
Bersama Hiko dan Genta, Ruby sudah duduk disebuah bangku pesawat yang berjajar tiga tersebut. Ia memilih untuk duduk tepat disebelah cendela dengan Hiko disebelahnya dan Genta di paling ujung. Hampir satu pesawat ini di isi oleh pemain dan kru serial drama The King dan Go Hanae. Walau memang ada beberapa pemain yang memilih untuk pergi mengenakan bisnis class.
Seperti biasa, Ruby mengisi waktu penerbangannya dengan memggambar komiknya. Hiko sibuk mendengarkan lagu lewat earphone-nya sambil memperhatikan Ruby menggambar dan Genta .... dia sedang menikmati mimpi-mimpinya.
"Komikusnya Go Hanae yang lo suka itu bakal dateng ntar." Bisik Hiko.
Ruby hanya mengangguk.
"Udah pernah ketemu?" tanya Hiko.
Ruby menggeleng, "Selama ini cuma meeting sama sekretarisnya aja."
"Tua gak dia? Umur berapa?" Tanya Hiko.
"Gak tau, aku gak pernah tanya-tanya." Jawab Ruby, ia meletakkan styluspen-nya dan menatap Hiko. "Mas sengaja nyari bahan ya buat bicara sama aku?"
"Ngapain? mending juga gue dengerin musik." Hiko menegapkan duduknya. Sial, ketahuan banget ya gue? Batin Hiko.
Ruby kembali fokus dengan tablet-nya. Hingga tiba-tiba saja ia merasakan sebuah kepala tersandar di bahunya, siapa lagi jika bukan Hiko.
"Mas!" Ruby sudah melayangkan protes.
"Kalo lo marah, mereka akan menggosipkan kalau rumah tangga kita tidak baik-baik saja." Bisik Hiko dengan mata terpejam.
Ruby menatap beberapa orang di bangku seberang sedang menatap kearahnya dengan tatapan gemas. Ia menutup tabletnya dan memasukkannya ke dalam tas kemudian menegakkan duduknya membuat Hiko bersandar lebih nyaman.
Hiko tersenyum tipis, "Berat?" Tanya Hiko lembut.
Ruby mengagguk.
Hiko meraih tangan Ruby dan menggenggamnya. "Bentar lagi."
Walau canggung. tapi sekali lagi ia merasa nyaman. Tapi ia kembali meneguhkan hatinya, jangan sampai masuk kedalam dramanya lagi atau akan ada hati yang terluka lagi.
Selama penerbangan Hiko tak pernah melepaskan tangan Ruby dan terus menyandarkan kepalanya di bahu Ruby. Sampai di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai-Bali, semua rombongan di jemput oleh dua bus dan langsung diantar ke hotel.
Sebuah hotel mewah yang berada tepat di tepi pantai menjadi lokasi mereka menginap dan mengadakan acara. Semua berkumpul di lobby untuk menerima kunci kamar masing-masing.
"Nih." Genta memberikan cardlock kamar pada Hiko. "Kita beda lantai." Genta menunjukkam nomor yang ada di cardlock-nya.
"Punya ku gak ada, Mas?" tanya Ruby pada Genta.
"Lah, kalian kan udah tidur sekamar." Jawab Genta.
"Hah!!" Ruby terkejut.
"Kenapa? Bukannya sudah biasa kita tidur sekamar?" tanya Hiko datar.
"Aku ambil kamar sendiri aja deh."
"Eh, By!" Panggil Genta, "Percuma, udah full."
Ruby tak percaya, ia pergi sendiri untuk bertanya ke meja resepsionist. Beberapa teman aktris juga berada disana, dan petugas mengatakan jika kamar hotel sudah full. Ruby pun kembali ke Hiko dan Genta dengan mayun.
"Bener, kan?" Tanya Genta.
"Mas tidur aja sama mas Hiko gimana?" Ruby mencoba bernegosiasi.
"Trus kamu mau tidur sama manajernya Resky?" Genta menyebut nama salah seorang aktor.
"Udah ayo ke kamar." Hiko menarik koper miliknya dan juga milik Ruby.
