
Baru saja Ruby duduk dimeja kerjanya, Heru sudah menghampirinya dengan membawa sebuah undangan.
"Pagi, By." Sapa Heru.
Ruby segera berdiri, "Pagi, Pak Heru."
Heru memberikan udangan yang ia bawa pada Ruby, "Kamu belum menghubungi bu Rika, ya?" Tanya Heru.
"Iya. Pak." Ruby menerima undangan yang diberikan Heru dan membacanya. "Undangan makan malam? Hari ini?"
"Iya, Aku juga mendapat undangannya. Kemungkinan aku tidak akan datang. Aku tidak mau bertemu dengan orang yang membuatku kesal."
Ruby mengangguk, Ia tahu siapa yang dimaksud Heru.
"Kamu harus datang, aku akan menyuruh orang menggantikanku agar bisa menemanimu." Ucap Heru.
"Terimakasih, Pak."
"Baiklah, aku pergi dulu." Ucap Heru kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Ruby menatap Heru sampai pria itu benar-benar keluar dari pintu ruangannya. Belum sempat ia menundukkan pandangannya, Abriz sudah muncul disana.
Mata mereka saling bertemu, namun tatapan Abriz berbeda dari biasanya. Melihat hal itu membuat Ruby segera memalingkan pandangannya.
Tak sampai disitu, sedari pagi Abriz tak henti-hentinya memperhatikan Ruby. Tak ada senyum sumringah di wajahnya, kali ini Abriz sedang menatapnya dengan tatapan yang penuh belas kasihan.
Sepertinya ia masih tak terima melihat Ruby terkhianati. Tapi ia sadar diri tidak bisa ikut campur dalam pernikahan orang, walaupun sebenarnya ia sangat ingin.
Tatapan Abriz membuat Ruby geram. Usai melaksanakan sholat dhuhur, dengan sengaja Ruby menunggu Abriz didepan mushola kantor.
"Ada yang mau saya bicarakan dengan, mas." Kata Ruby.
"Aku juga, By. Ada yang harus ku bicarakan denganmu." Sahut Abriz.
Ruby mengajak Abriz kesisi lain mushola, mencari tempat yang tak terlalu banyak orang.
"Kak Heru memintaku untuk mengantarmu menemui Bu Rika di Star House nanti."
"Kenapa mas Abriz? Apa mas Abriz mengenal Bu Rika?" Tanya Ruby.
Abriz menggeleng, "Mungkin dia mau mengenalku?" Candanya.
"Untuk apa Bu Rika mau mengenal kamu, Mas? Palingan juga kamu yang memanfaatkan kedekatan kamu dengan pak Heru biar komik yang kamu buat ikut di bikinkan film atau drama."
"Loh. jangan salah kamu, By. Aku ini pemilik Inwork Studio loh. Kak Heru itu cuma bawahanku." Kata Abriz bangga.
"Saya ingin mencoba percaya, tapi sulit." Ujar Ruby.
"Hahaha, bercanda By. Kedengaran kak Heru bisa dipecat aku." Abriz mengusap dadanya takut ada yang mendengar candaannya.
Ia kemudian menatap Ruby serius, mengingat sesuatu hal yang seharusnya segera ia katakan.
"Semalam aku melihat..."
"Tolong jangan ikut campur urusan rumah tangga saya." Ruby menyela ucapan Abriz.
Abriz terkejut mendengar ucapan Ruby.
"Bisakah mas Abriz berpura-pura tidak melihat apa yang mas lihat semalam?"
Abriz lebih terkejut lagi mendengar permintaan Ruby kali ini. "Kamu tahu perselingkuhan suamimu, By?"
"Saya minta tolong agar mas Abriz tidak pernah membicarakan apa yang mas lihat semalam kepada siapapun." Pinta Ruby, "Saya percaya mas bisa melakukannya."
Ruby menatap Abriz sejenak kemudian pergi meninggalkan Abriz.
Sedangkan Abriz benar-benar dibuat bingung dengan kelakuan Ruby. Dia tahu suaminya selingkuh dan dia membiarkannya begitu saja.
Kenapa kamu bersikap bodoh seperti itu, By? Apa kamu terlalu mencintainya? Apa justru kamu tidak mencintainya?
**********
Sementara itu ditempat shooting, Hiko sedang beristirahat di dalam mobil sambil menunggu scene selanjutnya. Tiba-tiba saja Nara menyelinap masuk ke dalam mobil Hiko.
"Sayang!" Panggil Nara, mencoba membangunkan Hiko yang sedang tidur.
"Saayaaaang." Nara mencoba menggoncang tubuh Hiko namun Hiko tetap tak membuka matanya.
