
Hiko menatap tajam pemilik mata yang syahdu itu, ia sedang menerka-nerka apa dugaannya sama seperti apa yang sedang dipikirkan wanita didepannya itu. Tapi ia sendiri tak mempunyai cukup keberanian untuk menanyakan tebakannya itu.
"By ..."
"Apapun yang terjadi aku tetap akan berangkat ke Jepang, Mas." Pangkas Ruby, "Jika kamu tidak mau menceraikanku, izinkan aku tetap berangkat, Mas."
Ujung mata Ruby tiba-tiba saja berair.
"Gue gak bisa ngelakuin itu semua, By." Tolak Hiko.
Ruby lebih mendekat pada Hiko, "Kamu gak bisa memiliki semuanya, Mas."
Ruby melepas cincin perak yang dijadikan Hiko sebagai mahar pernikahannya, ia meraih tangan kanan Hiko dan meletakkan cincin itu ditelapak tangan Hiko.
"Nikahilah wanita yang kamu cintai dan biarkan aku pergi, untuk apa kamu terus menahanku jika wanita lainlah yang kamu inginkan? berhentilah bersikap egois, Mas. Keegoisanmu hanya akan membuat kita bertiga saling menyakiti."
Hiko tak bisa berkata apa-apa, ada yang salah dengan ucapan Ruby, ia tidak setuju dengan semua pernyataan Ruby.
"Lo tidur aja dulu, gue mau pergi sebentar."
Lagi-lagi Hiko menghindari Ruby. Ia pergi dengan membawa cincin milik Ruby.
Tepian pantai menjadi tempatnya untuk memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Ruby. Dia mengakui jika dia sangat egois, tak ingin menceraikan Ruby juga tak ingin membiarkan pergi darinya.
Sebuah minuman kaleng dingin tiba-tiba menempel dipipinya. Ada Genta yang memberikan minuman itu. Genta duduk disamping Hiko dan meneguk minuman dinginnya.
"Bukan gaya lo banget mikir sendiri di tepi pantai gini? Dikit aja ada masalah larinya ke klub, manggil cewek-cewek sexy, maenin mereka ..."
"Bacot! Diem lo!" pangkas Hiko.
Genta tersenyum, walau terlihat menyedihkan, ia lebih senang melihat Hiko seperti ini. Keduanya diam mendengarkan ombak yang sedang berbisik diantara pasir-pasir pantai.
"Dia suka lo!"
Satu kalimat singkat dari Genta mempu membuat Hiko menoleh secepat kilat pada Genta untuk memperjelas apa yang ia dengar.
Genta menatap Hiko serius, "Dia pergi karena gak ingin terjebak dalam perasaannya sendiri yang jelas-jelas lo gak bisa balas."
Hiko terdiam.
"Keputusannya ada di tangan lo! Lo tinggalin dia atau lo balas perasaannya." Tegas Genta, "tapi lo tahu sendiri resiko apa yang harus lo ambil ketika lo balas perasaan dia."
"Gue gak percaya dia punya perasaan ke gue, Ta! Lo lihat sesempurna apa dia dan seburuk apa gue?" Hiko menggelengkan kepalanya, kembali menatap ujung pantai laut yang gelap. "Lo salah, Ta! kali ini lo salah."
Genta kembali meneguk minuman kalengnya, "Lo tahu kemana harus bertanya." Genta menatap tepat di dada Hiko kemudian ia berdiri meninggalkan Hiko.
Hiko masih menyangkal pernyataan Genta bahwa tidak mungkin jika Ruby memiliki perasaan khusus padanya. Ia meraba dadanya, ia tak bisa memungkiri diri sendiri jika dibalik rasa tak percayanya itu ada titik kegembiraan disana.
Enggak-enggak, gue gak bisa gini. Lo punya Nara, Ko! Dia yang selalu ada buat, lo! Ia sedang bertengkar dengan batinnya sendiri.
Secinta itukah dia pada Nara?
Ia sendiri ragu, mengingat selama beberapa minggu ia tinggal bersama Nara hari-harinya tak semenarik ketika bersama Ruby. Walau bersama Ruby ia selalu bertengkar, tapi cukup membuat harinya penuh warna. Sedangkan bersama Nara, dia senang karena nafsunya selalu terpenuhi, tapi ia tak merasakan hal-hal menarik ketika bersama Ruby.
"Argh!!" Geramnya, Hiko mengacak-acak rambutnya yang tertata rapi.
Hiko berdiri, meneguk sisa minumannya hingga habis kemudian meremas dan membuangnya begitu saja. Ia kembali masuk ke dalam hotel. Musik disco dari seorang DJ masih menemani teman-temannya yang menikmati pesta di tepi kolam renang. Sapaan dan ajakan teman-temannya tak membuat Hiko mempunyai keinginan untuk bergabung. Langkahnya tetap lurus untuk masuk ke dalam bangunan hotel.
