Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
110


__ADS_3

Perpisahan.


Tujuan awal pernikahannya dan Ruby memang untuk sebuah perpisahan, dalam benaknya hanya ingin menikahi Ruby, memanfaatkannya untuk karirnya dan kemudian menikahi Nara, wanita yang saat itu sangat ia sayangi dan sangat ia butuhkan.


Sebagian permintaannya terkabulkan. Ia bisa menikahi Nara saat ini, tapi ia juga menghancurkan cinta dan karirnya.


Saat ini ia sedang mengubur diri bawah lubang penyesalannya. Lelaki bodoh, bahkan sebutan itu masih terlalu indah untuknya. Tak ada kata yang pas untuk menggambarkan segala penyesalan dan kesedihannya.


Ia masih teringat jelas sentuhan bibir, pelukan, wangi tubuhnya dan tatapan kesedihan wanita itu. Senyum dibibirnya menjadi penghias luka, tawa kecilnya menjadi singgasana persembunyian kekecewaannya.


Ia masih teringat jelas bagaimana wanita itu selangkah demi selangkah berjalan meninggalkannya, punggung yang selalu bisa ia peluk itu perlahan menjauh. Sekeras apapun ia memanggilnya, Wanita itu tak pernah menatapnya. Ia tahu wanita itu sedang menangis. Menangisi sebuah perpisahan disaat hati mereka penuh cinta satu sama lain.


"Ko ..."


Seseorang memanggil namanya, tapi ia tak bergeming, bukan suara itu yang ia ingin dengar.


"Ko!! Ayo bangun!! Udah waktunya berangkat."


"Kenapa cepet banget sih!?"


Hiko membuka matanya dengan kesal, Genta sudah berdiri menatapnya. Dengan kesal Hiko bangun dari tempat tidurnya dan berdiri. Genta memberikan sebuah jas putih untuk dikenakannya.


Sambil melangkah keluar kamar, Hiko memakai jas putihnya. Rambutnya tersisir rapi ke belakang dengan songkok putih melekat menutupi rambut hitamnya. Ia menuruni anak tangga rumahnya, Papa dan Mamanya menyambut dibawah.


"Bisa-bisanya kamu tidur disaat-saat penting seperti ini!" Kata Handoko.


"Ini tidak penting untuk Hiko, Pa." Bantah Hiko sambil melangkah keluar rumah.


"Bagaimana bisa hari pernikahanmu menjadi hari yang tidak penting!" Bentak Handoko.


"Aku tidak mau membuang-buang tenagaku untuk berdebat dengan papa." Balas Hiko.


"Sudah, Pa." Maria menahan suaminya untuk tidak melanjutkan perdebatannya dengan Hiko.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil masing-masing dan mulai melanju meninggalkan rumah Hiko.


Benar yang dikatakan Handoko, jika hari ini adalah hari pernikahan Hiko dan Nara. Butuh waktu beberapa hari untuk Hiko menerima kepergian Ruby dari hatinya kemudian memutuskan untuk menikahi Nara. Dan hari ini sudah lebih dari sebulan kepergian Ruby ke Jepang, walau sudah mempersiapkan hatinya, tetap saja Hiko berat untuk melangkah ke rumah Nara.


Rumah Nara tak terlalalu ramai orang, malah terbilang sepi. Pernikahan mereka memang tidak mengundang banyak orang. Bahkan Ivan sebagai seorang ayah tidak hadir disana. Hanya penghulu, wali hakim untuk Nara, ketua RT dan RW.


Mereka menikah dengan cara islam, sebab di malam kepergian Ruby, Antanara Pricilia sudah mengucapkan kalimat syahadat dan menjadi seorang muslimah. Dan masjid pesantren Darul Hikmah menjadi saksi kebahagiaan serta kesedihan Ruby dan Nara.


"Sudah, siap?"


Tanya seorang penghulu pada Hiko dan Hiko hanya mengangguk saja. Ia segera menjabat tangan wali hakim Nara dan siap melaksanakan Ijab Qobul-nya.


