Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
123


__ADS_3

Sudah lewat sebulan Hiko tak mendapatkan kabar apapun perihal ta'aruf-nya dari ustadz Arsy. Tiap kali Hiko bertemu dengan ustadz Arsy, ia segan untuk bertanya karena ustadz Arsy juga tak pernah membahasnya. Ia hanya bisa pasrah, mungkin menurut ustadz Arsy masih belum ada wanita yang cocok atau mungkin tidak bisa menerima masa lalu Hiko.


Sore ini Handoko dan Maria datang kembali ke Jogjakarta untuk menengok anak dan cucunya. Dan yang terpenting adalah untuk mengetahui perkembangan rencana ta'aruf Hiko.


"Sudah ada jawaban dari ustadz Arsy, Ko?" tanya Handoko.


Hiko menggeleng sambil membantu Almeer berganti baju untuk pergi sholat Ashar sekaligus mengaji di masjid.


"Belum ada, Pa. Hiko juga segan ingin bertanya pada ustadz Arsy. Nanti kesannya Hiko seperti tergesa-tergesa, gak enak."


"Ya udah, nanti papa aja yang tanya." Kata Handoko.


Hiko hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah menyiapkan kerapian dan keperluan Almeer, Hiko, Handoko dan Almeer pergi ke masjid, sedangkan Maria tinggal dan sholat dirumah bersama bi Inah.


Sesuai dengan niat Handoko, usai sholat Ashar Handoko dan Hiko bercengkrama di teras masjid bersama ustadz Arsy.


"Maaf Ustadz, ini saya ingin menanyakan perkembangan rencana ta'aruf putra saya. Apa ustadz sudah menemukan yang cocok untuk putra saya?" tanya Handoko.


Ustadz Arsy tersenyum, "Sebenarnya saya sudah mendapatkannya sejak beberapa hari yang lalu, Pak. Hanya saja wanita ini masih ragu ingin mengajukan diri juga."


"Kenapa begitu, Ustadz? Apa karena masalalu putra saya?" tanya Handoko.


"Bukan. Hanya saja wanita ini seorang janda dan mempunyai kekurangan. Itu yang membuat dia tidak percaya diri untuk malakukan ta'aruf dengan Nak Hiko. Karena itu saya masih menunggu jawaban darinya, Pak."


"Bukankah putra saya juga seorang duda dan beranak satu, Ustadz."


Ustadz Arsy tersenyum kembali. "Saya tidak bisa membaca isi hati orang, Pak Handoko. Sebetulnya kedua orangtuanya setuju jika putrinya memang akan ta'aruf dengan nak Hiko, hanya saja putrinya ini yang masih ragu."


"Tinggal dimana dia Ustadz?" tanya Hiko.


"Tidak jauh dari sini." Jawab Ustadz Arsy. "In shaa Allah, nanti malam saya akan ke rumahnya untuk menanyakan kembali."


"Terimakasih Ustadz Arsy, maaf jika kami selalu merepotkan Ustadz." Ujar Handoko.


"Selama saya bisa bantu, In shaa Allah akan saya bantu, Pak."


**********


Malam ini Hiko sedang bercengkrama dengan kedua orangtuanya juga Genta sambil menemani Almeer bermain di ruang tengah.


"Al, Papa boleh tanya gak?" tanya Hiko pada Almeer.


"Ya, Pa?" Almeer menghentikan kegiatannya dengan robot-robotnya.


"Al mau Mama yang seperti apa?" tanya Hiko.


Almeer menatap langit-langit rumah sambil memikirkan sesuatu, "Mau yang kaya mama Nara atau mama Ruby." Jawabnya ditutup dengan senyum mengembang dibibirnya.


Empat orang dewasa di sekitarnya langsung terdiam.


"Misalkan calon mama Al nanti gak seperti mama Nara atau mama Ruby gimana?" tanya Hiko.


"Al maunya yang pake kerudung, Pa. Al gak mau nanti gak bisa ketemu mama baru Al di surga."


"In shaa Allah mama baru Al nanti berkerudung." Jawab Hiko, "Tapi andaikan nanti mama baru Al tidak sesempurna mama Nara atau mama Ruby gimana?"


Almeer terlihat kebingungan.


"Misalnya, seperti tante kerudung ungu yang dulu pernah nolong Al waktu jatuh. Inget gak? yang tantenya gak bisa bicara?"


