
"Aku rindu kamu yang seperti ini, By," ujar Hiko seraya mengusap kepala Ruby dengan lembut.
"Kamu suka aku yang pemarah dan jutek gini, Mas?" Ruby mengernyit heran.
Hiko menggeleng, membuat istrinya makin keheranan. Ia mencubit gemas pipi istrinya. "Aku suka semua yang kamu miliki, Ruby. Semua," tegasnya.
"Udah !" Ruby menempelkan botol air mineralnya di bibir suaminya, "nggak usah nggombal lagi! Geli di dengerin orang."
"Dingin, By!" Hiko mengusap bibirnya. "Jadi pengen yang anget, 'kan?"
"Beli aja gorengan, Mas."
"Keras."
"Yang penting anget."
Hiko tertawa gemas melihat Ruby yang melirik sinis padanya.
"Nggak apa kita ninggalin Al sama Papa dan Mama, Mas?" tanya Ruby.
"Mama sama Papa tahu banget situasi kita, Ruby."
Mata indah berbulu mata lentik itu menatap curiga pada pria rupawan yang sedari tadi tidak berhenti mengulas senyum.
"Aku nggak bilang apa-apa ke mereka. Beneran!"
"Mata kamu bilangnya nggak gitu, Mas."
"Udah ... percaya aja, By." Hiko mengedipkan mata beberapa kali untuk menggoda istrinya.
Percakapan mereka terhenti ketika ponsel dalam saku Hiko bergetar.
"Siapa, Mas?" tanya Ruby.
"A!" jawab Hiko ketika melihat layar ponsel. "Assalamu'alaikum, Al?" sapanya.
"Wa'alaikumsalam, Papa! Al mau diajak Opa sama Oma ke rumahnya Abi sama Uminya Mama Ruby. Boleh, nggak?"
"Al mau ke Malang?" tanya Hiko.
"Iya! Boleh, Pa?"
"Boleh ... boleh banget malah," jawab Hiko. "Kapan berangkatnya?"
"ini lagi siap-siap," jawab Almeer.
"Kok cepet, Al?" Hiko terkejut, "coba hapenya kasih ke Oma atau Opa?"
"Assalamu'alaikum, Nak." Suara Maria terdengar di seberang.
"Wa'alaikumsalam, Ma," sahut Hiko. "Mama serius ngajak Almeer ke Malang?"
"Iya ... Mama sengaja ajak Al jalan-jalan. Kamu fokus aja ya sama istrimu. Al udah siap dan mateng banget kalau punya adik."
Hiko tertawa mendengar ucapan Mamanya. "Beres itu, Ma. Beres."
Ruby yang melihat suaminya tak berhenti tertawa dan tersenyum semakin dibuat penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Wa'alaikumsalam ... hati-hati ya, Ma. Titip Almeer." Hiko mengakhiri panggilan teleponnya.
"Kenapa, Mas?" sergah Ruby.
"Mama sama Papa ngajak Al ke Malang," jawab Hiko.
"Oh ya? Kapan, Mas? Kita harus buruan pulang. Aku harus siapin keperluan Almeer."
Hiko menahan tangan Ruby hendak memakai tasnya. "Nggak perlu, Ruby. Mereka sudah mau berangkat sekarang."
"Kita nggak ngantar mereka, Mas?" tanya Ruby.
Hiko menggeleng. "Mama sengaja seperti ini biar kita bisa berduaan, Ruby."
"Aku nggak enak, Mas."
__ADS_1
"Dienak-enakin aja. Nanti enak-enak sendiri," goda Hiko.
"Kamu ini ngomong apa sih, Mas!" Ruby mencubit gemas punggung tangan Hiko.
"Mau jalan-jalan ke mana lagi kita, By?" tanya Hiko.
Ruby berpikir sejenak. Ia menatap Hiko dan ragu ingin mengatakan keinginannya.
"Bilang aja, Ruby ...."
"Mmm ... boleh nggak kalau pergi ke rumahku, Mas?" tanya Ruby, "aku harus beres-beres barangku. Kebetulan Aisyah ke luar kota dari kemarin. Jadi rumahnya kosong."