Dengan satu tarikan nafas, Hiko menjawab kalimat Ijab wali hakim yang membuat Nara sah menjadi istrinya. Doa terpanjat untuk kedua mempelai, janji suami telah diucapkan Hiko dan ditutup dengan ciuman wanita berkerudung putih itu di punggung Hiko.


Berkerudung?


Ya, Nara mengenakan kerudung sejak kepergian Ruby. Terlepas dari cinta Hiko pada Ruby, Ia ingin menjadi seperti Ruby, sebaik Ruby, seindah Ruby dan semulia Ruby. Menurutnya, Ruby bukanlah wabita sempurna, tapi dia adalah wanita terbaik dan patut dijadikan panutan. Mungkin orang lain akan menganggap perubahannya karena ingin mengambil hati Hiko, itu juga salah satunya. Tapi ia tak akan memaksakan perasaannya, ia pasrahkan semuanya pada Allah.


Jika memang berjodoh, Allah akan menggerakkan hati keduanya, tidak hanya satu. Pasrahkan pada-Nya, Ra. Ikhlas menjalani semua ini, biarkan Allah yang menggerakkan hati kalian.


Dalam keadaan terluka, Ruby masih berlapang dada memberinya semangat untuk menjalani hidup dengan Hiko. Dan kalimat itulah yang selalu ia ingat ketika ia harus bertemu dengan Hiko.


"Terimakasih, Pak. Hati-hati di jalan."


Handoko mengantar kepergian secuil tamu-tamunya setelah acara selesai.


Dalam sekejap rumah Nara menjadi sepi, hening. Tak ada yang yang ingin membuka pembicaraan disana. Genta yang ingin memberitahu para asisten untuj membereskan meja tempat hidangan saja merasa enggan karena suasana begitu mencekam. Ia seakan ingin pergi saja dari ruangan itu.

__ADS_1


"Bagaimanapun juga kamu menantu kami saat ini," Akhirnya Handoko memecah kesunyian ini, "Kami akan berusaha memperlakukanmu dengan baik."


Nara mengangguk, "Terimakasih sudah menerima saya di keluarga anda, Pak, Bu."


Handoko dan Maria hanya diam, Maria sama sekali tak mau menatap Nara. Hatinya sungguh sakit melihat wanita yang sedang mengandung cucunya itu.


"Kemasi pakaianmu dan kosongkan rumah ini, tinggal di rumah Hiko." kata Handoko.


Nara memandang Hiko yang sibuk dengan ponselnya.


"Kami akan pulang dulu,"


Handoko dan Maria berdiri, Nara ikut berdiri dan mengantar kepergian mertuanya hingga ke depan teras rumahnya.


"Kita tunggu lo beres-beres baju, Ra." kata Genta.


"Iya, Kak." Nara pergi ke dalam kamarnya.


Genta duduk di samping Hiko, melihat layar ponsel Hiko kemudian menghela nafas panjang ketika Hiko masih memandangi akun instagram Ruby yang masih menyuguhkan postingan karya-karya barunya. Tak pernah sekalipun Ruby memposting foto ataupun kegiatannya di feed instagramnya. Sepertinya itu memang disengaja.


Aku tidak memintamu melupakan aku mas, tapi jangan mengingat-ingat tentangku ketika kamu ada disamping istrimu nanti.


Sebuah pesan yang ia kirim pada Hiko ketika Ruby sudah tiba di Jepang. Dan itu menjadi percakapan terakhir Hiko dan Ruby. Chat berikutnya hanya centang satu dan Hiko tak bisa menghubunginya lagi.


"Berat, By!" Bisiknya lirih sambil menatap layar ponselnya yang menyuguhkan sebuah foto wanita berkerudung hitam.


"Apa, Ko?" Sahut Genta.


"Rukun Islam ada berapa?"


"Lima! Syahadat, sholat, puasa, zakat, haji! Yes, gue apal!"


"Oke!"


"Kenapa bentuk tashrif jaza itu jaza, jayuuzu, jawaazan? buka jaza, yajiizu, jawzan?" tanya Hiko tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


"Lo yang bener aja ngasih pertanyaan gue kaya gitu?" Genta menendang kaki Hiko, "Tashrif itu apa gue gak tahu!!"


"Ya udah, lupain Azizah."


"Enaaak, aja! Gue bakal berjuang dapetin dia!"


