Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
Bonchap 4-1


__ADS_3

Sejak mendapat cerita dari Inah, benak Ruby terasa sesak. Air matanya terus mengalir dan segera ia seka ketika bertemu dengan suami maupun putranya. Ia sama sekali tak menyangka jika anak sekecil itu sudah bisa memikirkan perasaan orang lain dan memilih memendam perasaannya sendiri.


Itu pasti berat. Sungguh hatinya teramat sedih. Sedangkan untuk bertanya, tak mampu ia lakukan. Ruby harus hati-hati jika membahas ini. Jika bukan anak itu yang mulai membuka diri, ia tak bisa mengawalinya. Ini sesuatu yang sangat sensitif untuk putranya.


"Ma! Al berangkat ngaji dulu, ya! Assalamu'alaikum," teriak Almeer.


"Wa'alaikumsalam, Al. Nggak nunggu Mama selesai ganti baju dulu?" sahut Ruby dari dalam kamar.


"Maaf, Ma! Kalau telat nanti nggak bisa jadi muadzin!"


Suara Al menjauh dan suasana lantai dua kembali hening. Sesaat kemudian ia melihat dari jendela kamar,anak kecil yang memakai baju koko putih, sarung, kopyah putih menempel rapat di kepala dan tas tenteng yang ia dekap sambil berlari keluar halaman.


Ruby tertawa kecil ketika Almeer berpamitan pada Papanya hanya dengan melambaikan tangan. Namun pria itu justru memberikan sebuah ancaman yang membuat anak kecil itu menghampirinya dengan manyun. Terlihat Almeer mencium tangan Hiko dan kemudian berlari lagi keluar halaman.


Beberapa saat kemudian, suara azan Ashar berkumandang. Ruby kembali mengulas senyum. Ia lebih khidmat lagi mendengar tiap lantunan azan dari muadzin cilik tersebut. Rasanya bangga sekali, karena pemilik suara merdu itu adalah putranya.


Ceklek!


Perhatian Ruby teralihkan ketika suaminya masuk ke dalam kamar. Ia hendak berdiri dan mengambilkan baju koko dan sarung milik suaminya, tapi Hiko memberi isyarat agar ia tetap duduk saja.


"Bagaimana kamu bisa mendidik Almeer menjadi sebaik ini, Mas?" tanya Ruby.


"Apa terlihat seperti itu?" tanya Hiko sambil berganti pakaian.


"Almeer tumbuh jadi anak yang sholeh, baik, pandai dan lembut."


Hiko menghampiri Ruby usai mengenakan sarung dan baju kokonya. Ia jongkok di depan Ruby yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Digenggamnya dengan lembut tangan istrinya itu seraya memberikan kecupan di sana. "Karena Nara sering menceritakan tentangmu. Secara tidak langsung, dia pun ingin menjadi sosok sepertimu. Dia selalu berusaha menjadi yang terbaik, jika suatu hari dia bertemu denganmu, kamu tidak akan membencinya."


Mendengar penjelasan Hiko membuat mata Ruby berair, mengingat kembali apa yang terjadi pada Almeer. "Bagaimana bisa aku membencinya? Dia putramu, dia putra Nara, dan dia putra kita."


"Hei, kenapa jadi sedih seperti ini, Sayang?" tanya Hiko.


"Aku terlalu bangga padanya, Mas. Kamu membesarkan Almeer dengan baik."


Hiko menggeleng, "aku bukan orang tua yang baik, Ruby. Semua orang tahu itu,"


Ruby menggeleng, menangkup pipi Hiko. "Kamu benar-benar mendidik Almeer dengan baik, Mas. Dia tumbuh jadi anak yang kuat."


"Dia harus kuat, By. Dunia akan kejam padanya."


Mendengar itu membuat air mata Ruby jatuh tak terbendung, ia menghambur cepat dalam pelukan suaminya. "Itu akan menyakitinya, Mas. Dia akan terluka. Dunia tidak boleh sekejam itu padanya."


Hiko tak bisa berkata apapun, hanya bisa mengusap punggung Ruby. Ia mencoba memberi ketenangan yang bahkan ia sendiri tidak pernah mendapatkannya jika sudah menyangkut perihal masa lalunya dan masa depan putranya.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Berada di dalam rumah seharian membuat Ruby suntuk, terlebih lagi dengan memikirkan Almeer, membuat perasaannya semakin gundah. Meskipun masih terasa nyeri di pangkal pahanya, Ruby memilih untuk berjalan-jalan keluar sambil menjemput Almeer yang sedang mengaji.

__ADS_1


"Kemana, By?" tanya Genta yang melihat Ruby berjalan di halaman depan.


"Jalan-jalan sebentar, Mas. Kalau Mas Hiko nyariin, tolong sampaikan ya, Mas," jawab Ruby.


"Oke! Hati-hati, By. Jangan sampai hilang. Bisa gila nanti Bapak sama anak itu."


