Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
117


__ADS_3

Ruby sudah bersiap diri usai sholat subuh, menunggu Aisyah datang menjemputnya. Dia anak bungsu dari kyai Anwar dan nyai Halimah yang pernah enam tahun mondok di Al Mukmin, usianya lebih muda lima tahun dari Ruby.


Ruby sudah mengunci pintu rumahnya dan duduk di kursi kayu yang ada di teras, menunggu kedatangan Aisyah. Ruby membeli rumah ini dari hasil kerja di Jepang. Rumah sederhana khas perumahan, hanya memiliki taman kecil yang rindang didepan rumah, ada kolam kecil dengan air yang selalu gemericik di ujung taman berisi beberapa ikan koi, yang membuatnya selalu betah berada diteras rumahnya.


Langit jingga mendorong paksa bintang-bintang kedalam peraduannya karena sang mentari akan segera membuka pagi. Ruby sudah gelisah karena takut datang terlambat dipengajian minggu pagi yang selalu dilaksanakan pukul enam pagi.


Sebuah mobil hitam berhenti didepan rumah Ruby, Aisyah keluar dari dalam mobil. Ini bukan untuk pertama kalinya Aisyah datang kerumah Ruby, sejak mengetahui Ruby tinggal di Jogja, ia sering menginap di rumah Ruby.


"Assalamu'alaikum, Mbak Ruby. Mobil Aisyah mogok tadi, jadi telat jemput Mbak, Ruby." Ucap Aisyah dari balik pintu pagar.


"Wa'alaikumsalam, Aisyah." Ruby membuka pintu pagar kemudian menguncinya dari luar. "Semoga bisa sampai sana tepat waktu ya?"


"Iya, Mbak. Ayo!"


Keduanya masuk ke dalam mobil dan Aisyah membawa mobil itu meninggalkan rumah Ruby.


"Mas Habibie sudah di rumah sejak tadi malam, Mbak." Kata Aisyah membuka pembicaraan.


"Seperti apa dia, Aisyah?" tanya Ruby.


"Santun, tapi sepertinya Mas Habibie orang yang pendiam, Mbak. Dia menjawab semua pertanyaan Abi seperlunya, tak terlalu panjang."


Ruby menghela nafas. Dari cerita singkat Aisyah, ia sudah merasa tak cocok dengan pria bernama Habibie itu. Ruby tak melanjutkan pertanyaannya lagi, lebih baik ia melihat langsung seperti apa pria itu.


Ruby dan Aisyah datang terlambat beberapa saat setelah pengajian di mulai. Mereka segera duduk dibarisan depan shaf perempuan.


"Orangnya yang paling ujung, Mbak. Pake kopyah hitam." Bisik Aisyah, menunjuk tempat duduk para pemimpin serta pengasuh pesantren.


Ruby menatap pria yang dimaksud Aisyah. Tak jauh berbeda dengan foto yang ada di CV. Wajahnya teduh, terlihat santun dan ramah. Ruby buru-buru menundukkan kepalanya ketika pria itu mengangkat kepalanya setelah mendapat bisikan dari seorang pria dibelakangnya. Ia tahu jika sekarang giliran dia yang diperhatikan, ia memeilih untuk fokus pada pengajian saja.


Dua jam pengajian dilaksanakan akhirnya usai sudah. Jama'ah dari wali santri putra/putri, juga jama'ah umum mulai membubarkan diri. Halaman pesantren putra perlahan semakin sepi, menyisakan beberapa orang yang saling mengenal mengobrol dibeberapa titik disana.


Dua orang lelaki, yang satu sudah paruh baya dan satunya masih muda datang menghampiri Ruby Aisyah yang masih bertegur sapa dengan kenalan mereka.


"Assalamu'alaikum, Ning Aisyah, Ning Ruby."


"Wa'alaikumsalam," Jawab Empat orang wanita yang sedang asyik bercengkrama itu.


"Ustadz Ilyas?" Sapa Ruby, Ia mengatupkan kedua telapak tangannya memberi salam pada kenalan Abinya itu.


"Ning Ruby, Ning Aisyah. Kami pamit dulu ya, Assalamu'alaikum."


"Iya, Wa'alaikumsalam ..." Sahut Ruby dan Aisyah, kemudian mereka fokus pada kedua pria yang sedang berdiri didepan mereka.


