Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
28


__ADS_3

Ruby memesankan sebuah salep lewat driver ojek online untuk lebam-lebam di badan Nara akibat pukulan dari papanya, sedangkan dia juga mau bersiap untuk segera pulang.


tok tok tok


Ruby mengetuk pintu kamar Nara.


"Ra, aku mau pulang dulu." Ucap Ruby.


ceklek!


Ada Hiko yang membukakan pintu dengan bertelanjang dada, dengan cepat Ruby membuang muka.


"Nara tidur." kata Hiko.


"Saya memberikan salep untuk memarnya, tolong berikan padanya." Dengan menunduk, Ruby memberikan kantong plastik putih pada Hiko.


Hiko menarimanya, lagi-lagi Ruby bisa melihat jelas tato milik Hiko.


"Assalamu'alaikum." pamit Ruby.


"Wa'alaikumsalam." jawab Hiko


Ruby segera keluar dari rumah Nara dan memilih menunggu driver ojek online di depan rumah Nara. Walau masih siang, Ruby masih trauma untuk jalan sendirian disekitar komplek perumahan ini.


"Heh! Lo!"


Ruby melihat ke belakang, ada Hiko yang sudah mengenakan kaos putih keluar dari pintu ruang tamu rumah Ruby.


"Gue mau bicara!"


Dengan cepat Ruby menjaga jarak ketika Hiko Mendekatinya.


"Lo kira gue sampah apa, ngehindarin gue mulu." protes Hiko.


"Bahkan kamu lebih buruk dari najis." gumam Ruby


"Apa?" Hiko ingin memperjelas.


"Tolong mulai sekarang jangan pernah bicara pada saya." Ucap Ruby.


Hiko menganga mendengar perkataan Ruby. "Hah? Lo kira gue suka ngajak ngomong lo?"


Tak ada jawaban dari Ruby. Ia hanya melihat layar ponselnya, mencari tahu sudah sampai mana driver ojek online yang ia pesan.


"Gue cuma penasaran kenapa lo marah-marah, nangis dan bikin malu gue di danau tadi?" Tanya Hiko.


Ruby masih diam mengacuhkan Hiko.


"Hei! Pendek!"


Hiko menarik bahu Ruby, dengan reflek Ruby menangkis tangan Hiko hingga ponselnya terlempar.


Ruby sangat ketakutan ketika Hiko menyentuhnya, ia sampai duduk memeluk lututnya yang gemetar dan sudah lemas.


Melihat Ruby seperti itu membuat Hiko terkejut dan bingung serta merasa bersalah karena sudah memegangnya.


"Saya sudah bilang jangan bicara dengan saya, apalagi menyentuh saya." kali ini Ruby mendongak menatap Hiko, memohon dengan air matanya yang mulai menetes.


Entah kenapa tatapan Ruby membuat Hiko merasa menjadi manimusia paling b*ngs*t saat ini. Dia selalu menganggap Ruby sama seperti wanita lain yang tidak akan marah hanya menyentuh tangan atau bahunya.


"Permisi, dengan mbak Ruby?" Seorang driver ojol berhenti tepat didepan Ruby.


Ruby mengusap air matanya dan berusaha berdiri. "Iya, Mbak." Jawab Ruby.


Driver ojol memberikan helm pada Ruby, Ia terkejut ketika melihat Hiko berada disana. "Mas Hiko ya?" Tanya nya. "Boleh minta foto sebentar?"

__ADS_1


Hiko tak menanggapi, ia hanya menatap Ruby yang memakai helm dan melewatinya untuk mengambil ponselnya yang terlempar. Melihat hal itu membuat driver ojol mengurungkan niatnya, ia baru menyadari jika mungkin dua manusia didepannya itu sedang bertengkar.


"Silahkan, mbak."


Ruby tersenyum dan segera naik ke atas motor sedangkan Hiko hanya menatapi kepergian Ruby.


"Sayang!"


Suara Nara membuat Hiko menoleh ke belakang, "Kamu dah bangun?"


Nara mendekati Hiko, "Kamu kenapa sayang?" Nara melihat Hiko yang terlihat muram.


"Gak apa kok, tadi cuma lihat temen kamu balik."


"Tengkar lagi kalian?" Tebak Nara.


Hiko merangkul Nara untuk masuk ke dalam, "Jangan bahas dia. Bikin mood jelek."


Nara hanya pasrah melihat ketidakakuran sahabat dan kekasihnya itu.


********


tttrrrrt trrrrrt trrrrrt


Berulang kali ponsel Hiko bergetar dari atas nakas, tangannya meraba-raba mencari ponselnya karena ia malas membuka mata. Ia tahu siapa yang akan menelponnya ketika udara pagi masih sangat dingin seperti ini.


"Hmmm..." Sapanya


"Lo dimana?"


Hiko terpaksa membuka matanya untuk melihat sekitar ruangan, "Masih di rumah Nara."


"Lo balik sekarang juga, gue tunggu dirumah gue! Wartawan bakal kumpul di rumah lo sama sama rumah Nara."


"Ada apa sih, Ta? Pagi-pagi udah bikin ribet banget!" Tanya Hiko kesal.


Hiko langsung menutup sambungan telpon dan membuka sosmed miliknya. Benar saja, foto-foto Hiko dan Nara yang ada diteras rumah kemarin sore sudah diposting beberapa akun gosip.


"Sial! Siapa orang yang diam-diam ambil foto gue!"


