Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
77


__ADS_3

Sudah satu bulan lebih Hiko tinggal bersama Nara, ia hanya pulang sesekali untuk mengambil pakaian, itu pun ketika Ruby tidak ada di rumah. Selama itu juga mereka tak bertemu, tidak saling mencari dan tidak saling memberi kabar. Hiko sibuk dengan shooting serial drama The King dan juga beberapa film layar lebarnya, sedangkan Ruby sibuk dengan deadline film animasi dikantornya, mengurus syarat-syarat kepergiannya ke jepang dan seringnya pertemuan antara dia, Bagus dan juga Rika membahas serial Go Hanae milik Yuwen.


Hari ini adalah hari dimana shooting terakhir The King, seluruh kru dan para pemain mengadakan makan malam bersama di salah satu rumah makan. Ruby mendapat undangan dari Rika untuk mengikuti makan malam, tapi ia menolak, tentu saja salah satu alasannya karena Hiko. Dia tak mau tampil di depan publik bersama Hiko, tentu dia dan Hiko harus berpura-pura seperti menjadi pasangan suami istri yang harmonis sedangkan Ruby tidak bisa melakukannya.


"Kenapa? Nungguin seseorang?" Tanya Genta yang sedari tadi melihat Hiko yang tak berhenti menatap pintu masuk.


"Nungguin siapa?" Hiko balik tanya, ia meneguk minuman ditangannya.


Genta duduk di samping Hiko, "Udah lo baca kan naskahnya?"


"Udah, ambil aja. Daripada gue gak ada kerjaan, habis ini film yang lain juga udah kelar kan?" Jawab Hiko.


"Ini action loh, Ko! Lo bakal ngabisin banyak tenaga di drama ini." Kata Genta.


"Coba suasana baru lah."


"Deal, ya?"


"Iyaaah!" Ucap Hiko kesal.


Genta berdiri, ia menghampiri Rika dan memberitahu jika Hiko sudah setuju dan mau menjadi lead actor di serial drama Go Hanae.


Disisi lain, Nara berlarian menghampiri Hiko dengan panik. Hiko segera berdiri dan menghampiri Nara.


"Kenapa, Ra?" Tanya Hiko.


"Ko, aku harus segera ke Malang." Jawab Nara denan nafas tersenggal-senggal.


"Ngapain?" Tanya Hiko.


"Mama aku masuk rumah sakit, Ko." Jawab Nara.


"Gue ikut, lo!" Kata Hiko.


"Hei hei hei! kalian mau kemana!?"


Teriakan Genta menghentikan langkah Hiko dan Nara.


"Mau Keman, Lo?" Tanya Genta ke Hiko.


"Gue mau ikut Nara ke Malang, Nyokapnya masuk rumah sakit." Jawab Hiko. "Ayo, Ra."


Genta menarik lengan Hiko. "Lo pikir kerjaan lo disini udah kelar? main tinggal-tinggal aja!"


"Ta!"


"Lo nurut sama gue? Atau gue tinggalin lo!" ancam Genta


"Ta! Nyokapnya Nara lagi sakit!"


Genta menarik Hiko dari keramaian. "Lo gak sadar di Malang juga ada mertua lo? Mikir, Ko! Gue udah diemin lo ninggalin Ruby berminggu-minggu, tapi kali ini enggak, Ko! Lo bisa hancur kalau sampai ketemu mertua lo!"


Hiko diam, ia membenarkan perkataan Genta. Ia kembali menatap Nara yang sedang menunggu keputusannya.


"Sorry, Ra. Gue gak bisa ikut lo." Ucap Hiko.


Nara terlihat kecewa dengan keputusan Hiko, ia meninggalkan Hiko dan Genta begitu saja. Hiko ingin mengejar Nara, namun Genta menahannya. Menyadarkan Hiko jika ini bukan tempat yang bisa membuatnya bersikap semaunya. Banyak orang dan wartawan yang siap memberitakan apapun yang dilakukannya.


Hiko pun menuruti kemauan Genta, membiarkan Nara kembali pulang ke rumahnya sendiri. Sedangkan ia dan Genta melanjutkan makan malam hingga selesai.


Usai makan malam, ia langsung menuju ke rumah Nara. Membujuk wanita itu agar tidak merajuk dan mengerti keadaannya.


Nara hanya diam saja mendengarkan penjelasan Hiko. Sekarang ia memiliki sifat yang over protective pada Hiko, lebih cemburuan dan sering mencurigai Hiko.


"Gue anter lo nanti ke bandara." Bujuk Hiko untuk terakhir kali.


