
Jalan Malioboro menjadi tujuan Ruby dan Hiko untuk menghabiskan sisa waktu Ruby di Jogja. Keramaian membuat Hiko terpaksa harus memakai masker, ia tak mau jika liburannya terganggu karena fans - fansnya.
Teriknya matahari tidak membuat Ruby malas untuk melangkah, ia lebih bisa menikmati suasana Malioboro di siang hari ketimbang malam hari bersama Tasya. Hiko berjalan dibelakang Ruby, sibuk mengambil gambar dari camera di tangannya. Objeknya kali ini adalah wanita yang memakai gamis putih, jaket denim dan kerudung biru muda.
"Aduh!" Keluh Ruby ketika seorang pria sengaja menabrak bahunya.
Ruby menatap protes dan menunggu permintaan maaf pria itu. Beberapa teman dibelakangnya tertawa menggoda.
"Maaf, Mbak. Gak sengaja." Ucap pria itu.
Ruby mengangguk.
"Boleh kenalan?" Tanya pria itu sebelum Ruby melanjutkan langkahnya.
Wajah Ruby berubah sinis, "Ma ..."
"Mau apa lo ngajak kenalan istri orang?" Hiko mendekati Ruby, memaki beberapa pria yang sedang menggoda Ruby.
"Oooh, sudaah bersuami ..." Ucap pria itu, kemudian mereka meninggalkan Hiko dan Ruby.
Hiko menatap Ruby, "Makanya jangan jauh-jauh." Ucapnya. Hiko meraih tangan Ruby dan menggandengnya.
Ruby hanya menatap tangan Hiko dan mulai melangkah mengikuti langkah kaki Hiko.
"Lo gak capek? Kan puasa?" Tanya Hiko.
Ruby menggeleng, "Mas sendiri gimana? Kan lagi sakit?"
"Udah enakan, kok." Jawab Hiko. "Duduk dulu, yuk."
Hiko menarik Ruby, duduk disebuah bangku taman yang terjajar rapi di sepanjang trotoar jalan Malioboro. Ia memilih duduk dibawah pohon Angsana yang sedang mekar-mekarnya di musim penghujan ini, tidak hanya memberi keteduhan tapi juga memanjakan mata penikmatnya.
"Mas, Fotoin donk." Ruby memberikan ponselnya pada Hiko.
"Bayar ya? Tangan gue mahal." Hiko mengambil ponsel Ruby, membuka fitur kamera disana dan bersiap mengambil gambar Ruby.
Ruby bergaya ala instagramable dibawah pohon Angsana, tidak perlu diimut-imutkan atau dicantik-cantikkan, bergaya diam dengan mata terpejam seakan menikmati tiupan angin yang membuat beberpaa bunganya terjatuh sudah membuatnya tampak mempesona.
Hiko tak membuang kesempatan itu, ia juga mengambil foto Ruby lewat cameranya.
"Udah?" Tanya Ruby ketika membuka mata. Ia melihat Hiko mengambil fotonya bukan dengan ponselnya. "Kan aku suruh pake ponselku, Mas?" Protes Ruby.
"Udah tadi sekali, lagian kamera hape jelek. Gak level gue." Hiko memberikan ponsel Ruby dan membuka masker yang menutup sebagian wajahnya.
Ruby duduk dan melihat hasil bidikan Hiko. Bagus juga hasilnya, Batin Ruby.
"Foto jelek kek gitu mau lo upload di Instagram?" Tanya Hiko saat mengintip layar ponsel Ruby.
"Biarin. Cakep kok!" Jawab Ruby cuek, ia menatap keatas untuk memikirkan caption yang pas.
"Nih, baru bagus." Hiko memperlihatkan hasil bidikan di cameranya.
Ruby melirik layar camera Hiko, "MasyaAllah, aku cantik banget Mas disitu?"
"Hah!?" Hiko terkejut dengan ucapan Ruby.
