
Ruby dan Abriz beranjak dari kursi tunggu yang ada di depan salah satu ruangan dokter spesialis bedah ortopedi, sebab nama Abriz telah dipanggil oleh salah seorang asisten dokter.
Abriz dan Ruby masuk ke dalam ruangan dokter, berkonsultasi tentang apa yang ia rasakan dengan tangannya. Dokter dibantu seorang perawat memeriksa dengan detail. Tak terlalu lama Abriz menjalani pemeriksaan karena semua kondisi Abriz sudah membaik, hanya saja gips masuk harus melekat ditangannya untuk beberapa waktu.
Usai dari rumah sakit, Abriz mengajak Ruby sholat isya' dan makan malam tetapi Ruby menolak karena Ia harus segera pulang dan memilih untuk makan malam di rumah saja.
Ruby dan Abriz pun berpisah setelah melaksanakan sholat isya' di masjid rumah sakit tempat Abriz melakukan kontrol.
Seperti biasa, Ruby menggunakan jasa ojol untuk pulang ke rumah Hiko. Ia dikejutkan dengan mobil Nara yang ada di depan halaman rumah Hiko.
Untuk pertama kalinya Ruby menyesal menolak ajakan Abriz untuk makan malam, tahu begitu ia lebih lama di luar rumah.
"Assalamu'alaikum ..." Ucap Ruby ketika masuk ke dalam rumah.
Lagi-lagi ia mengutuk Hiko, ia terlalu percaya pada Hiko jika dia tidak akan membawa wanita manapun ke rumah ini selama dia masih mempunyai status sebagai istri Hiko.
Ruby naik ke lantai dua, ia bisa mendengar suara canda tawa dari kamar Hiko. Kesal, Iya! Tapi ia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.
Ruby berganti pakaian dan keluar kamar untuk mandi, karena memang tidak ada kamar mandi dalam di kamar Ruby.
Tepat ketika Ruby keluar kamar, ia melihat Hiko dan Nara juga baru keluar kamar.
"Hai, By. Udah pulang?" Sapa Nara.
"Iya, Ra." Jawab Ruby, ia terpaksa mengumbar senyum.
"Aku balik dulu ya, By." Pamit Nara
Ruby mengangguk.
"Tunggu."
Langkah Hiko dan Nara terhenti, Ruby menghampiri mereka.
"Maaf jika aku mengatakan ini padamu, Ra. Tapi bisakah kamu tidak datang ke rumah ini lagi?" Pinta Ruby.
Nara dan Hiko terkejut dengan permintaan Ruby.
"Lo lupa ini rumah gue?" Hiko melayangkan rasa keberatannya.
"Aku sadar siapa aku disini, tapi kamu tahu kan aku Ra. Aku gak bisa melihat perbuatan kalian. Kalian bisa lakukan itu diluar sana, tapi tidak disini." Ujar Ruby.
"By ...."
"Tolong Ra ..." Pinta Ruby, ia tak mau tahu sanggahan Nara atas permintaanya.
Nara pun akhirnya menerima keputusan Ruby.
"Makasih ya, aku mandi dulu. Kamu hati-hati di jalan ya." Ruby meninggalkan Hiko dan Nara menuju ke kamar mandi yang berada di ujung belakang lantai dua.
Usai mandi ia langsung kembali ke kamarnya, tapi di depan kamar sudah ada Hiko yang menunggunya. Dia sudah bisa menebak apa yang membuat Hiko berdiri disana.
"Kamu sudah berjanji padaku sebelumnya, Mas. Kamu gak akan bawa wanita manapun ke rumah ini." Ujar Ruby.
"Gue males buat janji sama orang yang gak bisa diajak berkomitmen." Kata Hiko.
Ruby mengernyitkan keningnya.
"Gue udah bilang ke lo, gue gak suka lo deket-deket cowok itu dan lo malah pergi nganter dia ke rumah sakit. Gue udah jauh-jauh jemput lo dan lo malah pergi sama cowok lain." Ujar Hiko.
