
Ketukan pintu dilakukan terlebih dahulu sebelum ia masuk.
"Ya!" jawaban Ruby membuat Hiko membuka pintu. Ia mengembangkan senyum lebar ketika melihat istrinya duduk di balik meja kerja. Namun senyum itu hilang ketika melihat Abriz sedang duduk di sofa ruangan tersebut.
"Ngapain lo masuk-masuk ke sini?" tanya Abriz.
Hiko mengacuhkannya dan duduk di salah satu sofa terpisah dengan Abriz. Ia tak mengalihkan perhatiannya pada Ruby yang sedang menyusun kertas-kertas kemudian ikut bergabung duduk di sofa.
"Mas nggak pulang?" tanya Ruby.
"Apa aku mengganggumu?" Hiko balik bertanya.
"Enggak, sih," jawab Ruby, "selama Mas nggak nyari perkara aja," imbuhnya seraya melirik Abriz.
"Tergantung dia juga, By."
"Tergantung elo, lah!" sahut Abriz.
"Nah, kan? Mulai?" keluh Ruby.
"Enggak, By. Enggak. Aku diam di sini." Hiko berupaya agar Ruby tak sampai mengusirnya.
Melihat keadaan yang sudah kondusif, Ruby dan Abriz membahas tentang beberapa proyek yang baru mereka dapat dari negeri tetangga. Karena tak ikut andil dalam percakapan itu, Hiko memilih diam dan sibuk dengan ponselnya.
Tak terlalu lama pembahasan proyek itu berlangsung. Abriz segera meninggalkan ruangan dan Ruby membereskan kertas-kertas di atas meja. Ia melirik suaminya yang masih sibuk dengan ponselnya. Ia pindah ke samping Hiko, tapi hal itu tak membuat Hiko mengalihkan perhatiannya.
Ruby sedikit kesal karena tak diacuhkan, ia melirik dan mencari tahu hal apa yang membuat pria itu tak menyadari keberadaannya.
Melihat wanita di sampingnya mendekat, membuat Hiko menoleh. Namun wanita itu dengan cepat mengalihkan perhatiannya.
"Hei, kenapa?" Hiko menggoyangkan bahu Ruby.
Ruby menggeleng tanpa menatap suaminya.
Mengetahui istrinya sedang merajuk, Hiko mendekatkan dirinya di samping Ruby. "Wajahnya ngambek, tuh," goda Hiko seraya mencubit pipi Ruby.
"Enggak ...."
Hiko tersenyum gemas melihat istrinya yang sedang berbohong, namun gesture tubuh dan mimik wajahnya sangat jelas menunjukkan jika sedang ada apa-apa. Ia merangkul bahu istrinya dan menunjukkan ponselnya.
__ADS_1
"Cemburu sama yang ada di hapeku?" tanya Hiko.
"Enggak, Mas." Ruby mencoba melepaskan rangkulan Hiko, namun pria itu menahannya.
Hiko menghidupkan layar ponsel dan menunjukkannya pada Ruby. "Cemburu sama dia?" tanya Hiko.
Wajah Ruby bersemu merah, senyum manis terulas di bibirnya. Ia membenamkan wajahnya di dada Hiko seraya mencubit pinggang pria tersebut.
"Baru kali ini ada orang yang cemburu sama dirinya sendiri," goda Hiko. Ia menatapi layar ponsel yang menampakkan beberapa foto istrinya. Sedari tadi ia sibuk mengedit foto-foto Ruby.
"Habisnya, Mas fokus ke hape terus. Sampai aku duduk di samping, Mas nggak tahu."
"Tahu ... aku tahu. Cuma nanggung aja, tinggal dikit editnya," jawab Hiko seraya memeluk erat tubuh istrinya. Ia memberikan kecupan berkali kali di ujung kepala Ruby.
Ruby menarik diri dari pelukan Hiko. "Udah, ah! Mau kerja."
"Tunggulah." Hiko menahan Ruby untuk tetap duduk di sampingnya. Ia meraih kedua tangan Ruby dan menggenggamnya.
"Kenapa, Mas?" tanya Ruby.
Hiko tersenyum dan menatap lembut istrinya. "Aku senang dengan cemburumu barusan."
"Jangan khawatirkan tentang hatiku. Banyak perempuan cantik di sekitarku, tapi yang bisa menggetarkan hati ini hanya kamu. Tabina Ruby Azzahra."
Ruby tertunduk, ia semakin tersipu malu ketika Hiko memanggil nama lengkapnya.
"Aku bahkan ragu jika akan ada wanita lain yang bisa melakukannya," imbuh Hiko.
"Nggak usah ngegombal, deh!"
"Aku hanya ingin meyakinkanmu, By. Sejauh apa waktu memisahkan kita, sedikitpun tak ada rasaku yang menguap."
Ruby mencangkup kedua pipi Hiko, "iya, Mas. Iya ... aku percaya."
"Nggak dicium, nih? Posisinya udah pas banget, loh."
"Jangan ngawur, Mas. Kalau ada yang lihat gimana?" Ruby berdiri, mengambil tumpukan kertas yang sudah ia rapikan.
"Mereka punya mata, ya biarin aja." Hiko ikut berdiri dan menarik pinggang Ruby mendekat padanya.
__ADS_1
"Mas ...."
Hiko mengecup kening Ruby. "Aku pulang dulu, ya. Ada jadwal pemotretan out door habis ini."
Ruby mengangguk. Belum sempat ia menjawab, Hiko sudah memberikan kecupan singkat di bibirnya.
"Mas!" pekik Ruby tertahan.
Hiko tertawa kecil. Ia membungkukkan kembali badannya, menatap wajah istrinya yang merona merah. "Nanti aku jemput, By."
Ruby mengangguk, "hati hati ya, Mas."
"Iya, By. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam, Mas."
Hening.
Mereka, saling memandang dan tak ada yang bergerak. Tangan Hiko pun masih melingkar di pinggang Ruby. Sejenak kemudian mereka tertawa kecil, menyadari jika tak ada satu dari mereka yang ingin berpisah.
"Sudah, Mas. Pulang, gih." Ruby melepaskan tangan Hiko dari pinggangnya, meraih dan mencium punggung tangan kanan suaminya itu.
Hiko mengangguk. "Assalamu'alaikum, Ruby," pamitnya seraya memberi kecupan di kening istrinya.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Hati-hati."
Ruby mengantar kepergian Hiko sampai di depan pintu ruang kerjanya. Bibirnya tak berhenti mengulas senyum mengingat perlakuan manis suaminya
...🌸Bersambung🌸...
...Jangan lupa apa, gaiz?...
...👍 Tekan LIKE dulu....
...✍️ Tulis KOMENTAR juga....
...🏅 Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....
...Terima kasih....
__ADS_1