Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
Bonchap 5-2


__ADS_3

"Aku nggak setuju, By. Kamu sudah banyak berkorban untukku. Aku nggak mau kamu melakukan lebih dari ini." Hiko menolak tegas keputusan istrinya.


"Mas—"


"Kamu mau berdebat denganku?"


Ruby terdiam ketika melihat wajah suaminya mengeras. Sorot mata tajam dan tegas itu membuatnya sadar akan batasnya memaksakan kehendak. Ia menghela napas, meluruhkan keinginannya.


Hiko mengusap pipi Ruby dan mengulas senyum tipis. "Aku ke masjid dulu, ya?"


Ruby mengangguk.


"Jangan bicarakan hal ini lagi sebelum kamu memikirkannya baik-baik," ujarnya.


Kali ini Ruby tidak memberinya tanggapan. Pria itu hanya mengusap lembut pipi istrinya. "Assalamu'alaikum," pamitnya.


"Wa'alaikumsalam."


...🍂🍂🍂...


Beberapa minggu sejak kejadian itu membuat Ruby lebih meluangkan banyak waktu untuk mendengarkan semua cerita dari Almeer. Entah itu cerita di sekolah maupun di masjid.


Anak kecil itu terlihat lebih tegar dari sebelumnya. Masih ada beberapa teman yang mengejek, tapi Almeer lebih pandai dari yang Ruby bayangkan. Dia memilih menjauh dari teman yang tidak menyenangkan dan bergabung dengan teman-teman yang mau menerimanya. Bangga sekali ketika melihat anak sekecil itu sudah bisa memilih bagaimana membuat dirinya nyaman.


"Hei! Ngelamun aja!"


Gertakan Abriz membuat sekumpulan pikirannya yang hampir mengerucut, pecah seketika.


"Kalau masuk ruangan itu salam, Mas." Ruby menatap kesal pria berwajah oriental yang sedang berdiri di depan meja kerjanya.


"Mikirin apa, sih? Beberapa hari ini suka ngelamun."


"Bukan suka, Mas. Memang harus mikirin sesuatu."


"Kamu nggak bahagia lagi sama pernikahanmu?"


"Heh! Mulut lo nggak bisa dikendalikan, ya!"


Perhatian Ruby dan Abriz teralihkan pada suara pria yang baru memasuki ruangan. Wajahnya yang rupawan tak menunjukkan keramahan pada pria di depan Ruby itu. Tak mau jika terjadi keributan, Ruby berdiri dan menghampiri suaminya.


"Udah datang, Mas?"


"Ngapain sih dia di sini, By?" tanya Hiko dengan wajah kesal.


"Heh, Eduardo! Lo lupa siapa pemilik perusahaan ini?" tanya Abriz geram. "Yuruyuru! Yuwen Ruby Yuwen Ruby!" Ia menunjuk diri sendiri dan Ruby secara bergantian dengan nada yang mengejek.


"Buruan ganti nama itu!"


"Aduuuh ... sudahlah, Mas. Kenapa selalu seperti ini?" keluh Ruby.


"Keluar, Lo!" perintah Hiko pada Abriz. Ia mengabaikan keluhan istrinya.


"Lo yang harus keluar dari sini. Ganggu aja! Ada urusan penting juga!" balas Abriz.


"Pantesan lo nggak laku-laku. Kerjaan cuma buntutin bini orang aja!"


"Enak aja. Gue nggak laku tuh karena mahal!" ujar Abriz penuh penekanan.


"Huh!" Hiko mendengus remeh. "Lo dijual pake diskonan, orang pada mikir. Udah diobral, nggak ada manfaatnya—"


"Mas! Udah deh ... kalau ke sini selalu aja bikin ribut, mending aku bener-bener berhenti kerja aja."


"Jangan!" seru Hiko dan Abriz kompak. Keduanya saling memandang protes.

__ADS_1


"Tumben kompak?" gumam Ruby. Ia beralih ke meja kerja dan merapikan barang-barangnya.


"Kenapa kamu punya pemikiran seperti itu sih, By? Kita 'kan mau sama-sama majuin perusahaan ini." Abriz mendekati Ruby.


"Tapi kelancaran urusan istri tergantung pada restu suami, Mas." Ruby menatap Hiko, "dan suamiku masih memberikan restunya untuk aku tetap berada di sini."


