Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
65


__ADS_3

Ruby sudah menghilang dibalik pintu security check beberapa waktu lalu, tapi Hiko masih tetap berdiri di pagar pembatas pengunjung. Entah apa yang ia tunggu, atau ia sedang mengharapkan Ruby kembali dan membatalkan keberangkatannya?


Setelah menyadari kehadirannya menyita perhatian banyak orang, Hiko akhirnya memilih untuk pergi. Ia tak mau mencari masalah dengan beberapa fans yang kadang terlalu agresif, mengingat ia tak bisa menghubungi siapapun untuk dimintai bantuan karena ia tidak membawa ponsel.


Hiko tiba di kembali di rumah sebelum sinar mentari muncul. Dan dia merasa aneh tiba dirumahnya sendiri. Dia sudah terlalu sering sendiri di rumah ini, tapi kali ini ia merasa berbeda, begitu asing dan sunyi. Ia pergi ke kemarnya, mengambil ponselnya dan pergi ke kamar Ruby.


"Gak tahu kenpa gue suka banget wangi ini." Hiko merebahkan badannya diatas tempat tidur Ruby.


Harum dari sabun dan shampo Ruby di tempat tidur itu membuai Hiko, membawanya masuk ke dalam fantasi liarnya.


"B*ngs*t!!" Umpatnya menyadari pikirannya yang mulai liar, ia memukul kepalanya sendiri. "Bisa-bisanya gue mikir gituan sama dia!"


Hiko bangun dan meninggalkan tempat tidur Ruby, ia beralih pindah ke meja kerja Ruby dan duduk di kursinya. Ada beberapa bingkai foto disana. Foto Ruby ketika usianya masih sekitar sepuluh tahunan, foto Ruby dan Nara yang mengenakan seragam putih abu-abu dan juga foto Abi dan Uminya.


Hiko mengambil bingkai foto dimana ada Ruby dan Nara disana.


"Nara!"


Memorinya kembali pada beberapa tahun lalu, malam dimana ia menemukan gadis itu berjalan sendiri dibawah rintikan air hujan. Ia berniat menolongnya, oh, tidak tidak. Niat awalnya bukan hanya sekedar menolong gadis itu, tentu saja ada niat terselubung. Namun niat kotornya itu hilang ketika melihat wajah gadis itu penuh memar dengan sebuah darah segar di sudut bibirnya.


Bujukan Hiko akhirnya membuat Nara menerima bantuan dari Hiko. Kisah Nara yang selalu jadi sasaran kemarahan papanya membuat Hiko Iba, dari sanalah Nara mendapat pekerjaan sebagai asisten Genta. Lambat laun rasa Iba Hiko berubah menjadi rasa cinta dan rasa ingin memiliki. Dan Akhirnya mereka berada di titik ini sekarang, dalam sebuah hubungan yang rumit.


Hiko beralih menatap wajah Ruby, gadis berkerudung putih itu tersenyum sangat ceria. Dari sana Hiko bisa menebak sesempurna apa dunia gadis itu.


Tak pernah sekalipun Hiko melihat Ruby tersenyum atau tertawa lepas, kecuali beberapa waktu lalu ketika Ruby tertawa riang didepan Abriz.


"Anj*ng! Keingat tu cowok!" Umpatnya. "Lagian ngapain gue makin lama makin kesel keinget wajah tuh cowok?"


Hiko membuka ponselnya dan menelpon Genta.


"Ta! Bangun woi!" Teriaknya ketika sambungan teleponnya sudah terhubung.


"Buset! Jam berapa nih lo udah bangun? Semangat gitu pula?"


"Gue mau liburan ke Jogja, Ta!"


"Oooh, tidur lagi aja, Ko. Lo kalo bangun kepagian jadi kek gini."


"Gue serius, *****!"


tut tut tut tut.


"Brengsek nih, Anj*ng! Di matiin!" Umpat Hiko. Dia meletakkan ponselnya diatas meja dan merebahkan kepalanya diatas meja.


Udara dingin membuat rasa kantuk mulai menyambangi mata Hiko, memaksa mata itu untuk terpejam walau pemiliknya masih ingin menatap wajah yang ada dalam bingkai foto ditangannya.


Lama Hiko terlelap, Mentari sudah muncul dari ufuk timur. Genta menghentikan mobilnya disisi jalan yang lain karena mobil Hiko terparkir didepan halaman rumahnya.


"Kok mobilnya di luar, Bi?" Tanya Genta pada Inah yang sedang menyapu taman rumah Hiko.


"Saya datang sudah di luar, Den." Jawab Inah.


Genta hanya mengangguk kemudian mencari Hiko dikamarnya, tapi malah melihat kamar Ruby yang terbuka dan terlihat Hiko disana. Ia pergi menghampiri kamar Ruby, tidak ada sang pemilik kamar disana sehingga ia berani masuk.


"Ko! Bangun! Hei!"


Genta menggoyangkan bahu Hiko yang tertidur di meja kerja Ruby.


Hiko membuka mata perlahan, Ia memicingkan matanya untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke dalam retina matanya.