"Huh!" Ruby mendengus kesal, "Itu karena aku punya tanggung jawab padanya, dia terluka karena aku. Beda denganmu, kamu sudah membawa Nara kemarin. Jangan jadikan mas Abriz alasan buat kamu melanggar janjimu, Mas!"
"Berhenti sebut namanya!" Sentak Hiko.
"Lalu aku harus memanggilnya apa? Dia temanku, rekan kerjaku, apa aku harus memanggilnya sayang?" Balas Ruby. "Alasanmu marah sangat tidak masuk akal! Aku dan dia hanya berteman, beda dengan mas yang banyak menjalin hubungan dengan wanita lain."
Geram, Hiko mendorong tubuh Ruby ke dinding dan mencium Ruby dengan sangat brutal.
Ruby mendorong Hiko sekuat tenaga dan mengelak dari ciuman Hiko.
"Aargh!" dorongnya sekuat tenaga, ia mengambil nafas sesegera mungkin.
"Jaga mulut lo baik-baik atau ...."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Hiko, Ruby menatapnya dengan marah.
"Berhenti menciumku dengan mulutmu yang menjijikkan itu!" Sentak Ruby.
Ia masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu sekeras mungkin. Berulang kali ia mengelap kesal bibirnya untuk menghapus bekas ciuman Hiko. Ia mengumpat dalam hati, mengutuk pria menjijikkan itu.
*********
Langit masih sangat gelap, udara dingin masih menyelimuti kota Jakarta, menguji iman penduduknya untuk lebih lelap dalam tidur atau menyibakkan selimut dan melaksanakan sholat malam.
Ruby sudah melaksanakan sholat malamnya dan sudah berpakaian rapi. Tas ransel dan tas jinjing berisi beberapa pakaian Ruby untuk beberapa hari kedepan. Merasa sudah rapi, ia keluar kamar.
__ADS_1
Ceklek!
Langkahnya terhenti, Ia melihat Hiko baru saja keluar kamar. Mereka saling menatap.
"Lo mau kemana pagi-pagi buta gini?" Tanya Hiko, ia menatap tas ditangan Ruby.
Ruby mengacuhkan Hiko dan pergi begitu saja menuruni anak tangga. Rasa kesalnya pada Hiko belum hilang begitu saja.
Hiko mengikuti langkah Ruby, dengan masih menanyakan hal yang sama tapi Ruby mengacuhkannya.
"By!" Hiko menarik tangan Ruby tepat sebelum Ruby membuka pintu ruang tamu.
Ruby berusaha melepaskan tangannya tapi Hiko terlalu erata menggenggam tangannya.
"Lo mau pergi dari rumah ini?" Tanya Hiko, tidak ada jawaban dari Ruby.
Hiko menatap Ruby yang sedikitpun tidak mau menatapnya. Ia menghela nafas dalam, menurunkan egonya. Perlahan ia renggangkan pegangannya di tangan Ruby
"Gue sama Nara tidak berbuat apa-apa, kita cuma makan sama bercanda aja. Gue kesel lihat lo jalan sama cowok itu, makanya gue ajak Nara kesini kemarin." Hiko menjeleskan dengan lembut.
"Aku tidak peduli kamu dan Nara berbuat apa, toh itu urusan kalian, dosa kalian. Yang penting kamu gak ngelakuin itu di tempat yang ku tinggali." Ruby menanggapi masih dengan ketus.
Hiko mengangguk, "Gue janji, gak akan bawa wanita manapun kemari. Tapi lo juga janji jangan deket-deket cowok itu."
"Bagaimana aku tidak dekat dengannya, dia ketua tim ku, aku bekerja dengannya. Kamu jangan aneh-aneh deh, Mas. Lagian ini kan urusan pribadi aku, aku mau berteman dengan siapapun itu urusanku. Aku masih sangat tahu batas bertemanku dengan lawan jenis seperti apa."
Benar juga, itu memang urusan pribadi Ruby. Dia bebas berteman dengan siapapun termasuk Abriz. Tapi Hiko tetap saja tidak suka dan ingin menjauhkan mereka.
Pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar suara mobil berhenti didepan rumah Hiko.
"Aku pergi dulu, Mas. Taxi ku sudah datang." Kata Ruby.
"Loh!" Hiko menggenggam erat kembali tangan Ruby. "Gue kan udah janji gak ngulangin kejadian kemarin lagi, kok lo tetep mau pergi?" Protes Hiko.
Ruby menarik paksa tangannya, "Aku tetep harus pergi, Mas. Kalo kamu bawel terus aku bisa ketinggalan pesawat."
"Pesawat? Lo mau kemana emang?"
"Ke Jogja, ada kerjaan disana." Ruby membuka pintu ruang tamu dan keluar.
"Jauh amat? Sama siapa? Cowok itu ada?" Hiko mengikuti langkah Ruby.
"Iyalah, Mas. Dia kan ketua tim, jelas ikut dianya."
Ruby membuka pintu belakang mobil tapi dengan segera Hiko menutpupnya dan membuka pintu depan.
"Mas, kamu gila ya?" Ruby mencoba menarik handle pintu mobil namun dicegah oleh Hiko.
"Pak berangkat, pak!" Teriak Hiko.
Mobil pun meninggalkan rumah Hiko.
"Kamu gimana sih, Mas?" Ruby memukuli dada bidang Hiko.
Hiko menahan tangan Ruby. "Gue yang anter lo!"
"Hah?"
"Gue perlu bicara sama tuh cowok!"
Hiko kembali masuk ke dalam rumah, mengambil kunci mobil kemudian kembali lagi mengajak Ruby ke carport dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
Didalam perjalanan, Ruby hanya mendengar ocehan Hiko yang intinya hanya makian-makian pada Abriz dan mendoktrin Ruby agar menjaga jarak dengan Abriz.
"Gue ngerasa tuh cowok gak bener, pokoknya lo harus jauh-jauh dari dia. Kalo lo kemana-mana, nempel trus Aja sama Tasya. Meminimalisir pergerakan niat buruknya."
Ruby melirik heran pria yang sibuk mengemudi sambil ngomel tanpa henti itu. "Justru aku lebih merasa aman dekat mas Abriz dibandingin deket denganmu, Mas."
"Jangan ketipu wajah alimnya! Lo tau psikopat? Mereka kebanyakan murah senyum, baik hati, suka menolong. Tapi, dibelakangnya ...."
"Udah! Udah! Nyetir aja! Jangan ngomong ngalor ngidul dari tadi." Ucap Ruby geram.
"Gue cuma ngajarin lo ..."
"Udah, Mas. Diem!" Ruby menatap Hiko penuh ancaman.
"Oke oke, terserah lo aja."
Hiko menyerah dan diam, fokus mengemudikan kendaraannya. Dan tak lama akhirnya mobil Hiko berhenti di pelataran parkir bandara yang tidak pernah sepi. Seorang juru parkir memberi kode jika di wilayahnya sedang kosong. Hiko seger mengikuti petunjuk juru parkir dan memarkirkan kendaraannya.
"Mas anter aku sampai disini saja." Kata Ruby.
"Kenapa emang? Gue mau kesana. Nganter lo sampai lo masuk ke dalam ruang check in." Hiko mengambil alih tas jinjing dari tangan Ruby dan mendahuluinya.
Bukanya apa sih, tapi dia kan actor. Masa iya dia ke bandara cuma pake kaos oblong, celana pendek rumahan dan rambutnya yang masih acak-acakan gitu. Batin Ruby, ia memperhatikan pria yang sedang berjalan santai didepannya itu.
Ruby menjajari langkah Hiko sebelum Hiko keluar dari pelataran parkir. "Mas, bentar." panggil Ruby.
__ADS_1
Hiko berhenti menatap Ruby, " Kenapa?"
"Agak bungkuk sebentar." Pinta Ruby.
Hiko memembungkukkan padannya, membuat wajahnya sejajar dengan Ruby. "Mau cium gue?"