"Ntar aku minta file-nya ya, Mas?" Pinta Ruby lalu kembali sibuk mengetik dilayar ponselnya.
Hiko menatap Ruby masih terheran-heran dengan sifat Ruby yang sama sekali tidak bisa ia tebak. "Ternyata asli lo gini, ya?" Kata Hiko.
"Kenapa?" Tanya Ruby tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Hiko hanya menatap Ruby dengan senyuman, ia teringat foto gadis berseragam putih abu-abu yang ada dimeja kerja Ruby. Iya, wanita didepannya itu sebenarnya seorang yang ceria, hanya saja karena kesalahannya Ruby menjadi seperti sekarang ini.
Ruby menatap Hiko karena tak segera mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Sini." Hiko mengambil ponsel Ruby, ia menginstal sebuah aplikasi untuk mengedit foto disana. "Gue ajarin edit foto biar bagus."
Hiko mendekatkan diri pada Ruby, berdua mereka menatap layar ponsel. Ruby fokus mendengarkan penuturan dari Hiko yang memberinya bebarap ilmu dasar photography.
"Keren, kan? Gak alay?" Kata Hiko.
Ruby mengangguk senang.
Hiko tersenyum melihat tingkah Ruby. Hiko juga bertanya tentang seputar animasi pada Ruby. Mereka menghabiskan waktu saling bertukar ilmu dan pengalaman. Hiko mengajari Ruby bagaimana mengambil gambar yang baik, Ruby pun mengeluarkan tablet dan styluspen-nya untuk mengajari Hiko menggambar dan mewarnai.
Adzan ashar membuat percakapan mereka terhenti. Ruby masih tidak menyangka jika sedari tadi dia sedang bercengkrama dengan Hiko dan ternyata dia pria yang open minded juga jika berbicara hal serius, dia tak semenyebalkan seperti yang ada di pikirannya.
"Lo mau balik ke hotel?" Tanya Hiko.
Ruby menggelengkan kepalanya. "Aku mau sholat di masjid aja, Mas. Mau sekalian cari makanan buat buka puasa nanti." Ia memasukkan ponsel, tablet dan styluspen-nya ke dalam tas.
"Mas balik aja ke hotel, istirahat. Mas juga belum makan siang, kan?" Kata Ruby.
__ADS_1
Hiko terkekeh kecil, "perhatian amat lo ama gue?"
"Bukankah seperti ini cara istri memperlakukan suaminya?" tanya Ruby.
"Ah, iya. Gue hampir lupa perjanjian kita kemarin."
"Kamu tepati janjimu dan aku tepati janjiku." Kata Ruby
"Iya iya!" Hiko meberikan kameranya pada Ruby, "titip!"
"Mas, gak balik ke hotel?" Tanya Ruby, ia mengambil kamera Hiko dan memasukkannya dalam tas.
Hiko berdiri dan memakai kembali maskernya, "Gue ikut, lo."
Ruby mengangguk dan berdiri memakai tasnya, tangannya segera di gandeng Hiko dan mereka pergi mencari masjid terdekat.
Sampai disebuah masjid, Hiko meminta tas Ruby. "Gue bawain tas, lo." Kata Hiko.
"Udah nyampe sini gak sholat?" Tanya Ruby.
Hiko tak menjawab, dia memilih duduk diteras masjid. Ruby pun memberikan tasnya dan meninggalkan Hiko masuk ke dalam masjid.
Tak sampai setengah jam Ruby sudah menghampiri Hiko yang sibuk melihat hasil jepretannya.
"Mas mau makan dulu?" Tanya Ruby.
Hiko menggeleng, "Mau kemana lagi? Gak mau beli oleh-oleh buat keluarga di Jakarta?"
"Aku bingung mau belikan Papa sama Mama apa, Mas." Kata Ruby, ia duduk tak jauh dari Hiko.