"Alhamdulillah," ucap Abriz penuh rasa syukur. Ia menghadap Hiko dan hendak menyalaminya, tapi pria itu segera mengangkat tangannya.


"Sorry. Agama melarang untuk bersentuhan dengan Najis Ainiyah."


"Bangsat!" Abriz hendak menendang tulang kering Hiko tapi pria itu bisa menghindarinya.


"Sudah, ah!" Ruby menarik tangan Hiko. "Kalau ketemu suka lupa umur. Almeer aja lebih dewasa dari kalian."


"Almeer putraku, By," protes Hiko seraya mengikuti langkah istrinya.


"Tuh denger, ama anak lo aja kalah bijak!" sulut Abriz.


Hiko hendak kembali membalas pria menyebalkan itu tapi Ruby tak memberi ijin dan terus menariknya.


Mereka berdua menyusuri koridor dan menuruni anak tangga menuju ke loby. Sepanjang langkah, Ruby tak berhenti mengomel tentang Hiko yang selalu bertengkar dengan Abriz. Wanita itu berhenti mengomel ketika menjawab salam dari pegawainya. Hal itu membuat Hiko menahan senyum gemas pada istrinya tersebut.


"... 'kan nggak enak Mas di dengerin pegawai lain. Kalau mereka dengar cuma sepatah dua patah kata yang kamu ucapin, bisa salah paham mereka ke Mas Abriz."


Sampai masuk ke dalam mobil pun Ruby belum menyelesaikan omelannya. Hiko tak lantas menyalakan mesin mobil, iya justru bersandar di pintu mobil sambil menikmati sosok Tabina Ruby Azzahra yang ternyata masih sama seperti tiga tahun yang lalu.


"Mas dengerin aku nggak, sih?" protes Ruby yang merasa Hiko sedang memikirkan hal lain.


"Ndengerin, kok," jawab Hiko santai.


"Enggak. Kamu lagi mikirin hal lain!" tuduh Ruby.


"Iya juga sih, By." Hiko mengangguk jujur, "tapi aku juga dengerin kamu, kok. Mau aku ulang nih apa yang udah kamu bicarain sejak keluar ruangan sampai detik ini?" tantang Hiko.


"Kamu mikirin siapa, Mas?" Ruby tak mengacuhkan tantangan Hiko.


"Nggak usah dijawab, Mas. Buruan pulang. Kasihan Almeer kalau di rumah sendirian."


Hiko masih saja menahan tawa dan mulai melajukan kendaraannya. Selama perjalanan, Hiko mengganti topik pembicaraan agar istrinya tidak lagi merajuk. Namun usahanya tak membuahkan hasil. Karakter Ruby yang ketus mulai terlihat lagi dan itu semakin membuat Hiko gemas.


Di sebuah persimpangan jalan yang seharusnya mereka belok ke kanan. Hiko justru mengambil ke arah kiri.


"Kok belok kiri, Mas?"


Usaha untuk membuat Ruby membuka mulut berhasil. Ia mengarahkan mobilnya menuju ke jalan Malioboro.


"Ada yang mau dibeli, Mas?" tanya Ruby ketika keluar dari mobil.


"Kalau kenangan bisa dibeli, aku rela jadi miskin untuk membeli tiap detik kenangan kita di sini." Dengan membawa kameranya, Hiko menghampiri Ruby dan menggandengnya menuju ke trotoar jalan penuh kenangan itu.


Suasana sore kota Jogjakarta itu cukup hangat. Awan putih menggantung indah dibawah langit kebiruan. Angin sepoi bertiup cukup rendah menggoyang pohon trengguli yang masih menyisakan bunga-bunga di dahannya.


Trotoar jalan cukup ramai namun tak terlalu padat. Ruby sudah sangat sering berjalan-jalan di tempat ini, tapi rasanya sangat berbeda jika bersama dengan Hiko.


"Kenapa nggak ngajak Al, Mas? Kasihan kalau nungguin."


"Ada Papa dan Mama di rumah, By."


"Loh! Ada Papa dan Mama kok malah kamu ngajak aku jalan-jalan di sini, Mas? Ayo buruan pulang."


