Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
37


__ADS_3

Entah kenapa kali ini Ruby merasa tak keberatan ketika Hiko menyentuh wajahnya hingga menempatkannya dalam pelukan Hiko.


"Maafin gue, By."


Dua kata yang cukup membuat air mata Ruby kembali mengalir. Ia memukul tubuh Hiko berulang kali, membenarkan jika memang ini adalah kesalahan Hiko. Semua ini berawal dari pria asing yang sedang memeluknya itu.


Hiko membiarkan Ruby menangis dan memukuli tubuhnya hingga merasa puas. Walau memang tak akan bisa mengimpaskan rasa bersalahnya. Setidaknya, ia bisa membuat Ruby meluapkan kekesalan yang disimpannya.


Cukup lelah bagi Ruby menangis cukup lama, Ia menarik diri dari pelukan Hiko dan mengusap bekas air mata dipipinya.


"Jangan lakukan hal ini lagi, mas." Ucap Ruby.


"Udah naluri gue sebagai cowok, gak bisa lihat cewek nangis. Pengen meluk aja." Hiko berdiri dan merebahkan diri diatas kasur.


"Dasar buaya!" Umpat Ruby, ia berdiri kemudian.


"Astaqfirullahadzim." Ia terkejut melihat pantulan dirinya dicermin tanpa mengenakan kerudungnya. Ia panik mengambil kerudungnya dilantai dan segera memakainya. "Kenapa mas tetap masuk padahal udah tahu saya gak pake kerudung?" Tanya Ruby marah-marah walau suaranya sudah hampir hilang.


"Lah, emamgnya kenapa? Salah gue dimana?" Hiko bangun dari tidurnya dan duduk, ia ikut menanggapi dengan emosi.


"Mas masuk ke kamar saya tanpa ijin dan ngelihat aurat saya! Masih tanya salah mas dimana?"


"Lo gak inget gue udah nikahin lo semalem?"


Ruby diam seribu bahasa, dia lupa sejenak kalau Hiko adalah suaminya.


"Dari ujung rambut sampai ujung kaki lo, halal gue pantengin! Inget tuh!"


Ruby mengambil satu bantal dan melemparnya ke muka Hiko, "Dasar otak mesum!" Ia memilih keluar kamar daripada harus adu mulut dengan Hiko.


**********


Ruby dan Hiko sudah berada di ruang tunggu bandar udara Abdurahman Saleh-Malang, menunggu kedatangan pesawat yang akan mengantar mereka kembali ke Jakarta.


Meskipun mereka datang berbarengan, namun mereka memilih duduk saling berjauhan seperti orang yang tak saling mengenal. Hiko yang memakai masker dan topi hitam sibuk mendengarkan musik dengan earphone yang tersambung dengan ponselnya. Sedangkan Ruby memilih mengedit komik di tablet-nya karena ia masih belum membeli ponsel baru untuk menghibur diri.


"Gambar mbak bagus."


Ruby menatap seorang pria muda berwajah oriental sedang duduk tak jauh disampingnya.


"Bikin komik superhero ya?" tanya pria itu lagi.


Ruby hanya mengangguk dan memberikan senyuman singkat kemudian kembali fokus pada tablet-nya.


"Udah lama bikin komiknya, mbak? Udah diterbitin belom?"


"Alhamdullillah, sudah mas." Jawab Ruby, mencoba bersikap ramah walau ia merasa sangat terganggu.


"Oya? Di platform mana? Saya pecinta komik lokal loh." Ucapnya.

__ADS_1


Ruby hanya tersenyum tak mau menjawab pertanyaan pria itu. Namum tiba tiba pria itu mengulurkan tangannya.


"Saya Abrizam, panggil saja Abriz."


Ruby mengernyitkan keningnya, Nih cowok modus banget sih? Batinnya.


Melihat wanita cantik didepannya itu mangacuhkannya, membuat Abrizam menarik kembali tangannya, "Saya gak ada niat buruk kok, mbak. Kebetulan saya juga suka dengan seni dan animasi, seneng aja kalau ketemu orang yang sealiran."


Ruby mengabaikan pria disebelahnya itu, menggeser duduknya lebih ke ujung kursi dan kembali fokus dengan tablet-nya.


Satu hal yang pasti, selain Abrizam mengagumi skill yang dimiliki Ruby, ia juga mengagumi paras cantik Ruby. Terbukti dari matanya yang tak sungkan dan terang-terangan menatap Ruby.


Merasa tak nyaman dan kesal, Ruby memasukkan tablet dan styluspen-nya dalam tas. Pandangannya mengitari seluruh ruangan, mencari tempat yang sekiranya pas untuk menghindari pria disampinya itu.


"Gak usah pergi, mbak. Biar saya saja yang pergi kalau mbak merasa gak nyaman. Kalo kita berjodoh, pasti kita bertemu lagi." Ucap Abrizam.


