
Ruby masih diam di sofa, handuk masih melekat dikepalanya, membungkus rambutnya yang basah. Pelan-pelan ia mengoleskan cream di lengannya yang masih memar. Sedangkan Hiko duduk bersandar di headboard tempat tidur dan sibuk dengan ponselnya.
Sejak perjalanan dari rumah Abriz, Hiko dan Ruby tak saling bicara. Hiko tak ingin banyak bertanya, sedangkan Ruby juga tak ingin menjelaskan.
"Argh!"
"Kenapa?" Hiko meletakkan ponselnya ketika melihat Ruby memekik pelan kesakitan.
"Gak apa, Mas." Jawab Ruby, ia berjalan meninggalkan sofa menuju ke kamar mandi.
Ruby merasa badannya sakit semua. Sakit bekas jatuh kemarin saja belum sembuh, sekarang sudah ketambahan lagi. Ia membuka piyama yang dikenakannya dan melihat punggungnya dari kaca wastafel.
"Pantas aja sakit." Keluhnya ketika melihat ada beberapa memar di punggung bawah dan di bahunya.
Ruby kembali memakai piyamanya dan keluar kamar mandi mengambil obat memar yang sebelumnya ia gunakan untuk mengolesi lengannya kemudian kembali ke dalam kamar mandi lagi.
Melihat tingkah Ruby yang aneh membuat Hiko penasaran. Ia mehampiri pintu kamar mandi. "Lo kenapa?" Tanya Hiko.
"Gak apa, gak apa, gak apa!" Teriak Ruby dari dalam kamar mandi. "Jangan masuk!"
Sedangkan di dalam kamar mandi, Ruby buru-buru mengolesi memar di bagian punggung bawah sebisanya dan membiarkan memar di bagian belakang bahu. Ruby segera memakai kembali piyamanya, ia tak mau jika tiba-tiba Hiko membuka pintu kamar mandi disaat dia tidak berpakaian, karena pintu kamar mandi Hiko tidak memiliki kunci.
Ruby segera keluar kamar mandi, ia mendapati Hiko sudah berada didepan pintu kamar mandi.
"Ada yang luka?" Tanya Hiko khawatir.
Ruby menggeleng, "Jangan pedulikan saya." Kata Ruby mengelak.
Hiko memotong langkah Ruby, menatap wanita yang memakai piyama rok dengan lengan piyama sesiku. Ia tak melihat ada luka lain disana.
"Ada luka lain?" Tanya Hiko
"Enggak!" Jawab Ruby.
"Lo mau ngomong atau gue periksa sendiri?"
"Jangan gila kamu, Mas!"
Ruby berusaha melewati Hiko tapi dengan cepat tangan Hiko menarik pinggang Ruby dan memeluk Ruby.
"Aargh!" Pekik Ruby, Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Hiko tapi tangan Hiko yang memegang punggungnya membuat punggungnya semakin nyeri.
"Lepasin, Mas! Jangan menyentuhku seenakmu!" Kata Ruby setengah berteriak.
"Jangan salahin gue. Salah lo sendiri gak jawab pertanyaan gue!"
Ruby berhenti memberontak, berharap Hiko melepaskannya. "Argh!" Pekiknya lagi ketika tangan Hiko menekan punggungnya.
Hiko melepaskan tangannya dari tubuh Ruby. "Kenapa punggung lo?" Tanya Hiko.
"Sudah ku olesi obat memar!" Jawab Ruby marah.
Hiko mengangguk, "Gue lebih seneng denger lo ngomong gini, dari pada lo ngomong pakai bahasa baku."
Ruby medecak kesal dan melangkah pergi.
"Hei, pendek! Gue belum selesai bicara!"
"Argh!! Sakiiit!!" Teriak Ruby ketika mendapati Hiko menarik bahunya.
Tanpa banyak bicara Hiko menarik piyama bagian leher Ruby untuk melihat apakah ada yang terluka disana.
"PLAK!!" Sebuah tamparan mendarat di pipi Hiko
Ruby memengang erat leher piyamanya, matanya menatap Hiko ketakutan.