Hiko menahan tangan istrinya. "Papa dan Mama sengaja nyuruh kita kencan, Ruby."


Ruby mengernyit.

__ADS_1


"Kita belum pernah menghabiskan waktu berdua sejak menikah." Senyum teduh Hiko membuat Ruby luluh. Wanita itu mengangguk.


Pelan mereka menyusuri trotoar itu sambil membicarakan semua kenangan yang pernah mereka lalui di tempat itu. Dari ujung sampai ke ujung dan akhirnya mereka kembali lagi menyusuri tempat yang sama.


"Duduk dulu, By." Hiko menunjuk sebuah bangku kosong.


Ruby mengikuti langkah Hiko dan mereka berdua duduk berdampingan. Baru saja duduk, Ruby sudah berdiri lagi. Ia meminta ijin pada Hiko untuk beli air mineral.


Ia pergi menuju ke pedagang asongan tak jauh dari tempatnya duduk. Saat hendak kembali, Ruby melihat Hiko sedang melamun sambil menatap pohon trengguli di tepi trotoar.


"Aku penasaran banget pengen baca pikiran kamu, Mas!" ujar Ruby ketika sampai di hadapan Hiko.


"Jangan!" Ia meraih botol air mineral dari tangan Ruby dan membuka segelnya kemudian memberikannya pada istrinya. "Nanti kamu cemburu."


Ruby yang hendak meneguk airnya lekas dibatalkan. "Cemburu ke siapa?" tanyanya.


"Cewek cerewet yang dengan pede memuji dirinya sendiri sangat cantik waktu kuambil fotonya di bawah pohon ini."


"Kamu mikirin salah satu foto model kamu?" wajah Ruby berubah masam.


"Foto model bukan ya, dia?" Hiko terlihat berpikir. "Cantik, manis, imut, badannya juga—"


Ruby lekas menutup mulut Hiko dengan tangannya. Bibir tipisnya terkatup rapat. "Kamu mau buat aku menangis di sini, Mas?" ucapnya lirih.


Hiko lekas meraih tangan Ruby dan panik melihat mata indah itu mulai memupuk cairan bening. "Jangan salah paham, By. Aku—"


"Kamu memuji wanita lain di depanku. Bahkan kamu sampai memperhatikan lekuk tubuhnya."


Hiko menahan tawa mendengar alasan istrinya. Ia membuka layar kameranya dan mencari sesuatu di sana.


"Kita pulang saja, Mas." Ruby berdiri, tapi Hiko menariknya untuk duduk kembali.


"Dia ...." Hiko menunjukkan layar kameranya pada Ruby. "Dia yang aku maksud."


Lagi-lagi Ruby dibuat malu ketika melihat gambaran dirinya beberapa tahun lalu di tempat ini. "Kamu bikin aku malu lagi, Mas." Ia memukul-mukul lengan Hiko.


"Ya Allah ... ternyata sesayang itu wanita ini padaku?" goda Hiko.


"Nyebelin kamu, Mas. Siapa juga yang nggak salah paham. Kamu bilang dia cerewet, kepedean."


"Bukannya memang seperti itu?"


"Aku tidak seperti itu, Mas. Kamu mengada-ada," tampik Ruby tersipu malu.


Hiko tertawa kecil seraya mencubit pipi istrinya yang merona merah. "Ruby ...," panggilnya mesra.


Wanita itu masih tertunduk.


"Tabina Ruby Azzahra?"


Kini pemilik nama itu mendongakkan kepalanya, menatap wajah suaminya. "Ya, Mas?"


"Ada yang kurindukan darimu, dan hari ini aku menemukannya." Hiko diam sejenak, ia menggenggam tangan Ruby."Jadilah ibu yang bijak di depan anak kita, dan jadilah istri yang manja jika berada di dekatku."


Satu kalimat yang mampu membuat pipi Ruby bersemu merah. Antara tersipu malu dan terharu. Bahkan ia tak bisa menyembunyikan jajaran gigi yang rapi dibalik senyuman.


...🌸Bersambung🌸...


...Jangan lupa apa, gaiz?...


...👍 Tekan LIKE dulu....


...✍️ Tulis KOMENTAR juga....

__ADS_1


...🏅 Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....


...Terima kasih 💕...


__ADS_2