
"BERHENTI, Mas!!"
Reflek Ruby mendorong tubuh Hiko, ia segera duduk dan menutup piyamanya yang terbuka.
"Maaf aku belum bisa, Mas." Ucapnya singkat.
Tangan Ruby gemetar hebat dengan nafas tersenggal-senggal. Seperti halnya kemarin, bulir keringat dingin muncul di sekitar pelipis dan lehernya. Ruby mengusap bekas ciuman Hiko dileher hingga dadanya, seakan akan ada seuatu yang kotor disana. Raut wajahnya berubah panik ketakutan.
"By ..."
Ruby menepis tangan Hiko yang akan menyentuhnya. "Jangan sentuh aku, Mas. Kumohon." Ia mundur kebelakang
Hiko terdiam, raut wajahnya begitu sedih melihat Ruby seperti itu. Ia ingin sekali memeluknya dan menenangkannya, tapi ia juga tak mau rasa takut Ruby semakin parah.
"Maafin aku, Mas." Ucap Ruby masih dengan nada bergetar.
"Aku yang harusnya minta maaf. Kamu tidak akan seperti ini jika bukan karena kesalahanku."
Hiko mengambil air mineral kemasan dan memberikannya pada Ruby, "minumlah dulu."
Ruby menerima dan langsung meneguknya. "Makasih, Mas." Ia menarik nafas panjang dan mencoba mengendalikan diri.
Ruby meletakkan air mineralnya diatas nakas kemudian meraih tangan Hiko, tremor-nya masih belum berhenti sempurna tapi ia ingin segera meminta maaf pada Hiko.
"Maafkan aku, Mas." Ucapnya.
Hiko ganti memegang tangan Ruby, "Aku boleh memelukmu sekarang?" tanya Hiko.
Ruby mendekati Hiko dan memeluk erat pria itu. Hiko membalas pelukan Ruby, dia mengusap kepala dan punggung Ruby bergantian berusaha menenangkan Ruby.
"Aku sudah berusaha menahannya, Mas. Tapi ..."
"Sudah-sudah," Hiko memotong, "Aku tahu, By." Ia memberi kecupan di kening Ruby. "Kita lakukan bertahap."
Ruby mengangguk.
"Kamu mau pergi jalan-jalan?" Tanya Hiko.
Ruby menggeleng, "Aku mau disini saja, Mas."
"Mau camilan? aku beliin di mini market depan itu."
Ruby menggeleng, "Makasih, Mas. Udah, kamu disini aja."
"Mau lanjutin nonton film aja?"
Ruby tertawa kecil dengan tingkah Hiko, ia melepaskan pelukannya dan menatap Hiko. Kedua tangannya yang sudah lebih tenang ia gunakan menyentuh pipi Hiko.
"Aku udah gak apa-apa, Mas. Jangan khawatir dan jangan merasa bersalah. Ya?"
Hiko mencoba tersenyum walau sebenarnya sangat sulit, ia tak bisa menghilangkan rasa bersalahnya begitu saja. Diraihnya kedua tangan Ruby dan menciumnya.
"Kita istirahat aja ya, Mas?" pinta Ruby.
Hiko mengangguk, ia pergi menutup gorden cendela dan mematikan lampu kamar kemudian kembali ke tempat tidur. Keduanya berbaring diatas bantal masing-masing dan saling berhadapan. Menatap satu sama lain hingga keduanya terlelap.
""""""""""""
Pagi ini Hiko berencana mengajak Ruby pergi jalan jalan ke salah satu danau terbaik di Bali. Hiko dan Ruby sibuk mengemas semua pakaian ke dalam koper, karena mereka juga sekalian akan pindah hotel.
"Udah, By?" Tanya Hiko.
Ruby masih menatap pantulan dirinya di cermin, merapikan kerudungnya. "Udah, Mas." Ucapnya.
Ruby menarik kopernya sambil menatap ke seluruh ruangan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Barulah ia benar-benar keluar kamar.
Sebuah mobil dan sopir yang Hiko sewa sudah menunggu mereka di depan pintu loby hotel. Sopir membantu Hiko dan Ruby meletakkan koper di dalam bagasi mobil.
trrt trrrt trrt.
