Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
105


__ADS_3

Terkejut, takut dan panik berkumpul menjadi satu pada diri Genta. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu Handoko di situasi seperti ini. Ia melihat diluar, tak ada ajudan, pengawal ataupun Maria disana.


"Ceritakan kebenarannya." Pinta Handoko, "Jangan meninggalkan satu situasipun!"


Genta mengangguk, ia menceritakan semua kebenarannya pada Handoko. Berawal dari perselingkuhan Hiko dan Nara yang diketahui Ruby, hingga kasus itu muncul ke publik setelah Heru membuka semua kelakuan buruk Hiko didepan umum membuat Hiko salah paham dan merenggut kehormatan Ruby.


Handoko memejamkan matanya, mencoba menerima keadaan yang tidak mengenakkan ini lagi. Tanpa sepatah katapun Handoko pergi meninggalkan rumah Nara.


Sedangkan Nara menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya pada Ruby. Benar apa yang dikatakan Genta, Ruby banyak menderita karenanya dan sekarang ia membuat Ruby semakin menderita.


Genta menghela nafas, "Kalo lo mau dapatin Hiko, Lo bisa, Ra. Dia akan nikahi lo. Tapi lo harus tahu dan harus lo inget kalau elo nikahi dia tanpa cintanya."


Sekali lagi kalimat Genta seperti pisau tajam yang menusuk jantungnya berulang kali. Tangisnya membuat enggap dadanya hingga ia merasa sulit bernafas.


"Gue balik dulu dan please, jangan berbuat hal-hal bodoh yang bakal ngerugiin diri lo sendiri ataupun orang lain." Ujar Genta kemudian meninggalkan Nara.


Genta tahu, ia harus segera kembali ke rumahnya. Ia tak mau terjadi apa-apa dengan Hiko.


Sedangkan pria yang sedang Genta khawatirkan sedang duduk dilantai, menyandarkan kepalanya ditepi tempat tidur, sibuk menatap segala penyesalananya dilangit-langit kamarnya.Kamar yang biasanya rapi itu kini sudah seperti kapal pecah, berantakan ulah dari kemarahannya.


Derap langkah kaki yang memburu dari anak tangga tak membuatnya bereaksi.


BRAK!!


Pintu terbuka cukup kasar, membuat Hiko terperanjat melihat kehadiran Handoko.


Payung panjang di tangannya dihempaskan sekencang mungkin ke badan putranya. Berulang, berulang dan berulang Handoko memukul Hiko melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya.


Hiko tak tahu apa yang membuat papanya semurka ini, tapi ia tak mempunyai niatan untuk menghindarinya. Ia biarkan tubuhnya menerima semua rasa sakit itu.


Payung di tangan Handoko sudah rusak, kini ia menggunakan kakinya untuk menendang putranya. Ia tak peduli dengan nafas tuanya yang sudah memburu, ia merasa belum puas menghajar putranya.


"Pak Pak Pak!! Sudah, Pak!!"


Genta yang baru datang langsung menahan Handoko dan berusaha menariknya.


Nafas Handoko tersenggal-senggal kelelahan, Genta menarik sebuah kursi untuk dijadikan tempat duduk Handoko. Genta beralari keluar sebentar,


"Bi Inah!! Tolong bawain air putih buat bapak ya Bi!" Teriak Genta kemudian segera kembali ke kamar Hiko.


Hiko masih meringkuk di lantai. Bukan karena ia sudah tak berdaya, tubuhnya masih kuat menerima berpuluh-puluh hantaman lagi. Tapi tidak dengan hatinya, lemah, rapuh dan terluka.


"Kamu pantas kehilangan Ruby!! Wanita baik-baik seperti itu gak pantas menjadi istri B*jing*n sepertimu!!" Ujar Handoko.


"Ceraikan Ruby dan Nikahi Nara!" Lanjut Handoko kemudian meninggalkan kamar Hiko.


Inah yang datang membawa segelas air putih kebingungan karena Handoko pergi dan ia tak berani bertanya.


"Taroh sini aja, Bi." Genta mengambil gelas yang ada diatas nampan Inah. "Makasih ya, Bi."


"Iya, Den."


Genta menghampiri Hiko dan meletakkan gelas yang dibawanya diatas nakas kemudian menarik tubuh Hiko untuk duduk. Hiko duduk menatap kosong ke lantai, kedua tangannya menggantung di topang kedua lututnya.


"Bokap lo tahu kalau lo yang udah ambil kehormatan Ruby." Ucap Genta.


Hiko menarik nafas panjang, mengusap mukanya dengan kedua tangannya. "Gue udah bikin banyak orang kecewa, Ta!" Ucapnya lirih.


Genta hanya mengangguk.


