Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
25


__ADS_3

"Sesakit itu ya patah hati?"


Lagi lagi pertanyaan Hiko membuat Ruby terkejut hingga menghentikan jemarinya yang sedang menjahit. Ruby mendongakkan kepalanya menatap Hiko, Bagaimana dia bisa tahu? Batinnya.


"Mas meenguping pembicaraan saya dengan mas Iqbal?" Ruby meninggikan suaranya.


"Weih, Biasa aja. Gak usah ngegas!" Balas Hiko, "Kurang kerjaan banget gue nguping pembicaraan lo, gak penting banget!"


"Trus, tau dari mana?"


Hiko melirik sinis ke arah Ruby, "Gue udah banyak mutusin cewek, tampang mereka ya kaya lo gini. Udah apal gue."


Ruby mendengus kesal, ia menyesal sudah bicara dengan Hiko. Ruby menarik kasar bahu Hiko dan kembali meneruskan jahitannya.


"Lo udah gak perawan sih, makanya ditinggalin."


Ruby tercengang dengan ucapan Hiko. Setengah mati ia mengumpulkan keberanian untuk belajar melanjutkan kehidupannya yang sudah tak sempurna dan tiba-tiba saja seseorang menggalinya lagi, memunculkannya ke atas permukaan.


Hiko memberanikan diri menatap Ruby yang tak bergeming. Ruby melanjutkan jahitannya, mulutnya terkatup rapat namun air matanya tak bisa lagi ditahan. satu per satu air mata menetes membasahi pipinya.


"Gue cuma bercanda." Ucap Hiko sangat menyesal sudah mengucapkan kalimat yang tak seharusnya di dengar Ruby.


Ruby masih menangis dalam diamnya, ia hanya ingin segera menyelesaikan kostum Hiko dan segera menjauhi Hiko.


"Udah selesai, Ko?" Tanya Genta yang tiba-tiba masuk.


Mendengar suara Genta membuat Ruby memalingkan wajahnya agar Genta tidak tahu jika ia menangis. Karena merasa bersalah, dengan sorot mata ia meminta Genta untuk meninggalkan ruangan.


Walau kebingungan dan ingin tahu apa yang terjadi, Genta memilih untuk keluar ruangan. Mungkin Hiko hanya ingin berdua saja dengan Ruby, pikirnya.


"Dah pergi Genta." Kata Hiko


Mendengar hal itu Ruby langsung berjongkok, menenggelamkan wajahnya diantara kedua lengannya dan menumpahkan tangisnya yang sempat ia tahan.


Hiko kebingungan harus bagaimana menenangkan Ruby karena ia tidak terlalu mahir menenangkan orang yang menangis.


Hiko memutuskan untuk jongkok dan memeluk Ruby seperti biasanya ia lakukan saat sedang shooting film.


BRUK! PLAK!


Sebuah dorongan dan tamparan mendarat dipipi Hiko hingga membekas merah.


"Jangan samakan saya dengan wanita lain yang dengan mudah bisa mas sentuh!" Bentak Ruby masih dengan tangisnya.


Ruby berdiri meninggalkan Hiko yang masih tercengang dengan tamparannya.


Hiko masih diam menatap kepergian Ruby. "Seharusnya gue marah ke dia kan?" Gumamnya sambil berdiri.


Ia berjalan keluar mencari Fajar untuk melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan Ruby begitu saja.


"Udah selesai, Ko?" Tanya Genta


"Bang Fajar, bantu punya gue ya. Cewek tadi ngilang." Teriak Hiko pada Fajar, mengacuhkan pertanyaan Genta.


"Iya, dikit lagi kelar." Balas Fajar.


Hiko kembali masuk ke dalam dan duduk di sofa kecil yang ada disana.

__ADS_1


"Lo apain Ruby? Sampe lo ditinggal gitu?" Genta mengikuti Hiko.


"Gue ngatain dia gak perawan, eh nangis dia." Jawab Hiko acuh.


"Wah, pantesnya mulut lho diminumin soda api, Ko."Genta heran dengan Sifat pria didepannya itu.


"Lah, banyak cewek gue katain gitu juga mereka biasa aja. Palingan ngambek, dikasih pelukan juga udah mau diajak ke kasur lagi." Hiko sedang menutupi rasa bersalahnya.


"Mulut lo belom pernah minum soda api, ya? Udah tau lo yang merawanin dia, malah di ungkit-ungkit lagi."


Hiko diam saja tak menjawab, ia melirik keluar ruangan menunggu Fajar agar segera datang.


**********


Adzan magrib sudah berkumandang beberapa saat yang lalu. Mushola yang tadinya sepi kini berubah ramai karena para kru maupun pemain film yang beragama muslim hendak menunaikan kewajibannya. Ruby sudah berada disana sejak matahari belum masuk ke peraduannya. Ia sedang menuntaskan tangisnya, menenggelami kesedihannya dan menghadapi kenyataan bahwa yang dikatakan Hiko benar. Dialah yang meninggalkan Iqbal, namun rasanya seperti dialah yang sudah ditinggal Iqbal.


Usai Sholat magrib, Ruby dan beberapa kru wanita kembali bersama ke studio alam untuk melanjutkan proses shooting-nya. Ruby juga sudah mendapat ijin dari Rika untuk bisa segera pulang.


Ruby masuk kembali ke dalam ruang ganti untuk mengambil tasnya yang ia letakkan disana sejak awal. Ada Nara, Genta, Ruby, Ghea dan asistennya. Bertatapan dengan Hiko disana membuat Ruby sesegera mungkin membuang muka.


