Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
Bonchap 5-1


__ADS_3

Almeer berjalan di samping Ruby dengan mencengkram erat tangan lembut dan hangat itu. Wanita berwajah cantik dan syahdu itu terus memberikan senyum menenangkan pada putranya yang khawatir di marahi Papanya.


"Kamu jemput Almeer, By?"


Mendengar suara Hiko membuat Almeer bersembunyi di balik tubuh Mamanya. Pria itu mengernyit dan melihat putranya.


"Kenapa bisa kotor begini, Al?" Hiko jongkok dan menelisik tiap inchi tubuh putra. "Kamu berkelahi?" selidiknya.


Almeer tidak langsung menjawab, ia justru menatap Mamanya.


"Biar Al mandi dan ganti baju dulu ya, Mas."


"Enggak. Al harus jelaskan apa yang terjadi pada Papa dulu." Hiko berdiri dan mengajak putranya masuk ke dalam rumah. "Duduk!" perintahnya, pelan tapi terdengar tegas.


Almeer duduk di sofa ruang tamu, Ruby ikut duduk di samping Almeer. Sedangkan Hiko duduk di sofa yang terpisah. Tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua sikunya yang bertumpu di atas paha. Sorot mata yang tajam itu tak sedikitpun melepaskan sosok putranya.


"Papa menunggu penjelasan kamu, Al. Ini sudah ketiga kalinya dan Papa nggak mau mendengarkan penjelasan yang berputar-putar."


Ruby terkejut mendengar jika Almeer lebih dari sekali berkelahi dengan temannya. Ia meraih bahu mungil itu dan mengusapnya pelan. "Al bisa cerita ke Papa. Kalau jujur, Papa pasti nggak akan marah," bujuk Ruby.


"Al nggak suka kalau Sofyan ngatain Papa nimbun dosa banyak karena bikin anak seperti Al."


Wajah Hiko yang mengeras tadi berubah kaget mendengar jawaban putranya. Hari yang dikhawatirkannya tiba juga, dan putranya justru mendengar masa lalunya dari orang lain. Ia jongkok di depan Almeer dan menggenggam tangan kecil itu. "Kenapa Al nggak bilang ke Papa?"


"Al nggak mau Papa sedih," jawabnya. "Al malu, Al sedih, Al takut kalau Al memang benar anak kotor yang lahir dari dosa." Tangis Al pecah seketika.


Hiko langsung memeluk putranya. Hatinya ikut teriris mendengar ucapan putranya. "Maafkan Papa, Sayang. Maafkan, Papa." Air matanya ikut menetes. Sesakit ini mendengar orang lain menghina putranya. Harusnya ia yang mendapat hinaan, bukan putranya.


"Al mau jadi anak sholeh, Al mau jadi anak hebat, Al harus pinter. Nggak mau diejek lagi," ujar Almeer masih dengan tangisnya yang meraung-raung.


Hiko hanya mengangguk dan masih memeluk erat putranya.


"Al mau jadi seperti telur yang dibilang Mama Ruby, Pa. Biar Al lahir ditempat yang kotor, Al harus jadi orang yang bermanfaat!" teriaknya penuh emosi.


Hiko melepaskan pelukannya dan menatap putranya yang sesenggukan. Dihapusnya air mata putranya. "Maafin Papa ya, Sayang. Maafin Papa. Harusnya kamu tidak mendapatkan hal buruk seperti ini. Kebodohan Papa membuat kamu disakiti orang lain. Harusnya kamu lahir dari orang tua yang baik. Tidak seperti Papa."


Almeer menggeleng, ia ikut menyeka bekas air mata di pipi Papanya. "Tapi Papa dan Mama Nara itu orang tua Al. Kalau Papa dan Mama Nara nggak ada, Allah nggak akan kirim Al untuk ibadah di bumi ini, Pa."


"Papa dan Mama bersyukur mendapat putra sholeh dan pintar seperti kamu." Hiko memberikan kecupan di kening putranya. "Maafkan Papa ya, Sayang."

__ADS_1


Almeer mengangguk. Air matanya sudah berhenti dan menyisakan sesenggukannya.


"Papa harap Al tumbuh menjadi pria yang baik kelak. Tidak seperti Papa yang membuang banyak waktu untuk hal nggak berguna. Jauh dari Allah dan sibuk dengan dunia. Dan yang paling buruk, Papa selalu mempermainkan wanita. Jangan sekali-kali Al melakukan kesalahan yang sudah Papa perbuat."


"Al mau deket sama Allah terus."


Hiko tersenyum mendengarnya. "Kelak kalau Al sudah dewasa, harus menghargai seorang wanita. Siapapun itu, Al harus hargai. Meskipun terlihat lemah dan tidak berdaya, bukan berarti Al bisa meremehkan bahkan mempermainkan mereka. Sebagai pria, Al harus menghargai dan melindungi mereka. Sebab tanpa Hawa, Adam pun kesepian. Begitupun dengan kita, Al."


