Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
Bonchap 7-2


__ADS_3

Senyum, tawa kecil bercampur lantunan lagu mengiringi langkahnya menuju mobil. Dari tingkahnya, siapapun bisa melihat betapa bahagianya seorang Ibrahim Akihiko.


"Masih waras, Pak?"


Teguran seseorang mengalihkan perhatiannya. Ia layangkan tendangan tepat di tulang kering Genta yang sengaja mengusik kebahagiaannya.


"Sakit, Bangsat!" keluh pria tinggi kurus berkacamata itu.


"Astaghfirullahaladzim! Maafkan aku sahabatku!" Hiko segera mengusap kaki Genta, tapi pria itu cepat menjaga jarak.


"Siapa, Lo!" sentak Genta curiga. Ia menarik tubuh Hiko dan memiting leher pria tersebut. Satu telapak tangannya yang lain mengcengkaram erat kening pria yang sedang berusaha melepaskan dirinya. "Setan,Jin, Iblis dan persepupuannya! Keluar dari tubuh Hina ini. Kalian terlalu berharga memasuki tubuh ini!"


"Bangsat! Mulut lo, Ta" Hiko menarik diri dari Genta, "Gue sumpahin jadi jomblo seumur hidup lo!" ujarnya seraya mengatur napas.


"Enak aja! Jodoh gue udah otewe, nih!"


Hiko menyebik, "jodoh lo dah mati dalam kandungan!"


"Mulut lo, Ko!"


"Gue dah mau punya anak dua, lo masih gini gini aja!" ejeknya seraya melanjutkan langkahnya ke mobil.


"Dua?" Genta menyusul langkah Hiko, "lo punya anak dari siapa lagi, Ko? Lo—"


Hiko menghentikan langkahnya dan menatap Genta "Ya ama bini gue, Ta!" jawab Hiko dengan menahan amarah.


"Oiya! Gue suka lupa kalau lo udah nikah."


"Balik kerja sana!" usir Hiko.


"Lo mau ke mana?"


"Beli tespek!" jawab Hiko seraya masuk ke dalam mobil. Meninggalkan pria menyebalkan yang sedang memandanginya dengan rasa bangga.


Melihat hal itu membuat Hiko kembali turun dan memeluk sahabatnya.


"Selamat ya, Ko! Selain kedua orang tua lo, gue satu-satunya orang asing yang paling berharap kebahagiaan lo. Dan gue seneng lo udah temuin itu sekarang."


"Thanks, Ta! Lo udah selalu jaga gue."


Rasa haru membungkus benak kedua pria tersebut. Masing-masing telapak tangan mereka menepuk punggung satu sama lain,saling memberikan kekuatan. Namun, irama tepukan itu perlahan melemah ketika mereka merasakan kejanggalan.


"Bangsat!" cetus mereka berdua dan kompak saling mendorong melepaskan pelukan. Keduanya menatap halaman cafe dengan beberapa orang tengah berbisik dan menahan tawa melihat tingkah mereka.

__ADS_1


"Pergi, lo!" usir Genta, dengan bergidik geli ia pergi meninggalkan Hiko.


"Sial! Bisa-bisanya gue ngelakuin hal hina gitu," gumam Hiko seraya masuk ke dalam mobil.


🍂🍂🍂


Tak sampai setengah jam, Hiko sudah kembali ke rumah dengan membawa empat merk tespek mulai harga termurah sampai termahal. Ia berlari cepat menghampiri istrinya yang berada di kamar.


"Ini ... Ruby!" Hiko menunjukkan barang yang dibelinya pada Ruby.


"Banyak banget, Mas."


"Biar akurat!"


Ruby terkekeh kecil sambil menyimpan kantong plastik berisi tespek itu di atas nakas.


"Loh! Kok malah ditaroh?" tanya Hiko bingung.


"Kalau tespek kan bagusnya pagi, Mas."


Hiko menggeleng cepat, ia mengambil kembali kantong plastiknya. "Ini semua bisa digunakan kapanpun, Ruby."


"Kata siapa?"


"Nggak lah! Yang kutahu tespek tuh digunainnya pagi aja, Mas."


