
Sebuah mobil MVP keluaran lama berhenti tepat di depan pintu kantor Inwork Studio. Ruby keluar dari mobil itu, melambaikan tangan dan tersenyum pada pria muda yang mengemudikan mobil itu, Ehsan. Mereka baru saja mengantar Kyai Abdullah dan Nyai Hannah ke Bandara.
Setelah melihat mobil Ehsan pergi, Ruby masuk ke dalam kantor. Ia melihat Abriz sedang duduk sendiri di sofa ruang tunggu. Abriz segera menghampiri Ruby dengan senyuman merekah disana.
"Kenapa disana, Mas?" Tanya Abriz.
"Nungguin kamu."
Mereka berjalan berdua menuju lift.
"Aku lihat postingan foto di feed instagram kamu." Kata Abriz. "Bulan madu, ya?"
Ruby menatap Abriz, "Bulan madu apa-an?"
Tak ada senyum di bibir Abriz, "Kamu kelihatan bahagia di foto." Kata Abriz.
"Emangnya aku gak boleh bahagia, Mas?" Tanya Ruby.
"Emang dia bisa bikin kamu bahagia?" Abriz balik tanya.
Ruby kembali menatap Abriz, "Jangan bahas hal seperti ini di pagi hari."
Abriz hanya tersenyum, Ia dan Ruby masuk ke dalam lift bersama yang lainnya setelah melihat pintu lift terbuka.
Abriz sangat kesal memang melihat Ruby menghabiskan waktu bersama Hiko, juga melihat foto Ruby yang terlihat bahagia. Ia tak rela melihat Ruby bahagia bersama Hiko, melihat seperti apa kelakuan Hiko.
Efek dari rasa kesal Abriz membuat Abriz menghindar dari Ruby seharian ini. Bukan untuk menyerah, hanya sedang menahan diri agar emosinya tidak acak-acakan.
"Mas Abriz." Ruby menghampiri Abriz di meja kerjanya.
"Ya?" Sahut Abriz, ia memberikan senyum terbaiknya walau sebenarnya palsu.
"Aku besok akan ke studio alam menemui bu Rika. Beliau tanya, jika tidak repot apa mas bisa ikut?" Tanya Ruby.
Abriz mengangguk. "Ya, kita akan pergi bersama besok."
"Oke, Mas. Aku akan memberitahu bu Rika." Ruby kembali ke meja kerjanya.
*********
Pulang dari kantor, Ruby pergi ke supermarket terlebih dulu untuk membeli bahan-bahan masakan. Kemudian ia segera pulang ke rumah. Ia sudah berpesan pada Inah untuk tidak masak makan malam. Ruby ingin memasakkan Hiko makan malam sendiri.
Tiba di rumah ia segera mandi dan melaksanakan kewajibannya. Barulah ia memasak makan malam untuk Hiko.
Sibuk di dapur sendiri hingga akhirnya ia menyelesaikan tiga menu makanan yang menurutnya akan disukai Hiko. Ia melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mungkin sekitar satu jam lagi Hiko akan tiba dirumah.
Ruby menata semua hasil masakan di atas meja makan kemudian ia kembali ke kamarnya untuk istirahat sejenak. Tapi ia melihat lampu led notifikasi ponselnya menyala, ia melihatnya lebih dulu sebelum merebahkan badan.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal, dan beberapa pesan whatsapp dengan salah satunya nomer tanpa nama tersebut.
/Gue nanti pulang bakal ke rumah Nara, lo jangan siapin apa-apa, kunci pintunya, istirahat aja jangan nungguin gue./
Tanpa membalas pesan, Ruby melekkan kembali ponselnya dengan kesal. Ia sudah terbuai dengan sikap Hiko hingga ia lupa jika Hiko adalah milik Nara.
Ia pergi ke dapur lagi, memasukkan semua masakannya ke dalam lemari pendingin kemudian kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
**********
Pagi ini Ruby tidak melihat tanda-tanda Hiko sudah pulang. Ia mencoba untuk menepis kekesalannya, berusaha menahan diri agar tidak terlalu larut dalam kesenangan sesaatnya.
"Semalam saya masak, Bi. Masih ada di kulkas, jadi bibi gak usah masak aja." Kata Ruby. Ia sudah berpakaian rapi dengan tas ransel menggantung di punggungnya.
"Iya, Non. Sudah saya siapkan untuk Non Ruby sarapan." Jawab Inah.
Ruby duduk di meja makan dan mengambil nasi untuk sarapan paginya. Usai menyelesaikan sarapannya, ia pun segera berangkat ke kantor.
Menggunakan ojek online, Ruby tiba dikantornya. Ia segera pergi ke ruangannya.
"Kenapa, By?" Irma menghampiri meja Ruby ketika wajah Ruby yang cemberut.
" gak apa-apa, Ma." Jawab Ruby, ia mengeluarkan ponselnya.
Lampu led notifikasi ponselnya kembali menyala, membuat Ruby membuka ponselnya.
Lagi lagi ada beberapa panggilan tak terjawab dari Hiko. Dan sebuah pesan singkat darinya.
