
Inah buru-buru memberi kode pada Ruby ketika ia melihat pria yang sedang mereka bicarakan sedang menuruni anak tangga dan mulai berjalan ke dapur. Ruby yang mengerti langsung mengurungkan niatnya untuk mengorek informasi lebih dalam tentang Hiko.
Ruby dan Inah terkekeh kecil ketika melihat rambut Hiko yang masih terkuncir tepat diujung kepalanya bak air mancur.
"Mas udah bangun? Mau langsung makan?" tanya Ruby menahan tawa.
Hiko menghampiri Ruby, melingkarkan satu tangannya dipinggang Ruby sambil mengamati menu yang ada diatas meja.
"Iya deh, ayo makan." Kata Hiko.
"Assalamu'alaikum ..."
Ruby dan Hiko menoleh ke belakang, Ada Handoko dan Maria baru masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam ..." Sahut Ruby dan Hiko.
"Apa kabar sayang?" Maria langsung memeluk Ruby, mencium kedua pipi Ruby bergantian.
"Baik Ma, Pa." Ruby memberi salam pada Handoko dan Maria.
"Rambut kamu apain itu?" Handoko menepuk lengan Hiko.
Hiko menyentuh rambutnya, "Ya Allah, sayang ..." Hiko melepas ikatan rambutnya sambil menatap Ruby gemas, "Bisa-bisanya kamu giniin aku." Hiko menggelitiki pinggang Ruby.
"Ampun, Mas. Ampun." Kata Ruby terkekeh kecil sambil mencoba menepis tangan Hiko.
Handoko dan Maria saling menatap, tersenyum senang melihat Hiko dan Ruby yang semakin dekat.
"Papa senang lihat kalian semakin romantis gini." Ucap Handoko, membuat Hiko menghentikan kejailannya pada Ruby.
Hiko dan Ruby hanya tersenyum.
"Pa, Ma. Kita makan siang sama-sama, yuk. Kebetulan Bi Inah baru selesai msak." Ajak Ruby.
"Boleh-boleh, kebetulan kita juga belum makan siang." Kata Maria.
Mereka pun duduk mengisi semua kursi yang ada di meja makan. Maria melayani Handoko, dan Ruby melayani Hiko. Kemudian mereka beremempar pun segera makan dengan bertukar cerita tentang kegiatan mereka berempat.
Walau makanan sudah habis, meja makan sudah bersih tak menghentikan percakapan mereka yang sedang asyik-asyiknya. Hingga suara Adzan Ashar lah yang membuat percakapan mereka terhenti.
"Mama mau sholat di rumah apa di masjid bareng papa?" tanya Handoko.
"Dirumah aja, Pa. Mama jama'ah sama Ruby dan Bi Inah aja." Jawab Maria.
Ruby menatap Hiko.
"Aku ikut Papa, Sayang." Kata Hiko, "Tunggu bentar, Pa. Hiko ganti baju dulu." Kata Hiko sambil beranjak pergi naik ke lantai dua.
Handoko dan Maria sampai terbengong melihat sikap Hiko. Mereka saling bertatapan mencari tahu apa yang terjadi dengam putra semata wayangnya.
"Do'akan Mas Hiko istiqomah ya, Pa, Ma." Kata Ruby.
"Nak, benar dia mau sholat? Bukan pura-pura?" Tanya Handoko.
"In Shaa Allah, Pa. Mas Hiko sedang berusaha memperbaiki diri sekarang." Jawab Ruby.
Maria menarik kedua tangan Ruby, "Ya Allah, Nak. Terimakasih sudah buat Hiko kembali menjadi Hiko yang dulu, Hiko yang kami rindukan."
"Ruby tidak berbuat apa-apa, Ma. Mas Hiko sendiri yang punya keinginan untuk berusaha menjadi lebih baik. Mama dan Papa bantu do'a, ya?"
"Pasti, Nak." Jawab Handoko dan Maria bersamaan.
Tak lama Hiko kembali, ia dan Handoko pergi keluar rumah sedangkan Ruby bersama Maria dan Inah melaksanakan sholat berjamaah di rumah.
Tepat sepulangnya Hiko dan Handoko pulang dari masjid, sebuah mobil box milik salah satu toko furniture terbesar di Indonesia berhenti didepan halaman rumah Hiko. Salah seorang ajudan Handoko menghampiri sopir untuk menanyakan tujuannya.
"Kirim tempat tidur buat Mas Hiko, Pak." Kata Ajudan pada Handoko.
"Cepet banget." Gumam Hiko, "Masukin aja, Pak." Teriak Hiko.
"Buat apa kamu beli tempat tidur baru?" tanya Handoko.
