Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
41


__ADS_3

Aspal jalananan mulai menikmati pijatan dari roda-roda kendaran yang mulai sibuk mengantar para pemiliknya yang mempunyai banyak tujuan. Suara bising dari klakson motor ataupun mobil dari manusia-manusia egois semakin memacu emosi pengguna jalan lainnya. Tumpukan kendaraan berada dititik-titik tertentu membuat kemacetan yang panjang. Sesibuk inilah Ibu Kota pagi hari.


Setelah bersabar berada dalam kemacetan, mobil Hiko berhenti tepat didepan pintu lobby gedung Inwork Studio. Setelah mengucapkan salam pada Hiko, Ruby turun dari mobil dan beranjak masuk ke dalam lobby.


Ruby langsung masuk ke dalam lift untuk menuju ke ruangannya. Sudah ada beberapa karyawan lain di dalam sana.


"Ruby, selamat ya..."


Ia mendapatkan ucapan selamat dan do'a dari orang-orang yang ada di dalam lift. Ia hanya tersenyum dan mengucapkan 'terimakasih' yang sebenarnya tak ingin ia ucapkan. Karena ini bukanlah pernikahan yang ia inginkan.


Begitupula ketika ia memasuki ruangannya, teman-teman satu timnya menyambut lebih meriah. Satu per satu dari mereka memberikan ucapan selamat dan doa, juga keluhan kenapa tidak memberitahu teman-temannya jika ia akan menikah.


"Hei hei hei!" Tepukan dari tangan seseorang mengalihkan perhatian pada seorang pria yang baru saja masuk.


"Pagi, Paaaak." Sapa semua karyawan melihat bos mereka sudah berdiri di depan pintu. Mata mereka terpusat pada pria yang sedang berdiri disamping Heru.


Ruby terkejut mendapati pria yang mengusiknya kemarin masih saja ia temui di tempat kerjanya.


"Guys, ini Abrizam. Dia yang akan menggantikan posisi Aris sebagai ketua tim." ucap Heru.


"Hai, Panggil saja saya Abriz." Ucapnya, mengedarkan senyuman kepada semua rekan barunya.


Tatapan Abriz berhenti ketika melihat Ruby berdiri diantara beberapa wanita. Senyumnya nampak lebih lebar, ia ingin menyapa namun Ruby sudah membuang muka terlebih dulu.


"Bang Aris kemana, Ma?" Bisik Ruby pada Irma yang ada disebelahnya.


"Dia ngelanjutin S2 di jogja." Jawab Irma.


Ruby mengangguk-angguk dan menatap malas Abriz yang masih menatapnya dengan senyuman.


"Oke! Semoga lo betah disini, ya. Tim ini the best kok!" Heru menepuk punggung Abriz.


"Thanks ya, kak." Ucap Abriz, sebutan 'kak' untuk Heru membuat yang lain bertanya-tanya dengan status hubungan mereka.


"Gue tinggal dulu ya, Guys!"


"Iya, Pak."


Heru meninggalkan ruang animator, semua kembali ke meja masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Sedangkan Aris sang ketua tim menghampiri Abriz dan mengajaknya ke meja kerjanya yang sudah akan beralih tangan menjadi meja Abriz.


Abriz yang sedari tadi mendengar penjelasan Aris tetap mencuri-curi pandang ke meja Ruby yang berada tak jauh didepannya. Hal itu membuat Ruby mengubah layar monitornya untuk membatasi pandangan Abriz padanya.


"Mas Abriz ganteng ya, By."


Ruby terkejut dengan kehadiran Irma yang tiba-tiba.


"Biasa aja." Jawab Ruby.


"Ih, mentang-mentang punya suami ganteng jawabnya kek gitu." Irma menoel punggung tangan Ruby yang memegang mouse.


"Emang biasa aja, kok."


Irma hanya memutar bola matanya, ia paham jika Ruby memang susah jika diajak memuji pria. "Ini file yang kemarin, tinggal kasih gradasi aja." Irma memberikan sebuah flasdisk pada Ruby.


Ruby menatap Irma dan bergelayut manja di lengan Irma. "Makasih ya, Maaaa."


"Bayarnya pake cerita kamu sama Hiko."


Senyum Ruby seketika menghilang, "Gak ada yang harus diceritain tentang dia, Ma."


"Gak mau tahu, pokoknya harus cerita nanti." Irma meninggalkan Ruby dan kembali ke meja kerjanya.


Ruby hanya mengehela nafas.


trrrt trrrt.


Suara getaran dari ponsel Ruby, ia membuka sebuah pesan whatsapp dari Nara.


/Nanti jalan yuk, By./


Ruby berfikir sejenak, mengingat apa yang akan ia kerjakan malam ini.


/Maaf, Ra. Tapi sepulang kerja aku harus ke rumah paklek buat beresin pakaian./

__ADS_1


/Yaaaah! Oke deh, aku jalan sendiri aja./


/Maaf ya, Ra./


/It's oke, By./


Ruby meletakkan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya.


