Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
82


__ADS_3

Cahaya matahari yang menyelip dari balik dedaunan pohon kelapa membuat Ruby ingin sekali memejamkan matanya. Bunyi gesekan dari daun-daun seakan menjadi musik pengantar tidur yang akan menenangkan tidurnya. Hanya dengan mendengar kalimat Hiko kemarin malam saja bisa membuat terjaga semalam. Was-was, malu, takut, waspada, resah, kasihan, bahkan 'ingin mencoba' jadi satu dibenaknya.


Ruby mengerjapkan matanya, ingin segera kembali ke kamarnya. Ia tak mempedulikan riuh semua teman-teman artis dan kru Star House yang bergantian masuk kedalam bus untuk kembali pulang ke Jakarta siang ini.


Walaupun Ruby dan Hiko tidak ikut pulang bersama yang lainnya, mereka tetap turun ke bawah untuk mengantar kepergian rekan-rekannya.


"Gue balik dulu ya!" Pamit Genta, "Kalian bulan madu berdua deh." Ucapnya sebelum benar-benar masuk bus.


"Gue bikinin lo ponakan selusin!" Sahut Hiko.


Genta tertawa dan melambaikan tangan kemudian masuk ke dalam bus. Ia menjadi orang terakhir yang masuk ke dalam bus.


Keadaan Loby hotel terlihat sepi ketika bus rombongan dari Star House itu sudah pergi. Hanya tinggal Abriz dan Bagus yang mereka kenal dan mereka tidak pergi.


"Kamu gak ikut balik, By?" Tanya Abriz.


Ruby menggeleng, "Masih mau disini dulu, Mas. Aku dapat cuti seminggu dari pak Heru." Jawabnya.


Abriz memandang Hiko dengan tatapan tidak menyenangkan, Hiko tak terima dan menatap Abriz tak kalah menjengkelkan.


Melihat itu, Ruby langsung mengambil sikap. "Kita balik ke kamar saja, Mas." Ajak Ruby.


"Iya, sayang. Kamu pasti pengen bobok, semalam kamu kan gak bisa tidur." Hiko melirik sinis pada Abriz.


Ruby memberi pukulan kecil di lengan Hiko, ia menatap Abriz yang terbelalak dengan ucapan Hiko.


"Kami permisi ke kamar dulu, ya?" pamit Ruby.


"Iya. Kami juga akan segera kembali ke Jakarta." Kata Bagus.


"Oya? Bagus banget! Buruan pergi deh, lo!" Hiko semangat mengusir.


Ruby pergi mendorong Hiko meninggalkan Abriz dan Loby kemudian kembali ke kamarnya.


"Mas kenapa bilang seperti itu sih? kan bikin orang lain mikir kita habis ngapa-ngapain?" protes Ruby ketika sampai dikamar.


"Kenapa emang? Kita kan pasangan sah di mata hukum dan Agama, kenapa harus bingung orang lain mikir apa? Wajar kan kalau kita ngapa-ngapain. Itu juga ibadah." Sahut Hiko.


Ruby hanya menghela nafas, ia duduk ditepian tempat tidur.


"Atau kamu lagi mikirin perasaan cowok itu?" tanya Hiko curiga


Ruby menggeleng, "Enggak, Mas."


Hiko mengambil kursi dan duduk didepan Ruby, "Aku bukan laki-laki yang pandai menutuli kecemburuanku, By!"


Ruby menatap Hiko.


"Mungkin aku akan menjadi pria egois jika menyangkut dirimu." kata Hiko lagi.


"Mas Abriz hanya rekan kerja bagiku, Mas." Jelas Ruby.


"Dia menganggapmu lebih dari itu."


"Bagaimana bisa aku mengatur perasaan orang, Mas."


"Biar aku saja yang luruskan masalah ini dengannya!" Hiko beranjak pergi.


"Mas!" Ruby menghadang langkah Hiko, "Mau kemana?" tanya Ruby.


"Aku mau dia menyudahi perasaannya padamu!"


"Aku gak akan biarin kamu buat kekacauan disini, Mas." Ujar Ruby.