Walau berat, Ruby tetap melangkahkan kakinya mengikuti Hiko.
Sebuah kamar dilantai delapan dengan pemandangan pantai yang indah menjadi tempat meninginap Hiko dan Ruby. Bukan sebuah kamar vip atau bahkan eksklusif, hanya kamar biasa yang memiliki fasilitas satu double bed, dua kursi kayu dan sebuah meja kecil, AC, almari, televisi dan tentunya kamar mandi.
Ruby masih terpaku melihat kamar yang akan ditinggalinya, tidak mungkin kami akan tidur dalam satu tempat tidur, batinnya.
Hiko cuek saja dengan situasinya, ia memilih pergi ke balkon kamar hotel menikmati pemandangan laut yang terbentang tak jauh didepannya.
*********
Acara penutupan drama The King dan pembukaan drama Go Hanae sudah di mulai sejak pukul empat sore di sebuah ballroom hotel. Ruby yang mengemakan sebuah gamis hitam elegan dengan sebuah kerudung silver menggandeng lengan Hiko yang memakai setelan jas hitam dan kemeja putih. Mereka duduk di kursi dengan meja bulat berisi nama-nama orang uang akan duduk disana. Ada sepasang orang yang belum mengisi dua kursi disana.
Acara dimulai setelah hampir semua tamu undangan hadir disana. Sambutan demi sambutan telah disampaikan lebih dulu oleh penanggung jawab serial drama The King hingga Ruby sebagai komikusnya.
Semua mata tertuju ke atas panggung kembali ketika Rika mulai memberikan sambutan untuk pembukaan serial drama Go Hanae.
"Mungkin bukan saya saja yang penasaran dengan sosok yang sangat tertutup ini, tapi kita semua disini sangat bersyukur karena dia mau hadir bergabung bersama kita dan membuka identitasnya disini. Mari kita sambut dengan meriah, Yuwen!"
Saat inilah yang ditunggu-tunggu Ruby. Idolanya, kiblat dunia komiknya ada pada sosok orang yang akan berdiri diatas panggung.
"Loh, Kok ...."
Ruby dikejutkan dengan sosok pria berwajah oriental yang sangat ia kenali sedang melangkah menghampiri Rika. Ia mengerjapkan matanya untuk memastikan ulang. Itu Abriz, ketua timnya yang hanya perpakaian lebih rapi dan rambut yang disiir kebelakang dengan kilatan pomade hingga membuatnya lebih segar.
Bukan hanya Ruby, Hiko pun ikut kaget sejadi-jadinya. Itu berarti secara tidak langsung dia akan bekerja dibawah komando Abriz. Dia merasa harga dirinya terinjak-injak oleh laki-laki itu.
Ruby dan Hiko sama-sama tertegun melihat pria itu memberi sambutan hingga dia turun dan bersama pria lain menghampiri meja tempat Ruby dan Hiko duduk.
Ruby masih tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Abriz. Abriz memberikan senyuman yang sangat lebar pada Ruby, tapi Ruby hanya menatapnya datar. Entah apa yang ada dalam pikiran Ruby, yang jelas ia sangat terkejut saat ini
__ADS_1
Acara masih dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dan terhenti ketika adzan magrib berkumandang. Ada yang berbincang santai dimeja mereka masing-masing, ada yang langsung menuju ke mushola dan ada juga yang pergi keluar menikmati sunsite.
Abriz menghampiri Ruby, "Sholat bareng yuk, By?" Ajak Abriz.
Ruby hanya menatap Abriz dengan kesal, "Aku tidak tahu jika kamu pembohong yang hebat, Mas." Cetusnya.
Abriz sendiri terkejut ketika melihat Ruby marah mengetahui siapa dia sebenarnya. "Maafkan aku, By." Ucap Abriz.
"By!" Rika dan sekretarisnya menghampiri meja Ruby.
"Iya, Bu Rika?"
Ruby dan Hiko berdiri menyambut Rika.
"Gak nyangka banget ya ternyata teman kamu ini ternyata komikus kondang." Ujar Rika.
Ruby hanya tersenyum.
