Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
61


__ADS_3

Pagi ini kursi meja makan milik keluarga Handoko terisi penuh, sebab Kyai Abdullah dan Nyai Hannah ikut menginap di rumah Handoko. Pembicaraan ringan menemani mulai dari awal sarapan hingga semua makanan dipiring bersih. Percakapan Kyai Abdullah dan Handoko yang mendominasi diatas meja, sang istri hanya sebagai penambah, sedangkan sang anak hanya diam dalam pikirannya sendiri.


"Kalian jangan nunda kehamilan ya. Papa pengen cepet-cepet nimang cucu!"


"Uhuk uhuk uhuk!" Ruby tersedak air putih yang sedang ia minum ketika mendengar ucapan Handoko.


"Hati-hati, By." Nyai Hannah mengusap baju putrinya yang basah.


"Ruby masih canggung kalau bahas yang begituan, Pak Handoko." Ujar Kyai Abdullah.


"Wah. maaf ya, By. Sangking kepengennya sampai papa lupa diri." Ujar Handoko.


Ruby hanya tersenyum, ia pun bingung harus menjawab apa.


"Setelah ini kita mau beres-beres dan langsung ajak Ruby ke rumah Hiko, Pa, Ma." Ujar Hiko.


"Kok cepet banget, sayang?" Maria terlihat tidak suka dengan keinginan Hiko.


"Hiko cuma dapat cuti dua hari, Ma." Hiko memaksa mamanya untuk mengerti keadaannya. "Dan jika Abi dan Ummi berkenan, sudi kiranya untuk mampir melihat tempat tinggal kami." Pinta Hiko pada Kyai Abdullah dan Nyai Hannah.


"Boleh, Nak. Kami akan ikut kalian setelah ini." Kyai Abdullah setuju.


"Tapi tidak bisa lama-lama ya, Nak. Abi dan Kyai Marzuki berjanji akan sowan ke rumah Habib Umar."


Mendengar umminya menyebut nama kyai Marzuki membuat Ruby menatap umminya. Tatapannya seakan bertanya apakah Iqbal juga ikut bersama abinya?


Ummi Hannah mengangguk, ia tahu betul apa arti tatapan putrinya itu.


"Tidak apa, Ummi. Setidaknya saya ingin memberitahu dan meyakinkan Abi dan Ummi jika Ruby tinggal ditempat yang layak. Jadi. Abi dan Ummi tidak perlu mengkhawatirkan Ruby." Ucap Hiko.


Kyai Abdullah dan Nyai Hannah tersenyum, mereka mengangguk percaya.


Usai sarapan pagi, Hiko dan Ruby membereskan pakaian dan perlengkapan mereka. Tak bayak barang Hiko yang dibawa, hanya satu tas ransel saja. Sedangkan Ruby membawa satu koper ukuran sedang dan sebuah tas jinjing. Tak lupa tas ransel kesayangannya yang berisi barang-barang berharganya.


Ruby dan Hiko berpamitan terlebih dahulu pada Handoko dan Maria. Berat Maria melepaskan kepergian Ruby. Ia ingin sekali ikut, namun tugas negara mengharuskan ia menemani Handoko pergi ke bagian Indonesia timur siang ini. Kemudian Kyai Abdullah dan Nyai Hannah bergantian pamit kepada besannya dan segera masuk ke dalam mobil Hiko.


Hiko mengendarai mobilnya memecah jalanan ibu kota yang tidak terlalu padat. Tak butuh waktu lama untuk Hiko tiba di rumahnya.


"Ini rumah saya Abi, Ummi." Ucap Hiko ketika ia membuka pintu rumahnya.


"Nyaman ya, Abi." Puji Nyai Hannah.


"Alhamdullillah, Nak. Semoga dirumah ini kalian mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu Wata'ala." Do'a Kyai Abdullah.


"Aamiin."


"Silahkan duduk, Abi, Ummi." Ucap Hiko. "Saya minta bibi bikinkan minum dulu."


"Tidak perlu, Nak." Kyai Abdullah mencegah kepergian Hiko. "Sudah, duduk saja disini. Toh, kami juga tidak bisa berlama-lama disini."


Hiko menurut dan duduk.


"Nak ..." Abi memanggil Hiko.


