
Hiko menatapi kepergian Ruby dari jendela kamar. Sedih, pilu, sakit hatinya untuk mengabulkan permintaan Ruby. Bagaimana ia bisa meyakinkan wanita itu jika dia sangat mencintainya. Ia sama sekali tidak mau berpisah darinya.
Ia duduk di kursi meja meja kerja Ruby, mengambil kamera miliknya dan menikmati satu per satu foto Ruby yang masih terabadikan di kameranya. Semakin ia perhatikan wajah dan senyum wanita itu, cintanya seakan tumbuh semakin besar dan semakin sulit berpisah darinya.
Tok tok tok
Hiko mengacuhkan ketukan pintu itu, Ia tak peduli siapapun dibalik pintu itu.
Ceklek!
Pintu terbuka, tetap tak membuat Hiko penasaran dengan siapa yang datang.
"Ko ..."
Suara yang sedang tak ia harapakan terdengar, Nara sedang berdiri di daun pintu.
"Pergi! Gue gak mau bicara sama Lo!" Bentak Hiko tanpa menhalihkan pandangannya dari layar kameranya.
"Tapi kita harus bicara! Kita harus selesaikan urusan kita." pinta Nara.
"Gue gak akan nikahin lo dan gue gak akan ceraiin Ruby!" Ujar Hiko.
Air mata Nara menetes mendengar kalimat Hiko. Ia merasa dibuang begitu saja. Ia merasa sangat hina dan murahan.
"Aku mengandung anakmu, darah dagingmu."
"Gue gak menginginkannya!!" Bentak Hiko, "Urus aja dia sendiri, gue yang tetep akan biayain dia."
"Jika kamu benar-benar tidak menginginkannya, aku akan menggugurkannya,"
Kalimat Nara membuat Hiko terkejut dan menatapnya.
"Lo Gila, Ra!!"
Sahutan kencang dari luar kamar terdengar menggema di lantai dua. Genta menghampiri Nara dengan cepat.
"Dia gak salah!" Genta menunjuk perut Nara, "Yang salah lo berdua!" Bentak Genta pada Nara dan Hiko.
"Lo cowok jangan jadi pengecut, brengsek!!" Genta menunjuk Hiko.
"Apa lo bilang!!" Hiko berdiri siap baku hantam dengan Genta.
"Kalo lo emang bukan pengecut! Tanggung jawab! Nikahin Nara, urus anak lo! Ini anak lo, B*ngs*t!!" Teriak Genta.
"Gue gak ngarepin dia!!"
"Kalo lo gak ngarepin dia? Ngapain lo lakuin dulu!!"
Hiko terdiam dengan amarahnya.
"Sudah, Kak. Sudah!" Pinta Nara. "Aku juga tidak menginginkan Hiko menikahiku. Aku tidak ingin merusak kebahagian Ruby."
"Kalo lo gal nikah? Gimana nasib anak ini? Gimana kesahan hukum tentang anak ini?"
"Buat apa aku menikahinya, Kak? Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika melihat mata orang yang kita cintai tapi disana ada sosok orang lain yang dicintainya? pernikahan itu hanya akan menyiksa kami!"
"Disaat seperti ini, kalian masih egois mikirin perasaan kalian? Lo gak mikirin anak ini? Lo mau anak ini lahir tanpa kejelasan? lo gak mikirin masa depannya?" Sentak Genta.
"Benar apa kata Genta, kalian harus menikah!"
Kini Handoko yang hadir ditengah-tengah mereka.
"Pa!"
"DIAM!!" Bentak Handoko membuat semua keadaan Hening, bahkan suara itu mampu membuat terhentinya rapat pleno pasukan semut di rongga-rongga dinding.
Genta yang takut mundur selangkah membiarkan Handoko mengambil alih keadaan.
"Kamu sudah tidak punya pilihan lagi sekarang!" Handoko menunjuk tepat di wajah Hiko, "Pilihanmu hanya ceraikan Ruby dan Nikahi wanita ini!"
"Pa!"
"JANGAN MEMBANTAH!!" Teriak Handoko. "Kamu sudah banyak mengecewakan banyak orang! Jangan berfikir untuk lebih banyak lagi melukai mereka!"
Hiko menggelengkan kepalanya tetap tidak menyetujui kemauan Handoko.
Handoko menghampiri Hiko, menyentuh kedua bahu putranya dan menatapnya penuh permohonan. "Tolong, berhenti menyiksa kami, Nak."