__ADS_1
"Yaah, biar enak aja, Pa." jawab Hiko dengan mengangkat satu alisnya.
"Hmm ... Otakmu masih sama aja." sahut Handoko yang menyadari isi otak putranya.
"Lho, Ruby kan istri Hiko, Pa. Masa' gak boleh di enak-enakin?" tanya Hiko.
"Ya jelas boleh lah, pepet terus kalo bisa. Biar papa cepet nimang cucu."
"Yoooi, Pa!" Hiko menjentikkan jarinya sambil memberikan kerlingan nakal.
Dua orang karyawan dari toko furniture dan dibantu dua ajudan Handoko membawa masuk tempat tidur baru Hiko.
"Langsung ke lantai dua ya, Mas." Kata Hiko.
Melihat ramai-ramai didepan, Ruby dan Maria yang sudah selesai sholat ikut ke depan. Ternyata beberapa orang sedang sibuk membawa tempat tidur baru ke lantai dua. Hiko dan Handoko mengikuti mereka dari belakang.
Karyawan toko furniture itu membawa keluar tempat tidur lama Hiko terlebih dahulu barulah mereka mengganti dengan tempat tidur yang baru.
"Makasih ya, Mas" Hiko memberikan beberapa lembar uang tips pada salah seorang karyawan toko furniture didepan halaman rumahnya.
"Terimakasih, Mas." Ucap mereka.
"Sama-sama."
Mereka pun pergi dengan membawa tempat tidur lama Hiko.
"Kenapa tiba-tiba ganti tempat tidur sih, Ko?" tanya Maria.
"Ganti suasana baru aja, Ma. Biar bisa cepet-cepet kasih Mama sama Papa cucu."
Jawaban Hiko langsung mendapat cubitan dari Ruby.
"Ya udah, cepet bikin gak usah tunda-tunda. Papa juga pengen cepet nimang cucu." Kata Handoko.
"Tuh kan, Sayang. Kita harus gerak cepat."
Lagi lagi Hiko mendapat cubitan dari Ruby, bakan kali ini lebih keras dari yang pertama dan tentunya mendapat gelak tawa dari Handoko dan Maria.
"Jangan, Pa. Disini dulu saja, Papa dan Mama kan jarang bisa kumpul lama-lama seperti ini dengan Mas Hiko." Kata Ruby.
Hiko, Handoko dan Maria terdiam mendengar ucapan Ruby. Benar, setelah berapa tahun yang tak pernah terhitung awalnya, baru kali ini mereka bertiga bisa duduk dalam meja yang sama saling bertukar cerita tentang kegiatan mereka tanpa harus diburu oleh waktu.
"Kita masuk ke dalam saja Pa, Ma. Ruby buatkan teh." Ajak Ruby.
Handoko dan Maria menuruti kemauan Ruby untuk kembali masuk ke dalam.
Ruby meninggalkan suami dan mertuanya di ruang tengah. Ia pergi membuatkan teh untuk menjadi pelengkap obrolan mereka.
**********
Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam, Ruby dan Hiko masih berdiri di depan halaman rumahnya, mengantar kepergian Handoko dan Maria. Ruby melihat wajah Hiko sangat berseri-seri. terlihat sangat senang dan sumringah. Ia tahu, moment seperti inilah yang sudah ditunggu-tunggu Hiko selama ini.
Setelah menutup pintu dan gorden ruang tamu, mereka segera kembali ke kamar, lebih tepatnya kamar Hiko. Inah sudah merapikan tempat tidur baru milik Hiko dan Ruby, sehingga mereka sudah bisa menempatinya.
"Makasih ya, Sayang." Kata Hiko, ia memeluk Ruby dari belakang, tangannya melingkar rapat diperut Ruby.
"Buat apa, Mas?" tanya Ruby.
"Aku merasa deket banget dengan Papa dan Mama hari ini." Jawab Hiko.
Ruby tersenyum, "Aku gak berbuat apa-apa, Mas. Tapi aku seneng banget lihat kamu kaya gini."
Ruby membalikkan badannya dan menatap Hiko. Kedua jari telunjuknya menyentuh kedua sudut bibir Hiko yang mengembang. "Kamu manis kalo senyum terus."
"Loh, jangan lupa. Aku ini juga ganteng banget loh!"
"Mulai deh congkaknya!" Ruby mencibir.
"Hahahahaha, jangan ngambek gitu dong." Hiko menarik tubuh Ruby lebih erat. "Cantiknya ilang gak balik lagi ntar."
"Biarin!"
__ADS_1
Keduanya terdiam dan saling memandang, Hiko menyunggingkan senyum genitnya.
