
Sinar matahari sudah menyelip masuk dari balik cendela kamar hotel Ruby dan Tasya. Mereka sudah terlihat rapi dan bersiap dengan tas mereka untuk. keluar kamar. Diluar sudah ada Abriz dan Rangga yang sudah menunggu mereka.
"Mbak, Mas. Tunggu aku di lobby aja ya? Aku mau ke kamar mas Hiko dulu." Kata Ruby ketika mereka baru masuk ke dalam lift.
"Kak Hiko nginap disini juga, By?" Tanya Tasya.
Ruby mengangguk, ia menekan tombol panel angka lima di dinding lift. Hanya butuh beberapa detik dari saat pintu tertutup, lift sudah sampai di lantai lima. Ruby keluar dan menatap ketiga temannya.
"Aku cuma pamit aja. Tunggu dibawah, ya." Ucap Ruby.
"Oke." Jawab Tasya dan Rangga. Abriz hanya diam menatap Ruby dengan tatapan yang tidak rela.
Ruby segera berbalik dan melangkah mencari nomor kamar Hiko yang berada hampir di ujung ruangan. Ia langsung menekan tombol bel kamar Hiko.
Tak ada tanda-tanda pintu terbuka disana sehingga Ruby kembali menekan bel.
Hampir Ruby menekan bel untuk ketiga kalinya, tapi pintu kamar Hiko sudah terbuka. Hiko tampak lemas, bukan karena baru bangun tidur tapi lebih ke lemas yang pucat.
"Mas kenapa?" Tanya Ruby khawatir.
"Gue sakit, By." Jawab Hiko.
Ruby langsung masuk ke dalam kamar Hiko dan memegang leher dan kening Hiko dengan punggung tangannya.
"Astagfirullah, Mas." Ruby nampak kebingungan. Ia menatap jam di pergelangan tangannya.
"Temenin gue," Hiko menarik tangan Ruby, "lo tega lihat gue sakit disini sendirian? Gak ads temen, gak ada saudara?" Hiko memelas.
"Tapi kan aku sudah beli tiket, Mas." Ruby sendiri sebenarnya juga tidak tega.
Hiko melepaskan tangan Ruby, "Ya udah, balik aja sana. Biar gue sendiri disini." Hiko menuju tempat tidurnya dan meringkuk disana.
Ruby menghela nafas, "Aku beliin obat aja ya, Mas? Sama ku pesenin makanan buat kamu."
Hiko tak menjawab, membuat Ruby menghampiri Hiko.
"Aku balik ke Jakarta dulu ya, Mas. Nanti bakal ada yang kesini nganter obat dan sarapan buat kamu." Kata Ruby.
Hiko kesal tak mau menatap Ruby, tapi Ruby mengabaikannya begitu saja.
"Kamu baik-baik ya, Mas." Ucapnya. "Assalamu'alaikum ..." Hiko setengah beralari meninggalkan kamar Hiko.
"Sial! Bisa-bisanya dia mentingin kerjaan dan temen-temennya daripada gue suaminya sendiri." Umpat Hiko. "Gue juga sakit gara-gara dia, gak sadar diri banget."
Hiko bangun menendang kesal bedcover-nya, walau tubuhnya demam tak membuat tenaganya hilang. Ia hanya memanfaatkan keadaan untuk menahan Ruby agar tetap bersamanya.
Agak lama Hiko menunggu siapapun orang suruhan Ruby yang akan mengantar obat dan sarapan untuknya tapi tak kunjung datang. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi sendiri saja.
Ceklek!
Hiko tertegun ketika membuka pintu, ada Ruby disana yang tangannya baru saja akan menekan tombol bel kamarnya.
"Mas mau kemana?" Tanya Ruby.
"Lo kok disini lagi? Belum berangkat?" Hiko balik tanya.
"Aku ikut penerbangan nanti malam saja, Mas. Toh hari ini pak Heru mengijinkan kami untuk istirahat dulu." Jawab Ruby.
Hiko tersenyum tipis, rasa kesalnya hilang seketika.
"Mas mau kemana?" Ruby menanyakan pertanyaannya yang belum sempat terjawab.
"Mau nyari obat, pening kepala gue." Kata Hiko.
Ruby menyodorkan sebuah kantong plastik berisi sebuah obat, "Aku udah belikan, Mas. Tinggal tunggu sarapan kamu datang."
__ADS_1
Hiko mengangguk, "Ayo masuk." Ajak Hiko.
Ruby masuk ke kamar Hiko, belum sempat pintu tertutup seorang waiter sudah tiba dengan trolley makanan.
"Selamat pagi, saya mengantar pesanan untuk Tuan Hiko." Ucapnya.