"Gue berat ngelepasin Ruby!"


"Lo gak bisa miliki keduanya, Ko." Sahut Genta. "Lo punya tanggung jawab yang besar mulai sekarang."


Hiko tak menjawab, tatapannya masih kosong.


"Lo bisa melewati ini semua, Ko." Genta menepuk bahu Hiko beberapa kali.


"Gue gak cinta sama Nara, Ta."


"Tapi dia ngandung anak lo, hasil perbuatan lo." Genta masih meyakinkan Hiko.


"Diem, Ta!" Sentak Hiko, "Gue mau sendiri untuk saat ini." Ia menatap Genta, memohon dengan sangat.


Genta mengangguk, "Gue balik dulu, Ko." Pamit Genta.


**********

__ADS_1


Seharian penuh Ruby habiskan di dalam kamar, menyibukkan diri dengan desain kostum para pemain Go Hanae. berulang kali ia melakukan video call bersama Abriz untuk bisa segera mendapatkan hasil yang cocok sesuai dengan kemauan Abriz.


"Aku lebih suka yang terakhir sih, By. Menurut kamu gimana?" tanya Abriz.


"Aku juga lebih cocok dengan desain yang terakhir ini, Mas." Jawab Ruby.


"Oke deh, By. Jadi kurang tiga kostum lagi ya? sempat gak ya, By? seminggu lagi aku sudah harus ke Jepang."


"Maaf ya, Mas. Semuanya jadi berantakan karena aku." Ujar Ruby.


"Gak apalah, By. Aku juga mengerti keadaanmu. Kita kan bisa video call gini juga kalau aku udah di Jepang."


"Enggak, Mas. Kita bisa lakukan bersama di Jepang."


"Maksud, kamu? Kamu jadi berangkat ke Jepang, By?" tanya Abriz.


"Iya, Mas. Aku akan kesana."


"Hiko mengijinkanmu?"


"Aku tidak membutuhkan izin darinya sekarang, aku hanya mrmbutuhkan restu kedua orangtuaku."


Abriz terdiam, ia mencoba menereka-nerka apa yang terjadi.


"Aku akan mengirim filenya lewat email ya, Mas." Lanjut Ruby.


"Iya, By. Thanks, Ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Ruby mengakhiri video callnya dan meletakkan ponselnya diatas meja. Pandangannya menatap jauh ke luar jendela kamarnya mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan keputusan yang akan diambilnya.


"Kamu benar akan pergi ke Jepang, Nak?" tanya Nyai Hannah yang sedari tadi menemani Ruby di dalam kamar.


Ruby menatap Umminya dan menganggukkan kepala.


"Benarkah suamimu adalah ayah dari janin yang ada di kandungan Nara, Nak?" tanya Nyai Hannah.


Ruby diam sejenak menarik nafas dalam-dalam. "Mas Hiko memang tak menjawabnya secara langsung Ummi, tapi matanya berkata jika itu benar."


"Ummi sebenarnya juga setuju jika kamu pergi ke Jepang, Nak. Kejarlah cita-citamu."


Ceklek!


Kyai Abdullah masuk ke dalam kamar Ruby dan duduk disamping istrinya.


"Kita pulang ke Malang, Nak?" tanya Kyai Abdullah.


Ruby menggeleng, "Setelah mas Hiko menalagh Ruby, Ruby ingin segera pergi ke Jepang, Abi." Jawab Ruby.


Kyai Abdullah dan Nyai Hannah saling menatap, mencoba memahami keputusan putrinya.


"Maafkan Ruby sudah sangat membuat malu keluarga, Abi, Ummi." Ucap Ruby.


"Abi tidak akan mepedulikan tanggapan orang lain, Nak. Yang terpenting putri Abi satu-satunya ini bahagia." Kyai Abdullah masih terus memberi putrinya semangat.


"Terimakasih, Abi."


"Kamu benar-benar ingin berpisah dari suamimu?" tanya Kyai Abdullah.


Ruby mengangguk, "Ruby tidak bisa menerima poligami, Abi. Maafkan Ruby, sungguh Ruby tidak bisa." Mata Ruby mulai berkaca-kaca.


"Tidak, Nak. Abimu tidak bermaksud seperti itu." Nyai Hannah menghampiri Ruby dan memeluknya.


"Abi hanya ingin mempertegasnya, Nak. Jika memang seperti itu kemauammu, Abi bisa menjawab pak Handoko jika mereka menanyakannya." Ujar Kyai Abdullah, "Jujur saja sebenarnya Abi menyukai Hiko. Diluar kelakuannya yang kurang terpuji, Abi melihat ada sesuatu yang menarik didalam dirinya. Abi tahu dia pria yang baik, tapi Abi tidak akan ikut campur untuk masalah ini, Nak. Semuanya keputusan ada ditanganmu."


