Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
56


__ADS_3

"Kenapa, Ko?"


Dari tatapan mata Hiko, Genta sudah bisa menebak apa yang sedang Hiko rasakan. Namun Genta hanya ingin memperjelas perasaan temannya itu.


Hiko memilih melanjutkan langkahnya yang terhenti ketika melihat kehadiran Ruby disana.


Genta hanya hanya tersenyum senang melihat ekspresi Hiko. Selama mereka berteman, baru kali ini ia melihat raut wajah Hiko seperti itu.


Sementara itu, Ruby tetap melangkah dengan tawa-tawa kecil bersama Abriz. Ia melihat Rika yang baru saja masuk ke sebuah ruangan. Bersama Abriz, ia berlari kecil mengejar Rika.


"Bu Rika!" Sapa Ruby.


"Eh, Sudah datang kalian?" Rika menghampiri Ruby dan Abriz, "Ayo masuk. Duduk disini." Rika menunjuk sebuah bangku kayu yang panjang.


Ruby dan Abriz pun duduk, Rika mengambil sebuah bangku plastik di ujung ruangan untuk dibuatnya duduk didepan Ruby dan Abriz.


"Gimana-gimana?" Tanya Rika.


"Sebenarnya yang dapat informasi mas Abriz, Bu. Kalau saya tidak ada informasi sama sekali." Jawab Ruby.


Rika menatap Abriz, "Gimana, Mas Abriz?" Tanya Rika.


"Saya iseng-iseng follow dia aja karena disuruh kak Heru. Eh, ternyata malah di follback, Bu. Udah saya tanya sih orang mana, dia jawab orang Singkawang. Tapi sekarang dia gak di Indonesia."


Abriz mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku celananya dan diberikannya pada Rika, "Ini nomor sekretaris Yuwen, namanya Bagus."


"Yuwen?" Tanya Rika.


"Komikusnya Go Hanae namanya Yuwen, Bu." Jawab Abriz.


"Makasih ya, kamu sudah bantu saya." Ucap Rika, ia mengambil kertas yang diberikan Abriz. "Kamu minta imbalan apa?" Tanya Rika.


"Ah, saya tidak membantu banyak. Bu. Mana berani saya minta sesuatu." Abriz mengusap rambutnya yang tidak gatal,


Rika tersenyum, "Terimakasih ya, Mas Abriz."


Abriz hanya mengangguk.


"Dara, minta tolong hubungi nomor ini. Dia sekretaris Go Hanae, Bagus namanya."


Wanita yang sedari tadi berdiri di depan pintu menghampiri Rika untuk mengambil kertas dari tangan Rika. Ia menekan beberapa tombol dari ponselnya. Nada sambung mulai terdengar beberapa kali namun tidak diangkat. Sekali lagi Dara mencoba menghubungi lagi, namun tidak ada jawaban.


"Tidak tersambung, Bu." Ujar Dara.


"Ya sudah, kita coba hubungi lain waktu." Kata Rika.


Dara kembali ke tempatnya semula dan Rika kembali menatap Abriz.


"Bisakah kamu menyampaikan maksud kami pada Yuwen. Star House ingin menawarkan diri untuk menjadikan serial drama dari Go Hanae." Pinta Rika.


"Tapi sebelumnya dia pernah menyampaikan, Jika dia tidak berminat bekerjasama dengan PH dalam negeri." Ujar Abriz.


"Kenapa Begitu." Tanya Ruby.


Abriz menatap Rika merasa tak enak.

__ADS_1


"Bicarakan saja." Kata Rika.


"Dia malas karena sebelumnya tidak ada PH lokal yang melirik karyanya. Tapi setelah salah satu PH luar negeri yang melirik, PH lokal berusaha menariknya." Jelas Abriz.


Rika mengangguk-angguk, "Itu mungkin sebab para animator seperti kalian lebih suka bekerja di luar negeri, ya? Karena di negara sendiri kurang di hargai."


Ruby diam, sedangkan Abriz mengangguk.


"Tolong bantu kami untuk berkomunikasi dengan Yuwen, ya?" Pinta Rika.


"Inshaa Allah, saya bantu." Jawab Abriz.


Rika melanjutkan pembicaraannya dengan Ruby untuk membahas beberapa hal tentang The King. Tak memakan waktu lama untuk membicarakan hal-hal penting itu, akhirnya Ruby dan Abriz pamit pulang.


"Enak banget ya kamu, mas. Bisa ngobrol sama Yuwen. Iri banget." Ucap Ruby, membuang suasana sepi saat perjalanan menuju ke tempat parkir.


"Aku sih di follback dia biasa aja, emang dasarnya aku gak ngefans sama dia." Sahut Abriz.


"Trus, kiblat mas Abriz buat bikin komik siapa?"


"Diriku sendiri lah. Aku sangat percaya diri dengan kemampuanku." Abriz menepuk pelan dadanya.


Ruby mengangguk-angguk, sedikit menyesal memberi Abriz pertanyaannya. Ia kembali diam dan melanjutkan langkahnya.


"By!" Panggil Abriz.


"Ya?" Ruby menatap Abriz.