"Kamu janji gak akan berbuat macam-macam dengan Ruby, kan?"


Hiko mengangguk kemudian memeluk Nara, "Maafin gue ya, gak bisa nengokin nyokap, lo."


Nara mengangguk, "Aku akan cepat kembali."


Hiko mengangguk.


**********


Siang hari ini Hiko dan Genta mendatangi Star House untuk melakukan penandatanganan kontrak bersama beberapa pemeran lainnya.

__ADS_1


Rika juga secara khusus mengundang semua pemeran baru Go Hanae untuk mengikuti pesta penutupan pembuatan serial drama The King di Bali.


Berita itu pun juga terdengar ditelinga Ruby, Rika secara khusus menelponnya agar Ruby bisa datang dan tidak menolak untuk hadir. Sudah berbagai alasan Ruby lakukan untuk menolak permintaan Rika, tapi Rika tetap memaksa. Bahkan ia memintakan ijin khusus pada Heru agar ia memberikan cuti pada Ruby.


"Udah, By. Kamu pergi aja, By. Bu Rika maksa terus ke aku."


Begitulah kata Heru ketika memanggil Ruby sore tadi sebelum Ruby pulang. Dan akhirnya Ruby menerima permintaan Rika untuk pergi ke Bali.


Ruby tiba di rumah dikejutkan dengan mobil Hiko yang sudah terparkir di carport, itu berarti dia tidak akan keluar lagi. Ada rasa enggan untuknya masuk ke dalam rumah. Selama ini ia sudah bisa menata hatinya, dan sekarang ia harus bertemu pria yang kapan saja bisa membuat perasaannya jatuh bangun.


"Non Ruby sudah pulang?" tanya Inah yang barusaja keluar rumah. Ia sudah bersiap untuk pulang.


Ruby tersenyum, "Mas Hiko dirumah, Bi?" tanya Ruby.


Inah mengangguk, "sudah dari siang tadi Den Hiko di rumah, Non. Cuma dikamar aja, saya siapin makan siang juga tidak dimakan."


Ruby mengangguk, "Iya, Bi. Biar nanti saya yang urus saja." Kata Ruby.


"Saya pamit dulu ya, Non. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, terimakasih ya, Bi."


Inah tersenyum dan kemudian meninggalkan rumah Hiko. Sedangkan Ruby mau tidak mau harus masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum ..." ucapnya lirih ketika masuk ke dalam rumah, tak ada jawaban karena pemilik rumah ada di lantai dua.


Ruby melangkah menuju tangga, dan disanalah ia bertemu orang yang sangat ingin dia hindari. Hiko, dia juga sedang menuruni anak tangga. Ruby melihat perbedaan mencolok pada pria itu, Hiko nampak lebih kurus dari terakhir mereka bertemu.


"Gimana kabar lo?" Sapa Hiko ketika mereka bertemu tepat ditengah tangga.


"Alhamdullillah, baik. Mas bagaimana?" Tanya Ruby, ia tak berani menatap Hiko.


"Baik." Jawabnya.


Sesingkat itu percakapan awal mereka setelah beberapa waktu tidak betatap muka. Hiko turun ke bawah dan Ruby terus melangkah menuju kamarnya.


Keduanya sibuk dengan kegiatannya sendiri-sendiri hingga meja makan menjadi tempat mereka kembali bertatap muka. Hiko duduk disana lebih dahulu ketika Ruby datang, membuat Ruby membalikkan badannya.


"Lo makan aja, gue bisa makan nanti."


"Kita makan bersama saja, Mas." Kata Ruby.


Hiko diam dan kembali ke tempat duduknya semula, Ruby juga menghampiri Hiko. Dia mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Hiko kemudian mengambil untuknya sendiri.


Mereka mulai melahap makanannya dalam diam dan dentingan yang timbul akibat pertemuan sendok dengan piring menjadi satu satunya suara dimeja makan.


"Lo ikut ke Bali?" tanya Hiko memecah sepi.


Ruby mengangguk.


"Dapat libur berapa hari dari kantor?" tanya Hiko lagi.


"Aku cuti seminggu, Mas. Karena memang banyak yang harus ku urus." Jawab Ruby.


Hiko diam kembali.


"Mas terlihat kurusan." Giliran Ruby sekarang yang bertanya.


"Oya? Gue gak ngerasa ada yang beda." Hiko melihat badannya.


Ruby menatap pria yang sedang makan didepannya itu.


"Kenapa?" tanya Hiko.


Ruby cepat menatap piringnya kembali.


"Kita berangkat bareng besok." Kata Hiko.