"Padahal yang ku tahu dia pemilik Inwork Studio, tahunya dia juga komikus kondang yang dicari-cari banyak PH." Rika menepuk-nepuk punggung Abriz yang berdiri disampingnya.
"Pemilik Inwork Studio?" Ruby mengulang.
"Loh, kamu gak tau juga?" tanya Ruby.
Ruby dan Hiko dibuat terkejut untuk kedua kalinya. Ruby menatap Abriz, dimatanya tersirat sebuah kekecewaan. Abriz semakin tidak nyaman dengan tatapan itu.
"Saya sholat magrib dulu ya, Bu." Pamit Ruby
Ruby bergegas pergi, walau kesusahan menjaga keseimbangan badannya karena menggunakan hells, ia tetap berusaha sesegera mungkin meninggalkan ballroom.
"By!" Panggilan suara Abriz menggema di koridor hotel yang sepi.
Ruby mangacuhkan panggilan itu dan terus berjalan.
"By, By ..." Abriz menghadang langkah Ruby.
"Jangan bicara padaku sekarang, Mas. Aku tidak mau kehilangan waktuku bersama-Nya hanya untuk mendengar penjelasanmu."
Ruby kembali melangkah,
"Aargh!"
Ruby hampir saja terjath karena kehilangan keseimbangan, beruntung Abriz bisa menangkapnya dan menarik Ruby dari pelukannya. Ah, entah itu keberuntungan atau ...
Bruk!!
Suara hentakan sebuah badan ke dinding, Hiko sedang mencekik leher Abriz dengan satu tangannya dan mendorongnya ke dinding. Wajahnya marah dengan tatapan nanar menunjukkan kebencian.
"Bisa-bisanya lo sentuh istri gue!" Ucapnya menahan marah.
Muka Abriz sudah merah padam.
"Mas! Lepasin! Kamu mau bunuh mas Abriz?" Ruby menarik tangan Hiko sekuat mungkin hingga terlepas dari leher Abriz.
Abriz merasa lega bisa kembali menghirup oksigen dengan bebas.
"Dia cuma nolongin aku yang hampir jatuh, Mas." Ruby mencoba memberi pengertian walau ia juga marah dengan sikap Hiko.
"Gue cuma sentuh aja marah. Apa kabar lo yang sampe ciuman sama cewek lain didepan dia? Kebayang kan giaman perasaan dia?" Cetus Abriz dengan nafas yang masih tersenggal-senggal.
"Brengsek, lo!" Hiko menarik kerah Abriz dan sudah mengepalkan tangannya siap memberikan tinjunya.
"Cukup!" Teriak Ruby geram.
"Tenang aja, By. Aku bisa hajar dia sampai mampus, tangan gue udah sembuh." Abriz mengangkat tangan kirinya yang sudah lama ditinggalkan gipsnya.
"Cukup mas! Jangan menambah panas keadaan. Ini ditempat orang, jangan membuat keributan! Kalian pria dewasa, bukan anak kecil!"
Ruby melepaskan hells dari kakinya kemudian meninggalkan dua pria itu sendirian. Tak peduli lagi apa yang akan mereka berdua lakukan.
**********
Malam semakin larut, tak membuat para pemeran dan kru serial drama itu kembali ke kamar mereka masing-masing. Mereka masih asyik menikmati indahnya laut dan langit di malam hari.
Walau masih kesal, Ruby tetap berada di samping Hiko dan Genta. Setidaknya bersama mereka berdua dia tidak teracuhkan.
"Dingin?" Tanya Hiko pada Ruby.
Ruby menggeleng.
"Aku kedinginan sayaaang." Genta menggoda Hiko.
"B*ngs*t!" Hiko mengumpat dan menatap jijik tingkah manajernya itu.
"Eh, gabung ya?" Rika datang dengan suaminya duduk di kursi kayu yang ada didepan Hiko dan Ruby.
"Silahkan. Bu." Kata Hiko dan Genta kompak.
"Saya senang lo lihat kalian. Pasangan muda yang greget!" Puji Zaen, suami Rika.
"Bapak bisa saja." Hiko merendah.