Setetes air mata Handoko menumpahkan air mata Hiko. Separah itukah ia menyakiti orangtuanya hingga membuat papanya menangis dan memohon padanya?
Hiko memeluk Handoko dan berulangkali mengucapkan permintamaafannya. Hal itu juga membuat Genta dan Nara bersedih, merasakan penyesalan Hiko.
**********
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabaralatuh."
Ucapan salam dari Ruby yang sangat lemas membuktikan jika wanita itu pulang dengan sebuah kesedihan dan kekecewaan lagi. Tak ada yang bertanya, Kyai Abdullah hanya memandang istrinya untuk mencari tahu keadaan putrinya.
Nyai Hannah mengikuti Ruby yang masuk ke dalam kamar. Gadis itu meletakkan tasnya diatas meja kemudian duduk pasrah melepas lelah di atas tempat tidur.
"Ada apa, Nak?" Nyai Hannah duduk di samping putrinya.
"Ruby lelah, Ummi. Ruby capek menghadapi keegoisan mas Hiko. Ruby ingin berhenti!"
Nyai Hannah memeluk putrinya, "Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Dia bersikeras tidak mau menceraikan Ruby, Ummi. Apa dia mau mengikat Ruby selamanya dan membuat Ruby berdosa disetiap langkah Ruby? Ruby lelah menghadapinya, Ummi."
Nyai Hannah hanya menepuk punggung putrinya mencoba memberi ketenangan. "Biar Abi dan Ummi yang mencoba membujuknya, Nak. Kamu fokus saja menyiapkan keperluanmu untuk di Jepang."
"Aku harap mas Hiko mau mendengarkan Abi dan Ummi."
"Iya, Nak. Aamiin."
Tak ada lagi air mata yang keluar, Ruby sudah lelah menangis, Ia sudah lelah berada dikerumitan keadaan ini. Sudah cukup baginya. Apapun keputusan Hiko, Ia akan tetap juga pada keputusannya.
**********
Sehari telah berlalu, sudah berapa puluh pesan ia kirimkan pada Hiko agar memenuhi keinginannya. Tak ada satupun yang terbalas, bahkan terbaca pun tidak. Panggilan telponnya pun selalu terabaikan hingga berujung ponselnya yang tidak aktiv. Ia sudah berusaha untuk bersikap masa bodoh dan cuek. Mungkin ia akan meminta bantuan keluarganya kelak untuk menggugat cerai Hiko di pengadilan.
Tapi tidak semudah itu, besok subuh ia sudah harus pergi ke Jepang. Hal itu membuat Ruby semakin panik dengan statusnya.
Dan akhirnya, ba'da sholat ashar, Kyai Abdullah dan Nyai Hannah bersama Ruby pergi ke rumah Hiko. Sangat bersyukur mereka bisa menemui Handoko dan Maria disana.
Ada rasa canggung Handoko dan Maria saat menemui Kyai Abdullah dan Nyai Hannah. Seharusnya merekalah yang datang ke tempat Ruby untuk memperjelas hubungan pernikahan putra putri mereka. Berulang kali Handoko dan Maria mengucapkan permintamaafannya.
"Sudahlah Pak, Bu. Yang lalu biarlah berlalu, kita masih punya masa depan. Masa lalu kita jadikan pembelajaran untuk membuat masa depan kita lebih baik lagi." Ujar Kyai Abdullah.
"Dan jangan sampai musibah ini memutuskan tali silaturahmi kita ya Pak, Bu." Tambah Nyai Hannah.
"Sikap Pak Kyai dan Bu Nyai inilah yang membuat kami semakin merasa tidak enak." Ujar Maria.
"Jangan seperti itu, Bu. Mari kita sama-sama membuka lembaran baru."
Handoko dan Maria hanya mengangguk segan.
"Kedatangan kami kemari sebenarnya ingin meminta sesuatu pada Nak Hiko, Pak Handoko." Ujar Kyai Abdullah.
Handoko mengangguk, "Hiko saat ini sedang ada urusan pekerjaan, Pak Kyai. In Shaa Allah kami sudah tahu maksud pak Kyai. Kami akan menyuruhnya untuk segera menemui Ruby, Kyai." Handoko menatap Ruby yang sedari tadi hanya diam tertunduk.
"Besok subuh Ruby akan berangkat ke Jepang, Pak. Karena itu, sebelum dia berangkat kami ingin semuanya selesai dan tak ada beban diantara mereka berdua." Ujar Kyai Abdullah.