Ruby menggeleng, "Aku bisa berangkat sendiri, Mas. Aku gak mau lihat Nara salah paham lagi."


"Nara gak ikut, dia ke Malang. Nyokapnya masuk rumah sakit." Kata Hiko.


"Astaqfirullah, Mama sakit? Sakit apa? Trus keadaannya gimana, Mas?"


Hiko meletakkan sendok garpunya dan menatap Ruby, "Lo gak marah ke Nara setelah apa yang dia lakuin ke lo?"


Ruby mengernyitkan keningnya, menatap Hiko kebingungan. "Maksud, Mas?"

__ADS_1


"Nara udah nyiram lo di cafe waktu itu, kan?"


Ruby terkejut, "Apa Mas Genta yang memberitahumu, Mas?" Tanya Ruby, "Apa dia menceritakan sesuatu padamu?"


Kini Hiko yang mengernyitkan keningnya. "Apa yang kalian bicarain dibelakang gue?"


Ruby bersyukur ternyata Genta tak mengatakan apapun pada Hiko. "Kami tidak membicarakanmu. Tidak ada hubungannya denganmu."


Hiko masih menatap Ruby curiga.


"Jangan membahas ini, toh ini sudah berlalu lama." Pinta Ruby.


"Trus apa yang harus gue bahas sama lo?"


Ruby menggeleng, "tidak ada."


Ruby menyelesaikan suapan terakhirnya dan menghabiskan sisa air dalam gelas miliknya.


Hiko berdiri, mengambil piring dan gelas Ruby kemudian membawanya ke tempat cuci piring. "Gue yang cuci piring."


"Jangan, Mas. Biar aku aja!" cegah Ruby.


"Lo beres-beres meja makan aja!"


"Ini tugas wanita, Mas." Ruby berusaha mengambil piring dari tangan Hiko.


"Lo mau buat piring ini pecah?" tanya Hiko, "lagian gak ada yang bilang cowok gak boleh ngerjain ginian." Tegas Hiko.


Ruby melepaskan tangannya dari piring yang dibawa Hiko.


"Anak pintar." Hiko mengusap kepala Ruby yang berhijab instan itu.


Ruby hanya melirik sinis dan melepaskan tangan Hiko dari kepalanya.


"Beresini meja sana!"


Ruby mengangguk, ia pergi membereskan meja makan dan sisa lauk pauk disana dan memberikan piring kotor bekas lauk pauk ke Hiko.


Usai mencuci piring, Hiko menyalakan TV dan duduk di sofa depan TV, ia sibuk dengan ponselnya bukan malah melihat TV.


"Mas udah gak keluar lagi, kan?" tanya Ruby.


"Enggak," Jawab Hiko tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.


Ruby pergi ke depan, mengunci pagar dan pintu ruang tamu dan menutup gorden di ruang tamu. Tapi ia merasa kesusahan ketika ada kait gorden yang tersangkut. Ia mencoba melompat dan menarik agar kaitnya terlepas namun tidak juga terlepas. Sofa ruang tamu terlalu berat jika di geser untuk dijadikan pijakan.


Ruby masih berusaha, dan akhirnya ia menyerah. Sepertinya dia harus meminta bantuan Hiko untuk melepas kait yang tersangkut di tiang gorden.


Baru ia menoleh ke belakang, ternyata Hiko sudah berdiri disana dan langsung membetulkan kait gorden. Ruby merasa terhimpit diantara cendela dan tubuh Hiko.


"Kalo gak bisa itu bilang, minta tolong." Kata Hiko setelah membetulkan gordennya, Ia menunduk menatap Ruby.


Hiko menyandarkan satu tangannya di dinding, mengunci Ruby diatara dinding, cendela dan tubuhnya. Ruby terlihat gugup disana.


"Udah lama gue gak lihat wajah gugup ini." Kata Hiko


"Siapa yang gugup?" sergah Ruby.


Hiko mendekatkan wajahnya pada Ruby, "Jangan lakukan itu!" Ruby memalingkan wajahnya, " Aku tidak mau jadi wanita bodoh didepanmu, Mas. Aku tidak mau melakukan hal bodoh apapun itu denganmu." Lanjutnya.


Hiko mundur selangkah, melepaskan sandaran tangannya dadi dinding. "Pergilah istirahat, kita besok berangkat pagi." Kata Hiko.


Tanpa menjawab, Ruby meninggalkan Hiko. Hiko menatapi kepergian Ruby, sorot matanya seakan menunjukkan sebuah kesedihan, rasa penyesalan dan ..... kerinduan.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa sebelum lanjut wajib tinggalkan like dan comment ya kakak

__ADS_1


__ADS_2