satu kursi dan duduk di samping wanita itu dan menikmati paras ayu-nya.
"Tabina Ruby Azzahra." Bisik Abriz pelan namun tak membuat Ruby terbangun.
Abriz tersenyum kecil, lalu matahya memperhatikan detail wajah Ruby. Bagaimana Allah menciptakannya dengan begitu sempurna? Batin Abriz.
Tatapan mata Abriz tehenti ketika melihat bekas jahitan di pergelangan tangan kiri Ruby. Ia mendekati pergelangan tangan Ruby dan ia bisa memastikan bekas luka apa itu. Namun yang jadi pertanyaannya adalah, Apa alasan Ruby melakukannya? Siapapun yang melihat Ruby pasti bisa langsung mengerti jika dia adalah seorang hamba yang patuh pada Tuhannya.
Abriz segera menjauhkan dirinya dari Ruby ketika melihat jari-jari wanita itu bergerak.
Ruby yang baru membuka mata terkejut melihat Abriz duduk disampingnya. Ia segera menegakkan badannya.
"Kenapa mas Abriz bisa disini?" Tanya Ruby khas dengan kejutekannya.
"Aku lagi nyari penanggung jawab episode dua puluh satu gak ada di mejanya, tasnya gak ada,komputer juga belum nyala. Eeh, gak taunya dia malah molor disini." Jawab Abriz.
Amarah Ruby tiba-tiba menguap dan menghilang begitu saja, kini wajahnya merona merah karena malu.
"Maafkan, saya. Tadi cuma niat bikin kopi, malah ketiduran." Ucap Ruby.
Abriz melihat jam tangannya, "Udah lumayan kan tidur satu jam?" Tanya Abriz.
Ruby terkejut. Masa' satu jam? rasa-rasanya cuma beberapa menit? batin Ruby.
"Ayo, cepat kerja. Jangan kira karena aku suka ke kamu, aku kasih dispensasi buat kamu ya." Kata Abriz, Ia berdiri dari duduknya. "Kamu harus ganti waktumu yg terbuang satu jam ini ya?"
"Baik, Mas." Ucap Ruby, ia membawa kopi dinginnya dan mengikuti langkah Abriz.
**********
Jam makan siang kali ini adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu Ruby, ia segera melaksanakan sholat dhuhur dan memilih untuk tidur sejenak di meja kerjanya. Ia tak berniat untuk makan siang karena lebih mementingkan untuk rehat sejenak agar bisa mengerjakan pekerjaannya setelah ini.
Ruby terbangun ketika mendengar ruangannya sudah semakin berisik, itu tandanya ia harus menyudahi tidur siangnya. Abriz yang melihat hal itu merasa kasian, tapi ia juga harus bersikap profesional.
Ruby meminum air putih dari tumbler di atas mejanya, menutupi rasa lapar yang tiba-tiba hadir setelah ia bangun tidur. Ruby juga meregangkan otot-otot badannya untuk mengumpulkan kekuatannya.
"By!" Salah seorang teman satu tim memanggil Ruby.
"Ya, Mbak?"
"Ada telpon dari lobby, katanya suamimu dibawah."
Seketika semua mata tertuju pada Ruby bersamaan dengan kalimat "Ciyeeeeeeee." dari teman-temannya.
Sedangkan Ruby merasa kebingungan, untuk apa Hiko kemari? Ia berdiri keluar ruangan diantar godaan dari rekan timnya.
Ruby berdiri didepan lift menunggu pintu lift terbuka.
__ADS_1
"Mbak, lewat tangga dulu. Lift-nya lagi rewel." Seseorang memberitahu Ruby.
"Terimakasih." Ucap Ruby kemudian berjalan menuju ke tangga.
Beruntung gedung ini hanya memiliki tiga lantai. Ia tak membayangkan jika gedung ini memiliki lebih dari lima lantai dan lift rusak, bisa kebayang gimana kakinya nanti.
"Arggh!!"
BRUK!
Karena tidak hati-hati membuat Ruby terpeleset dan jatuh. Lengan dan pantatnya terasa nyeri. Beberapa orang yang juga memakai tangga menghampiri Ruby dan menolongnya.
"Saya gak apa, mbak. Terimakasih sudah membantu." Ucap Ruby antara malu dan tak enak hati merepotkan orang lain.
Setelah beberapa orang yang menolongnya pergi, Ruby melihat bagian lengan ruffle blouse abu-abunya itu terlihat kotor. Ia menyingkap lengan blouse-nya dan melihat lengannya yang nampak merah terkena goresan anak tangga.