"Seperti Papa yang selalu sedih karena tidak ada Mama Ruby?"


Hiko tersenyum mendengar pertanyaan polos putranya. Namun memang begitu adanya. Ia memang kesepian dan merasa sangat kehilangan atas kepergian Ruby.


"Maafkan Papa ya, Al. Papa tak bisa berhenti menyesali kesalahan Papa di masa lalu. Sampai-sampai kamu yang mendapatkan imbasnya."


"Al maafin Papa, kok."


"Al sudah lega cerita sama Papa?" tanya Ruby.


Almeer mengangguk meskipun masih sesenggukan. "Al senang ada Mama di sini. Al bisa cerita banyak hal ke Mama." Ia memeluk Mamanya.


"Maaf, ya. Papa nggak punya banyak waktu untuk Al."


"Iya ... anak Papa udah makin gedhe, ya?" Hiko mengusap kepala putranya yang masih mengenakan kopyah.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Usai membantu Al mandi dan berganti pakaian, Ruby bergegas ke kamar untuk menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Namun ternyata Hiko telah selesai lebih dulu. Pria itu sudah memakai baju koko dan sarung. Wajahnya yang rupawan terlihat murung, menatap pantulan dirinya di cermin.


"Maaf ya, Mas. Al tadi sambil cerita, jadiโ€”"


Belum sempat Ruby menyelesaikan ucapannya, Hiko justru menarik wanita tersebut dalam pelukannya. Ia memeluk erat dan membenamkan wajahnya di bahu Ruby.


"Kenapa, Mas?" Ruby mengusap bahu suaminya. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang basah di bahunya.


"Aku merasa sangat berdosa sekali pada Almeer, By!" pekik Hiko pelan. Ia menarik tubuhnya dan menepuk-nepuk dadanya. "Hatiku sangat sakit membayangkan bagaimana anak sekecil itu mendapat olokan dari teman-temannya. Dia pasti tidak percaya diri di hadapan teman-temannya, By."


Untuk kedua kalinya Ruby melihat wajah Hiko sekacau ini. Ia menangkup wajah pria itu seraya mengusap air matanya. "Tapi menyesalinya pun percuma, Mas. Semuanya sudah terjadi."


"Aku merasa sangat berdosa padanya, By. Meminta maaf tidak bisa membuat rasa berdosa ini hilang."

__ADS_1


"Kamu beruntung masih mempunyai rasa itu,Mas. Dengan begitu kamu akan selalu memberikan yang terbaik untuk Al."


"Aku tahu hari ini akan datang, tapi aku sama sekali tidak menyangka akan seperti ini. Al mendengar semuanya dari orang lain dan selama ini dia simpan sendiri, By."


"Kita tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi padanya, Mas. Tapi kita masih punya banyak kesempatan untuk memberinya kekuatan menghadapi kenyataan. Dia akan tumbuh menjadi anak yang hebat."


Hiko merengkuh bahu Ruby."Terima kasih sudah hadir di hidup kami, By. Terima kasih." Ia memberikan kecupan di kening istrinya kemudian memeluknya.


"Ada yang ingin kusampaikan padamu, Mas "


"Apa, By!"


"Aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan ingin fokus mendampingi Al, Mas."


Hiko melepaskan pelukannya."Aku nggak setuju."


"Kenapa? Aku ingin selalu ada untuk Al, Mas."


"Kamu bisa tetap ada bersama Al tanpa harus meninggalkan pekerjaanmu, By."


"Tapi aku ingin fokus padanya, Mas. Tidak dengan yang lain."


"Aku tidak bisa melihatmu menyerah dengan impianmu hanya untuk fokus pada Al, By."


"Almeer bukan sekedar 'hanya' untukku, Mas. Almeer putraku, aku punya tanggung jawab besar untuk masa depannya."


Hiko terdiam. Ia menatap istrinya lekat-lekat. Ruby adalah orang yang bersikeras dengan kemauannya. Yang membuatnya terdiam bukan karena sikap keras kepala itu. Melainkan ketulusan Ruby pada Almeer. Rasa syukur bagaimana lagi yang ingin ia panjatkan pada pemilik kehidupan setelah mengirimkan wanita selembut dan setulus itu padanya?


...๐ŸŒธBersambung๐ŸŒธ...


...Jangan lupa apa, gaiz?...


...๐Ÿ‘ Tekan LIKE dulu....


...โœ๏ธ Tulis KOMENTAR juga....


...๐Ÿ… Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....


...Terima kasih ๐Ÿ’•...

__ADS_1


__ADS_2