Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
Bonchap 3-2


__ADS_3

"Terima kasih, Ruby." Hiko menyeka berulang kali kening istrinya yang basah karena keringat.


Ruby mengangguk, keningnya masih mengernyit menahan sakit. Ia kira tak akan seperti ini karena bukan pertama kalinya, tapi ternyata rasanya masih sama seperti di awal. Panas, sakit, ngilu, lega, senang, ah ... banyak rasa yang tidak bisa digambarkan.


Hiko bangun dari tidurnya dan membantu Ruby untuk duduk mengenakan pakaian.


"Aku bisa sendiri kok, Mas." Ruby meletakkan tangan Hiko, dan melanjutkan mengancing piamanya. "Pakai bajunya, Mas. Udah hampir waktunya salat malam, Al pasti bangun."


Hiko tak bergerak, ia justru menikmati tiap gerakan istrinya ketika mengikat rambut.


"Apa sih, Mas!" Ruby tersipu malu menghindari tatapan suaminya. Ia menutup mata Hiko dengan telapak tangan agar berhenti memandanginya. Namun Hiko justru meraih tangan itu dan memberi kecupan.


"Jangan tinggalin aku lagi ya, Ruby."


"Kenapa tiba-tiba bilang gitu, Mas?"


"Allah membuat rasa ini tumbuh begitu besar padamu, sampai aku takut jika kamu pergi meninggalkanku lagi."


"Kemarin Almeer yang berkata seperti ini. Sekarang kamu, Mas." Ruby merapikan rambut Hiko dengan jemarinya.


"Karena kamu sangat berharga untuk kami," jawab Hiko dan cepat membuat senyum Ruby merekah.


"Gombal banget!" Ruby memberikan cubitan kecil pada Hiko. "Udah. Pakai bajunya, Mas."


Hiko lekas mengenakan pakaiannya dan membantu Ruby berdiri. Ia ikut meringis dan mengernyit ketika melihat istrinya menahan sakit. "Bisa?" tanya Hiko.


Ruby mengangguk dan perlahan berdiri di depan Hiko. Ia mulai perlahan melangkah, tapi Hiko justru menahan tawanya.


"Iiih, jahat! Malah diketawain!" Ruby memukul dada Hiko.


"Pinguin!" ujar Hiko seraya memraktekkan gaya pinguin yang sedang berjalan.


"Mas!"


"Aduuuh aduuuh, iya iya, enggak, By. Enggak." Hiko menahan sakit karena cubitan istrinya.


"Sebel, ih!"


"Jangan, dong." Hiko memeluk istrinya gemas.


"Lepasin, Mas. Kita harus cepat mandi."


"Berat, Ruby. Aku takut kalau ini kulepas kamu bakal ninggalin aku," ujar Hiko manja.

__ADS_1


"Manjanya ngelebihin Al, deh." Ruby melepaskan pelukan Hiko, dan menangkup pipi suaminya itu. "Aku nggak akan ninggalin kamu dalam keadaan apapun, kecuali ketika kamu sudah tidak mensyukuri kehadiranku."


"Oke, fix. Setiap hari aku akan jatuh cinta padamu. Lagi, lagi,dan lagi!"


"Udah, yuk! Keburu Al bangun, Mas." Ruby berjalan tertatih keluar kamar.


Keduanya mandi secara bergantian. Tak lama setelah itu Almeer terbangun dan mereka bertiga sama-sama mengerjakan sholat malam berjamaah.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Karena tak bisa bergerak dengan leluasa, hari ini Ruby tidak mengantar Almeer ke sekolah dan juga ke kantor. Ia mengerjakan pekerjaannya dari rumah. Sementara Hiko sedang ada janji pemotretan di studionya.


Meskipun sama-sama bekerja di rumah, tapi pasangan pengantin baru itu tetap tidak bertemu satu sama lain. Sampai jam makan siang, Ruby bisa melihat suaminya keluar studio bersama clientnya. Mereka berbincang cukup lama sambil menikmati sebuah minuman di bawah rindangnya pohon trengguli.


Wanita berhijab instan itu meletakkan laptopnya di atas meja ruang tamu dan menopang dagunya di sandaran sofa untuk menikmati paras rupawan seorang Ibrahim Akihiko. Dan ia baru menyadari jika bukan hanya dia saja yang memperhatikan suaminya. Banyak pengunjung wanita di sana juga menikmati suaminya.