"Gak usah beli apa-apa buat mereka, mereka gak ada di Jakarta. Yang penting keluarga lo aja."
"Kalo untuk Abi, Ummi, dan keluarga Paklek udah ku beliin." Jawab Ruby.
"Ya udah, jalan-jalan aja." Hiko mematikan kameranya dan memasukkannya ke dalam tas Ruby.
Hiko dan Ruby berdiri dan keluar dari halaman masjid, mereka jalan menuju ke alun-alun utara dan Keraton Yogjakarta. Mereka menghbiskan waktu sore mereka dengan berjalan-jalan disana. Hiko merasa menemukan tempat untuk hunting foto, berulang kali ia menjadikan Ruby sebagai objek fotonya.
Ruby merasa sudah tak canggung lagi bersama Hiko, atau mungkin lebih tepatnya nyaman. Yah, salah satu kelebihan Hiko memang membuat wanita nyaman bersamanya. Kini ia tak perlu sembunyi-sembunyi lagi mengambil foto Ruby, karena ternyata Ruby senang sekali berpose di depan kamera.
"Akuuu suka banget yang ini, Mas." Ucap Ruby ketika ia melihat hasil foto-fotonya bersama Hiko.
"Iya, background-nya bagus."
"Enaaak aja! Bayar lah!" Goda Hiko.
"Dih, pelit banget jadi orang. Nanti kalo mati urus semuanya sendiri." Wajah jutek Ruby kembali muncul.
"Hahahaha, Gitu aja ngambek." Goda Hiko, "nih, ambil semuanya. Banyak tuh foto cewek-cewek sexy juga!"
"Buaat apaaaa aku ambil foto cewek sexy? Kamu kira aku kelainan?"
Hiko masih terkekeh kemudian diam seketika mendengar suara qiroah dari masjid disekitar. Matahari sudah hampir tenggelam, onggokan langit jingga bersiap menarik hadirnya sang malam.
"Pesawat lo jam berapa?" Tanya Hiko kemudian.
Ruby melepaskan pandangannya dari layar kamera Hiko. "Sudah hampir magrib ya? Alhamdullillah ..."
Ruby memasukkan kamera Hiko ke tasnya, ia menatap Hiko yang menatapnya dengan tatapan yang ... entah, dia tidak bisa mengartikannya.
"Jam Delapan lebih dua puluh menit, Mas." Ruby menjawab pertanyaan Hiko.
"Yaudah, gue anter ntar."
Ruby menggeleng, "Ada pihak hotel yang nganter aku, Mas."
"Tapi gue mau nganter lo!"
Ruby menggeleng, "Enggak, Mas." Ruby menatap Hiko penuh ancaman.
Hiko pun mengalah dan berdiri dari duduknya, "Mau makan apa buat buka?" Tanya Hiko.
"Seadanya aja mas, yang ada di pinggir jalan." Kata Ruby.
Hiko mengangguk, "Mau sholat dulu aja?" Tanya Hiko.
Ruby mengangguk, "Iya."
Hiko dan Ruby kembali beranjak mencari masjid, tak lupa Hiko membelikan sebuah minuman untuk Ruby membatalkan puasanya ketika adzan magrib berkumandang nanti.
Ruby segera membatalkan puasanya ketika adzan magrib berkumandang. Ia pun bergegas melaksanakan sholat magrib, usai sholat barulah ia dan Hiko pergi mencari rumah makan disekitar sana untuk berbuka puasa.
*********
__ADS_1
Hiko sedang memperhatikan Ruby yang mengamas barang-barangnya diatas sofa ke dalam tas jinjing. Setelah seharian Hiko melewati hari bersama Ruby semakin membuat Hiko berat melepaskan kepergian Ruby.
"Nanti Genta yang jemput lo di Bandara." Kata Hiko.
"Mas Genta sendiri?" Tanya Ruby.
"Iyalah."
Ruby terlihat ragu.