"Iya, Mas Genta. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Ruby melanjutkan langkahnya perlahan-lahan keluar halaman rumah Hiko. Suaminya masih sibuk di dalam studio, dan ia tak mau mengganggunya.


Ia berjalan ke bagian kanan untuk menuju masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah suaminya.


"Sudah dibilangin jangan main sama dia, kenapa masih main?"


Ruby mengernyit ketika mendengar seorang wanita yang memarahi anaknya di pelataran masjid.


"Kalau kamu masih nakal terus! Lama-lama nggak punya temen!"


"Al nggak nakal. Al hanya membela orang tua saja."


Mendengar suara itu, Ruby berlari kecil. Benar saja, ada putranya bersama teman-teman dan orang dewasa di sana.


"Al!" pekik Ruby menghampiri putranya yang sedang dipegangi seorang ustadz.


"Kamu Mama barunya dia?" tanya wanita berhijab yang tengah menggendong putranya.


"Apa yang putra saya lakukan pada putra Anda, Mbak?" tanya Ruby.


"Tolonglah, mulai sekarang didik anakmu ini dengan baik. Dia kurang perhatian sekali sampai selalu berbuat onar."


"Al hanya dua kali memukul Sofyan, Ma!"


"Hanya?" Wanita itu membulatkan matanya pada Almeer.


"Maafkan kesalahan putra saya, Mbak. InsyaAllah akan saya bicarakan hal ini padanya," ujar Ruby merendah.


"Mama nggak perlu minta maaf. Al yang salah," cetus Almeer seraya menghampiri Ruby.


Sedangkan Ruby hanya mengulas senyum dan mengusap kepala putranya. "Jika begitu, Al harus minta maaf juga."


"Tapi Al nggak salah,"


"Al sudah melukai orang lain, tentu saja harus minta maaf."


Almeer mengernyitkan keningnya, kemudian meraih tangan Mama temannya itu. "Maafin Al, Tante Icha," ujarnya. "Sofyan, maafin aku."

__ADS_1


"Nggak mau! Pukulanmu masih sakit."


"Kamu juga memukulku. Bahkan bicaramu juga akan menyakiti Papa dan Mamaku kalau mereka dengar. Kita sama-sama melukai."


"Aku bilang nggak mau ya nggak mau!"


"Udah-udah! Nggak usah maksa!" Mama Sofyan menepis tangan Almeer. Ia menatap Ruby. "Didiklah dia. Walau memang mendidik anak diluar nikah itu susah, aku yakin kamu bisa. Kamu anak pesantren, 'kan? Pastiโ€”"


"Kenapa begitu mudah Anda mengatakan hal itu di depannya?" sergah Ruby."Bagaimana kalimat seperti itu bisa keluar dari seorang ibu?"


"Semua orang di sini sudah tahu siapa dia? Masih untung-untungan dia diterima di sini."


"Astaghfirullahaladzim." Ruby memejamkan mata untuk menahan amarah.


"Ma ...."


Panggilan Almeer membuat Ruby membuka mata. Ia semakin tak kuasa ketika melihat sorot mata putranya yang berubah sendu.


"Tolong ... minta maaflah pada putra saya. Meskipun saya tidak yakin permintaan maaf Anda akan menyembuhkan lukanya, setidaknya minta maaflah!" tegas Ruby.


"Gila nih orang!"


"Saya yakin putra saya punya alasan kenapa harus melakukan hal tersebut pada putra Anda. Tapi sebagai orang dewasa, Anda tidak berhak membawa masa lalu kedua orang tuanya. Bukankah sebagai orang dewasa kita punya tanggung jawab untuk mengajari indahnya kedamaian dalam perbedaan?"


"Indah bagaimana? Jelas-jelas Allah melaknat orang yang berbuat Zina. Dia lahir tidak di ridhoi Allah. Di mana letak keindahannya?"


"Orang tuanya yang berbuat seperti itu! Bukan anaknya! Kenapa Anda harus menghakimi makhluk kecil yang tidak mengerti apa-apa ini?" sentak Ruby. "Dari mana Anda bisa tahu dia terlahir tanpa ridho Allah? Apa Anda ingin bersaing dengan malaikat Allah? Kita di sini semua pendosa, Mbak. Masing-masing dari kita punya aib. Jangan hanya karena aib kita masih tersimpan rapi, ditutup oleh Allah, membuat kita sombong, merasa suci,menghakimi dan bahkan membuka aib orang lain!"


...๐ŸŒธBersambung๐ŸŒธ...


...Jangan lupa apa, gaiz?...


...๐Ÿ‘ Tekan LIKE dulu....


...โœ๏ธ Tulis KOMENTAR juga....


...๐Ÿ… Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....


...Terima kasih ๐Ÿ’•...


INFO!


Maunya nggak update, tapi update ajalah.


Besok libur.


Sampai ketemu hari Selasa.

__ADS_1


__ADS_2