Langkah Hiko terhenti tepat ketika melihat petunjuk arah mushola hotel. Tanpa ia sadari langkahnya tergerak mengikuti petunjuk arah hingga sampai di sebuah ruangan yang di khususkan untuk sholat.
Ia berdiri lama didepan pintu, menatapi ruangan berkarpet khas mushola itu.
Apa Kau tahu jika aku sedang bimbang? Bukankah aku seorang pendosa besar yang terlalu hina untuk meminta petunjukmu? Sesempurna itukah wanita itu hingga Kau mengarahkanku kesini untuk menemuimu?
Hiko terdiam lama dengan segala pemikirannya hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi mengambil wudhu dan melaksanakan sholat sunah disana.
Sementara itu Ruby merasa gelisah di dalam kamar menunggu Hiko. Ia memutuskan pergi mencari Hiko.
__ADS_1
Ruby pergi menghampiri kru dan para pemain film yang masih berada di sekitar kolam renang, menanyakan keberadaan Hiko. Beberapa orang mengatakan Hiko sudah masuk ke dalam hotel beberala waktu lalu.
Ruby pun menyusuri lantai satu hotel, mencari keberadaan Hiko disetiap sudut ruangan hingga ia langkahnya terhenti ketika melihat sesosok pria yang sangat dikenalnya sedang menengadahkan tangan.
Pelan Ruby melangkah masuk, sebisa mungkin tidak membuat suara dan duduk tak jauh dibelakang Hiko. Ia tak mendengar doa apapun, hanya sebuah isak tangis dari seorang Ibrahim Akihiko.
Pria itu menenggalamkan wajahnya dalam dua telapak tangannya menutup doa dan tangisnya. Ia usap beberapa kali wajahnya kemudian menenangkan diri sejenak dengan menundukkan wajahnya hingga ia merasa ada seseorang yang duduk disampingnya.
Ia mengangkat kepalanya dan sangat terkejut ketika melihat Ruby yang ada disampingnya. Ia diam tak bergeming dan hanya menatap Ruby. Ia merasakan tangan lembut itu mengusap sisa air mata di pipinya kemudian memberikan senyum tipis yang mampun melelehkan gunung es didalam relung hatinya.
Hiko meraih tubuh Ruby dan memeluk Ruby sangat erat. Ruby membiarkan hal itu, ia menepuk dan mengusap lembut punggung Hiko.
"Maafin aku, By." Ucap Hiko, ia melepaskan pelukannya.
Ruby terkejut mendengar kata aku keluar dari mulut Hiko. "Kenapa mas minta maaf?" tanya Ruby.
"Karena sudah membuatmu memiliki perasaan pada pria hina sepertiku. Seharusnya aku tak pantas mendapat rasa cintamu."
Ruby menatap Hiko, "Kenap berkata seperti itu, Mas? apa kamu ragu akan kuasa-Nya? Allah yang sedang menggerakkan hatiku, Mas."
Hiko memegang kedua pipi Ruby, "Maafkan aku terlambat menyadarinya dan membuatmu terlalu banyak terluka." Ia memberikan sebuah kecupan di kening Ruby.
Ruby mengangguk pelan.
"Apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu tetap disini, By? Kamu mau aku memutuskan hubunganku dengan Nara? Kamu mau aku menjadi ahli ibadah seperti Iqbal?"
Ruby menggeleng, Ia menarik kedua tangan Hiko dari pipinya. "Aku tidak menginginkan apa-apa darimu, Mas. Aku tidak memintamu menjadi orang lain. Kenali saja dirimu, sayangi dan cintai dirimu sendiri, Mas. Kamu sangat berharga untuk dirimu sendiri dan orang lain. Cobalah berhenti mencari pengakuan dengan menyakiti diri sendiri dan membawamu terlalu jauh dari-Nya. Kamu tahu yang terbaik untuk dirimu sendiri."
"Tetap disini dan bantu aku, By." Pinta Hiko.
Ruby memegang erat tangan Hiko, "Aku tetap akan pergi mas."
Hiko menggelengkan kepalanya, "kamu gak bisa lakuin itu, By."
"Aku harus bisa, Mas. Selama aku ada disampingmu, Nara akan semakin tersakiti. Kita hanya saling menyakiti. Tolong pahamilah juga, Jepang adalah tujuanku setelah Ka'bah. Disanalah tersimpan semua angan dan cita-citaku terkumpul."
"Salah satu alasanku menikahimu karena ingin Nara bisa menjadi istrimu kelak, Mas. Aku ingin Papa dan Mama bisa menerimanya seperti mereka menerimaku. Karena bagi Nara, kamu adalah dunianya."
"Sekeras kepala inikah kamu, By?"
Ruby mengangguk, mengusap bekas air mata Hiko. "Maafkan aku, Mas."