"Ya, Abi." Jawabnya sambil mengangguk, menatap Kyai Abdullah tapi tak berani menatap matanya.


"Ruby kami besarkan dengan penuh kehati-hatian, kami berikan ilmu semaksimal yang kami bisa. Jika kamu tak berkenan atas kekurangannya, ingatkan dia dengan cara yang baik, Tolong jangan sakiti dia.


Dia seorang anak yang patuh pada Allah dan juga orang tuanya. Jika kamu adalah imam yang baik, tentunya ia juga akan patuh dan mengabdi padamu.


Abi titipkan putri kami padamu. Rawat dia seperti kami merawatnya, sayangi dia seperti kami menyanginya, jagalah dia seperti kami menjaganya. Abi tahu jika kamu adalah pria yang bertanggungjawab. Kami serahkan putri kami padamu, Nak Hiko."


Kalimat demi kalimat yang diucapkan Kyai Abdullah menjadi sebuah beban besar bagi Hiko. Ia merasa sudah terlalu jauh masuk ke dalam pernikahan ini.


"In Shaa Allah, Abi. Saya akan melakukan semua sesuai dengan permintaan Abi."

__ADS_1


Ruby terkejut mendengar ucapan Hiko, ia memandang pria disampingnya itu. Kini ia baru menyadari, jika memang terlihat gesture seorang santri dalam diri pria itu. Cara dia duduk, cara bicara dan tatapannya begitu santun.


Kyai Abdullah banyak berpesan pada Ruby dan Hiko mengenai pernikahan. Berharap mereka bisa serius dan saling mengisi kekurangan satu dengan lainnya.


Sebelum adzan dhuhur berkumandang, Kyai Abdullah dan Nyai Hannah sudah meninggalkan rumah Hiko. Ehsan datang menjemput mereka.


"Kenapa mas berjanji begitu saja pada Abi?" Protes Ruby.


Hiko mengangkat koper milik Ruby, membawanya ke lantai dua. Ruby mengikuti Hiko, dengan membawa tas jinjingnya.


"Gue suami lo, tentu aja kan gue harus jaga elo." Jawab Hiko sambil terus menaiki anak tangga.


"Tapi kan yang dipinta Abi bukan cuma itu, Mas." sanggah Ruby.


Hiko hanya diam dan terus melangkah, menuju ke sebuah pintu bercat biru.


Ceklek!


Hiko membuka pintu itu. "Ini kamar baru lo." kata Hiko.


Ruby mengikuti Hiko masuk ke dalam ruangan itu. "MasyaAllah ..."


Ruby dikejutkan ketika melihat setting ruangan berisi tempat tidur yang tidak terlalu besar, dengan sebuah meja kerja yang terletak didekat cendela, meja rias dan sebuah almari pakaian. Semua bentuk, warna dan tata letaknya sama persis seperti kamar Ruby di malang.


"Mas udah siapin ini semua? bisa sama persis dengan kamarku di Malang" Tanya Ruby, ia terlihat sangat senang.


"Kurang kerjaan banget gue nyiapin ginian." Hiko meletakkan koper Ruby dengan asal.


"Trus siapa yang bikin semua ini persis dengan kamarku? Kan cuma mas yang tahu." Tanya Ruby, "Nara?" Gumam Ruby.


Dia menatap Hiko, "Apa Nara sering kemari?" Tanya Ruby.


Hiko tak menjawab dan memilih keluar kamar, dia masuk ke sebuah ruangan yang ada diseberang kamarnya. Pria itu mrmang paling bisa merusak suasana hati orang.


Ruby lekas melanjutkan merapikan semua pakaiannya, peralatan make up-nya yang tidak terlalu banyak itu, dan mengambil tas ranselnya, mengeluarkan semua isinya di atas meja kerja barunya.


Mata Ruby terhenti pada dua buah kotak berukuran kecil. Ia mengambil dan membukanya, seperti membuka kembali kenangan dengan pria yang memberikan kotak itu padanya.


"Aku masih berharap bisa menyimpan ini dengan baik, sama seperti perasaanku padamu yang masih sangat tersimpan dengan baik."


*********


Usai Sholat Ashar dan beristirahat sebentar, Ruby memutuskan untuk keluar kamar dan mengelilingi rumah Hiko. Rumah itu memang tak terlalu besar. Hanya mempunyai dua kamar di lantai dua, satu kamar tidur dibawah yang disediakan untuk asisten rumah tangganya.