/Gue gak bisa anter lo ke kantor pagi ini, gue langsung pergi ke lokasi shooting./
"Gak penting banget!" Gumam Ruby.
"Hmm, pengantin baru nih tengkar mulu deh kayanya." Goda Irma.
"Siapa yang tengkar?" Abriz yang baru datang melewati meja Ruby terlihat antusias.
__ADS_1
"Ssttt!" Ruby menempelkan jari telunjuknya dibibirnya.
Abriz menatap curiga Ruby.
"Udah, Mas. Sana ..." Usir Ruby, "Ntar jam tiga ya, mas." Ruby mengingatkan janjinya dengan Abriz.
"Oke, Beres!" Abriz melanjutkan langkahnya menuju meja kerjanya.
"Udaaah, balik sana." Ruby mendorong Irma kembali ke mejanya.
Irma hanya terkekeh melihat tingkah Ruby.
Walau pikirannya sedang kesana kemari, Ruby tetap berusaha untuk konsentrasi dalam mengerjakan pekerjaannya.
Tepat pukul tiga sore, Ruby menghampiri meja Abriz dan mengajak Abriz untuk pergi ke studio alam untuk menemui Rika. Seorang sopir dikirim Rika untuk mengantar Ruby dan Abriz menemui mereka.
Tiba di studio alam, Ruby dan Abriz pergi melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu dan barulah ia menuju ke tempat dimana Rika biasa berada.
"Aku sebenarnya malas kesini, By." Kata Abriz.
"Loh, kenapa mas? Aku jadi gak enak nih ngajakin kamu kesini kalau ternyata kamu terpaksa."
"Males aja kalau nanti lihat kamu deket-deket sama suamimu."
Ruby menghela nafas, memutar kedua bola matanya. "Kirain kenapa, Mas." Ruby.
"By!"
Ruby dikejutkan dengan kehadiran Nara yang tiba-tiba berhenti didepannya. Matanya basah seperti usai menangis, tangannya memegang sebuah kamera.
"Kamu kenapa, Ra?" Tanya Ruby khawatir.
"Kamu jahat ke aku, By!" Sentak Nara, air matanya menetes dipipi.
Ruby terkejut dan bingung mendengar sentakan Nara padanya, "Ra, tenang dulu. Bicara, ada apa?" Ruby memegang bahu Nara, mencoba menenangkan Nara.
Nara menepis kasara tangan Ruby. "Kamu menghabiskan waktu dengan Hiko di Jogja tanpa kasih tahu aku, By!"
Deg!
Ruby kembali terkejut dengan ucapan Nara. Abriz yang mendengarnya malah terlihat kebingungan dengan situasi itu.
"Kalian menghabiskan waktu berdua kan? Kalian ngehianati aku! Kamu kelihatan bahagia banget disini, By!" Nara menunjukkan kamera yang dibawanya.
"Trus kalian manfaatin waktu disana buat senang-senang berdua kan? Kamu suka Hiko, By?"
Ruby menatap Abriz yang terlihat terkejut dengan pertanyaan Nara. Ia tak mau Abriz mengetahui banyak hal dari kalimat Nara.
"Ra, jangan bicarain ini disini ya? Ada temanku disini." Pinta Ruby, ia menggenggam tangan Nara.
"Kalau tahu bakal begini, aku gak akan ijinkan kalian menikah!" Nara melepaskan tangan Ruby dengan kasar kemudian meninggalkan Ruby.
Ruby menatap ke langit, mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh. Abriz sendiri diam disana melihat Ruby, dari sini ia bisa menarik kesimpulan rumah tangga seperti apa yang sedang Ruby jalani.
"By ..."
Ruby menggeleng, "Jangan bicara apapun padaku, aku tidak ingin siapapun melihat bekas tangisan di mataku."
Abriz mengangguk, "Kita lanjut aja, ya?"
Ruby mengangguk, ia dan Abriz melanjutkan langkahnya menuju ke lokasi shooting tempat Rika sedang menunggu mereka.
Ruby menyapa beberapa kru yang tersenyum ramah padanya, Merek juga memberi tahu dimana Rika sedang berada. Ruby bisa melihat jika Hiko sedang beradu acting dengan lawan mainnya. Ia juga melihat Nara sedang duduk di tempat duduk Hiko. Ruby hanya menarik nafas dan menuju ke ruangan Rika.
"Assalamu'alaikum ..." Ruby mengucap salam tepat di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam ..." Jawab Rika dan beberapa orang didalam ruangan itu.
"Masuk, By. Masuk." Kata Rika.
Ruby masuk ke dalam ruangan, lebih rapi daripada beberapa waktu lalu ketika ia dan Abriz datang. Ia dan Abriz segera duduk diatas sofa.
"Terimakasih ya, udah mau ikut datang kemari." Ucap Rika pada Abriz.
"Sama-sama, Bu." Jawab Abriz.