"Mau ku tampar lagi kamu, Mas?"
Hiko terkekeh kecil, "Ngapain sih?" Tanya Hiko.
Ruby mengangkat tangannya dan merapikan rambut Hiko yang masih berantakan dengan tangannya.
"Udah." Kata Ruby.
Hiko tersenyum melihat perlakuan Ruby padanya, "Gak usah di rapiin juga tetep ganteng gue."
Ruby hanya melirik kesal dan melanjutkan langkahnya. Menuju ke tempat dimana teman-temannya sudah menunggunya.
Sampai di terminal keberangkatan domestik, Ruby berlari kecil menghampiri Tasya, Abriz dan Rangga.
"Maaf ya, aku telat." Ucap Ruby.
Abriz tersenyum ramah menyambut kedatangan Ruby, sedangkan Tasya dan Rangga malah fokus pada pria yang berjalan dibelakang Ruby.
"Actor memang beda ya? Muka-muka bangun tidur dan Pake gituan aja udah ganteng." Gumam Tasya.
"Lah gue, boro-boro pake kaya gituan kesini. Udah di usir gue, dikira pemulung." Sahut Rangga.
"Heh, Lo!" Hiko menunjuk Abriz
Abriz hanya mengangkat satu sisi alisnya menjawab panggilan Hiko.
"Lo jaga jarak dengan nih cewek!" Hiko menunjukan telunjuknya tepat di atas kepala Ruby. "Jangan coba mikir macem-macem mau ngapa-ngapain dia."
Ruby menyenggol perut Hiko, "Jangan ngomong yang enggak-enggak bisa gak sih, Mas?"
"Gue gak pernah mikir macem-macem sama dia. Gue selalu mikir serius buat ambil dia dari Lo! Dan gue masih inget jelas kalo lo udah kasih ijin gue buat ngedeketin dia." Balas Abriz.
"Gue tarik kata-kata gue!" Sahut Hiko.
Abriz menggeleng, "Terserah, tapi gue bakal tetep deketin dia."
"Sudah! Cukup, jangan dilanjutkan. Kita bisa terlambat." Ruby memisahkan rencana perdebatan antara Hiko dan Abriz.
"Iya, bisa telat nanti. Ayo berangkat." Ajak Tasnya.
Ruby mengambil tasnya dari tangan Hiko. "Aku berangkat dulu ya. Mas?"
"Duluan ya.." Pamit Rangga dan Tasya pada Hiko.
"Ya. titip Ruby ya."
Abriz melenggang begitu saja.
Baru selangkah Ruby beranjak, Hiko menarik tangannya dan memeluk Ruby. Membuat beberapa orang memusatkan perhatiannya pada Hiko dan Ruby.
"Mas, lepasin." Ucap Ruby.
"Bentar aja. Bentar." Kata Hiko.
Ruby menurut dan diam.
"Berapa lama lo disana?" Tanya Hiko.
"Dua hari, Mas." Jawab Ruby, ia melepaskan pelukan Hiko.
Hiko menatap Ruby, "Jaga diri lo baik-baik, gue gak bisa jaga lo disana." Ucap Hiko dengan wajah serius.
Ruby mengangguk, "Aku berangkat, Mas. Assalamu'alaikum." Ruby meraih tangan Hiko dan menciumnya kemudian kembali meninggalkan Hiko.
Sedangkan Hiko terlihat kaget ketika Ruby mencium punggung tangannya. Seakan seluruh tubuhnya tersengat listrik tegangan tinggi.
B*ngs*t! Kenapa malah disaat-saat seperti ini sih! Pengen banget gue narik dia! Batin Hiko memaki-maki dirinya sendiri
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Maaf ya kalo aku belum bisa respon komentar kalian satu-satu dan gak bisa on trus di grub, aku masih sibuk membanting tulang belulangku. hehe. Tapi tetap tinggalkan like dan commentnya ya kakak... Maaf kalo nunggu lama upnya... Terimakasih..
__ADS_1