Entah kenapa sejak pembicaraan dengan ustadz Arsy tadi sore pikiran Hiko teringat wanita tunawicara itu.


"Mau. Tantenya baik." Jawab Almeer semangat. "Tapi ...," Wajahnya kembali murung, "Al maunya mama Ruby."


Kembali empat orang dewasa itu terdiam dan saling bertatapan.


Maria mengangkat tubuh cucunya itu ke dalam pangkuannya. "Al, mama Ruby saat ini sudah bersama orang lain. Jadi tidak bisa jadi mamanya Al. Tapi mama Ruby tetap akan sayang Al sampai kapanpun."


"Kalau Al masih terus minta mama Ruby jadi mamanya Al, mama Ruby bisa sedih, calon suaminya mama Ruby juga bisa sedih." Tambah Handoko.


"In shaa Allah, Al akan kirim mama baru untuk Al yang lebih baik dari mama Ruby, sayang sama Al, sama papa juga." tambah Maria lagi.


Al mengangguk walau cemberut.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum,"


Semua melihat ke arah ruang tamu, Hiko bergegas membukakan pintu ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam, Ustadz Arsy."


Hiko terkejut melihat Ustadz Arsy bertamu ke rumahnya.


"Silahkan masuk, Ustadz. Silahkan duduk." Hiko mempersilahkan tamunya.

__ADS_1


Ustadz Arsy masuk dan duduk di salah satu sofa di ruang tamu Hiko.


"Pa, Ma. Ada Ustadz Arsy!" Hiko setengah berteriak memanggil kedua orangtuanya.


Tak lama Handoko dan Maria datang, "Assalamu'alaikum, Ustadz." Sapa mereka.


Ustadz Arsy berdiri, "Wa'alaikumsalam, Pak, Bu. Mohon maaf saya malam-malam bertamu."


"Tidak apa-apa, Ustadz. Kami malah senang Ustadz kemari." Jawab Handoko, "Silahkan duduk, Ustadz."


Semuanya duduk ditempat mereka masing-masing.


"Begini, Pak, Bu dan Nak Hiko. Tadi sore saya sudah mandatangi wali dan kebetulan bertemu langsung dengan wanita yang menurut saya cocok dengan Nak Hiko. Wanita tersebut menitipkan pesan untuk Nak Hiko."


Ustadz Arsy memberikan jeda sebentar.


"Pesan apa Ustadz?" tanya Hiko.


"Dia berpesan siap untuk menerima ta'aruf dari Nak Hiko, Jika memang siap, besok usai ashar dia dan keluarganya menunggu kedatangan Nak Hiko dirumahnya. Dan ...,"


Ustadz Arsy memberikan jeda lagi.


"Ia ingin melaksanakan akad nikah hari itu juga jika Nak Hiko dan keluarga merasa cocok dengannya."


"Tapi dia belum mengirimkan CV-nya pada kami, Ustadz. Kami tidak tahu wajahnya, dia seperti apa? kelebihan dan kekurangannya." Tanya Handoko.


"Nak Hiko sudah pernah beberapa kali bertemu dengannya. Dia akan memperkenalkan dirinya langsung saat itu juga. Nak Hiko dan keluarga berhak langsung menolak jika memang wanita itu kurang cocok dengan hati anda."


"Siapa namanya, Ustadz?" tanya Hiko.


Ustadz Arsy, "Saya tidak diberikan izin untuk memperkenalkan dia. Dia hanya ingin Nak Hiko dan keluarga yang mengenalnya sendiri."


"Sepertinya saya tahu siapa orangnya, Ustadz. Almeer pun mengenalnya." Ujar Hiko.


Ustadz Arsy menganggu, "Dia juga mengatakan seperti itu."


"Siapa, Nak?" tanya Maria.


"Besok Mama akan tahu. Hiko juga takut salah duga." Jawab Hiko.


"Besok ba'da sholat ashar, saya akan antar nak Hiko dan keluarga ke rumahnya."


"Baik Ustadz."


"Kalau begitu saya langsung pamit saja." Ustadz Arsy berdiri.


"Sudah gak apa, Bu Handoko. Nanti saya kebanyakan minum kopi, disana sini disuguhin kopi." Canda Ustadz Arsy. "Saya pamit pulang ya Pak, Bu, Nak Hiko. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Ustadz Arsy."