"Perkenalkan, ini Gus Habibie. Yang berniat mengajak Ning Ruby ta'aruf."


Habibie dan Ruby saling tersenyum dan menyapa.


"Assalamu'alaikum, Ning Ruby. Apa kabar?" Sapa Ruby.


"Wa'alaikumsalam, Gus Habibie. Alhamdulillah, baik. " Jawab, Ruby.


"Panggil saya Habibie saja,"


"Jika begitu, mas bisa panggil saya Ruby saja."


Habibie mengangguk, "Apa kamu sudah membaca CV ku dengan lengkap? Apa aku harus memperkenalkan diri lagi padamu, Ruby?"


Entah kenapa ia merasa risih ketika pria itu memanggil nama pendeknya.


"Udaaah, By. Gak usah lama lama jawabnya. Terima saja dia jadi suamimu. Toh Abi dan Ummimu juga setuju."


Suara menggelegar Pria tua yang gemuk hampir bisa didengar semua orang dilapangan itu.

__ADS_1


"Pakdhe Anwar, semua orang bisa dengar nih?" Protes Ruby.


Kyai Anwar seorang Kyai yang walau usianya sudah banyak tapi gaya bicaranya masih sangat milenial dan blak-blakan.


"Lah, Kenapa emang? Kalian kan punya niat baik untuk menikah, kenapa harus malu?"


Ruby semakin kelimpungan, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar melihat berapa banyak orang yang mendengar suara Kyai Anwar.


Namun tatapan matanya terhenti di sosok laki-laki yang sangat ia kenali dengan seorang anak laki-laki. Menatapnya dengan wajah terkejut dan sorot mata kekecewaan.


Mas Hiko? Sedang apa kamu disini? batin Ruby. Ia ingin menghampiri pria itu, namun Kyai Anwar sudah menyuruhnya untuk masuk. Sedangkan Hiko juga cepat-cepat meninggalkan tempat itu.


Selama pertemuan dengan Habibie, Ruby sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya sedang menereka-nerka apa yang dilakukan Hiko saat ini? Bagaimana perasaan pria itu? Apa dia sedang terluka dan mengharapkan penjelasan darinya?


**********


Usai sholat dhuhur berjamaah, Aisyah mengantar Ruby pulang. Namun Ruby meminta Aisyah untuk mengantarnya ke rumah Hiko. Bagaimanapun juga, ia harus menjelaskan keadaannya pada Hiko.


"Aisyah, aku minta tolong padamu. Jangan katakan pada siapapun kamu mengantarku kesini. Kalau Abi dan Ummimu bertanya, bilang saja kamu sudah mengantarkaku. Maaf aku memintamu berbohong." Pinta Ruby ketika ia sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Hiko.


"Ini rumah siapa, Mbak?" tanya Aisyah, ia mengedarkan pandangannya ke balik pagar kayu yang bercat putih dan tak terlalu tinggi itu.


"Mbak sedang janjian dengan seseorang?" tanya Aisyah lagi Ketika melihat sebuah cafe di sisi lain halaman.


Ruby Hany tersenyum, "Tolong lakukan apa yang aku katakan tadi ya, Aisyah. Mbak pergi dulu. Terimakasih. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam, Mbak."


Ruby bergegas turun dari mobil dan segera menuju ke rumah Hiko yang jarak dari gerbangnya lumayan jauh. Sampai depan pintu rumah Hiko, ia mengetuk beberapa kali dan mengucap salam hingga Inah membukakan pintu.


"Eh, Non Ruby." Sapa Inah.


"Mas Hiko ada, Bi?" tanya Ruby.


"Lagi ada tamu, Bi?"


Inah menggeleng, "Den Hiko kalau hari minggu gak terima pemotretan, Non. Cuma gak tahu sedari tadi di studio saja."


"Boleh saya kesana, Bi?" tanya Ruby.


"Saya anter, Non?"


Ruby menggeleng, "Tidak usah, Bi. Saya akan menemuinya sendiri."


"Baik, Non. Nanti langsung masuk aja, Non."


"Iya, Bi. Terimakasih."


Ruby beranjak meninggalkan rumah, berjalan membelah taman yang ramai dengan pengunjung cafe untuk cepat sampai di studio Hiko.


Ia mengetuk beberapa kali pintu Studio kemudian langsung masuk ke dalam studio. Ruang tunggu dengan sebuah meja panjang mungkin menjadi tempat resepsionist menerima tamu.