"Gue cuma pengen lihat luka lo, gak ada maksud apa-apa." Hiko sadar, Ruby bukanlah wanita yang bisa ia perlakukan seperti wanita-wanitanya selama ini.
Ruby menggeleng cepat.
"Gue bangunin mama, biar mama yang obatin lo." Kata Hiko.
Ruby kembali menggeleng, "Biarkan saya seperti ini."
__ADS_1
"Mana bisa! Gue punya tanggung jawab atas diri lo! Kalo lo sakit, gue harus obati lo!" Sentak Hiko. "Gimanapun juga lo istri gue, Abi lo udah nitipin lo ke gue!" Lanjutnya.
Ruby terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Hiko. Wajahnya serius menatap Ruby.
"Kalo lo gak mau gue obatin, gue minta mama aja yang ngobatin lo!"
"Jangan!" Ruby menarik ujung kaos Hiko, mencegahnya untuk tidak meninggalkan kamar.
Hiko menatap Ruby lagi, mencari tahu keinginan Ruby.
"Mas gak akan ngapa-ngapain saya kan?"
"Gue gak minat sama lo!" Bantah Hiko.
"Bagian belakang bahu saya ada satu memar, tangan saya tidak sampai." kata Ruby.
Hiko mengangguk, "Duduk sana. Mana creamnya?" Hiko menengadahkan satu tangannya.
Ruby memberikan obat yang dipengangnya, kemudian duduk di sofa. Sedangkan Hiko mengambil posisi dibelakang Ruby.
"Buka kancing piama lo, By. Gimana gue bisa lihat kalo kaya gini?" Protes Hiko.
"Gak usah, mas masukin aja tangannya dari atas situ." kata Ruby.
"Creamnya malah nempel di piyama lo, ****!"
"Yaudah! Tapi mas tutup mata!"
"Lah, gimama gue mau ngolesin creamnya kalo gue tutup mata?"
"Udah! Tutup mata aja! Nanti saya yang kasih tau!"
"Terserah lo, deh!" Hiko menyerah dengan perdebatan tidak masuk akal ini. "Gue udah tutup mata!" Ucapnya.
Ruby menengok ke belakang, benar Hiko sudah menutup matanya rapat. Ia menghela nafas, mengatur irama jantungnya yanh tidak karu-karuan. Entah apa yang membuatnya begitu mudah menuruti kemauan Hiko.
Ruby membuka tiga kancing piyamanya dan membuka bagian bahunya. Ia bisa merasakan nafas Hiko yang menyentuh bahu belakangnya, membuat jantungnya semakin berdetak kencang dam pikirannya menjadi kacau.
"Gue pegang lo, nih?" Tanya Hiko.
"Satu jari aja dan Jangan buka mata!" Ancam Ruby.
"Iya Iya!"
Hiko menempelkan jari tengahnya dibahu Ruby, membuat sekujur tubuh Ruby merasakan panas dingin. Ingin menghindar tapi tubuhnya seakan terpaku. Ia memejamkan matanya, memegang erat bagian dada piyamanya.
"Kemana nih? Lo mau gue diem disini terus?" Tanya Hiko. "Gue buka mata nih!?"
"Jangan!" Teriak Ruby segera.
"Hush! Lo mau bangunin orang-orang?" Hiko membuka matanya terkejut dengan teriakan Ruby.
"Maaf-maaf." Ucap Ruby.
Kini giliran Hiko yang mematung hanya karena melihat seperempat bagian punggung Ruby.
"Sebelah kiri jari mas."
Kalimat Ruby membuat jari Hiko bergerak, mengikuti arahan Ruby walau sebenarnya ia bisa saja langsung mengoleskan obat itu di bagian yang memar. Tapi Hiko ingin lebih lama menikmati punggung Ruby sebentar lagi.
"Itu, Mas." Ucap Ruby.
Hiko mengeluh dan pelan-pelan mengoleskan obat itu di bagian yang memar.
"Argh! Pelan-pelan, Mas."
B*ngs*t!
Batin Hiko mendengar ucapan Ruby, pikirannya sudah kemana-mana membuat miliknya terbangun dan menegang.