__ADS_1
"Ganteng, cantik. Gak kebayang deh sesempurna apa anak kalian nanti." Kata Zaen.
Hiko dan Ruby hanya tersenyum.
"Gak pengen buru-buru punya baby nih?" Goda Zaen.
Hiko dan Ruby terkejut dengan pertanyaan Zaen.
"Ya belum lah, Pa." Sahut Rika, "Ruby masih mau lanjut S2-nya di Jepang. Dia juga keterima kerja di Sunrise Animation. Bulan depan dia berangkat, masa' mau bikin baby."
Deg!
Pernyataan Rika membuat Hiko, Ruby dan Genta terdiam. Hiko menatap Ruby meminta penjelasan tapi Ruby menghindari tatapan Hiko.
"Wah, kalian mau LDR-an nih?" Tanya Zaen.
"Ruby masih muda, Pa. Menikah gak akan menghentikan dia untuk mengejar pendidikan dan cita-citanya." tandas Rika.
Zaen mengagguk, "benar, By. Teruskan perjuangan kamu."
Ruby hanya mengangguk.
"Berapa lama disana?" Tanya Zaen.
"Tiga tahun, Pak." Jawab Ruby pelan, ia tahu pria disampingnya itu lebih terkejut mendengar jawabannya.
"Maaf bu Rika, saya permisi ke belakang sebentar." Hiko bergegas pergi meninggalkan tempatnya.
"Oh. iya ... Silahkan."
Ruby bingung, ia ingin mengejar Hiko tapi tak enak meninggalkan Rika dan Zaen. Ingin tetap disana, tapi pikirannya dipenuhi dengan sikap Hiko.
Ia menatap Genta meminta saran dan Genta menganggukkan kepala untuk mengikuti Hiko.
"Maaf Bu Rika, saya permisi sebentar ya, Bu." Ruby berdiri.
Walau keherenan, tapi Rika tetap mempersilahkan Ruby pergi.
Ruby mengejar Hiko ke dalam hotel, ia melepaskan hells yang dipakainya agar lebih leluasa dalam berjalan. Ia melihat Hiko sudah masuk ke dalam lift, ia memutuskan untuk menggunakan lift lain untuk naik ke atas.
Pintu lift terbuka di lantai delapan, tebakannya benar jika Hiko akan kembali ke kamarnya. Ia masih bisa melihat Hiko berjalan di koridor hotel.
"Mas!" Ruby mengejar Hiko.
Hiko mengacuhkan Ruby dan masuk ke kamar mereka, Ruby pun mengekorinya.
"Mas ..."
Ruby menarik tangan Hiko namun pria itu menepisnya. Hanya ditepis seperti itu, tapi hatinya terasa sakit dan tiba tiba saja hatinya memupuk rasa bersalah.
Ruby menatap wajah Hiko terlihat menahan marah dan kekecewaan, tatapannya tertuju keluar cendela yang gelap.
"Bisa-bisanya lo gak dengerin omongan gue, By!"
"Aku tidak tahu harus minta maaf atau tidak ke kamu, Mas. Tapi semuanya sudah siap, dan aku memang akan berangkat ke Jepang."
Hiko menatap Ruby marah, "Lo mau ninggalin gue tiga tahun, By! Lo pergi ke Jogja sehari aja gue udah hampir gila, dan sekarang lo mau tinggalin gue tiga tahun!"
Ruby diam sejenak, "Aku gak pernah ninggalin kamu, Mas." Ucapnya. "kamu yang ninggalin aku."
Hiko terdiam mencerna kalimat Ruby.
"Aku selalu disini dengan perasaanku, tapi kamu selalu pergi."
Deg!
Hiko tercengang dengan kalimat Ruby.
"Lo punya perasaan ke gue?" Hiko memperjelas.
Ruby hanya diam menatap Hiko.
"By, lo ..."
"Untuk apa aku menjawabnya jika pengakuanku hanya akan menjadi beban untukmu?"
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, comment dan vote ya kakak.
terimakasih sudah kasih dukungan vote buat novel ini sampai menginjak ranking 20 besar.. terimakasih banyaaaakk...
__ADS_1