"Enggak, Ruby. Beneran. Aku udah sering gunain, dan hasilnya emang akurat banget!"


Hening. Ruby menatap datar wajah Hiko.


"Dulu, Ruby ... sebelum kenal sama kamu." Hiko meringis kaku, menunjukkan jajaran gigi depannya yang bagus.


"Pantesan aja ya, bisa banget ngitung kalender cewek!" gumam Ruby dengan lirikannya yang kesal. Ia mengambil kantong plastik di tangan Hiko kemudian menuju ke kamar mandi.


Hiko kembali mengekor sambil merayu sang istri agar tidak merajuk. "Mau kubantu, Ruby?" tanya Hiko.


"Nggak perlu!" ujar Ruby kemudian menutup pintu kamar mandi.


Bukannya merasa bersalah, Hiko justru menahan tawa. Ia seakan melihat sosok Tabina Ruby Azzahra yang ia kenal sebelum menikah. Jutek, sangat jutek sekali.


"Bukanya hati-hati, Ruby."


"Jangan sampai salah pegang, loh!"

__ADS_1


"Masukinnya jangan sampai ngelewatin batas."


"Ruby ...."


"Iya, Mas! Aku denger semuanya!" jawab Ruby terdengar kesal mendengar suaminya yang sangat berisik.


"Udah belom, Ruby?"


"Kalau udah muncul garisnya—"


Ceklek!


Hiko menegakkan tubuhnya ketika mendengar pintu terbuka. Ia lekas berdiri di depan Ruby. Bibirnya terkatup rapat, matanya enggan untuk berkedip dan ia mempertajam indra pendengarannya.


"Gimana?" Jantungnya mulai bekerja lebih cepat karena tidak bisa membaca ekspresi wajah Ruby. Ia melirik satu tespek di tangan istrinya. "Apa aku sudah terlalu berharap?"


Ruby menggeleng pelan, wajahnya berubah sendu dengan setetes air mata mengalir di pipi bagian kanan. Ia menghamburkan badan pada Hiko, memeluk pria tersebut erat-erat.


"Nggak apa, Ruby. Nggak apa ...." Hiko mengusap bahu punggung istrinya, "mungkin kita masih belum diberi kepercayaan."


Ruby terisak dalam pelukan Hiko. "Allah ngasih kepercayaan kita, Mas."


"Hah?" Hiko melepas pelukannya dan mengambil tespek di tangan Ruby. Melihat dua garis yang ada di tespek itu membuat matanya terpejam, setetes air keluar dari balik pelupuk mata. Ia segera sujud mengucap syukur yang mendalam pada Sang pemberi rezeki.


Setelah merasa cukup, ia berdiri dan kembali memeluk istrinya. "Aku akan punya anak dari kamu, Ruby."


Ruby mengangguk. "Iya, Mas."


Hiko melepas pelukannya, menatap Ruby dan memberikan sebuah kecupan di kening tersebut. Ia tatap istrinya lekat-lekat. "Dzikir dari ribuan malaikat Allah akan menemanimu setiap waktu. Sholatmu akan terbilang delapan puluh rakaat. Seribu kebaikan akan selalu tercatat dan seribu keburukanmu akan dihapus. Pahalamu sudah seperti mengerjakan puasa sepanjang hari dan beribadah sepanjang waktu."


Ruby meraih tangan kanan Hiko, mencium telapak tangan itu kemudian meletakkannya di pipi. Ia rasakan hangat tangan suaminya. Betapa senangnya ketika pria di depannya itu mengingatkan betapa besar kenikmatan yang Allah berikan padanya saat ini. "Terima kasih, Mas."


Hiko mengulas senyum yang meneduhkan. "Selamat atas kehamilanmu, Ruby. Aku akan di sini ... menemani jihadmu."


...🌸Bonus chapter lanjut di versi cetak🌸...


...Jangan lupa apa, gaiz?...


...👍 Tekan LIKE dulu....


...✍️ Tulis KOMENTAR juga....


...🏅 Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....

__ADS_1


...Terima kasih 💕...


__ADS_2