"Assalamu'alaikum, Mas ..." Ruby mencoba mencari tahu keberadaan Hiko.


Ia masuk perlahan ke dalam ruangan, sepi seperti tak ada seseorang disana. Tapi ia tetap melangkahkan kakinya masuk lebih dalam.


"MasyaAllah." pekik Ruby terkejut, ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Bagaimana tidak, satu sisi dinding ruang pemotretan yang memiliki panjang hampir sepuluh meter dan tinggi limat meter itu terdapat full foto-fotonya tertempel sebagai wallpaper dinding.


Ruby mendekati dinding itu, Melihat gambar dirinya yang sedang berdiri memejamkan mata menikmati bunga dari pohon Angsana yang jatuh menjadi foto utama di dinding itu. Yang lainnya adalah foto-fotonya dengan berbagai macam ukuran, tertata asal namun terlihat sangat menarik. Satu persatu ia pandangi fotonya, ia tahu jelas dimana-mana saja foto itu diambil, bahkan ada beberapa foto yang tidak ia ketahui kapan diambilnya.


Melihat hal itu, Ruby merasa sangat bahagia juga bersalah. Pria itu benar-benar mencintainya, mungkin cintanya kalah besar dibanding rasa cintanya pada Hiko.

__ADS_1


Ia membalikkan badan dan melihat Hiko sedang tertidur di sofa panjang yang ada di tepi ruangan. Pelan ia menghampiri pria yang sedang telelap itu. Rambut dengan gaya hair cut yang selalu disisir ke arah belakang itu terlihat berantakan. Ia ingin sekali merapikannya dengan jari-jarinya bahkan ia ingin membuat air mancur kecil disana. Tapi niatnya terbatas oleh status hubungan mereka.


Ruby hanya bisa duduk jongkok disamping disamping Hiko, menopang kedua dagunya dan sesekali mengarsir wajar Hiko namum tak sampai menyentuhnya. Senyum masih terus mengembang di bibir Ruby.


"Apa itu alasan yang membuatmu tak bisa bersamaku?" tanya Hiko tiba-tiba.


Matanya masih tertutup, tapi suaranya tegas bertanya, membuat jari-jari Ruby yang bermain diatas wajah Hiko berhenti seketika. Wanita itu buru-buru menarik tangannya.


"Kamu bangun, Mas?" Ruby balik bertanya.


Hiko membuka mata dan duduk tepat dihadapan Ruby, ia menopang kedua sikunya diatas paha, sorot matanya menatap Ruby dengan tajam.


"Aku sudah mengatakan padamu jika kali ini akan sulit untuk kita bersama, Mas."


"Tapi kamu mencintaiku, By? Apa yang membuatmu jadi seperti ini?"


Ruby berdiri dan menggeleng, "Maaf jika aku melukai perasaanmu, Mas."


"Jangan minta maaf, By! Seolah kamu ingin menyuruhku berhenti mencintaimu! Aku tidak bisa melakukan itu."


Ruby menatap Hiko sejenak, ia pun juga tak rela kehilangan cinta pria itu.


"Aku tidak ingin memberi luka pada siapapun lagi, Mas."


"Apa maksudmu, By?"


"Aku ingin berbakti pada kedua orangtuaku, Mas. Selama ini aku selalu keras kepala dan memaksa mereka menuruti kemauanku, Aku tidak mau Allah marah padaku lagi karena sifat dan sikap ku pada kedua orangtuaku, Mas."


Hiko mengernyitkan keningnya, "Abi dan Ummi yang menjodohkan kalian?" tanya Hiko.


Ruby terdiam.


"Abi dan Ummi adalah orang yang paling tahu perasaan kita, By?"


"Mereka tidak tahu jika kita sudah bertemu, Mas."


"Aku akan menemui mereka, aku akan memintamu kembali. Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya, By."


Ruby menggeleng cepat, "Jangan temui mereka, Mas."


"Kenapa?"


Ruby hanya menggeleng. "Jangan temui mereka."


"Apa kamu sedang menyerah, By?" tanya Hiko.


Ruby terdiam.


"By ...., tidak bisakah kita berjuang sedikit lagi? Sedikit saja ..., karena kisah kita hampir sempurna."


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, comment, vote and bintang limanya kakak, terimakasih kakak

__ADS_1


__ADS_2