Ponsel Ruby dalam tasnya bergetar. Ia mengambil, ada nama Genta disana, membuat Ruby dan Hiko saling bertatapan.
Ruby mengusap tombol hijau di layar ponsel. "Assalamu'alaikum, Mas. Ada apa?"
"Wa'alaikumsalam, By. Hiko mana?"
"Ada, Mas. Bentar." Ruby menyerahkan ponselnya pada Hiko, "Mas Genta nyariin kamu, Mas."
Hiko mengernyit, sorot matanya bertanya pada Ruby tapi terjawab dengan beberapa kali gelengan cepat dari kepala Ruby.
"Kenapa, Ta?"Tanya Hiko ketika ponsel sudah menempel ditelinganya.
"Hape lo kemana sih? Ditelponin dari tadi gak direspon!" Sentak Genta dari balik telpon.
"Gue silent! Biar gak ada yang ganggu." Jawab Hiko, "Ada apa, sih?" Tanya Hiko.
"Nyokapnya Nara meninggal jam tiga tadi!"
Hiko terdiam mendengar ucapan Genta, berharap telinganya salah mendengar.
__ADS_1
"Nara udah hubungin lo dari tadi subuh tapi gak bisa!" Lanjut Genta.
"Lo ... serius. Ta?" Tanya Hiko tergagap.
"Periksa aja hape lo! Gue ikut penerbangan sore nanti! Gue udah pesenin tiket buat lo ama Ruby, gue kirim e ticket-nya di whatsapp."
Hiko sama sekali tak mendengarkan penjelasan Genta. Ia hanya menatap kosong kedepan.
"Mas ..."
Sentuhan tangan Ruby di lengannya membuat Hiko tersadar, Ia menatap Ruby nanar hingga membuat Ruby khawatir.
"Ada apa, Mas?"
Hiko mengembalikan ponsel Ruby, panggilan Genta sudah terputus. Dengan cepat Hiko mengambil ponsel di saku celananya. Benar saja, lebih dari dua puluh panggilan tak terjawab dari Nara dan beberapa pesan singkat yang mengabarkan tentang kepergian Evelyn juga beberapa hujatan kemarahan karena Hiko mangabaikannya.
Hiko menatap Ruby yang masih menunggu jawaban darinya. "Mamanya Nara meninggal."
"Astaqfirullahaladzim!" Iya menutup mulutnya yang hampir berteriak, "Innalillahiwainailaihirojiun ..." Ucapnya teriring tetesan air mata.
Hiko segera memeluk Ruby. "Kita pulang ke Malang, ya?"
Ruby mengangguk diantara isak tangisnya dalam pelukan Hiko.
**********
Hiko dan Ruby telah sampai di Malang sebelum matahari tenggelam, Genta sudah menunggu mereka di pintu keluar karena pesawat Genta tiba lebih awal dari pesawat Hiko. Dengan dijemput salah seorang santri suruhan kyai Abdullah, mereka pergi kerumah Nara yang masih berada satu wilayah dengan pesantren Al Mukmin.
Rumah Nara yang memiliki bangunan khas belanda dengan halaman luas itu sudah banyak dipenuhi para pelayat. Tak sedikit juga santri kyai Abdullah yang membantu melayani para pelayat disana.
Ruby segera turun dari mobil, berlari menuju ke dalam rumah melihat Nara yang sedang duduk disamping Nyai Hannah.
"Naraa!!" Teriak Ruby diantara tangisnya, ia berlari kecil menghampiri Nara.
"By!!" Nara berdiri, menghamburkan air matanya dan memeluk Ruby. "By ..."
"Maaf ya, Ra. Aku telat, aku gak ada disaat Mama pergi."
"Maafin semua salah salah Mama ya, By ..."
Ruby mengangguk, keduanya masih saling berpelukan dengan tangisan. Nyai Hannah memberikan usapan di punggung Nara dan Ruby bergantian, memberi ketegaran.
Ruby melepaskan pelukannya, membiarkan Hiko dan Genta mengucapkan bela sungkawa juga memberikan kekuatan untuk Nara juga.