"Udah!" Kata Hiko, Ia menutup kembali matanya.
"Jangan buka mata dulu!" Ruby memastikan jika Hiko masih memejamkan mata dan ia segera menutup kembali kancing bajunya.
__ADS_1
"Udah."
Hiko membuka matanya, ia menatap Ruby yang terlihat malu-malu dengan pipinya yang merona merah.
"Cuma dipegang gitu aja udah panas dingin!" Ejek Hiko.
Ruby terkejut, Kenapa dia bisa tahu? Batin Ruby.
Hiko berdiri meninggalkan Ruby dan masuk ke kamar mandi.
"B*ngs*t! Anj*ng! Tahu gitu gue gak bakal buka mata!" Umpatnya pelan. "Gila aja! Mau kamana gue jam segini?" Hiko kebingungan akan menyalurkan hasratnya pada siapa.
"Hargh!!" Pekiknya pelan, ia menyalakan Shower dan melepas pakaiannya. "B*ngs*t! Raja neraka bisa ngecengin gue kalo tahu gue ngelakuin ini sendiri!" Umpatnya kesal.
**********
Jam di dinding kamar Hiko sudah menunjukkan lewat tengah malam dan Ruby masih belum tertidur, berulang kali ia sibuk mengatur posisi tidurnya. Sofa yang tidak terlalu panjang itu membuatnya harus tidur dengan kaki tertekuk ditambah lagi punggungnya yang terasa sakit membuatnya semakin sulit untuk terlelap.
Kesal, akhirnya Ruby bangun dan duduk. Punggungnya terasa lebih nyeri dari kemarin malam. Mungkin karena tadi Abriz menariknya terlalu kencang hingga punggungnya menabrak bagian depan mobil yang sedang terparkir.
Ruby menatap sisi tempat tidur Hiko yang masih sangat lebar, baru kali ini ia berharap ingin tidur disana. Tapi ia juga terlalu takut tidur didekat Hiko, mengingat siapa pria itu sebenarnya.
"Kenapa bangun?" Tanya Hiko, ternyata ia juga belum terlelap.
Ruby diam tidak menjawab.
Hiko bangun dari tidurnya dan menghampiri Ruby. "Lo tidur disana! Jangan gengsi, pindah sana."
Entahlah, bukannya marah tapi Ruby merasa tersentuh dengan kalimat Hiko. Bicaranya memang kasar, kelakuannya memang bejat, tapi Ruby mulai merasakan Hiko memang mempunyai sisi yang lembut dan perhatian.
Ruby berdiri dan bertukar tempat dengan Hiko. Ia segera merebahkan badannya di tempat tidur. Alhamdullillah, batinnya.
"Sabar aja, minggu depan kita bakal pindah ke rumah gue. Lo bisa tidur di kamar lo sendiri." Ujar Hiko sebelum ia memejamkan matanya.
Ruby membuka kembali matanya yang baru sesaat terpejam kemudian menatap Hiko yang berada di seberangnya.
"Sabtu depan resepsi pernikahan kita digelar. Gue yakin keluarga lo juga udah tahu."
Ruby hanya diam. Entah dia harus bersyukur atau tidak, Dia tidak bisa menentukan hatinya lebih condong ke arah mana.
"Apa saya bisa minta sesuatu padamu, Mas?" Tanya Ruby.
Hiko menatap Ruby, "Apa?"
"Jangan pernah ajak wanitamu masuk ke rumahmu selama aku masih menyandang status sebagai istrimu."
"Hmm." Tanpa pikir panjang Hiko langsung menyetujuinya.
"Terimakasih."
"Gue juga punya permintaan. Berhenti pake bahasa baku kalo lo bicara sama gue!" Ucap Hiko, "Bukan bukan, itu bukan permintaan. Itu perintah!" Ralat Hiko.
"Baik." Bukan sesuatu yang berat untuk Ruby.
"Tidur sana!"
Ruby mengangguk. Ia mulai memejamkan matanya, kasur empuk itu membutnya lebih cepat untuk terlelap.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Sebelum lanjut, jangan lupa like dan tinggalkan jejak di comment.
Terimakasih kakak.
__ADS_1