"Silahkan masuk, Mas." Ruby kembali membuka pintu kamar lebar-lebar, membuat pelayan dengan mudah membawa masuk trolley makanannya.
Waiter meletakkan semua makanan pesanan Hiko di atas meja yang ada di tengah kamar Hiko.
"Jika sudah selesai bisa hubungi kami, selamat menikmati." Ucap Waiter, kemudian membawa trolley-nya keluar.
"Terimakasih." Ucap Ruby ketika menutup pintu kamar.
Ruby mengambil makanan dan menghampiri Hiko yang duduk di sofa panjang di dekat cendela balkon kamar hotel. "Makan dulu, Mas."
Hiko menerima piring yang ada ditangan Ruby, "Mau makan bareng?" Tanya Hiko.
"Aku puasa, Mas."
"Ooh ..." Hiko mengangguk, mengingat jika ini hari kamis.
Hiko segera melahap makanannya sedangkan Ruby menyiapkan obat yang harus diminum Hiko. Usai menyantap makanannya, Hiko segera meminum obat yang diberikan Ruby.
"Mas istirahat dulu, In Shaa Allah nanti kalau bangun sudah enakan." Ujar Ruby, ia mengambil gelas air putih dari tangan Hiko dan menumpuknya bersama dengan bekas piring makan Hiko tadi.
Hiko beranjak ke tempat tidur dan merebahkan diri disana. Sedangkan Ruby memilih untuk menyibukkan diri dengan komiknya.
Ruby membuka pintu balkon lebar-lebar, membiarkan kelambu putih tipis menari indah tertiup angin dari luar. Udara pagi masuk memberi kesegaran didalam kamar.
Ruby duduk di sofa panjang tempat Hiko makan tadi, dan mulai konsentrasi pada tablet-nya. Belum lama Ruby masuk ke dalam dunia imajinasinya, tiba-tiba saja Hiko bangun dan menghampirinya.
"Kenapa mas? Anginnya dingin, kah?" Tanya Ruby.
"Mas," Pekik Ruby tertahan melihat Hiko.
"Lanjutin aja kerjaan lo, gue mau tidur disini. Kalo lo capek bilang aja."
Tak ada jawaban dari Ruby, ia hanya terkejut dengan tingkah pria itu. Dan entah kenapa dia tak bisa menolaknya walau sebenarnya sangat canggung dan cukup membuatnya gugup.
Ruby berusaha menenangkan diri dengan kembali mengerjakan komiknya. Tapi itu tidak membantunya, ia tak bisa masuk dalam dunia imajinasinya. Paras tampan pria yang sedang tertidur dipangkuannya itu lebih bisa mengambil alih konsentrasinya.
Ia memperhatikan tiap detail wajah Hiko. Kali ini Ruby tak bisa mengelak dari ciptakan Allah yang berwujud manusia bernama Ibrahim Akihiko itu. Dia memang tampan, Batin Ruby.
Puk puk puk!
Ruby menepuk keningnya, Mikir apa kamu, By? Batinnya lagi. Ruby menyadarkan dirinya agar tidak terbuai dalam kenikmatan sesaat itu. Jangan mengaguminya, ini hanya wajah polosnya saja. Ingat, dia begitu menyebalkan ketika matanya sudah terbuka.
Melihat nafas Hiko yang mulai tenang, Ruby bisa menebak jika pria itu sudah terlelap. Ia tersenyum, tangannya menyentuh kening Hiko untuk memeriksa suhu badan Hiko. Sudah tak terlalu tinggi dibanding pertama kali ia memeriksanya tadi.
Jemari Ruby tergerak dengan sendirinya untuk mengusap rambut Hiko. Dia sendiri bingung kenapa terlalu berani melakukan hal itu, mengingat Hiko pria brengsek yang menghancurkan dunianya. Tapi hatinya yang mendorong jemarinya untuk menelusuri rambut Hiko, membelainya perlahan agar membuat pria itu lebih lelap dalam tidurnya.
**********
Suara adzan dzuhur menyadarkan Ruby dari alam bawah sadarnya, Ia mengerjapkan matanya dan melihat dirinya sudah berada ditempat tidur. Bisa-bisany ia tidur disituasi seperti tadi, dan pastilah Hiko yang memindahkannya ke tempat tidur. Ia bangun dan duduk, melihat Hiko yang baru keluar dari kamar mandi dengan sebuah bath robes di badannya.
"Udah bangun?" Tanya Hiko.
Ruby mengangguk, "Mas Udah enakan? Kok udah mandi?" Tanya Ruby.
Hiko mengangguk, "Bangun tidur udah enakan."
