
"Loh, kok Ruby belom pulang?"
Sebuah pertanyaan dari luar cendela ruang animator menyita perhatian empat orang yang ada didalamnya. Heru yang akan pulang tak sengaja melihat ada Ruby yang masih sibuk di meja kerjanya.
"Lo kasih tambahan kerjaan ya, Briz?" Tanya Heru pada Abriz yang berada di ujung ruangan.
"Enggak, Beneran!" Jawab Abriz penuh keyakinan.
"Kalo kalian bertiga yang lembur wajar, lha Ruby? Dia biasanya yang paling duluan pulang."
"Memang kerjaan saya belum selesai, pak." Ruby memberikan jawaban, "Sebenarnya saya kurang fit hari ini, jadi pekerjaan saya tidak bisa selesai tempat waktu." lanjutnya.
"Loh! Kurang fit kok malah lembur?" Heru kembali menatap Abriz, "Heh ketua tim, tanggung jawab lo nih."
"Iya Bos, Iya." Jawab Abriz pasrah.
"Ayo cepet pulang semua! Risih gue lihat orang lembur." kata Heru sambil berlalu.
Ruby menatap Abriz yang sudah siap mengusirnya, "Dikit lagi, mas." Ucap Ruby.
Abriz mengangguk dan kembali menatap layar komputernya.
Tak sampai setengah jam, Ruby menyelesaikan pekerjaannya dan menyerahkan filenya kepada Abriz dan dua penanggungjawab film.
"Oke, sudah semua. Waktunya balik." Ucap Abriz sambil merapikan mejanya.
Ruby dan dua temannya juga bergegas merapikan meja mereka dan segera pulang.
Tepat saat adzan Isya' berkumandang, Ruby baru keluar dari pintu lobby.
"Mau sholat dulu, By?" Tanya Abriz yang ada dibelakangnya.
Ruby menatap Abriz, "Iya, Mas."
"Sholat dari masjid seberang aja." Abriz menunjuk sebuah kubah masjid yang berjarak beberapa bangunan dari jalan raya didepannya.
Ruby mengangguk.
Abriz dan Ruby berjalan keluar gedung menuju ke masjid yang dimaksud Abriz. Mereka berhenti di tepi jalan menunggu traffic light berwarna merah.
Ruby dan Abriz segera melangkah bersama beberapa penyebrang jalan lainnya setelah melihat lampu merah menyala. Namun langkah Abriz terhenti tiba-tiba, pandangannya terpaku pada sepasang kekasih yang sedang berciuman didalam mobil.
Melihat Abriz yang berhenti membuat Ruby ikut menghentikan langkahnya dan mencari tahu apa yang terjadi. Ia pun segera menemukan jawabannya disana.
"Kalau kamu gak jalan, mereka bakal nabrak kamu, Mas."
Suara Ruby menyadarkan Abriz dan Abriz terlihat kebingungan dengan situasi ini.
"Jalan lurus aja, By. Jangan lihat kemana-mana." Ajak Abriz cepat-cepat.
Ruby hanya tersenyum masam melihat tingkah Abriz. Ia sempatkan menatap kedalam mobil, memperhatikan suami dan sahabatnya yang telah usai berciuman. Dan tak sengaja Hiko juga menyadari keberadaanya. Mata mereka saling bertemu, namun Abriz tiba-tiba saja berjalan disamping Ruby, membatasi pandangan Ruby pada mobil Hiko.
__ADS_1
"Jangan lihat kemana-mana, By." Ucap Abriz.
Ruby mengangguk dan terus berjalan menuju ujung zebra cross.
Berulang kali Abriz menatap Ruby, mencoba menebak-nebak apakah Ruby melihat suaminya yang sedang berselingkuh.
Sampai di masjid, Abriz dan Ruby langsung terpisah menuju ke tempat wudhu dan segera melaksanakan sholat. Abriz yang menyelesaikan sholat lebih dulu memilih menunggu Ruby di teras masjid.
Ia masih menyibukkan pikirannya dengan kejadian beberapa saat lalu. Ia tahu jelas jika pria didalam mobil itu adalah suami Ruby. Abriz mengepalkan tangannya geram, ingin sekali ia menghantamkan tinjunya pada Hiko. Dia tak terima melihat wanita sebaik Ruby terkhianati.
Abriz melihat Ruby sudah berada beberapa langkah di sisi kirinya sedang mengenakan sepatu. Membayangkan Ruby yang akan menangis sedih mengetahui perselingkuhan suaminya membuat Abriz mengurungkan niatnya untuk memberitahu Ruby. Ia memilih untuk menyimpannya sendiri saja dan membiarkan Ruby mengetahuinya sendiri.