"Apa, Mas?" Ruby berpura-pura tidak tahu.
"Kita bikinin cucu buat orangtua kita, yuk?"
Ruby terkekeh kecil dan memukul pelan dada Hiko.
"Please. kali ini jangan gagal lagi. Aku udah gak kuat, Sayang." Rengek Hiko.
Ruby mengalungkan kedua tangannya di leher Hiko, ia berjinjit agar mulutnya menggapai telinga Hiko. "Makanya Sholat dulu. Katanya santri? Udah lupa ya isi kitab Qurrotul Uyun?"
Hiko tersenyum, "Kebiasaan jeleknya masih ngikut, sayang." Ia melepaskan pelukannya, "Ya udah, kita sholat dulu, ya."
Ruby mengangguk.
Mereka pun segera mengambil wudhu bergantian, kemudian melaksanakan sholat sunah dua rokaat.
Usai sholat, Hiko mengajak Ruby pergi ke atas tempat tidur. Lampu utama sudah mati, menyisakan lampu tidur yang masih menyala kekuningan. Membuat kamar nampak lebih hangat dan temaram. Tapi ada yang berbeda dengan kedua mahkluk Tuham yang akan memadu kasih tersebut. Keduanya sama-sama diam, aneh dan canggung.
"Kok aku ngerasa berbeda ya, Sayang?" tanya Hiko.
"Beda kenapa, Mas?" Ruby balik bertanya.
"Aku bingung ngawalinya gimana?"
Ruby terkejut dengan pernyataan Hiko hingga ia kembali duduk. "Bukannya mas paling ahli di bidang ini? Kok sampai bingung ngawalinnya? "
Hiko menarik badannya dan ikut duduk disamping Ruby, ia mengusap rambutnya yang tidak gatal. "Aku sendiri juga bingung, mau pegang kamu rasanya canggung."
Wajah Ruby berubah sedih, "Kenapa? Apa aku tidak menarik, Mas?" tanya Ruby.
"Enggak, Sayang!" Sergah Hiko, ia menarik kedua tangan Ruby. "Kamu selalu menarik buatku."
"Lalu?"
"Tiba-tiba saja aku merasa terlalu kotor untuk menyentuhmu. Kamu terlalu indah dan sempurna untuk ku sentuh. Aku tidak mempunyai cukup keberanian untuk ..."
"Sstt ..." Ruby menempelkan satu telunjuknya dibibir Hiko.
"Kalau mas tidak mau menyentuhku lebih dulu, biar aku yang menyentuhmu lebih dulu."
Hiko terkejut dengan jawaban Ruby, belum sempat ia bertanya Ruby sudah mencakup kedua pipi Hiko dan mendaratkan bibirnya lembut diatas bibir Hiko.
Entah dari mana Ruby mendapatkan keberanian itu, hingga berani ******* bibir bawah Hiko. Lembut hingga membuat Hiko terbuai dan memejamkan matanya. Ia tidak bisa tinggal diam membiarkan Ruby bekerja sendiri. Dengan cepat ia membalas ciuman Ruby, tentunya ia lakukan dengan sangat lembut dan hati-hati.
Ciuman lembut itu dengan singkat menjadi lebih dalam. Membuat jantung Hiko berdetak lebih cepat dan semakin tak terkendali. Ah, tubuh Ruby memang selalu membuatnya candu. Hiko senang naluri istrinya tersebut sudah bisa mengimbangi gaya permainan Hiko.
Pelan Hiko melepas satu persatu kain yang melekat ditubuh Ruby. Ruby masih tetap merasakan ketakutan setiap kali Hiko menyentuh tubuhnya. Bulir keringat dingin menjadi saksi bagaimana dia berusaha mengendalikan diri dan menahan rasa takutnya.
Walau gairah sudah memuncak, Hiko tetap bisa mengendalikan diri ketika Ruby menahan nafas ataupun mencengkram erat tubuhnya, memberikan kesempatan wanita yang sangat dicintainya itu untuk berdamai dengan tubuhnya sendiri.
Dan setelah lama waktu yang mereka lewati, sampailah mereka pada saat-saat yang ditunggu-tunggu. Hiko menatap Ruby, anak rambut yang tumbuh disekitar dahi dan pelipisnya terlihat basah.
"Kamu masih bisa, sayang?" tanya Hiko.
Ruby mengangguk mantap, "Pelan-pelan ..." pintanya lirih dengan wajah ketakutan.
Hiko mengangguk, ia mencium kening Ruby. "Akan ku lakukan dengan lembut ..."
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan like, comment dan vote ya kak. Terimakasih.