"Gini loh, By. The King kan hanya tinggal beberapa episode lagi dan selama beberpaa bulan ini kan ratingnya sangat tinggi dan punya banyak peminat. Jadi, kami ingin menambah beberapa episode untuk The King sambil saya menunggu jawaban dari Yuwen."
Tidak ada jawaban dari Ruby, matanya menatap kosong ke lantai.
"By!" Abriz memanggil Ruby.
"Ah, iya. Maaf, Bu." Ruby tersadar dari pikirannya tentang Nara, "Apa Yuwen belum kasih jawaban, Bu?" Tanya Ruby.
__ADS_1
Rika menggeleng, "Sekretarisnya juga bilang jika Yuwen belum bisa memberikan jawaban."
"Tapi saya belum punya ide untuk melanjutkan ceritanya." Kata Ruby.
"Bagaimana jika memfokuskan cerita cinta Sadana? Kita hadirkan sosok orang ketiga yang akan menguji cinta mereka?"
Deg!
Ucapan Rika mengingatkan kembali pada dirinya yang saat ini menjadi orang ketiga diantara Hiko dan Nara. Airmatanya sedang memupuk di balik kelopak matanya.
"Saya permisi keluar sebentar bu Rika."
Ruby berlari keluar sebelum air matanya menetes dan menimbulkan pertanyaan bagi siapa saja yang melihatnya.
Ia berlari menjauh dari lokasi shooting, tempat dimana beberapa waktu yang lalu memutuskan hubungannya dengan Iqbal. Ia tumpahkan air mata dari rasa bersalahnya disana. Iya, benar yang dikatakan Nara jika dirinya sudah menghianati kepercayaan Nara.
"Please, percaya sama gue!"
Samar ia mendengar suara pria dan suara tangisan wanita. Ruby mendongakkan kepalanya mencari tahu asal suara itu. Ternyata itu Hiko yang sedang meyakinkan Nara.
"Gue cuma sayang ke, lo! Gue cuma iseng aja nemenin dia."
Iseng?
Sakit perasaan Ruby mendengar kata itu. Jadi hanya sebatas keisengan semua yang Hiko lakukan kemarin pada Ruby.
"Gue sayang ke lo, Ra. Cuma elo!" Sebuah ciuman mendarat di bibir Nara.
Ruby segera membalikkan badannya, ia tak bisa melihat itu. Perih? Sakit? Iya, sedang ia rasakan.
Jangan nangis. By! Kamu gak suka dia, kamu gak suka dia! Ruby sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Ruby! kamu dimana?" Sebuah panggilan dari kejauhan terdengar.
Ruby terkejut, ia menoleh ke belakang melihat Hiko sudah melepaskan ciumannya pada Nara dan mereka sedang menatap ke arah Ruby. Ruby bisa melihat mata Hiko yang terkejut melihat keberadaan Ruby disana. Dan Ruby melihat ke sisi lain, Abriz sedang berlari mendekatinya.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Abriz.
Ruby mengatupkan bibirnya, pertanyaan Abriz membuat hatinya bergemuruh dan ingin melepaskan tangisnya. Ia menunduk, ia sudah tidak sanggup menahan air matanya.
"By! Kamu ...." Abriz baru menyadari keberadaan Hiko dan Nara tak jauh disana. Dari kedua tangan Hiko yang memegang pipi Nara sudah bisa disimpulkan jika pria itu baru saja mencium wanita didepannya.
Abriz berjalan cepat menghampiri Hiko dan ...
BUG!!
Hiko jatuh tersungkur akibat tinjuan keras dari kepalan tangan Abriz. Membuat Nara dan Ruby terkejut.
Hiko menyentuh sudut bibirnya, "B*NGS*T!!!" Bentak Hiko ketika mengetahui ada darah di sudut bibirnya
Hiko berdiri mencoba membalas pukulan Abriz, tapi pria itu bisa mengelak dengan lincah dan malah memberikan satu tendangan di perut Hiko hingga Hiko jatuh tersungkur lagi.
"Kalo lo gak bisa buat dia bahagia, jangan buat dia nangis! Cerain dia!" Bentak Abriz.
"Diam lo bacot!" Hiko kembali menyerang Abriz. Hiko lebih seriuz.
Keduanya memiliki kemampuan bela diri yang cukup baik, walau tangan Abriz sedang terluka tapi tak membuat kemampuannya berkurang.
Dua pria itu sedang beradu kekuatan hingga terguling-ngling diatas tanah.
"Mas! Cukup, Mas."
Teriakan dari Ruby maupun Nara tak bisa menghentikan pertarungan Hiko dan Abriz.
Hingga beberapa kru film datang mengehentikan pertengkaran mereka. Dua orang kru menahan masing-masing dari mereka yang masih berusaha saling menyerang.
"Astagfirullah!"
Ucap Ruby ketika melihat wajah Abriz dan Hiko sama sama memar, lebam dan berdarah di beberapa titik yang berbeda.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Rasa kesal author terasa dibalaskan oleh Abriz. hmmm... Thanks, Abriz. Aku padamu!
__ADS_1
Jangan lupa like. comment dan votenya ya kakak..