Ruby turun dari tempat tidur, ia mengambil tas jinjingnya dan mengeluarkan mukenah dan sajadahnya. "Aku mau sholat dulu, Mas." Kata Ruby kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Ketika Ruby keluar dari kamar mandi, ia mendapati Hiko sedang sibuk dengan ponselnya di sofa. Ruby mengacuhkannya dan menunaikan kewajibannya.
__ADS_1
"Iyaa, sayang. Sorry, gue bener-bener lagi nikmatin liburan sampai jarang pegang hape."
Sebuah kalimat dari mulut Hiko membuyarkan konsentrasi Ruby di ujung do'anya. Membuat Ruby menyudahi do'anya dan melepas mukenahnya. Sambil melipat mukenahnya, Ruby menatap Hiko yang tengah berbincang melepas rindu dengan kekasihnya.
Hiko merasa tak nyaman dengan tatapan Ruby, dia memilih untuk pergi ke balkon dan melanjutkan perbincangannya dengan Nara. Sedangkan Ruby memilih untuk mengalihakan perhatiannya, ia duduk disebuah meja rias dan menyisir rambut panjangnya sebelum ia menguncirnya. mengoleskan skincare diwajahnya, memakai bedak tipis dan lipstik warna nude di bibirnya.
"Mau kemana lo?" Tanya Hiko, ia sudah menyelesaikan perbincangannya dengan Nara.
"Mau jalan-jalan aja, Mas." Jawab Ruby sambil menyematkan jarum pentul dibawah dagunya untuk mengunci kerudungnya. "Mas udah gak apa kan aku tinggal?" Ruby menatap Hiko dari pantulan cermin didepannya.
"Lo marah?" Tanya Hiko.
Ruby tersenyum, "Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?" Tanya Ruby. Ia berdiri dan berbalik menatap Hiko. "Aku akan pergi jalan-jalan sebentar, sebelum ashar aku akan kembali." Kata Ruby.
"Lo marah karena gue telepon Nara, kan?"
Tebakan Hiko membuat tangannya yang sibuk mengemas tas ranselnya terhenti. Aku tidak sedang marah, hanya ... Dia sendiri bingung dengan keinginannya.
Ruby menatap Hiko dan tersenyum lagi, "Jangan menduga-duga perasaan orang, Mas." Ucapnya, Ia menggantungkan tali tas ranselnya dikedua bahunya. "Aku pergi dulu, mas. Assalamu'alaikum ..." Kata Ruby.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Hiko, sebenarnya ia tidak ingin Ruby pergi. Tapi ia juga tak bisa menahannya.
Ruby bergegas keluar kamar Hiko, entah ia mau kemana yang penting ia menghindar dari Hiko. Ia berdiri didepan pintu lift, agak lama menunggu hingga pintu lift terbuka. Ada dua orang pria asing disana, membuat Ruby mengurungkan niatnya untuk masuk dan mempersilahkan mereka untuk menutup pintu lift.
Ruby menunggu lagi dan akhirnya pintu lift terbuka, tak ada seorangpun disana. Ruby segera masuk.
Ia tertegun ketika pintu lift akan tertutup, seorang pria berpakaian serba hitam berlari kearahnya dan menyerobot masuk ke dalam lift hingga menabrak Ruby. Pria itu menahan tubuh Ruby dalam pelukannha agar wanita itu tak sampai terjatuh.
Nafasnya tersenggal-senggal bukti jika ia sedang terburu-buru mengejar seseorang.
"Mas Ngapain?" Tanya Ruby, ia membiarkan pintu lift tertutup sendiri.
Hiko menarik tubuhnya dari Ruby, ia memegang kedua bahu Ruby. "Gue gak akan mesra-mesraan sama Nara didepan lo lagi." Ucapnya.
Ruby terheran dengan kalimat Hiko, tapi kalimat terdengar sangat menyenangkan ditelinga Ruby.
"Aku tidak menyuruhmu melakukan itu, Mas? Itu hak kalian berdua."
Hiko menggeleng, "Gue yang janji ke, lo!"
Bagaimana bisa hanya dengan sebuah kalimat pendek itu membuat perasaan Ruby yang aneh tadi menghilang. Bibirnya merekahkan senyum begitu saja dan mendapatkan balasan senyum dari Hiko.
"Kita pergi sama-sama." Ajak Hiko.
Ruby mengangguk dengan senyuman yang masih merekah dibibirnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Sampai sini udah ada yang jatuh cinta sama Mas Hiko???
Jangan lupa like. comment. dan votenya ya kakak.
Alhamdullillah Aiko dapat kontrak dari pihak noveltoon, in shaa Allah aiko mau bikin giveaway untuk berbagi rezeki dengan para readers disini. Pantengin terus ya kakak..
Terimakasih dukungannya untuk aiko..
__ADS_1