Ia menyandarkan kepalanya di pagar tangga. "Gini banget efek kurang tidur. Malu, sakit pula." Gumamnya.
Mengingat Hiko sedang menunggunya, Ruby segera berdiri dan dengan hati-hati menuruni anak tangga.
Sampai di lobby ia sudah bisa melihat pria yang memang terlihat berbeda dari beberapa pria lain yang ada disana. Mungkin karena wajah tampannya, walau hanya mengenakan sebuah kaos dan celana jeans sudah membuatnya begitu terlihat keren.
Ruby berjalan menahan sakit dibagian pantatnya, menghampiri Hiko yang sudah menatapnya dengan masih duduk sendiri di sofa yang disediakan khusus untuk tamu ketika menunggu.
"Kenapa tiba-tiba kemari, mas?" Tanya Ruby ketika sampai di depan Hiko. "Gak takut sama mas Heru?"
"Ngapain gue takut sama dia?" Hiko mencebik lalu memberikan sebuah kantong berisi makanan dan salah satu restoran ayam dan sebuah cup kopi dengan logo kedai kopi yang sedang hits. "Ganti jahe hangat semalam." Ucap Hiko.
Ia mengambil cup kopinya saja, "Saya ambil ini saja ya, Mas." Kata Ruby sambil mengangkat cup kopi tersebut.
"Kenapa baju lo?" Tanya Hiko melihat lengan blouse Ruby yang kotor.
Hiko berdiri, mengambil cup kopi dari tangan Ruby dan meletakkannya di atas meja kemudian menarik tangan Ruby dan menyingkapnya.
"Kenapa ini?" Tanya Hiko ketika melihat baret merah di sepanjang lengan bawah Ruby.
Ruby segera menarik lengan blouse-nya. Ia merasa risih karena beberapa orang disana memperhatikannya dan Hiko.
"Udah saya bilang jangan seenaknya sentuh saya!" Bisik Ruby kesal.
"Lo habis jatuh?" Hiko mengabaikan peringatan Ruby.
"Huh!" Ruby mendengus kesal karena peringatannya diacuhkan Hiko begitu saja. "Iya, habis jatoh gara-gara ngantuk."
"Makanya, kalo malam itu tidur. Bukan malah kluyuran!" Ucap Hiko.
Ruby hanya menatapnya datar, ia mengambil kopi dan kantong makanan yang akan diberikan Hiko padanya tadi.
"Mau kemana?" Tanya Hiko.
__ADS_1
"Balik kerja lah!" Jawab Ruby.
"Ikut gue aja, obati itu." Kata Hiko.
"Jangan seenaknya bawa rekan kerja Gue."
Ruby dan Hiko melihat Abriz tiba-tiba menghampiri mereka.
"Kamu terima tamu lama banget, By. Aku tinggal nungguin file yang di kamu nih." Kata Abriz.
"Gue aja ngomong sama dia belum ada lima menit udah lo bilang lama!" Protes Hiko. "Cemburu, ya?" Tanya Hiko dengan nada mengejek.
"Mas!" Sentak Ruby pelan.
"Emang lo bisa kerja kalo tangan lo luka gitu?" Tanya Hiko pada Ruby.
"Apa yang sakit, By?" Tanya Abriz khawatir. "Kita obatin dulu yuk luka kamu."
"Gue yang ajak dia dulu." Protes Hiko.
"Saya obatin nanti saja, Mas. Saya masih harus balik kerja." Ucap Ruby. "Terimakasih sudah dibawakan ini." Ruby mengangkat kantong makanannya dan cup kopinya.
Hiko hanya menatap Ruby datar.
"Nanti saya akan pulang sendiri, Mas. Sepertinya saya akan lembur hari ini. Mas gak usah jemput." Ucap Ruby lagi.
Hiko masih diam tak menjawab.
"Saya kembali kerja dulu ya, Mas." Ucap Ruby, kemudian bersama Abriz meninggalkan Hiko.
Hiko hanya diam menatap Ruby yang berjalan sedikit terpincang-pincang semakin menjauh darinya.
"B*ngs*t! Bisa bisanya dia nolak gue?" Umpatnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Baru kali ini up gak barengan gegara episode yang ini kehapus. Harus ngetik ulang episode yang sama itu rasanya pengen bakar orang aja. wqwwqwq. Tadi udah pesimis, malas banget mau ngetik ulang. Udah patah semangat. Tapi akhirnya move on lagi lihat komentar kakak-kakak.
Kasih like yang banyak yaaa buat author, commentnya jugaa ya kakak.
__ADS_1
Nungguin like diatas 250, comment diatas 75 baru besok aiko up. Makasih dukungannya ua kakak.