
"B*ngs*t!"
Untuk kesekian kalinya Hiko mengumpat sambil memukul kemudi mobilnya. Tangannya kanannya nampak merah, buah dari kekesalannya.
"Bisa-bisanya gue s*nge cuma nempel sama tuh cewek! B*ngs*t! Haarrgh!"
Hiko sedang merasa jijik sekaligus malu pada diri sendiri. Pasalnya ia hanya sedang menindih Ruby, tapi entah kenapa milik Hiko merasa terpanggil.
Mungkin ini efek karena sudah beberapa hari ini ia tidak melakukan hubungan dengan Nara, sampai-sampai menempel pada Ruby saja membuat miliknya terbangun.
Inilah alasan kenapa mobilnya saat ini terhenti di halaman rumah Nara. Meninggalkan rumah tanpa pamit hanya untuk melepaskan hasratnya.
"Ra!" Panggilan Hiko diiringi ketukan di pintu rumah Nara. "Ra, bukain pintunya Ra!"
"Iyaaa, bentar." Suara Nara terdengar dari balik pintu.
Melihat pintu terbuka, Hiko segera masuk dan menutup kembali pintu ruang tamu itu asal. Ia langsung memeluk Nara, mendorongnya hingga terbaring di sofa ruang tamu.
"Aku lagi pengen." Bisik Hiko ditelinga Nara. Tangannya sudah menjelajah masuk dibalik kaos biru milik Nara.
Nara tersenyum mendengar bisikan Hiko, tak tinggal diam ia segera mencium dengan penuh gairah pria yang sudah menjadi suami sahabatnya itu.
Hiko membalas ciuman Nara lebih agresif, menjelajahi leher Nara dengan bibirnya. Namun ia terhenti disana. "Lo ganti parfum?" tanya Hiko, seketika ia merasa hasrat ingin bercumbunya perlahan menghilang.
"Enggak? Tetep kok?" Jawab Nara. "Kenapa memangnya?"
Hiko menarik tubuhnya dari Nara dan duduk di sofa menatap tubuh kekasihnya yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Kenapa sih sayang? Gak mau lanjut?" Nara mencoba menggoda Hiko dengan paha Hiko.
Hiko tersenyum, ia kembali mendekati Nara dan mulai mencium dan menjelajahi tiap lekuk tubuh Nara. Memang ada yang berbeda, ia melakukannya tanpa gairah yang menggebu-nggebu. Ia juga tak merasakan miliknya tergoda. Sekali lagi ia melepaskan tubuh Nara yang sedang menikmati sentuhan Hiko.
"Kenapa sayang?" Tanya Nara kebingungan.
Hiko menggeleng, "Tiba-tiba aja gue pusing."
"Belum makan?" Tebak Nara, "kita makan dulu, ya. Aku tadi masak kok."
Hiko mengangguk, ia membantu membetulkan kaos Nara yang tersingkap kemudian menuju ke meja makan.
Nara mengambilkan Hiko sepiring nasi dan lauknya. "Dihabisin yah, biar kuat nanti."
Hiko tersenyum masam, Ia mulai menyendok nasi dan lauk pauknya.
Sebenarnya Ia tidak benar-benar lapar, ia hanya sedang bingung dengan apa yang sedang terjadi padanya. Beberapa waktu lalu birahinya seakan sudah diubun-ubun dan ingin segera dilepaskannya, tapi setelah ia bertemu tempat pelepasannya malah membuat birahinya perlahan menghilang.
Hiko tak menghabiskan makannya dan memilih pindah di sofa ruang tengah.
"Masih pusing sayang?" Tanya Nara.
Hiko mengangguk asal.
"Mau ku belikan obat?" Tanya Nara lagi.
"Gak usah, sayang." Tolak Hiko, ia meminum air putih yang ia bawa dari meja makan tadi.
Nara duduk disamping Hiko, memeluk pinggang Hiko dan menyandarakan bahunya didada Hiko.
"Aku udah kangen tahu." Ucap Nara.
"Sorry ya, sayang. Gue juga gak tau kenapa badan gue jadi kaya gini. Padahal tadi udah pengen banget." Ia mengusap rambut Nara dan mengecupnya.
"Apa kamu udah lihat badan Ruby? Trus lihat aku udah gak nafsu?"