"Ngapain lo tidur disini?" Tanya Genta.


Hiko menarik badannya dari meja lalu menarik kedua tangannya keatas. "Ta, Gue mau ke Jogja!"


PLAK!


"B*ngs*t! Sakit, Anj*ng!" Teriak Hiko ketika sebuah tepukan keras dari telapak tangan Genta mendarat di kening Hiko.


"Biar sadar lo! Lo punya jadwal shooting berapa hari ini? Ntar aja, The King kan habis ini selesai, film lo juga bakal kelar bulan depan. Lo ambil liburan lah bentar, kita istirahat dulu gak ambil apa-apa." Ujar Hiko.


"Tapi gue maunya sekarang, Ta!"


"Mending lo pergi mandi." Genta keluar meninggalkan Hiko.


Dengan kesal Hiko beranjak dari kursi dan menuruti kemauan Genta.


Genta sendiri terheran-heran, tidak biasanya Hiko meminta untuk liburan. Dan anehnya, kenapa dia bisa tertidur di kamar Ruby.


***********


Seharian bekerja, membuat Genta penasaran dengan Hiko yang lebih banyak diam, matanya selalu menatap ponselnya.


"Dia kenapa?" Tanya Harjito, sutradara The King. "Gak biasanya acting-nya berantakan gini?"

__ADS_1


"Sedari pagi udah rada-rada ..." Genta menggidikkan bahunya.


"Kurang jatah dari istrinya kali." God Harjito sambil berlalu.


Genta hanya tertawa sambil menghampiri Hiko dan Nara. Terlihat Nara juga kesal dengan sikap Hiko.


Kenapa sih dia? Tanya Nara lewat sorot matanya.


Genta menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya.


"Lo Ngapain sih!" Sentak Genta, membuat Hiko hampir menjatuhkan ponselnya.


"Brengsek lo, Ta! Ngagetin aja. Udah sana-sana, jangan ganggu gue." Hiko memutuskan untuk pergi dari Genta dan Nara.


"Kenapa sih dia, Kak?" Tanya Nara


"Ngelindur kayanya, dia. Dari tadi subuh telpon gue cuma mau liburan ke Jogja. Gila gak tuh bocah. Padet-padetnya jadwal shooting gini ngajak liburan." Jawab Genta.


"Jogja? Tumbenan dia mau liburan? Biasanya paling males diajak liburan." Nara terheran-heran.


"Entah!" Lagi-lagi Genta mengangkat bahu. "Lo balik dulu aja, Ra. Dia bakal pulang malem, ngulang scene yang kacau."


"Aku nunggu kalian ajalah, Kak." Tolak Nara.


Genta menggeleng, "Pulang pulang pulang." Usir Genta. Sengaja ia memaksa Nara pulang sebab ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Hiko.


Nara berdiri dan mengambil tasnya, "Aku pamit ke Hiko dulu ya Kak."


"Gue juga mau samperin dia." kata Genta.


Mereka pun pergi menghampiri Hiko yang sedang menyendiri di mobil.


"Sayang, aku balik dulu, ya." Pamit Nara.


"Kita barengan aja, bentar lagi gue pulang." Kata Hiko.


"Pulang pala lo!" Sahut Genta, "Lo masih ngulang banyak scene yang gak beres itu!"


"Duh, gue gak mood banget, Ta. Balik aja lah, lo bilang besok aja." Bujuk Hiko.


"Lo kira gue yang punya PH? Seenak Jidat lo aja minta macem-macem. Makanya fokus!"


Hiko menatap malas Genta.


"Gak gak, lo pulang aja, Ra." Tolak Genta, keukeh ingin mengusir Nara.


Hiko mengangguk pada Nara, menyuruh wanita itu untuk mengikuti kemauan Genta.


"Aku balik, ya?" Nara melambaikan tangan pada Hiko dan Genta.


"Oke, ati-ati." Balas Genta.


Melihat Nara sudah menjauh. Genta pun menarik Hiko keluar mobil dan duduk diatas kap mesin mobil.


"Lo kenapa? Baru kali ini gue lihat lo gak profesional banget. Tengkar lagi sama Ruby?" Tanya Genta, kali ini lebih serius dari pertanyaan yang sebelum-sebelumnya.


"Telponin dia, Ta." Pinta Hiko malas.


"Lo kan udah punya nomer dia, Ko. Telpon sendiri napa?"


"Males."


Genta semakin geram melihat tingkah Hiko yang semakin tidak masuk akal itu. Ia mengeluarkan ponselnya. "Lo mau gue tanya apa ke Ruby?" Tanya Genta.


Hiko menatap Genta, "Gak tau juga."


"Astagaa, Ko! Ketempelan jin apalagi sekarang?"


"Dia ke Jogja, ada tugas kesana dua hari." Ujar Hiko tiba-tiba.


"Jadi itu alasan lo pengen pergi ke Jogja?"


Hiko menatap Genta sinis, "Gue emang pengen liburan kesana, *****!"