"Jangan cemburu, Non. Den Hiko nggak pernah ngelirik wanita manapun," ujar Bi Inah yang tiba-tiba hadir di ruang tamu.


"Bi Inah ... ngagetin aja," Ruby terkejut dengan kehadiran Inah."Duduk di sini, Bi." Ia menepuk sofa yang ada di sampingnya.


"Mas Hiko itu nggak pernah ngelirik wanita manapun sejak berpisah dengan Non Ruby. Bahkan dengan Mamanya Mas Al sekalipun," jelas Bi Inah seraya duduk di samping Ruby. "CV ta'aruf dari ustadz-ustadznya saja nggak pernah digubris, Non."


Mendengar ucapan Inah membuat Ruby merasa sangat bangga pada suaminya. Pria itu benar-benar menunggunya selama ini.


"Kenapa, Bi? Siapa yang ejek Almeer?" tanya Ruby.


Inah terlihat gelisah.


"Bilang, Bi!" desak Ruby.


"Mas Al nggak bolehin bilang, Non. Takut nanti Papanya sedih."


"Al nggak bolehin bilang ke Papanya aja, 'kan? Bukan sama saya."


Inah berpikir sejenak. "Mas Al sering diejekin sama beberapa teman-temannya, Non. Karena ...." Ia menjeda ceritanya. "Masa lalu Den Hiko," lanjutnya.


"Astaghfirullahaladzim!" pekik Ruby."Apa mereka menyinggung tentang nasab Al juga, Bi?"


"Sepertinya iya,Non. Karena pernah sekali Mas Al menanyakan ke saya apa itu anak haram?"


"Assalamu'alaikum!"


Percakapan mereka terhenti ketika Almeer membuka pintu rumah. Dengan cepat Ruby menyeka air setetes air matanya yang terjatuh.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," sahut Ruby dan Inah.


Anak kecil itu bergantian mencium tangan Ruby dan Inah secara bergantian."Mama udah sembuh?" tanya Almeer.


Ruby mengangguk mendengar pertanyaan putranya. Ia segera memeluk putranya erat-erat. Anak kecil itu pasti sudah menyimpan luka dari perbuatan kedua orang tua kandungnya.


"Mama, kenapa?" tanya Almeer.


Ruby menggeleng. "Maaf, ya. Mama tadi nggak bisa antar dan jemput kamu." Ruby menyeka air matanya yang kembali keluar sebelum melepaskan pelukannya pada Almeer.


"Mama 'kan lagi sakit. Makanya nggak bisa antar Al. Jadi deh di jemput Oom Jomblo. Nggak asik sebenarnya," keluh Almeer.


"Besok Mama antar, ya?" Ruby berdiri, hendak mengantar putranya ke kamar.


"Mama di sini aja." Almeer menarik tangan Ruby agar duduk kembali."Al akan ganti baju sambil nungguin Papa."


"Ditemenin Bibi ya, Mas?" Inah menawarkan diri.


Al menggeleng. "Nggak mau! Al udah pinter, udah gedhe!" teriaknya sambil berlari menuju ke lantai dua.


Setelah memastikan mendengar pintu kamar Almeer di lantai dua tertutup, Ruby menatap Inah dan melanjutkan percakapan mereka.


"Banyak orang di sini yang tahu tentang Mas Hiko dan Nara, Bi?" bisiknya.


Inah mengangguk. "Den Hiko artis terkenal, Non. Mereka pasti tahu. Tapi mereka tetap menerima baik kehadiran mereka di sini."


"Saya nggak tega kalau sampai Al diperlakukan tidak adil oleh mereka, Bi."


"Ada beberapa saja yang seperti itu, Non. Tidak semua."


"Tetap saya tidak ikhlas, Bi. Almeer tidak bersalah, dia tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu!" tegas Ruby.


...๐ŸŒธBersambung๐ŸŒธ...


...Jangan lupa apa, gaiz?...


...๐Ÿ‘ Tekan LIKE dulu....


...โœ๏ธ Tulis KOMENTAR juga....


...๐Ÿ… Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....


...Terima kasih ๐Ÿ’•...

__ADS_1


__ADS_2