"Hah! Gila lo ya?" Hiko terkejut dengan pertanyaan Nara, "Buat apa gue lihat-lihat body dia? Badan ketutup kain lebar kaya gitu apanya yang bisa dilihat?"
Memang ia pernah meniduri wanita itu, tapi pengaruh alkohol membuatnya tak terlalu sadar sampai memperhatikan tubuh Ruby. Yang ia ingat hanya aroma tubuh Ruby.
"Aku tidur bentar ya?" Ucap Hiko.
Nara mengangguk, membiarkan kekasihnya itu tidur dipangkuannya.
__ADS_1
**********
Sudah hampir pukul sebelas malam dan Hiko belum pulang. Berulang kali Maria mencoba menghubungi Hiko tapi tidak sekalipun terhubung. Melihat mertuanya khawatir, akhirnya Ruby sembunyi-sembunyi menghubungi Nara.
/Hiko sudah pulang beberapa jam yang lalu, By./
Ruby terkejut, ternyata Hiko tidak bersama Nara. Ia ganti menghubungi Genta.
"Udah kamu coba hubungin ke rumahnya, By?" Tanya Genta
"Kata bibi yang kerja disana sudah beberapa hari mas Hiko gak pernah pulang."
"Kalian ada masalah?"
"Enggak, Mas. Kenapa memangnya?" Ruby balik tanya.
"Di rumah gak ada, di Nara juga gak ada, berarti dia lagi di Club." Ucap Genta.
"Diskotik maksud, mas?"
"Iya. Gue bakal samperin dia kesana? Gue pastiin bisa ajak dia pulang."
"Saya ikut, mas!" kata Ruby sebelum Genta menutup sambungan teleponnya.
"By! Ini bukan tempat yang biasa kamu datengi, loh."
"Saya mau lihat sisi lain pria yang saya nikahi, tolong jemput saya ya mas. Assalamu'alaikum." Ucap Ruby kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Ruby bergegas berganti baju dan meminta ijin ibu mertuanya. Sedikit ada perdebatan disana, Maria tidak setuju Ruby pergi ke Club malam. Namun Sifat Ruby yang keras kepala itu tidak bisa dikalahkan dengan kekhawatiran Maria.
"Ruby berangkat dulu ya, Ma." Ucap Ruby ketika mendengar suara salam genta didepan rumah, ia mencium tangan Maria.
Maria mengantar Ruby hingga ke pintu teras rumah. "Jaga Ruby baik-baik ya, Ta. Pastikan bawa Hiko pulang, besok pagi papanya sudah kembali. Tante gak mau papanya marah-marah lagi lihat kelakuan dia." pinta Maria.
"Baik, tante. Kami berangkat dulu."
"Ruby berangkat ya, Ma. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
**********
Mobil Genta berhenti di lahan parkir salah satu club malam yang sangat terkenal di Jakarta. Genta ragu mengajak Ruby masuk ke dalam dengan melihat pakaian yang dikenakan Ruby.
"Apa saya tidak bisa masuk dengan pakaian seperti ini mas?" Tanya Ruby yang merasa Genta seperti orang kebingungan.
"Enggak sih, mereka kenal aku. Bisalah kamu masuk, cuma mungkin kamu akan menjadi pusat perhatian di dalam." kata Genta.
Ruby mengangguk.
Melihat Ruby yakin, mau tak mau Genta membawa Ruby masuk ke dalam. Sempat cek cok antara Genta dan penjaga yang ada dipintu masuk. Tapi seseorang yg mengenal Genta membiarkan Genta dan Ruby masuk ke dalam Club.
Gelap, hanya cahaya warna warni, dentuman musik yang sangat keras membuat telinga Ruby terasa sakit. Bau-bauan aneh tercium membuat Ruby merasa pusing. Tangannya memegang jaket Genta yang sedang menuntun arah.
Kehadiran wanita berkerudung memang aneh dimata pengunjung club itu, Ruby sudah menyiapkan diri menerima tatapan atau bahkan cemooh mereka. Beruntung suara musik sangat keras sehingga Ruby tak mendengar kalimat-kalimat yang tidak ingin didengarnya.
Genta mengajaknya melewati beberapa lorong gelap dengan beberapa pasang pria dan wanita yang tanpa malu melakukan hal tak senonoh disana. Ruby hanya begidik dan menundukkan pandangannya.
"Kamu siap dengan apa yang akan kamu lihat, By?" Tanya Genta setengah berteriak ketika ia berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan VIP room.