Akhirnya Nara mencium bibir Hiko, seketika Hiko terbangun dan menarik kepalanya menjauh dari Nara.
"Kenapa?" Tanya Nara keheranan.
"Maaf, Ra. Maaf." Ucap Hiko merasa tak enak dengan Nara.
__ADS_1
"Kok kamu tiba-tiba ngehindar gini?" Tanya Nara.
Hiko menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Gue kaget aja." Jawab Hiko.
Sebenarnya dia sendiri pun sedang kebingungan, tidak biasanya dia akan menghindar ketika ada wanita yang menciumnya.
"Lo kenapa kesini?" Tanya Hiko.
"Ya mau deket-deket sama kamu lah, sayang." Jawab Nara sambil menyandarkan kepalanya di dada Hiko.
Hiko melihat ke sekitar mobil. "Jangan disinilah, kalo kita berduaan di mobil bisa bikin orang-orang curiga." Kata Hiko.
Nara menegakkan tubuhnya dan melihat ke sekitar, "Gak ada siapa-siapa. Mereka jauh disana, sayang."
Hiko diam tak menjawab.
"Aku tuh kangen sama kamu, udah lama kita gak saling memuaskan." Nara bergelayut manja di lengan Hiko.
"Tapi ya gak disini juga, Ra."
Nara menarik tubuhnya, "Kamu ngehindarin aku?" Tanya Nara.
"Ngapain juga gue ngehindarin Lo?" Hiko balik tanya.
"Kamu udah dapat kepuasan dari Ruby, ya?"
"Gila aja! Jangan mikir yang enggak-enggak deh! Dia aja ngancam mau bunuh gue kalau gue sentuh dia."
Nara menatap tak percaya.
"Lo tanya aja sama dia! Lo lupa kalo dia nganggep gue lebih buruk dari najis."
"Tapi kalian tidur sekamar. Mana mungkin kalian gak ngapa-ngapain?"
"Emang gue gak ngapa-ngapain, Dia aja tidur di sofa."
Nara masih mayun dan tak percaya pada Hiko. "Aku bisa terima kamu tidurin cewek lain, tapi aku gak bisa terima kalo kamu tidur dengan Ruby."
Hiko mengusap pipi Nara, "Gue gak akan tidur sama dia, tenang aja."
Nara menghela nafas, mencoba untuk percaya pada Hiko.
"Aku keluar dulu ya, mau persiapan."
"Tapi..."
Dari dalam mobil Nara memperhatikan pria yang dicintainya itu berlari kecil semakin menjauh dan hilang diantara para kru film.
"Aku merasa kamu memberi jarak diantara kita." Ucap Nara pelan.
Tuk tuk tuk
Sebuah ketukan dicendela mobil membuat Nara melepaskan pandangannya dari Hiko. Terlihat Genta sedang memanggilnya dan ia pun segera keluar.
"Kenapa, Kak?" Tanya Nara.
"Gue lupa Hiko ada undangan makan malam di Star House, Lo ambilin blazer sama celana jeans Hiko dirumah ya, Ra." Pinta Genta.
"Aku diajak juga gak, kak?" Tanya Nara.
"Kita Bertig ikut..."Jawab Genta, "Lo sekalian ambil baju juga, tapi inget. Yang biasa aja, lo hadir bukan sebagai pendamping Hiko. Ruby pasti juga datang disana."
Nara menghela nafas kesal. Ia tak banyak bicara dan memilih masuk kembali ke dalam mobil Hiko dan segera membawanya pergi.
**********
Abriz dan Ruby sampai di gedung Star House dengan diantar mobil sopir Heru. Seorang satpam sudah menyambut mereka di pintu lobby utama dan menunjukkan arah menuju tempat makan malam.
Ruby merasa tidak percaya diri ketika melihat tamu undangan lain yang mengenakan gaun yang bagus-bagus, sedangkan dia hanya mengenakan pakaian kerja.
"Kenapa kak Heru gak bilang sih harus pakai pakaian formal." Keluh Abriz.
"Apa sebaiknya kita pulang aja, ya?" Tanya Ruby.
"Tunggu disini dulu aja deh, By." Abriz mengajak Ruby duduk di salah satu sofa yang ada di lobby.
"Buat apa, Mas?" Tanya Ruby.
"Udah, sini aja dulu." Abriz duduk, sambil memainkan ponselnya.
Mau tak mau Ruby ikut duduk juga di sofa depan Abriz.
"Mbak Ruby, mas Abriz." Seorang wanita menghampiri Ruby dan Abriz.
__ADS_1
"Iya, Mbak." Jawab Ruby dan Abriz kompak.