"Ra, bangun Ra. Kita harus pergi sekarang."


Nara membuka matanya yang masih mengantuk, "Kenapa sih? Matahari aja belum terbit. jadwal shooting kamu kan masih jam sepuluh sayang." Ucap Nara.


"Ayo, Ra. Wartawan lagi jalan kesini, nih." Hiko berdiri, memakai celana dan kaosnya yang dilepasnya asal di lantai kamar. "Nih." Ia menunjukkan ponselnya pada Nara.


"Astaga! Siapa yang nyebarin nih foto!" Nara tak kalah terkejut dari Hiko, rasa malasnya untuk bangun langsung hilang seketika.


Nara segera memakai baju seadanya dan memasukkan barang-barang yang ia perlukan ke dalam tas.


Bersama dengan Hiko ia segera keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Beruntung belum ada tanda-tanda pencari berita ada disana.


Hiko langsung mengendarai mobilnya menunju ke rumah Genta. Udara dingin masih membuat orang-orang malas meninggalkan selimut mereka hingga membuat jalanan ibu kota tak seramai ketika mentari sudah menyapa bumi.


Hiko menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Genta, ia dan Nara sudah mempersiapkan diri mendengar omelan Genta pagi ini.


"Gue harus jawab apa ini?" Genta langsung menyodorkan sebuah pesan dari Rika mengenai pemberitaan Hiko dan Nara.


Hiko mengacuhkannya dan duduk disofa ruang tamu Genta.


"Kenapa sih kalian gak hati-hati. Bikin gue pusing aja!" Bentak Genta.


"Udahlah, bilang jujur aja sama mereka. Toh keadaannya juga gitu." Jawab Hiko enteng.


"Ya Tuhan, Hiko!" Genta geram.

__ADS_1


"Kita ngelak aja, Kak. Bilang aja itu kak Genta ada di dalam dan itu hanya pelukan penyemangat aja."


"Gue gak mau tau, kalian harus hadapi wartawan. Jelasin sama mereka!"


**********


Di salah satu pusat perbelanjaan, Maria sedang asyik berkumpul bersama teman-temannya di salah satu restoran cepat saji. Perbincangan mereka terhenti ketika salah satu temannya melihat gosip Hiko dan Nara yang sejak pagi sudah beredar di acara-acara gosip televisi swasta dan akun-akun gosip sosial media.


"Kirain beneran hoax, eh ternyata beneran Hiko pacaran sama istri orang, Jeng?"


"Sembarangan aja kamu, Jeng. Anak saya itu anak baik-baik, semua gosip itu gak ada yang bener."


"Lah, ini!"


Maria terkejut melihat foto putranya sedang merangkul mesra asisten Genta.


"Jangan percaya foto deh, mungkin aja itu salah pengambilan gambarnya jadi kesannya meraka lagi pelukan." Elak Maria, "Lagian ya, putra saya itu lagi deket sama cewek baik-baik. Putri kyai terkenal di Jawa Timur."


Maria mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Ruby pada teman-temannya, "Cantik kan? Ini putrinya guru spiritual suami saya loh."


"Iya, Jeng. Cantik."


"Jadi bener nih mereka gak ada hubungan apa-apa?"


Maria tersenyum teman-temannya tak lagi menyudutkan putranya.


Maria dan teman-temannya melanjutkan berbincang mengenai kedekatan Hiko dan Ruby. Usai menyantap masakan di restoran, Maria bergegas untuk kembali pulang.


Baru ia keluar dari pintu Mall menuju ke mobilnya, beberapa wartawan menghampirinya. Dengan sigap dua ajudan Maria membentenginya.


"Bu Maria, klarifikasi donk kedekatan Hiko dan asisten manajernya."


"Benarkah hubungan mereka, Bu."


"Apa Bu Maria dan Pak Mentri tahu tentang hubungan gelap mereka?"


Niat hati ingin menghindari wartawan pupus sudah ketika Maria mendengar orang lain berpikiran buruk tentang putranya. Ia menghentikan langkahnya, dan diam menatap para pencari berita didepannya.


"Saya jelaskan hanya satu kali ini saja dan saya tidak menerima pertanyaan. Saya melakukan ini karena geram mendengar semua berita memfitnah putra saya, membuat nama baiknya hilang dengan berita-berita itu." Ucap Maria.


"Baik tante."


Maria berdiam sampai menunggu awak media didepannya diam.


"Putra saya tidak memiliki hubungan khusus dengan wanita bernama Nara! Dia hanya sebatas asisten manajernya saja. Putra saya sudah mempunyai calon istri." Maria menunjukkan layar ponselnya pada wartawan, "Namanya Ruby. Ingat, Ruby. Bukan Nara. Dia calon istri Hiko, putri seorang kyai di Jawa Timur. Jadi tolong, jangan membuat gosip yang tidak-tidak. Kalian akan membuat calon besan saya tidak nyaman!"


Cepat-cepat para awak media mengambil foto Ruby yang ada di ponsel Maria, namun cepat-cepat Maria memasukkan kembali ponselnya.


"Bu, kasih lihat fotonya sekali lagi donk."


Kali ini Maria mengacuhkan dan meninggalkan para awak media yang terus-terusan memanggil namanya.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


*Authornya gak pernah lelah buat nyuruh readers like, comment dan vote. hehehee.

__ADS_1


Besok Up nya nunggu dapat like lebih dari 100. wqwqwq*


__ADS_2