Ruby mengangguk dan saat itu juga Genta membuka pintunya.
Ruby tertegun dengan apa yang ia lihat. Hiko sedang berciuman dengan seorang wanita dan tanganya sibuk dipangkal paha wanita itu. Beberapa temannya hanya sibuk minum minuman keras.
Genta buru-buru menutup berdiri dihadapan Ruby, menghalangi pandangan Ruby.
"Kita pulang saja, By." Ajak Genta.
Ruby sebenarnya jijik melihat hal seperti itu, tapi ia malah memilih untuk duduk di sofa dan terus menatap kelakuan bejat Hiko.
"Siapa dia, Ta?" Tanya seorang teman Hiko yang sudah dalam pengaruh alkohol.
__ADS_1
Genta tak menjawab, Ia menghampiri Hiko dan menarik tangan Hiko agar menyudahi perbuatannya. "Balik, Ko!" Ajak Genta.
"Apa-an sih, Lo! Ngusik kesenangan gue aja! Balik sana kalo mau balik!" Sentak Hiko.
Genta menarik pipi Hiko, menyadarkan jika ada Ruby disana yang sedang memperhatikannya.
"Ngapain lo disini?" Tanya Hiko.
"Ustadzah ngapain disini?" Seorang wanita yang duduk bersama teman Hiko menghampiri Ruby.
"Jangan sentuh saya!" Acam Ruby ketika jemari wanita tersebut ingin menyentuh pipinya.
Tatapan mata Ruby bisa membuat wanita itu pergi tanpa Ruby harus mengusirnya.
Ruby berdiri, ia mengambil beberapa lembar uang seratusan ribu dari dalam dompetnya.
"Apa mas tidak kuat bayar hotel sampai melakukannya ditempat seperti ini?" Ucapnya.
"Kenapa kamu mau disentuh pria ini? Dia bahkan tidak tahu bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik. Dia hanya bisa membuat wanita tampak tak berharga." Tanya Ruby pada wanita yang ada disamping Hiko.
Ruby meletakkan uangnya diatas paha wanita tersebut, "Tolong antarkan dia pulang sebelum subuh, minta dia membawamu ke hotel, minta juga dia menikahimu karena sudah menyentuh tubuhmu." kata Ruby kemudian meninggalkan Ruangan itu.
Ruby merasa jijik melihat kelakuan Hiko, sekarang dia benar-benar tidak rela jika Nara harus menikahi pria itu.
Tiba-tiba saja Ruby merasakan tarikan ditangannya, dengan kasar seseorang mendorong tubuhnya kedinding. menahan satu lengannya di dinding.
"Lo pikir lo itu siapa berani ngomong seperti itu?"
Ruby bisa menebak siapa pria yang sudah berani menyentuhnya tersebut.
"Lepasin tangan saya!" pinta Ruby.
"Jangan mentang-mentang lo pake kerudung, berpenampilan alim dan lo kira diri lo suci? Lo lupa kalo udah gak perawan? Apa gue harus sebarin ke semua orang disini kalo lo udah jadi barang bekas?"
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Hiko.
"Jaga mulut mu!" Teriak Ruby marah.
Dengan kesal Hiko mencium Ruby sangat agresif. Ruby mencoba menahan tak membuka mulutnya dan mendorong wajah Hiko menjauh, tapi dengan cepat Hiko menarik tangan Ruby dan menahannya di dinding.
Ruby memilih memalingkan wajahnya agar terlepas dari ciuman Hiko, ia menarik nafas dalam-dalam dan mengatur nafasnya baru ia menatap tajam mata Hiko.
"Aku akan membunuhmu jika kamu berani menyentuhku lagi!" Ucap Ruby.
Hiko hanya diam menatap remeh Ruby.
"Lepaskan tangan kotormu dariku!" kata Ruby.
Hiko masih diam tak bergeming.
"Lepas!" Ucap Ruby lagi.
Melihat satu tetesan air mata yang jatuh di pipi Ruby membuat Hiko merenggangkan cengkraman tangannya.
Ruby segera menarik tangannya dan meninggalkan Hiko.
"Lo emang b*jing*n, Ko!" Genta mendorong Hiko kasar dan segera menyusul Ruby.
Hiko hanya menatap kepergian Ruby dengan sebuah penyesalan.
-Bersambung-
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, comment dan votenya ya. makasih kakak.