"Saya Imel, di suruh pak Heru kirim baju untuk makan malam.Kami tadi sudah ke kantor Inwork tapi Mas dan Mbak Ruby sudah gak ada."
"Wah! Pas banget nih timing-nya." kata Abriz. "Mana bajunya, mbak?"
"Mari ikut saya ke mobil, Mas."
Ruby dan Abriz mengikuti Imel ke dalam mobil, ia memberikan Abriz sebuah kemeja dan jas hitam. Sedangkan ruby mendapat Baju gamis hitam dengan bawahan ruffle dan pasmina berwarna silver.
Ruby dan Abriz pergi ke kamar mandi yang ada di mushola gedung Star House, tempat biasa Ruby melaksanakan sholat jika sedang berkunjung disini. Setelah selesai, Abriz segera kembali ke mobil sedangkan Imel masih membantu Ruby memberikan sedikit make up agar terlihat fresh.
"MasyaAllah. Apa aku berdosa jika ingin memilikinya? Dia begitu sempurna dari segi apapun ya Allah." Gumam Abriz ketika mendapati Ruby yang berjalan bersama Imel menghampirinya.
"Ini sepatunya, mbak." Imel memberikan sebuah flatshoes berwarna hitam untuk ruby.
"Terimakasih, mbak." Ruby mengganti sneakers-nya dengan flatshoes yang diberikan Imel.
"Kami akan menunggu anda disini, menjaga tas dan barang-barang anda." Ucap Imel, ia memberikan handbag silver pada Ruby.
"Ayo, By." ajak Abriz.
"Terimakasih ya, mbak. Kami pergi dulu." Pamit Ruby kemudian menyusul Abriz.
Sekali lagi Abriz dan Ruby memasuki lobby Star House, mereka langsung menuju ke hall tempat diakannya acara makan malam.
Beberapa orang menyambut mereka dan menunjukkan tempat dimana mereka akan duduk.
"Ruby!"
Ruby menghentikan langkahnya ketika seseorang memanggilnya, itu Rika yang sedang menghampirinya.
"Bu Rika?"
"Apa kabar?" Rika memeluk Ruby sebentar.
"Baik, Bu. Maaf saya belum sempat memberi kabar bu Rika tentang nomer baru saya." Ucap Ruby.
"Iya, gak apa." Rika menatap pria yang berdiri di samping Ruby, "Siapa?" Tanya Rika pada Ruby.
Abriz mengulurkan tangannya, "Saya Abriz, Bu. Yang mewakili pak Heru, karena beliau sedang berhalangan hadir." Ucap Abriz.
Rika menjabat tangan Abriz, "Ah, iya. Tadi saya sudah mendapat pesan darinya."
Abriz memberikan senyuman termanisnya.
"Aku pikir kamu akan datang dengan suami kamu." Goda Rika. "Aku sangat terkejut dengan pernikahan kalian."
Ruby hanya memberikan senyum palsunya.
"Itu suamimu."
Rika menunjuk ke belakang Ruby, membuat Ruby dan Abriz menoleh ke belakang.
Betul saja, Hiko sedang berjalan kearahnya bersama Genta dan Nara disana.
"Selamat malam, Bu Rika." Sapa Hiko ketika sampai didepan Rika. "Terimakasih udangannya."
"Terimakasih sudah berkenan hadir." Ucap Rika. "Aku lupa jika kalian sama sama bekerja, jadi tidak datang bersamaan."
Hiko menatap Ruby dan tersenyum. Kemudian ia menghampiri Ruby dan melingkarkan tangannya di pinggang Ruby, membuat Ruby sangat terkejut sampai tidak bisa bergerak.
"Iya, kami tadi langsung janji bertemu disini bu Rika." Ucap Hiko.
"Baiklah. Aku akan menyapa tamu yang lain, silahkan kalian duduk menikmati hidangan dan hiburan yang kami sediakan." Kata Rika kemudian pergi menyapa tamu yang lain.
"Bisa lepaskan tanganmu dari pinggangku, mas." Bisik Ruby.
Hiko tersenyum, ia mendekatkan mulutnya di telinga Ruby. "Sayangnya tangan gue gak bisa jauh-jauh dari wanita cantik."
Ruby menatap Hiko terkejut setelah mendengarkan bisikan Hiko. Ulah apalagi yang akan dibuat pria gila disampingnya itu.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maafkan author ya, sejak semalam aku diculik sodara suruh ngantar ke pedalaman. Gak bisa up, karena sinyal jelek bingit disana. Sekarang aku sudah berada di dunia dengan banyak sinyal. Terimakasih buat kalian yang sabar menunggu. Gak nyangka lihat like dan comment-nya udah banyak banget.
Tetap kasih like, comment dan vote buat aiko yaaa..