"Iya pak Kyai, kami pun juga sama mempunyai pikiran seperti--"
"Assalamu'alaikum ..."
Kalimat Handoko terpotong dengan kedatangan Hiko dan Genta.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut semuanya.
Hiko terkejut dengan kehadiran Ruby dan orangtuanya yang ia sangat tahu maksud kedatangan mereka untuk apa.
"Nak, duduklah sebentar." Pinta Maria.
"Maaf Abi, Ummi. Saya sama sekali tidak mencoba berbuat tidak sopan pada Abi dan Ummi, tapi jika kehadiran Abi dan Ummi kemari untuk meminta saya menceraikan Ruby, saya tidak bisa dan saya tidak akan melakukannya."
"HIKO!!" Sentak Handoko.
"Ruby susul mas Hiko sebentar." Pamit Ruby kemudian menyusul Hiko.
"Mas!!"
Ruby mengejar langkah Hiko namun pria itu tak mau menghentikan langkahnya.
"Mas! Berhenti bersikap egois! Aku tidak punya banyak waktu meladenimu!" Ruby masuk ke dalam kamar.
Hiko tak mempedulikan Ruby, ia sibuk melepas jaket dan sepatunya.
"Haruskah aku bersujud di kakimu agar kamu mau menceraikanku?" tanya Ruby.
"Lakukan sesukamu, kau tetap tidak akan mendapatkan yang kamu inginkan." jawab Hiko.
Ruby terdiam, "Pesawatku akan berangkat jam setengah empat pagi, Mas. Aku menunggumu sampai saat itu. Jika kamu masih kekeuh dengan keputusanmu, aku akan menggugatmu di pengadilan dan aku berharap tidak akan bertemu denganmu lagi."
Hiko masih tak peduli dengan ancaman Ruby.
"Aku masih ingin memilikimu dalam doaku, Mas. Ku mohon, jangan kecewakan aku." kata Ruby.
"Dan aku masih ingin memilikimu seutuhnya." Sahut Hiko.
Keduanya saling menatap tak ada pembicaraan. Hingga Ruby memutuskan untuk meninggalkan kamar Hiko kembali ke ruang tamu.
Disana Ruby langsung berpamitan pada Handoko dan Maria. Maria memeluk erat Ruby, tangisnya pecah tak rela melepaskan kepergian Ruby.
"Terimakasih sudah menjadi menantu Mama. Kamu wanita mulia, Nak. Kamu akan mendapatkan kebahagiaan seutuhnya kelak." Ucap Maria.
Ruby hanya mengangguk, ia sedang menahan tangisnya, ia tidak mau menangis lagi, tidak mau.
**********
Mobil keluarga milik kyai Nur sedang menyusuri jalanan menuju Bandara, menembus udara dingin disepertiga malam. Ruby diam seribu bahasa dengan menatap room chat-nya yang sama sekali tak mendapat balasan dari Hiko.
Ia menggenggam erat ponselnya karena frustasi dan ingin marah hingga air matanya ingin menetes. Bagaimana bisa Hiko sekejam ini padanya. Membuat perpisahan ini begitu sangat menyakitkan. Ia tidak mau semua berakhir ssperti ini, ini akan benar-benar membuat tali silaturahmi mereka menjadi buruk.
Iqbal yang mengendarai mobil menghentikan kendaraannya di lahan parkir yang sudah disediakan pihak bandara. Hanya Kyai Abdullah, Nyai Hannah, Iqbal dan Azizah yang mengantar Ruby ke Bandara.
"Hallo, Assalamu'alaikum. Mas Abriz dimana?"
Ruby menelepon Abriz ketika sudah turun dari Mobil.
"Oke, Mas. Aku langsung kesana, ya?" Ruby menutup panggilan teleponnya.
"Temanmu dimana, By?" tanya Kyai Abdullah.
__ADS_1
"Sudah di depan pintu pintu keberangkatan, Abi." Jawab Ruby.
"Ya sudah, kita langsung kesana aja. Abi takut kamu ketinggalan pesawat." Ujar Kyai Abdullah.
Mereka pun bergegas pergi menuju ke terimal keberangkatan Internasional. Sesekali Ruby masih menatap layar ponselnya, berharap Hiko memberikan sebuah kabar, tapi yang didapat masih sebuah kekecewaan.
"Ruby!!"