Hiko hanya menyebikkan bibirnya.


"Apa gue nyantri aja ya Ko, di pesantrennya Azizah? Bisa ketemu Azizah tiap hari? Kan gue udah jadi pengangguran nih sejak lo resign dari dunia entertainment?"


"Coba aja kalo lo kuat! Tipe-tipe kaya lo bakal nangis darah tinggal seminggu disana." kata Hiko. Ia memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana.


"Udah puas lihatin fotonya?" sindir Genta.


"Gak ada puasnya! Puas kalo udah ketemu orangnya, ngemilikin lagi!" Jawab Hiko.


Genta tak menjawab.


Setelah Beberap menit menunggu, akhirnya Nara keluar dengan kopernya.


"Cuma itu aja, Ra?" Tanya Genta.


"Iya, Kak. Baju syar'iku masih dikit." Jawab Nara.


Hiko tak mempedulikannya, ia segera keluar rumah dan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Genta dan Nara pun menyusulnya.

__ADS_1


**********


Sampai di rumah Hiko, Genta langsung pulang dan Hiko pergi ke kamarnya. Nara bingung, ia harus pergi kemana diruangan itu. Melihat Nara yang sendirian, Inah menghampirinya.


"Saya bawakan ke atas, Non." Inah mengambil koper ditangan Nara.


"Makasih, Bi."


Keduanya naik ke lantai dua. Inah mengetuk kamar Hiko, tak lama Hiko membukanya. Ia sudah memakai celana pendek dan kaos.


"Kopernya Non Nara, Den."


"Taroh aja dikamar itu, Bi." Hiko menunjuk pintu yang lurus didepannya. "Dia tidur disana." Tegas Hiko menatap Nara yang ada dibelakang Inah.


Inah mengangguk dan kemudian membawa koper Nara ke dalam kamar yang dimaksud Hiko.


"Jangan bicara ama gue kalau gak ada sesuatu yang mendesak, Oke?" Ujar Hiko kemudian menutup pintu kamarnya.


Nara hanya menghela nafas pasrah kemudian ia pergi ke kamar barunya. Ia merebahkan diri disana untuk bersantai. Nara yang sedang hamil muda memang lebih tidur-tiduran daripada harus beraktivitas.


Adzan duhur membuat Nara berhenti bermalas-malasa. Ia keluar kamar dan mendapati Hiko yang juga keluar kamar.


"Kamu mau sholat? kita sholat--"


"Gue sholat di masjid." Pangkas Hiko kemudian pergi.


Sedih, tapi Nara tak bisa berbuat apa-apa.


Hiko menuruni anak tangga dan Nara pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan lanjut mengerjakan sholat dhuhurnya.


Usai sholat, Nara turun ke dapur dan menyiapkan makan siang untuk Hiko.


"Sudah saya siapkan makan siangnya, Non." kata Inah ketika Nara datang.


"Ooh, makasih ya, Bi." Kata Nara, "Oek!" Ia meletakkan ponsel yang ia bawa diatas meja makan kemudian buru-buru ke kamar mandi.


Hiko yang baru datang hanya menatapnya datar, ia segera duduk dan mengambil nasi.


trrtt trrrt trrrrt.


Ponsel Nara bergetar, membuat ia menatap ponsel itu. Nama Ruby dengan foto profile muncul memenuhi layar ponsel. Tangan Hiko gatal ingin mengusap tombol hijau disana.


Baru tangannya ingin menyentuh, Nara sudah datang dan segera mengambil ponselnya.


Hiko menatap Nara, "Lo masih hubungan dengan Ruby?" tanya Hiko.


Nara terlihat kebingungan. "Dia mengatakan untuk tidak memberitahunya padamu, jadi pura-puralah tidak tahu, Ko."


Hiko kesal, ia meninggalkan meja makan. Hiko tak pernah bisa menghubungi Ruby sejak wanita itu mengirim pesan terakhir untuknya, tetapi kini ia mendapati dia masih berhubungan dengan Nara.


Dia sudah berjanji tidak akan mengabaikanku, tapi dia melakukannya!


-Bersambung-


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment and vote ya kak.


__ADS_2