"Tapi aku ..."


Ruby memeluk Hiko dengan cepat hingga membuat Hiko terperangah.


"By, aku gak tahu jika cara seperti ini bisa membuatku tak berkutik." Kata Hiko, ia membalas pelukan Ruby lebih erat.


"Jangan membuat masalah dengan orang lain, Mas." Pinta Ruby.


Hiko mengangguk, "untuk saat ini aku membiarkannya."


Ruby mendongakkan kepalanya menatap Hiko tak menyetujui pendapatnya. Ia melepaskan pelukannya dari Hiko.


"Sudahlah, pergi sana. Terserah kalian mau ngapain, aku mau tidur aja." Ucap Ruby kesal, ia kembali ke tempat tidur.


Hiko terkekeh dan mengikuti Ruby. "Kamu gak mau sarapan dulu?" Tanya Hiko.


Ruby menggeleng, "Mas mau ku temenin sarapan?" tanya Ruby.


Hiko menggeleng, "Kamu tidur aja, aku hubungi room service aja."


Ruby mengangguk, "Aku tidur bentar ya, Mas."


Hiko mengangguk, memberikan kecupan kecil di kening Ruby. "Maaf ya bikin kamu gak bisa tidur semalam."


Ruby mayun, tapi ia menganggukkan kepalanya.


"Mau ku temenin?" goda Hiko.

__ADS_1


Ruby menggeleng cepat, "Gak usah, makasih!"


Hiko tersenyum, "Aku keluar bentar, ya. Kamu tidur aja." ia mengusap ujung kepala Ruby kemudian pergi.


"Mas jangan cari masalah loh, ya!" Ruby mengingatkan Hiko sebelum pria itu menghilang dibalik pintu.


"Iya, sayang ..." Jawab Hiko kemudian ia menutup pintu.


Mendengar Hiko memanggilnya dengan sebutan 'sayang' membuat Ruby merinding geli, tapi cukup juga membuat ia tersipu malu.


**********


Hiko pergi ke sekitar kolam renang hotel, ia sibuk membaca pesan whatsapp dari Nara yang sudah menumpuk. Dari sana ia bisa tahu bagaimana kondisi Nara dan Mamanya di Malang. Hiko akhirnya menghubungi Nara untuk berbicara lebih jelas.


"Sorry, Ra. Acara disini padet banget, gue baru bisa santai sekarang." Hiko membuka pembicaraan dengan sebuah kebohongan.


"Kamu bikin aku khawatir, Ko! Aku udah mikir macam-macam! Kak Genta juga gak sekalipun jawab panggilan teleponku. Kalian sengaja ngehindari aku?" Ruby langsung mencecar Hiko dengan apa yang ia rasakan. "Kamu gak lagi sibuk berdua dengan Ruby, kan?"


"Enggak, gue sama yang lainnya." Jawab Hiko.


"Kapan kamu balik? Aku mau kamu jemput aku ke Malang, Mama juga ingin bicara denganmu."


"Aku masih tiga hari lagi disini." Jawab Hiko.


"Kamu mau kan ke Malang dulu temui Mamaku?"


"Iya, nanti aku ke Malang. Ada yang harus ku bicarakan juga denganmu."


"Oya? tentang apa?"


"Nanti sajalah ..."


"Iya, deh. Kamu lagi apa sekarang?"


"Lagi sendirian di deket kolam renang." Jawab Hiko singkat, "Ra ..."


"Ya, sayang?"


"Maafin gue ya selama ini ngelakuin hal buruk ke lo."


"Hah? kamu kenapa sih? kok tiba-tiba bilang gini?"


"Gue sadar aja, cara gue memperlakukan lo gak baik, gue salah lakuin itu."


"Kamu aneh deh, sayang."


Hiko tersenyum masam, "Aku tutup dulu ya, ada yang manggil aku."


Hiko menutup telponnya. Tak ada yang berbeda dengan perasaannya pada Nara, datar-datar aja. Bukan karena sekarang ada Ruby sehingga perasaannya pada Nara berubah, tapi memang hanya begini saja yang ia rasakan dari dulu, datar. Jika ditelisik kebelakang, sepertinya ia tak pernah mencari Nara kecuali dalam hal 'kepuasan' saja.