"Tenang aja, dia baik. Kalo sampai dia berani sentuh lo, gue yang akan bunuh dia." Hiko meyakinkan Ruby.
Ruby duduk diatas sofa dan menatap Hiko. "Mas besok balik jam berapa?" Tanya Ruby.
"Malem juga." Jawab Hiko.
Ruby mengangguk, ia berdiri memakai tasnya. "Jaket mas aku taroh sini." Ia meletakkan jaket Hiko yang ia pinjam semalam diatas tempat tidur.
Ruby mengambil tas jinjingnya kemudian menghampiri Hiko, "Aku pulang dulu ya, Mas." Ruby meraih tangan Hiko dan menciumnya.
Hiko menahan tangan Ruby ketika Ruby ingin melepaskan tangan Hiko. Ia menatap Ruby, berat membiarkan Wanit itu pergi.
"Kali ini aku harus pulang, Mas." Kata Ruby, ia tahu arti dari tatapan Hiko.
trrrt trrrt trrrt
Terdengar getaran dari ponsel Ruby yang ada di kantongnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum ... Ah, iya. Sebentar lagi saya turun. Terimakasih."
Ruby menatap Hiko, "Mereka sudah nunggu aku, Mas." Kata Ruby.
Hiko melepaskan tangan Ruby.
"Nikmati sisa liburan kamu ya, Mas." Kata Ruby, "assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab Hiko.
Ruby tersenyum dan melangkah meninggalkan Hiko.
"By!" Hiko berlari menghadang Ruby tepat sebelum Ruby membuka pintu kamar Hiko.
"Ya?"
"Tinggal sehari lagi disini, please!"
Ruby tertawa kecil, "Gak bisa, Mas. Abi dan Ummi besok balik ke Malang, lagian aku gak bisa ninggalin kerjaan aku juga. Gak enak sama yang lain." Ujar Ruby.
Ruby menyetuh pipi Hiko dan tersenyum, "Aku pulang ya. Mas."
Hiko memengang tangan Ruby yang berada di pipinya kemudian mengecupnya. Membuat desiran halus di tubuh Ruby yang cukup membuatnya terdiam. Hiko memeluk Ruby, mencoba mengisi kekuatan untuk merelakan kepergian Ruby.
Ruby menepuk dan mengusap lembut punggung Hiko. "Sepertinya aku sudah terlalu lunak padamu, Mas. Sampai kamu seenaknya peluk-peluk aku." Sindir Ruby.
"Bentar aja."
Ruby membiarkan pria itu memeluknya, hingga akhirnya Hiko melepaskan tubuh Ruby. "Gue antar ke bawah." Kata Hiko.
Ruby mengangguk.
Hiko mengambil alih tas jinjing Ruby kemudian keluar kamar. Hiko menggandeng tangan Ruby tak membiarkannya terlepas sedikitpun, mengantar Ruby hingga ke depan mobil yang akan mengantar Ruby ke Bandara.
"Hati-hati, Ya." Kata Hiko
Ruby mengangguk, ia menatap tangan Hiko yang masih mengganggamnya. "Ya dilepas, Mas."
Berat, tapi akhirnya Hiko melepaskan tangan Ruby.
"Kalau mau pegang tangan ini terus, jangan pernah pegang tangan wanita lain." Kata Ruby.
Hiko hanya tersenyum masam.
"Assalamu'alaikum ..." Ucap Ruby, kemudian masuk ke dalam mobil.
"Wa'alaikumsalam, salam buat Abi dan Ummi. Sampaikan maafku tidak bisa anter mereka pulang."
Ruby mengangguk kemudian menutup pintu mobil.
Perlahan Mobil meninggalkan halaman hotel, Hiko masih berdiri disana menatapi bayangan mobil yang membawa Ruby pergi.
-Bersambung-
Sebelum lanjut WAJIB tekan like dan comment dulu ya kakak.
__ADS_1