"Mari saya antar ke depan, Ustadz."


Handoko pergi menemani Ustadz Arsy, sedangkan Hiko dan Maria hanya mengantar sampai pintu ruang tamu.


"Kamu sudah mengenal wanita itu, Nak?" tanya Maria.


"Gak tahu, Ma. Hiko juga masih menduga-duga." jawab Hiko.


"Semoga pilihan ustadz Arsy benar-benar cocok untukmu dan Almeer ya, Nak." Kata Maria.


"Aamiin, Ma. Dan semoga dia juga bisa menerima semua kekurangan Hiko."


"Aamiin..."


**********


Sesuai dengan percakapan semalam dengan ustadz Arsy, Hiko dan kedua orangtuanya juga bersama Ustadz Arsy pergi menuju ke tempat wanita yang akan berta'aruf dengan Hiko.


Mobil mulai menapaki jalanan berpaving sebuah perumahan yang berjarak tak sampai lima belas menit dari tempat tinggal Hiko. Rumah berukuran sedang dengan cat yang dominan dengan warna biru cerah menjadi tempat berhentinya mobil Hiko dan papanya.


Hiko sengaja tidak mengajak Almeer kali ini, karena memang ia ingin memastikan semua berjalan lancar terlebih dulu, barulah ia akan memperkenalkannya pada Almeer. Ia tak mau membuat Almeer kecewa untuk kedua kalinya.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," Ustadz Arsy yang masuk lebih dulu mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," Seorang wanita paruh baya berhijab lebar keluar dari dalam rumah. "Ustadz Arsy, mari silahkan masuk."


"Iya. Bu Halimah. Saya datang bersama keluarga Nak Hiko," Ustadz Arsy memperkenalkan Hiko dan keluarganya.


"Saya Halimah."


Mereka semua saling memberi salam dan memperkenalkan diri satu sama lain.


"Mari silahkan duduk, saya panggilkan suami saya dulu."


Semuanya duduk di kursi ruang tamu yang tak terlalu besar itu. Ruang tamu rumah memang tak besar, tapi sang pemilik rumah sudah mensettingnya dengan tambahan kursi-kursi tambahan disana agar muat untuk semua tamu dan pemilik rumah sendiri.


Tak ada satu bingkai foto pun disana yang menunjukkan wajah pemilik rumah tersebut, tentu saja membuat Hiko semakin penasaran.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." Suara seorang pria paruh baya bertubuh besar menggema didalam ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


Sama seperti sebelumnya, Pria itu menyalami semua tamunya kecuali Maria, ia hanya menyapa tanpa menyentuhnya.


"Panggil saya Anwar." Pria itu memperkenalkan diri, kemudian menatap Hiko yang sedari tadi menunduk. "Mas ini yang namanya Ibrahim Akihiko?"


"Iya, Pak." Hiko menegakkan punggungnya, mengangkat wajahnya menghadap Anwar tapi tak sampai menatap matan pria paruh baya itu.


"Terimakasih atas niat baik yang Mas Hiko dan Bapak Ibu berikan pada kami hingga memenuhi undangan kami."


"Sama-sama pak Anwar. Kami juga sangat berterimakasih sudah disambut dengan sangat baik." Sambut Handoko.


"Sebenarnya saya bukan orang tua wanita yang akan menjalankan proses ta'aruf dengan Mas Hiko ini, saya walinya dan saya cukup mengenal dengan baik wanita ini. Sebelumnya saya mohon maaf jika keluarga kami mengajukan persyaratan yang terlalu rumit, karena memang ini kemauan dari pihak wanitanya sendiri" Ujar Anwar.


"Kami tidak merasa keberatan, Pak Anwar. Justru seperti ini kita bisa saling mengenal dan bersilaturahmi." Jawab Handoko.


Anwar mengangguk, "Saya akan langsung saja memperkenalkan dia. Usianya dua puluh tujuh tahun, dia seorang janda dan belum mempunyai keturunan. Ilmu agamanya sangat baik, dia patuh pada Allah, Rasul dan kedua orangtuanya. Tapi dia mempunyai satu kekurangan, dia masih mencintai mantan suaminya dan hingga saat ini ia masih susah melupakannya. Tapi ia berjanji jika usai menikah, ia akan berusaha mencintai siapapun pria yang akan menjadi suaminya kelak." Ujar Anwar, ia menarik nafas sejenak.