Hiko menghampiri Nara, "Ra ...."
"Kamu jahat, Ko!" Pekik Nara pelan kemudian memeluk pria itu.
"Maafin gue ya, Ra. Gue datang telat." Ucap Hiko, memberikan tepukan pelan di bahu Nara.
Nara semakin erat memeluk Hiko dan menumpahkan tangis kesedihannya disana. Ia ingin sekali melepaskannya ketika Nyai Hannah menatapnya dengan tak nyaman. Tapi disisi lain Hiko tak tega melepaskan pelukan Nara. Ia menatap Genta meminta bantuan.
"Ra!" Genta memanggil Nara, membuat wanita itu melepaskan pelukannya dari Hiko dan menatap Genta.
Genta ikut memberikan pelukan pada Nara, walau sebenarnya ia risih melakukannya tapi ia lakukan agar orang-orang tidak berfikir macam-macam tentang pelukan Hiko dan Nara sebelumnya.
"Gue turut berduka cita, Ra."
"Makasih ya, Kak."
Genta dan Nara saling melepaskan pelukannya. Nara kembali menatap Hiko, Hiko tersenyum memberikan ketegaran untuk Nara.
Hiko dan Genta tak lupa memberi salam pada Nyai Hannah. Kemudian pergi menyusul Ruby menghampiri jenazah Evelyn memberikan penghormatan terakhir.
Ruby menunggu hingga Hiko dan Genta selesai, kemudian Ruby mengajak mereka untuk menemui Ivan -Papa Nara- yang ada didepan bersama Kyai Abdullah.
Hiko menyalami Kyai Abdullah terlebih dahulu, barulah Ivan. Genta mengikuti langkah Hiko.
"Ini Mas Hiko, Pa. Suami Ruby." Ruby memperkenalkan Hiko.
Ivan mengangguk, menunjukkan raut wajah tak bersahabat pada Hiko. Mengingat karena bocah didepannya itulah yang menghancurkan rumah tangga Nara dan Heru.
"Ini Mas Genta, atasan Nara di Jakarta." Ruby bergantian memperkenalkan Genta.
"Iya, terimakasih sudah mau datang kemari." Ucap Ivan pada Genta.
"Saya turut berduka cinta, Om." Ujar Genta.
"Terimakasih."
Ruby mempersilahkan Hiko dan Genta untuk duduk, Hiko memilih duduk tak jauh dari Kyai Abdullah.
"Abi, Mas, Aku masuk temani Nara dulu, ya?" Pamit Ruby pada Abi dan suaminya.
"Iya, Nak."
"Iya, By."
Langkah Ruby terhenti ketika melihat tiga pria yang mengenakan setelan jas serba hitam masuk ke halaman rumah Nara. Itu Heru, Abriz dan Bagus. Ia tahu alasan Heru untuk datang kemari. tapi dengan Abriz? Untuk apa dia datang?
__ADS_1
Heru menghampiri Ivan terlebih dahulu, disusul Abriz dan Bagus. Heru juga menyempatkan menyapa Kyai Abdullah, saat itulah ia juga melihat Hiko disana. Membuat keduanya saling membuang muka.
"Hallo, By?" Sapa Heru.
"Selamat sore, Pak." Jawab Ruby. Ruby menatap pria dibelakang Heru yang sedari tadi mengembangkan senyum kepadanya. "Kenapa Mas Abriz bisa disini?" tanya Ruby.
"Dia sepupuku, kebetulan Abriz dan Mama Evelyn pernah beberapa kali bertemu di rumah Singkawang." Jawab Heru.
"Sepupu?" Ruby mengernyitkan kening.
Heru mengangguk. "Aku akan menemui Nara dulu." pamit Heru.
"Iya, Pak. Mari saya antar."
Ruby mengantar Heru, Abriz dan Bagus ke dalam rumah menemui Nara. Nara terlihat terkejut mengetahui Heru masih mau datang ke rumahnya.