Ruby mendongakkan kepalanya mencari cari siapa yang memanggilnya. Itu Abriz, sedang melambai-lambaikan tangan menyapanya. Ada Heru, Bagus dan Lyla disana.
Keduanya saling bertemu di seberang ruang tunggu terminal keberangkatan. Mereka saling menyapa satu sama lain. Sedikit berbincang dan mengobrolkan tentang apapun yang bisa membuat mereka semua akrab.
Sedangkan Ruby masih tetap gelisah menatap layar ponselnya, mengingat pintu terminal keberangkatan sudah dibuka dan banyak yang sudah antri masuk ke dalam ruang check in.
"Sudah waktunya berangkat, Nak." Ujar Nyai Hannah.
"Ayo, By." Ajak Abriz.
"Sebentar, Mas. Sebentar lagi." kata Ruby.
Semua mengerti apa yang sedang Ruby tunggu, mereka memaklumi itu dan ikut menunggu apa yang Ruby tunggu.
Sepuluh menit
Lima belas menit
Dua puluh menit
"By ..., Jika memang kamu ragu untuk berangkat, kita pulang saja." Kata Kyai Abdullah.
"Dia kejam sekali, Abi. Dia kejam sekali padaku."
"Kamu yang kejam padaku, By!"
Ruby melihat orang yang sudah ditunggunya dari tadi sedang berdiri beberapa langkah belakang Abinya. Ia tak bisa lagi menahan air matanya. Ruby berlari dan memeluk Hiko.
Keduanya berpelukan erat tak mempedulikan orang-orang disekitarnya.
"Kenapa kamu baru datang, Mas?" tanya Ruby diantara isak tangisnya.
Hiko melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata Ruby. "Aku sudah menunggu disini sejak jam dua tadi."
Ruby memukul dada Hiko, "Jahat! Kenapa tidak langsung menemuiku?"
"Karena aku ingin kamu membatalkan kepergianmu."
Ruby menggeleng, "Aku tetap akan berangkat."
"Karena itulah aku menemuimu sekarang." Hiko mencakup pipi Ruby, "Kita akan berpisah?"
Ruby mengangguk, air matanya meleleh.
"Aku akan menikahi Nara."
Ruby memejamkan matanya mencoba menerima keputusan Hiko, air matanya semakin banyak yang mengalir. Mulutnya terkatup rapat. Ia menenangkan dirinya dan membuka matanya lalu mengangguk menyetujui keputusan Hiko.
"Aku ingin kamu menyayangi anakmu kelak, Mas. Jangan membencinya."
Hiko mengangguk.
"Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu."
Ruby berjinjit, menarik wajah Hiko dan mencium bibir Hiko. Tak tinggal diam, Hiko pun ******* bibir Ruby. Tak mempedulikan siapapun yang akan mencemoohnya.
Puas dengan ciuman, mereka tutup dengan pelukan erat. Keduanya sama-sama tak mau saling melepaskan hingga sebuah pemgumuman terakhir keberangkatan ke Jepang menggema di sudut-sudut ruang tunggu.
"Aku harus berangkat, Mas." Ruby melepaskan pelukan Hiko.
Hiko menatap mata Ruby, "Aku mencintaimu, By."
Ruby mengangguk, ia menyeka air matanya.
Hiko mencium kening Ruby, memegang erat tangan wanita yang sangat dicintainya itu kemudian perlahan ia lepaskan. Ia menutup mata, dan menarik nafas dalam. Ia diam sejenak sebelum kemudian membuka mata, menatap tepat di mata Ruby yang basah karena air mata.
"Aku menjatuhkan talagh untukmu dan mulai saat ini kamu bukan istriku lagi."
Kalimat yang sudah Ruby tunggu-tunggu, namun saat kalimat itu terucap seakan tubuhnya lemas tak berdaya. Sangat menyakitkan, sangat! Air mata yang mewakili betapa terlukanya perasaan mereka berdua. Tak bisa saling menyeka, tak bisa saling memberikan pelukan untuk saling menguatkan, hanya saling menatap diantara tangis.
"Maafkan aku, By. Berjanjilah padaku, kau akan bahagia."
Ruby mengangguk.
"Jika Allah mengizinkan, semoga kelak kita dipertemukan di waktu dan cara yang tepat, Mas."
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, comment dan votenya. Terimakasih.
__ADS_1
Untuk yang mau minta visual, bisa gabung grub.
Sengaja author gak kasih visual disini, karena imajinasi tiap orang beda-beda dan author takut mengganggu imajinasi pembaca.