Genta hanya mencebikkan bibirnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan melakukan sebuah panggilan keluar.


"Assalamu'alaikum, By!"


Sapaan Genta membuat Hiko terkejut dan menatapnya. "Mau apa lo?" Bisiknya dengan mata melotot.


"Hiko nyuruh gue nanyain lo. lagi ngapain? Udah makan belom? Sehat kan?"


"B*ngs*t lo, Ta!" Hiko meraih ponsel Genta dan memutuskan sambungan telponnya.

__ADS_1


"Anj*ng!" Hiko mendorong tubuh Genta hingga terjatuh, "B*ngs*t, Lo!"


Dengan marah ia melempar ponsel Genta tepat di tubuh Genta kemudian kembali masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobil dan meninggalkan genta.


**********


Sementara itu di sebuah kamar hotel tempat Ruby dan Tasya menginap, seorang gadis berkerudung yang baru meletakkan tasnya diatas tempat tidur itu terlihat keheranan dengan terus memandang ponselnya.


"Kenapa, By?" Tanya Tasya.


"Aneh banget Mas Genta ini, Mbak." Jawab Ruby, "Tanya belum dijawab udah dimatiin."


"Telpon balik aja, By."


Ruby menggeleng, "Enggak lah, mbak. Yang sebenarnya mau telepon juga bukan mas Genta, tapi orang lain."


Tasya terlihat bingung dan Ruby hanya tersenyum.


"Malam nanti jalan-jalan bentar yuk, By." Ajak Tasya


"Kemana, Kak?" Tanya Ruby.


"Udah, aku tahu tempat asyik disini." kata Tasya.


Ruby mengangguk saja.


Tasya dan Ruby memilih untuk beristirahat sejenak. Mulai dari jam tiga pagi hingga hampir menjelang magrib, mereka sama sekali belum merebahkan badan. Kini mereka puas-puaskan dulu untuk mengistirahatkan punggung mereka.


Usai Sholat Isya', Ruby dan Tasya keluar kamar untuk menikmati malam di Kota Gudeg tersebut. Mendapat hotel yang berada di tengah kota memudahkan Tasya dan Ruby untuk berkunjung ke tempat-tempat yang asyik.


Lama berjalan-jalan di sekitaran Malioboro, sebuah Cafe menjadi tempat terakhir Ruby dan Tasya melepas lelah sebelum mereka menutup aktifitas hari ini.


"Duduk dimana, Mbak?" Tanya seorang kasir cafe.


"Di teras atas atas masih ada yang kosong?" Tasya balik tanya


"Ada, Mbak."


"Oke. Diatas aja, Mbak."


"Baik, ditunggu ya, Mbak."


"Ayo, By. Di atas View-nya bagus." Ajak Tasya.


Ruby mengangguk saja mengikuti Tasya. Tak di duga, mereka bertemu dengan Abriz dan Rangga disana. Tasya memutuskan untuk bergabung di meja yang sama dengan Abriz dan Rangga.


Tasya menarik Ruby menghampiri meja bulat tempat Abriz dan Rangga duduk.


"Kalian leluar kol gak ajak-ajak?" Protes Tasya, ia duduk di satu kursi kosong.


"Takut Ruby gak mau keluar malam, Sya." Jawab Rangga. "Secara dia kan anak pesantren."


Ruby tersenyum dan duduk di kursi kosong, membuat empat kursi diantara meja bulat itu terisi penuh.


"Anak pesantren juga manusia biasa, Mas. Yang pengen juga tahu kehidupan diluar." Ujar Ruby.


"Kalo kamu mau jalan-jalan, aku siap kok By jadi tour guide kamu." Kata Abriz, "Sambil kita saling mengenal satu sama lain." Goda Abriz.


Ruby melirik sinis, "Ada Mbak Tasya yang udah jadi tour guide ku, Mas." Ucapnya disusul tawa ejekan dari Tasya dan Rangga untuk Abriz.


Mereka melanjutkan berbincang, Hingga seorang pelayan datang membawa pesanan Tasya dan Ruby. Tasya dan Ruby sama-sama memesan sebuah Ice Mocacino untuk menemani obrolan santai malam ini.


Malam sudah semakin larut, minuman di gelas Ruby masih tersisa setengah. Ruby menopang dagu menahan lelah, tapi obrolan bersama teman-temannya terlalu asyik untuk dilewatkan.


Abriz menatap Ruby, ia bisa menduga jika wanita cantik itu sudah lelah. Tapi tatapannya terhenti di pergelangan tangan kiri Ruby yang sedang menyangga dagu Ruby. Lengan bajunya yang tersingkap membuat sebuah bekas jahitan di pergelangan dalam itu terlihat jelas.


Sudut mata Ruby bisa melihat jika Abriz sedang menatapnya, hal itu membuat Ruby melirik sinis pada Abriz. Namun ia terkejut melihat pandangan mata Abriz yang tertuju pada tangannya. Sorot mata itu seakan bertanya, Apa yang membuatmu melakukan itu?.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Sebelum lanjut jangan lupa like dan commentnya ya kakak


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2