"Dari mana aja? Aku nyariin kamu dari tadi." Tanya Nara menghampiri Ruby.


"Dari mushola, Ra." Jawab Ruby. "Habis ini anter aku ke parkiran ya, Ra. Aku takut gak ada temannya."


"Ehsan yang jemput kamu?" Tanya Nara. "Bareng sama kita aja loh, By. Kebetulan Hiko cuma tinggal satu scene aja."


"Iya, By. Bareng kita aja, dijamin aman." tambah Genta.


Ruby tersenyum, "Makasih tawarannya, mas. Saya pulang sama adek saya aja."


"Hiko, stand by Ko!"


ZLAP!


Gelap dan riuh keluhan banyak orang, tiba-tiba saja lampu ruangan mati dan hanya peralatan shooting saja yang masih menyala.


Sedikit cahaya yang masuk membuat Ruby masih bisa melihat sekitarnya walau samar.


Deg!


Mata Ruby berhenti pada sosok Hiko yang sedang berdiri membelakanginya.


Ingatan Ruby kembali teringat pada malam ketika kehormatannya direbut paksa seseorang. Ia sempat melihat bayangan punggung pria yang sedang meninggalkannya dan ingatan baru sebuah tato bergambar kamera kecil dengan sebuah tulisan latin tergores di balik pergelangan tangan orang yang berusaha menutup hidungnya dengan sapu tangan.


Degub jantungnya mulai berdebar lebih cepat, tangannya mulai gemetar hebat dan keringat dingin sudah menyelinap keluar dari pori-pori tubuhnya.


ZLAP!


Lampu kembali menyala dan Ruby masih tetap menatap Hiko, berharap apa yang ia pikirkan salah. Tidak mungkin Hiko melakukan itu padanya, tidak ada alasan untuk Hiko berbuat serendah itu padanya dan tidak mungkin Hiko melakukannya pada Ruby.


Nara menatap Ruby keheranan, tak biasanya Ruby menatap pria lekat-lekat seperti sekarang ini. Begitupun Genta, ia memberitahu Hiko jika Ruby sedang menatapnya dengan tatapan aneh. Mengetahui hal itu membuat Hiko membalikkan badan. Benar saja, Ruby sedang menatapnya. Bukan tatapan marah, lebih tepatnya sebuah tatapan jijik dan berharap dirinya pergi dari hadapan Ruby.


"By."


Nara memegang tangan Ruby yang gemetar hebat, namun Ruby segera menepisnya. Entah kenapa, ia sekarang tidak terlalu suka siapapun menyentuhnya disaat-saat ia teringat kenangan buruk itu. Ia memilih mencengkram kedua tangannya untuk meredakan gemetarnya.


Ruby segera membalikkan badan dan sedikit menepi ketika Hiko hendak melewatinya. Hal itu membuat Hiko merasa kesal, karena sikap Ruby yang selalu menganggapnya seperti najis mugholadoh.

__ADS_1


"Aku antar Ruby ke depan dulu, ya. Nanti aku balik lagi." kata Nara pada Hiko.


Hiko mengangguk, bersama Genta ia meninggalkan ruangan.


"Ayo, Ra." Ajak Ruby.


Nara mengangguk.


"Mbak, saya pamit pulang dulu ya." Pamit Ruby pada Ghea dan asistennya.


"Iya, Mbak. Makasih bantuannya, ya." Kata Ghea.


"Sama-sama."


Ruby dan Nara pergi menghampiri sutradara dan beberapa kru lainnya untuk berpamitan, barulah setelah itu mereka pergi.


"Kamu gak suka banget ya By sama Hiko?" Tanya Nara yang masih penasaran dengan arti tatapan Ruby pada Hiko.


"Maaf ya, Ra. Semakin kesini aku semakin tidak menyukainya."


Walau kecewa tapi Nara tak bisa memaksa Ruby untuk menyukai kekasihnya itu.


"Kalau saja kamu mau mengenalnya, sebenarnya dia orang yang baik kok." kata Nara.


"Tapi aku tidak berniat mengenalnya lebih jauh." Balas Ruby.


Nara menghela nafas panjang, "Apa kamu juga berfikir dia sebagai perusak rumah tanggaku dan kamu berada di pihak mas Heru?"


Ruby menggeleng, "Aku tidak menyukainya bukan karena hubungan kalian, entah kenapa aku hanya tidak menyukainya saja. Aku juga tidak ingin ikut campur di Antar kalian bertiga. Kamu sahabatku dan mas Heru atasanku." Jelas Ruby.


Nara hanya mengangguk saja.


"Bagaimana hubunganmu dengan mas Heru?" Tanya Ruby.


Nara mengangkat bahunya, "Sejak hari itu aku tidak pernah bertemu dengannya, kami juga tidak pernah berkomunikasi."


"Papa dan Mama? Bagaimana?" Tanya Ruby.


Nara tersenyum malas, "Kamu tahu mereka tidak terlalu memperhatikanku."


Sambil berjalan, Ruby melingkarkan tangannya pada lengan Nara dan menyandarkan kepalanya di bahu Nara. "Kamu masih punya aku, Abi dan Ummi kan."


"Dan Hiko. Hahahahaha." Tawa Nara.


"Hahahaha, iya. Dia untukmu."


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hayooo! gak boleh pelit-pelit tekan like, tulis comment apapun dan vote nya. Bayar aiko cuma pake itu, murah meriah. hahahaaha.


makaaasih dear.


__ADS_2