"Iya. Boleh, By," jawab Hiko, "mau nginap sekalian di sana?"
"Mas nggak keberatan?"
"Enggak, lah!" sergah Hiko, "seneng banget malah!" Antusiasnya membuat Ruby menatap curiga.
"Yuk, yuk! Pulang, By." Hiko berdiri dan mengulurkan tangan pada istrinya.
Wanita itu meraih tangan suaminya dengan menghela napas gemas pada tingkah pria itu.
Mereka masih berjalan santai menikmati indahnya jalan Malioboro di sore hari sambil menuju ke tempat parkir. Dalam perjalanan pulang, Hiko mampir ke minimarket untuk membeli makanan ringan dan juga pergi ke kedai martabak manis. Ia lama tidak membelikan makanan favorit istrinya.
"Ntar kalau kamu hamil, jangan-jangan ngidamnya ini tiap hari, By?" tebak Hiko ketika melihat istrinya menyantap sepotong martabak manis dalam perjalanan pulang.
"Emang nggak boleh ngidam martabak, Mas?" tanya Ruby.
"Kamu minta martabak, aku beliin sekalian sama pemiliknya juga, By! Kukasih semua yang kamu minta," tantang Hiko. "Apa jangan-jangan kamu udah ada isi, By?" Hiko menatap istrinya.
"Ngawur, Mas!" Ruby menampik pelan pipi Hiko, "baru juga beberapa kali."
"Rejeki mana ada yang tahu, By." Hiko cekikikan.
"Udah, nyetir aja, Mas."
"Berarti kita harus menyegerakan, By."
"Ya, 'kan kitaโ"
"Sst! Fokus ke jalan saja."
"Tuh, 'kan. Kalau juteknya keluar bikin gemes."
"Astaghfirullah ... nih orang." Ruby ingin mencubit pinggang Hiko, tapi ia urungkan karena tangannya kotor. "Udah, Mas. fokus aja ke jalan."
"Ada kamu, sih! Jadi fokusnya ke kamu." Hiko masih tak mau berhenti menggoda istrinya. Melihat Ruby yang kesal membuat kesenangan sendiri untuknya.
๐๐๐
Rumah sederhana di salah satu perumahan Yogyakarta itu terlihat kosong. Gemericik air di kolam ikan kecil menyambut kedatangan pemilik rumah.
"Assalamu'alaikum," salam Ruby dan Hiko ketika masuk ke dalam rumah.
Ruby lekas mengajak Hiko ke ruang tengah untuk bersantai, sementara ia segera membuatkan minuman hangat untuk menemani pria itu.
"Mas mau mandi dulu?" tanya Ruby ketika meletakkan secangkir teh untuk suaminya, "ada beberapa baju Abi di sini. Bisa Mas pakai buat ganti," lanjutnya.
"Iya, By. Boleh." Hiko berdiri.
Ruby menyiapkan baju ganti dan perlengkapan mandi untuk Hiko.
Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Ruby pergi membereskan rumah dan lanjut memasak masakan sederhana dengan bahan seadanya di dalam kulkas untuk mereka makan malam nanti.
Menjelang azan Maghrib, Ruby baru menyelesaikan perkerjaannya dan pergi membersihkan diri.
Karena masjid perumahan yang jauh, Hiko memutuskan untuk salat berjamaah di rumah bersama istrinya. Usai mengerjakan salat Maghrib, Hiko dan Ruby memutuskan untuk murottal Qur'an berdua sambil menunggu azan Isya' berkumandang.
Hal sederhana yang paling Ruby sukai ketika bersama suaminya adalah membaca Al-Qur'an. Suara Hiko begitu tegas,merdu dan sangat indah. Ia bahkan tak menemukan celah kekurangan dalam tiap bacaannya. Selain paras yang rupawan dan perlakuan lembut, pria itu benar-benar bisa menghipnotis Ruby di tiap lantunan ayat suci yang dilafadzkan.
Setelah melaksanakan kewajiban salat Isya', Ruby dan Hiko menikmati makan malam barulah Ruby pergi ke kamar untuk merapikan pakaian-pakaiannya yang belum sempat ia bawa semua ke rumah Hiko.