Huh!


Kenapa baru sekarang dia menyadari? Seakan sedang mencari pembenaran untuk bisa mempertahankan Ruby disampingnya?


Hiko memasukkan ponselnya ke dalam kantong, ia merebahkan diri di kursi kolam renang, menikmati langit yang tak terlalu terik karena banyak awan mendung disana.


*********


Walau cuaca terlihat tak bersahabat, sore ini Hiko tetap mengajak Ruby untuk jalan-jalan di sekitar hotel, menghabiskan waktu berdua bersama. Makan jajanan tepi jalan, mampir ke sebuah pasar seni, dan mengakhiri perjalanan mereka di sebuah pantai untuk menikmati matahari tenggelam.


Ruby bersandar manja di bahu Hiko, jemari tangan mereka saling bertautan satu sama lain. Keduanya diam, sibuk menjadi saksi datangnya sang malam.


"Lihat senja ini aku jadi kepikiran kamu, By." kata Hiko


"Kenapa, Mas?"


"Aku takut kamu seperti senja. Indah tapi hanya sebentar berada di langit kemudian pergi gitu aja."


Ruby menarik kepalanya dari bahu Hiko, ia menatap Hiko yang menatap kosong ke depan. "Cobalah untuk menyerahkan semuanya pada Allah, Mas. Aku juga sedang berusaha berpasrah pada-Nya. Aku tahu rencana-Nya lebih indah dari sekedar bayanganku."


Hiko hanya menatap Ruby kemudian memeluknya.


"Jangan pernah bicarakan ini lagi, Mas. Kita nikmati saja waktu yang ada." Ucap Ruby.


"Iyaaa iyaaa ..." Jawab Hiko, "Kenapa gue jadi baperan gini sih! Bukan gue banget!" gumamnya.


Ruby hanya tertawa kecil.


"Kamu mau jalan-jalan kemana malam ini?" Tanya Hiko.


Ruby menggeleng, "Entahlah, Mas."


"Yaudah, dikamar aja bikin baby ya?"


"Hah!! Apa!!" Ruby mendorong Hiko karena terkejut dengan ucapan Hiko.


"Bercanda bercanda ... Jangan kesel gitu dong." Hiko mencubit kedua pipi Ruby. "Tapi serius juga sih."


"Iiiiiiih..." Ruby mencubit Hiko sekencang mungkin.


"Ya Allah, By! Saaakiittt!" Pekik Hiko.

__ADS_1


"Biarin!" Ucap Ruby kesal, ia berdiri mengibaskan rok gamisnya untuk melepaskan pasir-pasir yang menempel disana. "Ayo sholat dulu, Mas. Biar pikiranmu gak kemana-mana."


"Kemana-mana gimana, By?"


"Udah, ayoook!" Ruby menarik Hiko untuk berdiri.


Hiko berdiri sambil tertawa, ia membersihkan butiran pasir di celananya kemudian merangkul Ruby dan berjalan kembali masuk ke wilayah hotel.


Mereka langsung berganti pakaian kemudian melaksanakan sholat magrib bersama di kamar hotel.


Sudah dua hari ini, Ruby mempunyai dua waktu yang sangat ditunggu-tunggu. Usai sholat subuh dan usai sholat magrib, saat itulah ia bisa mendengarkan Hiko melantunan ayat suci Al-Qur'an dengan cara yang indah.


Ruby menyimak dengan baik tiap-tiap ayat, matanya tak bisa berhenti memancarkan kekagumannya pada pria didepannya itu. Pria menyebalkan yang selalu memberinya kejutan-kejutan dari kehidupannya yang membuat Ruby bangga.


"Shodaqallahul'adzim."


Hiko menghentikan bacaannya ketika adzan isya' berkumandang. Ruby mengambil Qur'an dari tangan Hiko dan meletakkannya di meja. Mereka berdua diam mendengarkan adzan, mencari keberkahan disana. Barulah mereka melaksanakan sholat sesaat setelah adzan berhenti berkumandang.