Ruby pergi dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Disana ia bertemu dengan Inah yang sedang menyiapkan makan malam, seorang yang pernah sekali bicara dengannya lewat sambungan telpon.


"Assalamu'alaikum, Bi. Saya Ruby." Ruby memperkenalkan diri.


"Wa'alaikumsalam," Wanita yang berusia hampir sama dengan Umminya itu meletakkan pisau dan mengulurkan tangan pada Ruby, "Saya Inah, Non."


Ruby tersenyum dan menjabat tangan Inah. "Bibi masak apa?" Tanya Ruby, ia sudah bersiap membantu Bi Inah memasak.


"Non tunggu saja, tidak perlu membantu. Biar bibi saja yang memasak." Inah terlihat bingung.


"Tidak apa, Bi. Saya sudah biasa membantu ummi saya memasak juga, tidak enak kalo cuma duduk diam." Ruby mendekati Inah. "Biar saya yang potong-potong aja, Bibi siapin bumbunya. Saya kurang mahir kalau untuk meracik bumbu."


Bi Inah tersenyum dan memberikan pisaunya pada Ruby dan Ruby pun segera mengambil alih memotong beberapa sayuran didepannya.


"Bibi sudah lama kerja disini?" Tanya Ruby.


"Sudah, Non. Dulu saya bantu-bantu di rumah Nyonya, trus sejak Den Hiko memutuskan tinggal sendiri saya di ajak pindah kerja disini juga." Jawab Inah.


"Bibi asal mana?" Tanya Ruby.


"Rumah saya ada di kampung belakang sini, Non." Jawab Inah.

__ADS_1


"Oya? Deket ya, Bi. Gak perlu pulang kampung."


Inah tertawa. "Setiap hari saya pulang, Non. Tinggal disini kalau Den Hiko gak pulang ke sini, jadi saya yang jaga disini."


Ruby mengangguk, Ia teringat sesuatu. "Jadi yang beresin kamar diatas juga Bibi?"


"Kamar baru diatas, Non?"


Ruby mengangguk, "Iya."


Inah menggeleng, "Den Hiko sendiri yang beresin kamar baru itu, Non. Saya aja gak boleh bantu."


"Argh!"


"Astaqfirullah!" Bibi terkejut melihat jari telunjuk Ruby yang berdarah.


Ruby menggenggam jari telunjuknya agar darahnya berhenti mengalir. Dia terlalu kaget mendengar jawaban Inah hingga kehilangan konsentrasi.


"Saya ambilin plester dulu, Non." Bibi pergi meninggalkan dapur.


"Kenapa, Bi?" Tanya Hiko yang akan mengambil minum.


"Non Ruby kena pisau, Den." Jawab Bibi.


Hiko meletakkan kembali gelasnya di meja makan, dan menghampiri Ruby. "Kenapa bisa sih?" Sentak Hiko, Ia menarik tangan Ruby dan menariknya ke keran air.


"Aduuuh." Pekik Ruby menahan perih lukanya yang tersiram air.


"Lo gak bisa masak? Gini aja sampe terluka?" Omel Hiko.


Ruby hanya diam, menatapi pria yang sedang mengomel sambil membersihkan darah dijarinya itu.


"Sini!" Hiko menarik Ruby membawanya ke kursi meja makan. "Duduk!"


Ruby menurut saja dengan apa yang diperintahkan Hiko.


"Ini, Den." Inah memerikan plester luka pada Hiko.


"Makasih ya, Bi." Ucap Hiko.


"Sama-sama, Den." Inah meninggalkan Hiko dan Ruby.


"Kalo lo gak bisa masak, gak usah masak. Biar Bi Inah aja yang masak." Hiko masih mengomel dengan memasang plester di jari Ruby.


Ruby masih terkesiap melihat perlakuan Hiko kepadanya. "Terimakasih ya, Mas." Ucap Ruby.


"Hmm." Jawabnya.


"Terimakasih udah siapin kamar yang sama seperti kamarku di Malang."


Hiko terkejut menatap Ruby, Bagaimana dia bisa tahu? Batin Hiko.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan commentnya ya kakak sebelum lanjut baca. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2