Ruby hanya melirik sinis saja pada Abrizam yang sudah berdiri dan memakai tasnya.


"Assalamu'alaikum, mbak." Katanya kemudian pergi.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Ruby tanpa memperhatikan Abrizam.


Ia menarik nafas lega, bisa-bisanya ditempat seperti ini ada pria tak tau diri dan main mendekatinya saja. Ia melirik sinis pria bertopi yang duduk dikursi depannya itu, masih sibuk menggoyangkan bahunya mengikuti irama musik yang didengarnyan lewat earphone. Jadi suami kok gak ada gunanya. Batin Ruby.


Baru Ruby mau mengambil kembali tablet-nya, sudah ada pengumuman dengan nomer pesawat dan rute penerbangan yang akan ditumpangi Ruby.


Tanpa memberitahu Hiko, ia masuk ke dalam antrian, menunggu petugas yang akan memeriksa boarding ticket-nya.


Benar saja, Ruby sudah melihat Hiko masuk ke dalam pesawat, dari balik masker yang menutupi wajahnya itu, ia bisa melihat jika Hiko sedang kesal dan marah, matanya tajamnya itu menatap dingin kearahnya. Ruby memilih melihat keluar cendela saja.


"Bisa-bisanya lo ninggalin gue!" kata Hiko setelah duduk disamping Ruby, "Kalo gue sampai ketinggalan pesawat gimana?"


"Buktinya enggak kan?" Jawab Ruby dengan masih tetap menatap keluar cendela.


Tiba-tiba saja Ruby mendapati tangan Hiko menarik penutup cendela kearah bawah, hingga membuatnya kesal karena tidak bisa melihat keluar. Ruby menoleh kearah samping dan....


Deg!


Wajah Hiko terlalu dekat dengannya, sampai sampai ia bisa mendengar hembusan nafas Hiko dibalik masker yang digunakan Hiko tersebut.


"Jangan terlalu dekat!" Ruby mendorong dada Hiko dengan kesal agar menjauh.


"Siapa juga yang mau deket-deket sama lo! Gue cuma nutup cendela aja!" jawab Hiko kesal juga.


Hiko memperbaiki posisi duduknya dan segera memakai sabuk pengaman sebelum ia mendapat teguran dari pramugari.


Selama penerbangan, Hiko tak berhenti mengusik kegiatan Ruby hingga membuat Ruby benar-benar kesal dan ingin rasanya pindah ke bangku yang lain. Tapi sayangnya hal itu tak mudah dilakukan seperti ketika ia naik bis atau apapun itu.


Hampir satu jam dalam pesawat, akhirnya Ruby merasa lega karena bisa terbebas dari keusilan Hiko.

__ADS_1


Hiko dan Ruby sama-sama tak membawa koper, hanya sebuah tas ransel untuk membawa baju ganti mereka.


"Mas dijemput siapa?" Tanya Ruby sebelum melewati pintu keluar, karena jujur saja ia masih ingin menghindari Nara.


"Genta." jawab Hiko.


"Nara?"


"Tuh!"


Tanpa Hiko tunjuk, Ruby bisa melihat dengan jelas jika sahabatnya itu menunggu dibalik pagar pembatas penjemput bersama Genta disampingnya. tidak ada senyum ramah diwajahnya. Genta dan Nara menghampiri Ruby dan Hiko.


"Hai. Ra. " Sapa Ruby, ia ragu untuk memeluk Nara.


Tak ada jawaban dari Nara, ia sibuk mengambil ponsel dalam sakunya lalu mencari-cari sesuatu disana.


"Bagaiamana bisa kalian melakukan ini dibelakangku?" Nara menunjukkan sebuah foto ketika Hiko memakaikan cincin pada Ruby dihadapan beberapa orang. "Kalian menghianatiku?" air mata keluar dari kedua mata Nara.


Hiko langsung memeluk Nara namun Nara segera mendorong tubuh Hiko. Air matanya mengalir semakin deras. Ia tak mempedulikan beberapa pasang mata yang sedang memperhatikannya.


"Ra. please! Jangan menarik perhatian orang. Kita bicarain dirumah." kata Genta.


Hiko merangkul Nara dan mengajaknya ke mobil, Genta segera mengikutinya. Namun Ruby memilih untuk tetap tinggal disana, ia tahu saat ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Nara.


Ruby memilih pergi ke tempat dimana ia bisa mendapatkan taksi.


"Eh!"


Ruby terkejut ketika ia membuka pintu belakang taxi, ia juga mendapati tangan lain memegang hadle pintu taxi bagian depan.


Pria oriental bertubuh tinggi, dengan lesung pipit yang pernah ia temui beberapa waktu lalu itu juga terkejut menatapnya.


"Sepertinya kita berjodoh."


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Siapa nih Abrizam?


Cameo aja atau bakal jadi second lead disini ya??

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, vote-nya juga. Terimakasih semua.


__ADS_2