Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
55


__ADS_3

Hiko dan Genta baru saja mengantar Nara pulang ke rumahnya. Kali ini giliran Hiko yang mengantar Genta.


"Lo marahan lagi sama Ruby?" Tanya Genta yang sudah menahan rasa penasarannya sedari tadi di lokasi shooting.


Hiko diam.


"Gara-gara cowok yang namanya Abriz itu?" Tanya Genta lagi.


"Gue gak ngerti deh cara pikir cewek itu gimana! Udah dibaikin, dikasih perhatian malah gue dicuekin! Sampe semalem gue nungguin dia ngerjain komiknya hampir satu jam, Ta. Dan gue ditinggal gitu aja, gue tanya baik-baik tapi gue malah dicuekin. Anj*ng emang tuh cewek." Umpat Hiko kesal.


"Lo yang nungguin dia gak ada satu jam aja kesal? Gimana dia yang udah nungguin lo dari sore?" Genta balik tanya.


Hiko menatap Genta, "Maksud lo?"


"Kemarin malam memang dia whatsapp gue, tanya lo dimana? udah jam tujuh lebih kok belum pulang. Ya gue jawab kita selesai sore, dan lo pergi ama Nara."


Hiko terdiam, ia seakan menemukan alasan kenapa Ruby mengacuhkannya semalam.


"Berhenti disini, Ta!" Kata Hiko


"Ngapain?" Genta menepikan mobil Hiko.


"Turun, Lo! Gue mau langsung balik." Hiko mendorong tubuh Genta.


"Lho. He! Rumah gue masih jauh banget, Ko!" Genta terpaksa turun dari mobil karena Hiko terus mendorongnya.


Tanpa keluar dari mobil, Hiko melangkah pindah ke kursi kemudi dan menutup pintu mobil. Ia melajukan mobilnya, meninggalkan Genta yang sedang mengumpat dan memaki-makinya.


Berulang kali ia melihat jam ditangannya, sudah hampir jam makan malam. Setidaknya ia ingin sampai dirumah sebelum Ruby membereskan makanan di meja makan.


Setelah menjadi manusia egois yang menganggap dirinya sebagai penguasa jalanan, akhirnya ia tiba dirumah. Ia berlari menuju ke meja makan, entah karena ia terlalu angkuh untuk mengucapkan kata maaf atas kesalahannya atau memang karena tak mau mengecewakan Ruby untuk kedua kalinya.


Ruby terkejut melihat Hiko yang menghampirinya dengan nafas tersenggal-senggal. Ia menuang air dalam gelas dan memberikannya pada Hiko.


Hiko duduk di kursi dan meminum air yang sudah diberikan Ruby padanya.


Tuk!


Hiko meletakkan gelas yang ia pegang dan membalikkan piring yang ada didepannya. Ia ingin mengambil nasi, tapi Ruby lebih dulu mengambil piringnya dan mengambilkan nasi untuknya.


"Udah, segitu." Ucap Hiko ketika melihat porsi nasi yang diambilkan Ruby, ia sudah makan sebelumnya bersama Nara dan Genta.


Ruby mengambilkan lauk pauk untuk Hiko dan memberikannya pada Hiko.


"Thanks." Canggung ia mengeluarkan kalimat itu.


Tak ada jawaban dari Ruby, wanita itu hanya duduk menikmati sisa makanannya.


Berulangkali Hiko mencuri pandang pada Ruby, ingin mengatakan apapun itu untuk mengambil alih suara dentingan sendok garpu yang mendominasi di meja makan.


Ruby lebih dulu selesai, ia meneguk air putih digelasnya kemudian meninggalkan meja makan. Hiko pun buru-buru menyelesaikan makannya dan membawa piring bekas makanannya ke tempat cuci piring.


Hiko berdiri tepat disamping Ruby yang sedang mencuci piring. Ruby mengulurkan tangan meminta piring yang sedang Hiko pegang, Hiko memberikannya pada Ruby.


Hiko masih berdiri diam disamping Ruby, tak berkata apapun, hanya diam menunggu.


"Apa yang mau mas katakan?" Tanya Ruby, ia menutup tuas kran untuk menghentikan aliran airnya.


Hiko menatap lurus ke dinding yang ada didepannya, ia sendiri bingung ingin mengatakan apa.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Hiko membuat Ruby meninggalkan Hiko dan membantu Bibi yang sudah mulai merapikan meja makan.


"Biar bibi saja, Non."


Ruby tersenyum, "Terimakasih bantuannya ya, Bi. Saya masuk ke kamar dulu."


"Baik, Non."


Ruby kembali kamar dengan Hiko yang masih membuntutinya. Ruby duduk di sofa yang sudah menjadi teritorinya di kamar itu, melepas jilbab instannya dan merapikan katan rambutnya.


"Apa yang membuat mas bersikap seperti itu?" Protes Ruby, ia sudah merasa tak nyaman dengan Hiko yang tak berhenti menatapnya.


Hiko memutar otak mencari alasan, tidak mungkin dia menurunkan harga dirinya untuk membahas kejadian semalam dan minta maaf pada Ruby.


"Tangan lo udah sembuh?"


"Seperti yang mas lihat." Ruby menunjukkan lengannya, memarnya sudah hampir memudar.


"Punggung lo?"