"Aku seneng kamu gak jutek lagi ke aku." Abriz tersenyum sangat lebar menatap Ruby, membuat mata Abriz terlihat semakin sipit terdorong tulang pipinya.


Entah kenapa senyuman Abriz membuat Ruby tersipu malu. Ia menundukkan wajahnya, menatap ujung roknya yang tergoyang-goyang terhentak langkah kakinya.


Tiba-tiba saja Ruby merasakan tangannya ditarik seseorang dari belakang, reflek Ruby menarik tangannya namun cengkraman ditangannya terlalu kuat.


"Mas Hiko?" Batin Ruby.


"Balik sama gue!" Hiko menarik tangan Ruby, memaksa Ruby mengikuti langkahnya.


Ruby setengah berlari mengikuti langkah Hiko yang lebar, Hiko tak sedikitpun menoleh ke belakang. Ia hanya ingin cepat mengajak Ruby masuk ke dalam mobil.


Ya Allah, apa yang sedang terjadi dengan pria di depanku ini? Batin Ruby.


Hiko membuka pintu mobilnya, tanpa disuruh Ruby masuk ke dalam mobil. Hiko memutari mobil dan masuk di bangku pengemudi. Tanpa banyak kata ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena sangking takutnya, tangan Ruby mencekram erat tas dipangkuannya. Matanya terpejam dan berdoa semoga Allah melindunginya dan sampai dengan selamat.


Ckiiiiit!


Tiiin tiiiin!


Mobil Hiko berhenti mendadak setelah ia menekan pedal rem. Ia hampir saja menabrak pengendara motor yang memotong jalan sembarangan.


"Astaqfirullah!" Jantung Ruby berdetak lebih cepat karena terkejut.


Hiko menyalakan kembali mesin mobilnya dan mulai berkendara dengan tenang.


Ruby menatap marah pada Hiko. "Apa yang membuat kamu seperti ini, Mas? Kalau kamu marah ke aku, bicara! Gak seperti ini."

__ADS_1


Hiko tak menjawab, sedikitpun ia tak memperhatikan Ruby. Karena sebenarnya ia sendiri juga bingung, kenapa harus semarah ini? Meninggalkan Genta dan Nara begtu saja ketika melihat Ruby sedang berbincang dengan Abriz.


Setelah memecah kepadatan jalanan Ibu Kota yang padat kendaraan, mobil Hiko mulai memasuki halaman rumahnya. Penjaga yang berjaga di halaman rumahnya tak terlalu banyak, ia sudah bisa memastikan jika Papa dan Mamanya belum datang.


Hiko mendahului Ruby masuk ke dalam rumah dan segera menuju ke kamarnya. Ia langsung merebahkan badannya diatas tempat tidur. Tak lama Ruby juga masuk ke dalam kamar, ia mengacuhkan Hiko dan memilih untuk duduk di teritorinya.


"Kenapa lo selalu ngacuhin omongan gue?"


Pertanyaan Hiko membuat Ruby hampir terkejut, ia menatap Hiko yang juga menatapnya. Badannya tetap tengkurap. namun wajahnya lurus menatap Ruby.


"Omongan yang mana?" Tanya Ruby.


Hiko menarik badannya dan pindah ke samping Ruby. Ia menatap Ruby kembali.


"Kenapa?" Tanya Ruby lagi. Ia berusaha tetap kuat menatap mata Hiko.


Tak ada jawaban dari Hiko, pria itu masih terus menatap Ruby. Sedangkan Ruby mulai merasa goyah dengan tatapan Hiko. Ia memalingkan wajahnya. Tangan lembut Hiko menyentuh pipi Ruby, menarik lembut dan sedikit memaksa untuk menatap Hiko kembali.


"Lihat gue!" Ucapnya lirih, namun penuh penekanan.


Ruby menatap mata Hiko.


"Gue gak suka lo bersikap malu-malu didepan pria lain!" Bisik Hiko.


Deg!


Suara Hiko lirih, namun membuat darahnya naik cepat dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Apa mas sedang cemburu?"


Kini giliran Hiko yang dibuat Ruby terkejut. Bicara apa dia! Batin Hiko. Ia mengambil ponsel dari tangan Ruby, menempelkannya dibibir Ruby.


Hiko mendekatkan wajahnya pada Ruby lalu mengecup pelan sisi lain ponsel yang sedang melekat di bibir Ruby. Hidung mereka saling bersentuhan, bibir mereka pun bisa saja bersentuhkan jika ponsel Ruby tidak menjadi penghalang.


Hiko menarik wajahnya dan ponsel dari bibir Ruby, Ia menatap wanita didepannya itu sedNg terbelalak.


"Jaga omongan lo! Gue punya berbagai cara buat ngajarin mulut lo ngomon hal yang masuk akal."


Hiko menawarkan pipinya, memberikan Ruby kesempatan untuk menamparnya.


"Aku gak sudi membiarkan tanganku menyentuhmu!" ucap Ruby, Ia berdiri dan meninggalkan kamar Hiko.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Maaf ya, hari ini aku cuma up satu episode saja. Aku harap kalian bisa mengerti.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan votenya ya.., jangan lupa juga kasih bintang 5 untuk yang belum kasih.


Terimakasih kakak.


__ADS_2