**********
Ruby pulang dengan menggunakan ojek online, kedatangannya sudah ditunggu-tunggu Handoko dan Maria karena sampai malam ia tak kunjung datang. Setelah memberikan penjelasan dan sekaligus makan malam, Ruby kembali ke kamarnya untuk membersihkan badan dan beristirahat.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, pria yang sudah diharapkan kedatangannya oleh Ruby itu akhirnya tiba juga.
"Tolong jaga tingkah laku mas jika sedang berada di publik." Ucap Ruby, "Mas membawa nama baik abi saya saat ini."
Hiko melepaskan jaket denim-nya, melemparnya asal di atas tempat tidur kemudian menghampiri Ruby yang sedang duduk diatas sofa.
Ia duduk jongkok dibawab Ruby, menarik tangan kanan Ruby dan melihat bekas goresan dari anak tangga yang didapatnya tadi siang.
"Belom lo obatin?" Tanya Hiko
Hiko melepaskan tangan Ruby dan berdiri, ia mengambil sesuatu dari jaketnya. Sebuah tube kecil ia bawa kembali pada Ruby. Ia duduk disamping Ruby dan menarik kembali tangan Ruby.
"Lo gak bisa rawat tubuh lo?" Tanya Hiko, ujung jarinya sibuk mengoles cream di tangan Ruby yang memar.
Ruby memicing menahan perih dan sakit.
Hiko menutup kembali obat yang ia bawa dan meletakkannya diatas tangan Ruby.
"Kalo lo malas ngolesin, jangan salahin kalau gue pegang-pegang tangan lo!" Ucapnya kemudian meninggalkan Ruby dan masuk ke kamar mandi.
Ruby kesal, bukan karena Hiko menyentuhnya tanpa ijin tapi karen mengacuhkan ucapannya. Ia masih duduk, menunggu Hiko selesai mandi.
Lama menunggu akhirnya Hiko keluar juga dari dalam kamar mandi.
"Ngapain lo belum tidur?" Tanya Hiko. "Tidur sana, bukannya lo ngantuk?"
"Mas belum menanggapi permintaan saya mengenai perilaku Mas dan Nara di luar tadi." Jawab Ruby kesal.
"Cowok yang suka lo itu tahu?"
"Iya."
Hiko tersenyum, "Bisa tuh buat dia ngomporin lo buat pisah ma gue trus jadian sama dia."
__ADS_1
"Saya serius, Mas. Tolong jaga nama baik mas, jaga nama baik keluarga mas dan keluarga saya."
Hiko duduk di tepi tempat tidur, menatap Ruby yang serius menatapnya. "Gue gak suka diatur-atur, tapi kenapa gue setuju sama kemauan lo ini?"
"Terimakasih jika mas mau memenuhi kemauan saya." Ucap Ruby.
Hiko hanya mengangguk-angguk.
Tak ada pembicaraan lagi diantara mereka, kesunyian mengambil alih suasana kamar. Hiko masih tetap menatap Ruby yang sedang menyiapkan bantal yang akan digunakannya untuk tidur.
"Lo mau gue kasih jatah bulanan berapa juta?"
Pertanyaan Hiko membuat Ruby mengurungkan niatnya untuk berbaring. "Saya tidak akan meminta hak saya."
"Lo takut gue minta kewajiban lo?"
"Saya tidak pernah berniat memberikannya."
Tak ada jawaban dari Hiko membuat kesunyian datang kembali. Tatapan Hiko masih melekat dimata Ruby.
"Saya mau tidur jika pembicaraan kita sudah selesai." Ruby merasa salah tingkah karena Hiko terus menatapnya.
"Gimana kalau gue mau sama lo?"
"Maksud, Mas?"
Hiko menggelengkan kepalanya segera, "Tidur aja! Anggap gue gak ngomong apa-apa."
Satu kalimat Hiko sebelumnya cukup membuat jantung Ruby berdetak lebih cepat dan membuat nafasnya tidak stabil. Kedua tangannya mencengkram erat tepian sofa. Ada rasa takut, was-was dan apapun itu berkecamuk menjadi satu dikepalanya.
"Gue gak bakal ngapa-ngapain lo!" Ucap Hiko, Ia berdiri dan menepuk beberapa kali punggung Ruby.
"Jangan sentuh saya!" Ruby mengelak.
"Semakin lo larang tangan gue semakin pengen pegang, Lo." Goda Hiko.
Ruby menatap sinis pria itu, "Saya tidak main-main dengan ancaman saya sebelumnya."
Hiko memutar kedua bola matanya, "Terserah lo aja lah." Ucapnya kemudian meninggalkan kamar.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sebelum lanjut baca jangan lupa like dan commentnya ya.