Hiko tak memberi jawaban, hanya sebuah dekapan erat untuk Ruby.
**********
Malam semakin larut, tetapi Ruby tak kunjung merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia malah menyibukkan diri dengan tablet-nya. Ia sedang tidak fokus dengan gambarnya, tatapan pria diatas tempat tidur itu membuatnya merasa tak nyaman dan tak bisa masuk ke dalam imajinasinya.
"Udahlah, By! Tidur aja kenapa sih? Aku tahu kamu udah ngantuk, gak fokus ngerjain komikmu." Ujar Hiko.
"Siapa bilang? Aku fokus kok!" Tegas Ruby, "makanya, Mas tidur dulu aja! aku masih lama."
"Aku gak bakal ngapa-ngapain kamu, sumpah!"
Ruby menatap sinis Hiko, "kata-katamu yang terlihat meyakinkan seperti itu justru membuatku takut, Mas."
"Hahahaha, beneran aku gak akan ngapa-ngapain kamu." Hiko masih mencoba meyakinkan Ruby.
Ruby menggeleng kencang, "lagian mas bicara aku kamu kedengeran geli ditelingaku. Jangan dipakasain deh, Mas."
"Walau lidahku juga kaku, tapi ini usahaku supaya kita terasa makin intim, By!"
"Hah!? Jangan aneh-aneh aja deh kamu, Mas. Hubungan kita gak lebih dari sebelumnya, jangan mikir yang enggak-enggak!" Ruby memperjelas semuanya.
Hiko tersenyum geli melihat tingkah Ruby dengan harga dirinya yang tinggi. "Iya, iya."
Hiko berdiri dan menarik Ruby untuk meninggalkan tabletnya. Membawa Ruby duduk diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Percaya sama aku, aku gak akan ngapa-ngapain kamu!" Hiko meyakinkan Ruby sekali lagi.
"Janji?"
"Gak janji juga sih. Hahahaha."
"Iiih..." Ruby memukul keras dada bidang Hiko.
"Iya, By. Iya! aku janji! udah, tidur sana."
"Kalau sampai kamu berbuat yang aneh-aneh, aku bakar hidup-hidup kamu, Mas."
"Iyaaaaaaa!"
Hiko pergi mematikan lampu kamar kemudian merebahkan diri di sisi lain tempat tidur. Ruby memberi pembatas guling diantara dia dan Hiko. Ia tidur dengan memunggungi Hiko, membawa tubuhnya tepat ditepian kasur.
Suasana kamar sudah gelap, samar samar masih terdengar sorak sorai beberapa orang yang berada disekitar hotel, tak ada suara dentik jam diruangan itu hingga membuatnya terdengar sangat sunyi.
Ruby sudah memejamkan matanya, namun detak jantungnya yang terlalu keras membuatnya tetap terjaga.
"By!"
Suara Hiko hampir membuat jantungnya keluar karena terkejut.
"Ya, Mas."
"Aku udah sering tidur satu ranjang dengan banyak cewek, tapi kenapa tidur sama kamu bikin jantungku gak karu-karuan, ya?"
Ruby terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Ia memejamkan matanya saja untuk pura-pura tidur.
"Jawab, By! Gak usah pura-pura tidur."
Ruby masih terdiam.
"Kalau aja aku gak sebrengsek ini, aku udah berani balas perasaan kamu, By." Ucap Hiko lirih namun cukup jelas untuk di dengar.
Kali ini Ruby membuka matanya dan membalikkan badan menatap Hiko dalam remangnya kamar.
"Cintamu terlalu suci bagi seorang pendosa sepertiku." Hiko menarik badannya menghadap Ruby. "Bukan aku tidak mencintaimu, tapi aku hanya merasa tak pantas."
Ruby menyentuh pipi Hiko dan mengusapnya dengan ibu jari tangannya. menatap tiap lekuk wajah Hiko yang masih terlihat jelas dalam remang-remang.
Hiko mengambil guling yang menjadi pembatas antara dirinya dan Ruby dan menarik Ruby untuk tidur diatas lengannya.
"Mas, jangan lakuin ini!" Ruby mendorong tubuh Hiko, tapi pria itu menahan dan malah mendekapnya.
"Aku bersyukur bisa tahu perasaanmu, dengan begini aku bisa menjaga perasaan kamu." Ucap Hiko, ia mengusap rambut Ruby.
Ruby kembali mendorong tubuh Hiko untuk menjauh, tapi lagi-lagi Hiko menahannya.
"Aku gak akan lakuin lebih dari ini, By. Diam dan tidurlah."
Walau merasa was-was, Ruby tak bisa memungkiri jika dirinya merasa nyaman berada dipelukan Hiko.
Maafkan aku, Ra.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
sebelum lanjut baca jangan lupa tinggalin like dan commentnya ya kakak. terimakasih dukungannya.