"Apa Mas Hiko bersedia menerima kekurangannya?" tanya Anwar.


Hiko menatap Handoko dan Maria bergantian. Allah mengirimkan seseorang yang mempunyai permasalahan yang sama dengannya. Bisakah mereka saling mencintai kelak? Bagaiamana jika mereka hanya akan saling menyakiti? Ataukah justru mereka akan saling menghargai?


"Saya juga punya banyak kekurangan pak, semua keburukan saya sudah saya sampaikan pada CV milik saya. Apa dia bisa menerima saya dan apa saya pantas untuknya?" tanya Hiko


"Mari silahkan diminum." Halimah datang membawa nampan dengan beberapa cangkir teh. Ia meletakkan satu per satu cangkir itu diatas meja, tepat di hadapan tamu-tamunya.


"Terimakasih, Bu." Ujar Maria.


"Sama-sama, Bu." Halimah duduk samping suaminya.


"Dia menerima semua tentangmu dan masa lalumu, dia juga sangat menerima putramu." Anwar menjawab pertanyaan Hiko sebelumnya. "Biarkan dia memperkenalkan dirinya sendiri padamu dan keluargamu." Lanjut Anwar.


"Nduk ..., kemarilah, perkenalkan dirimu sendiri."


Entah kenapa suasana ini lebih menegangkan dibanding ketika ia akan melamar Ruby dulu. Jantungnya berdegub tak karuan menanti sosok wanita seperti apa yang akan keluar dari balik ruangan itu.


Tak perlu waktu lama, seorang wanita cantik yang memakai gamis berwarna coklat dan kerudung dengan warna senada muncul dari balik ruangan itu. Seorang wanita dan pria paruh baya mendampinginya di sisi kanan dan kirinya.


Hiko mematung melihat wanita itu, tak ada senyum diwajahnya. Wanita itu seakan menghipnotisnya.


"Assalamu'alaikum, Mas Hiko. Perkenalkan nama saya Tabina Ruby Azzahra."


"Wa'alaikumsalam ..., Ruby." Setetes air mata Hiko jatuh membasahi pipinya.


"Saya wanita yang akan melakukan ta'aruf denganmu, Mas."


"Alhamdullillah, ya Allah ..."


Hiko langsung bersujud di lantai mengucap syukur berkali-kali pada Tuhannya, Maria mengusap punggung putranya yang bergetar. Terlihat jelas jika putranya sedang menangis bahagia. Handoko dan Maria juga tak bisa menahan air mata mereka. Benar saja, cara kerja waktu itu sangat mengejutkan. Takdir mempertemukan mereka kembali di waktu yang tepat.


Hiko mengangkat tubuhnya dan berdiri, menyeka air matanya dan menatap ruby yang juga sedang terisak.


"Apa aku harus memoerkenalkan diri lagi, Mas?" tanya Ruby diantara tangisnya.


Hiko menggeleng, "Aku sudah cukup mengenalmu, aku sudah sangat mengenal kamu." jawab Hiko. "Terimakasih sudah mau hadir dikehidupanku lagi, By. Terimakasih."


Hiko menghampiri Kyai Abdullah tan mencium tangannya, Kyai Abdullah langsung memeluk Hiko.


"Terimakasih, Abi. Sudah mengizinkan dan memberi kesempatan saya untuk menjaga Ruby."


Kyai Abdullah mengangguk, "Tolong jangan buat dia bersedih lagi, Abi titipkan putri Abi padamu." Ujar Kyai Abdullah kemudian melepaskan pelukannya pada Hiko.


Hiko berganti menatap Nyai Hannah, "Terimakasih Ummi sudah--"


"Maafkan Ummi yang terlalu egois hingga membuat kalian hampir terluka untuk kedua kalinya, tolong maafkan Ummi, Nak Hiko."


Hiko menggeleng, "Ummi tidak bersalah, saya lah yang membuat Ummi tidak bisa percaya pada pria seperti saya."


"Tapi Ummi sekarang sudah percaya padamu, Nak. Hanya kamu pemilik hati Ruby dan hanya kamu yang bisa membuatnya bahagia."


"Terimakasih, Ummi. Hiko sangat berterimakasih."


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like. comment, vote dan bintang limanya kakak.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2