Usai sholat isya', seorang pelayan hotel datang membawa makanan pesanan Hiko untuk makan malam mereka. Setelah makan malam, mereka memutuskan untuk menghabiskan malam dengan menonton film dikamar mereka.


Hiko sudah duduk bersandar di headboard tempat tidur, tumpukan bantal juga ada disana memberikan posisi nyaman. Ruby sudah bersandar di dada Hiko dengan memainkan tangan Hiko yang sedang memeluknya.


Keduanya fokus pada film bergenre komedi. Iya, mereka sudah berdebat cukup lama siang tadi untuk menentukan film apa yang akan mereka tonton. Hiko memilih horor, tapi Ruby tidak suka. Ruby memilih action, Hiko yang tak suka. Film romantis, hanya akan membuat mereka mual, karena kisah romantis dalam film hanya bualan menurut mereka. Jadilah mereka memilih genre komedi.


Hiko dan Ruby tak henti-hentinya tertawa hingga keluar airmata.


"Addduuuduuh." Keluh Hiko yang berulang kali menjadi korban kegemasan Ruby ketika tertawa.


"Kenapa sih cewek kalo ketawa mesti pake mukul, cubit!" protes Hiko.


"Hehe, maaf maaf, Mas. Kebiasaan." Ucapnya sambil mengusap pipi Hiko.


"Udah sini tangannya, biar ku jaga!" Hiko menarik Ruby, membawa tubuh Ruby kedepannya kemudian memeluk Ruby dari belakang sambil memegangi kedua pergelangan tangan Ruby.


Hiko menyandarkan kepalanya di bahu Ruby, rambut panjang Ruby yang sedang tergelung itu membuat pipi Hiko menempel sempurna di leher Ruby. Memberikan sebuah desiran aneh disekujur tubuh Ruby. Ruby diam tak berkutik, ia tidak bisa menikmati filmnya didepannya lagi.


"Kenapa? Kok lupa nafas gini?" Tanya Hiko, dia sedang pura-pura bodoh.


Ruby menggeleng.


Hiko diam tak bertanya lagi dan menatap layar televisi.


Tak ada lagi suara tawa disana walau film sedang menyajikan komedi yang sangat menggelitik.


"Mas ..." Panggil Ruby.


"Hmm?"


"Apa kamu sedang menginginkannya?"


"Aku harus menjawab apa untuk pertanyaan ini?" Hiko memandang Ruby dan balik bertanya.


Ruby diam sejenak.


"Aku mau mencobanya." Kata Ruby, "Bagaimanapun juga kamu tetap suamiku yang sah."


Hiko terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Senang? Tidak terlalu. Gugup? Iya!


Jawaban Ruby membuatnya sangat gugup, seakan ia baru pertama kali menjamah wanita.


Hiko membalikkan tubuh Ruby, "Kamu serius, By?" Tanya Hiko.


Ruby mengangguk, "Aku akan mencobanya."


"Kamu membuatku gugup, By." Kata Hiko


Ruby menelan ludah, matanya menatap kearah lain. "Sebenarnya aku juga sangat gugup, Mas." Ujarnya, "Mungkin lain waktu saja."


"Jangan!" Sergah Hiko, membuat Ruby menatapnya.


Hiko mengambil remot dan mematikan TV didepannya kemudian kembali menatap Ruby. Kedua tangannya menempel lembut di pipi hingga tengkuk Ruby. Bibirnya mulai mengecup kening Ruby, ke hidung, kedua pipi hingga berakhir di bibir Ruby.


Ruby memejamkan matanya menikmati tiap kecupan lembut dari bibir Hiko. Beberapa kali berciuman dengan Hiko membuatnya kini bisa menyeimbangi ciuman pria itu. Tangannya erat mencengkram ujung piyamanya. Ia mengambil nafas sejenak ketika Hiko melepaskan ciumannya.


Hiko tersenyum, "Kamu mulai pandai." kata Hiko.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, comment dan vote ya kakak.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2