Sambil menunggu istrinya yang sedang melipat baju di atas tempat tidur, Hiko memilih duduk di meja kerja istrinya sambil menikmati beberapa foto yang belum pernah ia lihat.
__ADS_1
"Sejak kita nikah, kita jarang banget bicara tentang kamu, By," ujar Hiko seraya memegang sebuah bingkai foto berisi gambar Ruby dan teman-temannya di tengah hamparan salju.
"Tentangku, Mas?" tanya Ruby, "memangnya aku kenapa?"
"Kamu terlihat bahagia sekali di Jepang."
"Kamu nggak senang?" tanya Ruby ketika melihat wajah suaminya yang muram.
Hiko mengangguk. "Ada sedikit rasa iri, By." Ia menatap istrinya.
"Kenapa?"
"Karena bukan aku yang membuatmu tersenyum bahagia seperti itu."
"Maaasss ...."
Hiko tersenyum hambar dan menghampiri istrinya. Ia duduk di samping Ruby. Menarik lembut tubuh itu ke dalam pelukannya. "Kamu belum menceritakan apapun yang kamu lalui selama tidak bersamaku."
"Hanya rutinitas biasa saja, Mas. Nggak ada yang menarik."
"Bagaimana dengan Habibi?"
Ruby menarik diri dari pelukan Hiko dan memandang suaminya. "Mas masih memikirkan Mas Habibi?"
"Sebelum kita menikah," jawab Hiko."Kalau sekarang sudah enggak. Karena kamu sudah milikku seutuhnya." Senyumnya mengembang lebar.
"Alhamdulillah ... Allah meluluhkan hati Ummi dan Mas Habibi ikhlas menerima keputusan kami."
Hiko kembali memeluk istrinya. "Entah kenapa aku kehilangan rasa percaya diriku jika berhadapan dengan orang-orang seperti kalian, By."
"Kita sama-sama hamba Allah, Mas."
"Tapi tingkat keimanan dan ketaqwaan kita berbeda."
"Bukan tugas kita menilai hal itu, Mas."
"Tapi semuanya terlihat jelas, By."
"Itu yang kamu lihat, Mas. Sedangkan di mataku, kamu terlihat jauh lebih baik dibandingkan aku."
Hiko tertawa kecil. "Kamu lihat dari mananya sih, By." Ia mencubit gemas hidung istrinya.
"Seperti saat ini, Mas." Ruby melapaskan pelukan Hiko dan memegang kedua tangan suaminya. "Ketika kamu beribadah untuk terus memohon ampun atas dosa-dosamu, sedangkan aku beribadah dengan terus memikirkan apakah amalku cukup untuk mendapatkan surgaNya padahal tiap hari aku selalu menumpuk dosa."
Ruby diam sejenak, kemudian menangkup satu pipi Hiko dan menatapnya lembut. "Di mataku, kamu lebih segalanya dibandingkan aku, Mas. Bahkan cintamu. Aku sendiri tidak yakin bisa mencintai kamu seperti caramu mencintaiku."
Senyum Hiko melebar begitu saja ketika mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut istrinya. "Cukup seperti ini. Biarkan aku mencintaimu dengan sebaik-baiknya yang bisa kulakukan."
"Makasih ya, Mas." Ruby kembali memeluk suaminya.
Hiko mengecupi lembut ujung kepala istrinya."Inilah salah satu alasan kenapa aku sangat bersyukur mendapatkanmu, Ruby."
"Akupun seperti itu, Mas. Kamu adalah pelengkapku."
"Kalau udah selesai, kita salat sunah ya, By."
Ruby langsung terkekeh mendengar permintaan Hiko yang tiba-tiba. Dengan malu-malu ia menganggukkan kepala. "Iya, Mas."
...๐ธBersambung๐ธ...
...Jangan lupa apa, gaiz?...
...๐ Tekan LIKE dulu....
...โ๏ธ Tulis KOMENTAR juga....
...๐ Kalo ada poin lebih bisa kasih VOTE karyaku....
...Terima kasih ๐...
Aku kasih rekomendasi bacaan seru nih ya sambil nunggu Ning Ruby dan Mas Hiko update.
__ADS_1