Adzan magrib membuat Ruby dan Nyai Hannah meninggalkan rumah Nara dan bergegas untuk melaksanakan sholat. Tak lupa ia mengajak Abriz untuk melaksanakan sholat di masjid pesantren Al Mukmin. Walau terlihat Hiko tak nyaman dengan kehadiran Ruby, tetap saja ia harus menjaga sikap didepan mertuanya.
Usai sholat magrib, Kyai Abdullah tak beranjak dari masjid. Hiko, Genta dan Abriz memilih untuk keluar dari masjid.
"Gak nyangka gue, lo bisa jadi menantu seorang kyai." Ujar Abriz.
Hiko hanya diam tak menanggapi.
"Semoga aja Allah nyimpan aib-aib lo, gue gak kebayang kalau mertua lo ngerti sebejat apa mantunya!"
"Diem, b*ngs*t!!" Bisik Hiko
"Ko ..." Genta memperingatkan Hiko agar tak terpancing emosi.
Abriz hanya menyunggingkan senyumnya.
"Mas."
Hiko dan Abriz sama sama menoleh ketika mendengar suara Ruby.
"Iya, By?" Sahut Hiko.
"Mas mau kembali ke rumah Nara?" tanya Ruby.
Hiko diam sejenak.
"Sebaiknya kalian istirahat saja sebentar." Kata Ruby. "Aku akan menyiapkan kamar untuk Mas istirahat." Ujar Ruby pada Genta dan Abriz.
Ruby mengajak ketiga pria itu mengikutinya ke salah satu rumah tamu. Terlihat beberapa santri putri baru keluar dari sana.
"Semuanya sudah siap, Ning Ruby." Kata seorang santri putri.
"Terimakasih bantuannya ya, Mbak." Ucap Ruby.
"Sama-sama, Ning. Kami permisi dulu, Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumsalam ..."
Ruby mengajak masuk ke dalam rumah, "Ada dua kamar tidur di dalam. Mas Genta dan Mas Abriz bisa tidur disini malam ini. Mas Heru dan Mas Bagus bisa tidur di rumah sebelah lagi. Jika butuh apa-apa bisa panggil aku dirumah." Ruby menunjukkan bangunan utama yang menjadi tempat tinggalnya.
"Makasih ya, By. Padahal kami bisa saja tinggal di hotel, kalau kaya gini malah merepotkan keluarga kamu." kata Abriz.
"Gak apa, Mas. Kami senang menerima tamu." Jawab Ruby. "Kami pergi dulu."
Ruby mengajak Hiko untuk pergi ke dalam rumahnya, mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar. Ruby diam saja tak banyak bicara seakan mengacuhkan Hiko.
"By."
"Mas mau mandi dulu? Aku siapin air hangat ya?" Tanya Ruby, ia tak melakukan kontak mata dengan Hiko, pandangannya tertunduk.
Hiko menggeleng, ia menarik tangan Ruby dengan lembut dan menatap mata yang sedang mencoba menyembuyikan sesuatu itu.
"Kamu marah padaku?"
Ruby tertunduk dan menggelengkan kepalanya.
Hiko mendongakkan wajah Ruby, "Kamu cemburu karena aku memeluk Nara tadi?"
Ruby mengatupkan rapat bibirnya.
"Bicarakan apapun yang kamu rasakan, jangan memendamnya sendiri." Paksa Hiko.
"Aku tak nyaman melihatnya, tapi aku tak punya hak untuk melarangnya." Jawab Ruby.
Hiko mengehela nafas, sorot matanya penuh kekhawatiran jika wanita itu akan sering merasakan hal seperti ini jika ia tetap berada disamping Nara.
Hiko meraih tubuh Ruby dan memeluknya, mengecup ujung kepalanya berulang kali.
-Bersambung-
Hallo kakak readers,
Sebenarnya hari ini aku gak bisa up karena ada sesuatu hal yang bisa didahulukan. Tapi karena episode kemarin yang ngegantung, dan aku takut didemo kalian, jadi aku up satu episode lanjutannya.
__ADS_1
In Shaa Allah hari Sabtu sudah up normal kembali dua episode. Terimakasih dukungannya ya kakak.
Jangan lupa tinggalkan like, comment dan vote-nya.