"Sudah lebih baik dari kemarin." Jawab Ruby, Ia pindah ke meja kerja Hiko untuk melanjutkan komiknya.


Hiko merasa kesal pada dirinya sendiri, memiliki rasa bersalah membuat harga dirinya seperti terinjak-ijak. Ini hal baru baginya, dia tak pernah diacuhkan seperti ini oleh wanita manapun. Tapi kali ini dia mati gaya, bingung harus berbuat apa hanya untuk membuat Ruby menegurnya. Lebih baik mendegarkan ucapannya yang pedas itu daripada didiamkan seperti ini! Batin Hiko.


Hiko melepas jaketnya, meleparkan asal di atas sofa. Tapi matanya terhenti di sebuah paperbag bargambar sebuah logo salah satu brand pakaian terkenal.


"Jadi lo beliin cowok itu baju?" Tanya Hiko.


"Ya." Jawab Ruby singkat.


"Lo suka sama cowok itu?"


Hiko diam menatap Ruby, entah kenapa ia merasa mendapat kiriman amarah dari raja neraka yang langsung mengisi benaknya. Entah karena jawaban Ruby yang tak mengenakkan atau karena sesuatu hal yang lainnya. Ia meninggalkan Ruby dengan kesal dan masuk ke kamar mandi.


BRAK!


Hiko menutup keras pintu kamar mandi hingga membuat Ruby terkejut, namun sebisa mungkin Ruby mengacuhkan pria itu.


**********


Pagi ini Ruby menitipkan paperbag yang berisi setelan jas untuk Abriz di meja resepsionis kantornya. Tak mungkin ia memberikannya pada Abriz didepan teman-temannya.


Seperti halnya kemarin, hari ini pun Ruby menjadi tangan kanan Abriz. Membantunya untuk melakukan apapun.


"By!"


Sebuah panggilan keluar dari cendela ruang animator membuat seisi ruangan menatap sumber suara itu. Heru berdiri dari luar cendela, ia memberi isyarat Ruby untuk menemuinya.


Ruby mengangguk dan keluar ruangan menemui Heru. "Ya, Pak?" Tanya Ruby.


"Udah dapat info tentang komikusnya Go Hanae?" Tanya Heru.


"Saya cuma dapat akun Instagramnya, pak. Dan itupun di private. Udah follow, tapi belum follback. Jadi saya gak bisa kirim De Em ke dia."


"Aku berteman dengannya loh." Tiba-tiba saja Abriz dibalik cendela.


"Beneran, Briz? Sini lo!"


Abriz bergegas keluar ruangan dan menghampiri Heru.

__ADS_1


"Beneran lo udah berteman dengan dia?" Tanya Heru.


Abriz membuka akun instagramnya dan menunjukkan pada Heru, "Udah temenan kaan. Dia kayanya suka sama komikki deh, makanya langsung di follback."


"Kalo gitu, kalian ke studio alam gih! kasih tau bu Rika. Kasih tahu informasi ini." Kata Heru.


"Jauuuuh, naik apa kak kesana?" Keluh Abriz.


"Bawa mobil gue." Heru memberikan kunci mobilnya.


Abriz menunjukkan tangannya yang masih di gips pada Heru.


"Ruby?"


"Saya naik sepedah aja masih oleng, Pak." Jawab Ruby.


"Ya sudah, pake Sopir kantor aja. Kalian turun aja kebawah, gue hubungin Eko dari sini."


"Oke! Ambil tas dulu, By. Jangan lupa kirim ke Ana file yang udah kamu buat." Kata Abriz sambil mengajak Ruby kembali ke dalam ruangan.


Abriz dan Ruby kembali ke dalam ruangan, memberikan file yang sudah mereka kerjakan ke penanggung jawab film. Setelah mendapat persetujuan, mereka meninghalkan ruangan dan menghampiri Eko yang sudah menunggu mereka di lantai satu.


Diantar Eko, mereka menuju ke studio alam yang letaknya lumayan jauh dari kantor Inwork Studio. Mereka tiba disana tepat setelah Adzan Ashar. Abriz dan Ruby memilih untuk menunaikan kewajibannya terlebih dahulu barulah kemudian mereka menuju ke lokasi shooting dimana Rika biasa berada.


"Nama pena mas Abriz apa sih?" Tanya Ruby yang mulai penasaran dengan komik bikinan Abriz.


Abriz mengambil ponselnya dan membuka akun platformnya, "Abriz imoetz zeckaly!"


Ruby menatap Abriz, "Haahahaahaha!" Ia menutup mulutnya, tak bisa menahan tawa melihat nama pena Abriz. "Ih, geli kali mas nama pena kamu!"


"Eh, ini nama keberuntungan tahu!"


"Ih. tapi geli banget mas. Ih gak kebayang banget!" Ruby bergidik sambil masih menahan tawa.


Tanpa Ruby sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikan langkahnya bersama Abriz. Mata itu seakan tidak suka melihat Ruby yang sedang tertawa bersama dengan Abriz.


-Bersambung-


.


.


.


.


.Terimaksih sudah membaca


Siapa Hikomania?


Siapa Abrizmania?


Aikomania..... MANTAB!


Hahahaha.


.


Jangan lupa pencet tombol like, tinggalkan komentar dan kasih vote untuk novel ini ya kakak...

__ADS_1


__ADS_2