"Ruby sudah yakin ingin mengakhirinya, Abi."


Kyai Abdullah mengangguk, "Iya, Nak. Semoga Hiko juga bisa menerima semua keputusanmu."


tok tok tok.


"Mbak, Ruby. Mbak punya tamu, Mbak." Terdengar suara Azizah diari luar kamar.


Ruby beranjak membuka pintu. "Jika mas Hiko, katakan padanya aku belum bisa menemuinya." kata Ruby ketika pintu terbuka.


Azizah menggeleng, "Bukan, Mbak." Wajah Azizah terlihat tidak nyaman.


"Siapa, Zizah?"

__ADS_1


"Mbak Nara, dia sedang menunggu mbak di depan."


Ruby terkejut, Untuk apa Nara kemari? batinnya. Ia menatap Abi dan Umminya.


"Suruh masuk saja, Zizah." Kata Kyai Abdullah.


"Mbak Nara gak mau masuk, Pakdhe." Jawab Zizah.


"Ya udah, Ruby temuin Nara dulu ya Abi, Ummi." Pamit Ruby.


Setelah mendapat anggukan dari kedua orangtuanya, Ruby pergi menemui Nara.


Wanita berambut pendek itu sedang berdiri di dekat pintu pagar, menatap lapangan luas yang membelah gedung pesantren putra dan putri.


"Ra ..." Panggil Ruby.


Nara membalikkan badannya, matanya sembab dan masih berair. Ia langsung memeluk Ruby dan menumpahkan tangisanya.


"Maafkan aku, By! Maafkan aku!!" Ucapnya dengan suaranya yang sudah parau.


Ruby mengusap punggung Nara. "Aku sedang berusaha memaafkan semua, Ra. Termasuk diriku sendiri."


Nara menggeleng kencang. "Kamu gak salah, By. Aku..., aku yang salah! Aku yang menempatkanmu di keadaan serumit ini. Aku bersalah padamu, By." Nara semakin kencang menangis.


Ruby merasa tidak enak, ia melepaskan pelukan Nara dan menarik Nara pergi ke rumah tamu yang paling ujung. Dimana tidak ada orang yang akan lewat disana.


"Duduk dulu, Ra." Ruby mempersilahkan duduk.


Dua buah kursi yang terbuat dari anyaman bambu tersedia di teras rumah tamu, Ruby dan Nara mengisi masing-masing kursi tersebut.


"Aku sudah tahu semuanya, By."


Ruby terkejut, "Apa maksudmu, Ra?"


Nara mengusap air matanya, "Aku sudah tahu, siapa orang yang merenggut kesucianmu." Nara memejamkan matanya dan menahan tangisnya.


Ruby menarik nafas panjang, ia tak tahu harus berbuat seperti apa pada Nara. Tidak ada rasa lega ataupun sedih ketika Nara sudah mengetahui semuanya. Karena semuanya sudah terlambat, semuanya sudah berakhir.


"Aku menyesali semuanya yang telah ku lakukan padamu, By. Aku sangat menyesalinya, maafkan aku. Kamu banyak berjuang untuk kebahagiaanku, dan hanya karena pria aku tega menyakitimu."


"Tidak semuanya salahmu, Ra. Aku juga bersalah disini." Kata Ruby datar.


Tiba-tiba saja Ruby menatap perut Nara, membuat Nara menutupinya dengan tas miliknya.


"Aku juga minta maaf untuk ini, By. Aku tidak berbohong, ini anak Hiko."


Kalimat pahit yang mampu menarik keluar air mata Ruby.


"By!" Nara menarik tangan Ruby, "Aku tidak akan meminta Hiko menikahiku. Aku akan membiarkannya bersammu."


Ruby menggeleng, "Aku mencintainya, Ra. Tapi keadaannya sekarang berbeda."


"By!"


"Kamu mungkin merasa bersalah padaku, kamu mungkin bisa melepaskan mas Hiko, tapi jangan lupakan dia Ra!" Ruby menatap perut Nara kembali, "Dia butuh sosok Ayah, dia butuh pengesahan dimata hukum. Tanggunglah dosa kalian, jangan membiarkan dia lahir dengan menanggung doa ayah dan ibunya." Ujar Ruby.


"Kenapa kamu selalu menomor satukan kebahagiaan orang lain, By?"


Ruby menggeleng pelan. "Untuk saat ini mungkin aku belum bisa bahagia, tapi aku akan terus mencari kebahagianku, Ra."


"Hiko mencintaimu, By."


Ruby mengangguk, "Aku juga mencintainya, Ra."


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like comment dan vote kakak.. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2