**********


Hiko baru saja tiba dilokasi shooting, sekumpulan awak media langsung menyerbu ketika ia baru keluar dari mobil. Pertanyaan datang bertubi-tubi mengenahi kabar pernikahannya dengan Ruby.


Genta datang dengan beberapa kru dan langsung membuat jalan agar Hiko bisa segera masuk ke tempat shooting. Langkah Hiko berhenti sebelum ia memasuki tempat shooting dan membalikkan badan berniat menjawab pertanyaan wartawan.


"Tolong klarifikasinya dong, kak Hiko."


Hiko memberikan senyum ramahnya, "Gak bisa panjang-panjang ya karena aku mau shooting juga."


"Okee"


"Foto yang beredar di sosial media itu memang benar. Kemarin lusa aku secara resmi meminang putri kyai Abdullah, salah seorang kyai pemilik pesantren di kota Malang." Ujar Hiko.


"Apa ada resepsi di Jakarta, Kak?"


"Iya, rencananya memang dalam waktu dekat ini. Tapi mohon maaf jika teman-teman media tidak bisa ikut masuk. Karena memang aku ingin menghargai privasi istri dan mertua saya yang tidak terlalu suka disorot media. Jadi mohon pengertiannya, ya."


Genta sudah menarik-narik jaket bomber hitam yang dikenakan Hiko.


"Aku masuk dulu, ya. Thanks teman-teman." Hiko beranjak pergi bersama Genta.


Hiko dan Genta merasa perlakuan kru film berbeda dari sebelumnya. Mereka kembali care dan ramah pada Hiko.


"Ko!"


Seorang pria menghampiri Hiko dan mengulurkan tangannya. Dia Johan, pemimpin kru film yang sedang dibintangi Hiko.


"Gue mewakili anak-anak kru mau minta maaf ke, Lo. Kami semua udah salah paham dengan isu perselingkuhan lo dan asisten manajer lo." Ucap Johan.


"Iya, gue dan temen-temen lainnya minta maaf ya."


"Beres, bro!" Jawab Hiko.


"Oke, lo langsung siap-siap deh." Johan menepuk bahu Hiko kemudian meninggalkannya.


Wajah ramah Hiko langsung berubah dingin sepeninggalnya Johan. Ia melanjutkan langkahnya menuju ke ruang make up.


"Ada untungnya juga foto nikahan lo kesebar." Bisik Genta.


"Nara, mana?" Tanya Hiko dan mengacuhkan omongan Genta.


Genta melirik sinis melihat Hiko mengabaikannya, "Ke pengadilan."


"Ngapain?"


"Ngurus perceraiannya sama mantan suaminya." Jawab Genta sinis.


"Akhirnya mereka cerai juga!" Ucap Hiko bahagia. "Dengan gini gue bebas ngapa-ngapain."


Genta melirik sinis lagi, "Bukannya selama ini lo udah bebas ngapa-ngapain dia?"


Genta menarik tangan Hiko, "Inget, Ko! Lo udah jadi suami Ruby, mantu seorang kyai. Jaga tingkah laku lo!" Ancam Genta.


"Berisik!" Ucap Hiko meninggalkan Genta.


Genta mengelus dadanya, "Apa gue terlalu banyak berharap pada pernikahan lo dan Ruby sih, Ko?"


********


Ruby masih merapikan meja kerjanya sambil menunggu layar komputernya mati. Tangannya sibuk memilah kertas yang masih terpakai dan tidak sambil sesekali membalas sapaan teman-temannya yang beranjak pulang.


"Akhirnya punya waktu juga bicara sama kamu."


Ruby tak mau melihat pria yang sedang berdiri dibalik layar komputernya. Ia sudah bisa menebak siapa pria yang sedang berusaha mengajaknya bicara itu.

__ADS_1


"Aku gak tahu kalau kita bakal jadi teman sekantor. Kita bisa saling mengenal lebih cepat nih."


"Tidak ada kata kita." Ucap Ruby, "dan juga, saya sudah menikah. Kamu bisa dengar dari teman-teman kan?"


"Aku tidak mendengarnya."


Ruby menatap Abriz dengan kesal. Ia meletakkan kembali kertas-kertas yang ia susun, kemudian mengambil tasnya.


"Mbak Tasya, Irma. Aku pulang duluan, ya." Pamit Ruby.


"Oke!"


"Hati-hati, By."


Jawab Tasya dan Irma bergantian.


Ruby bergegas keluar, menyapa teman-teman timnya yang masih dimeja kerjanya kemudian keluar ruangan.


Abriz masih mengikuti Ruby hingga ke dalam lift.


Beberapa orang disana cukup membuat Abriz diam tak menggoda Ruby. Ia menatapi angka digital diatas pintu lift yang menunjukkan sudah dilantai berapa lift berada.


Triing!


Pintu lift terbuka di lantai satu.


Ruby setengah berlari meninggalkan Abriz, namun Abriz tidak menyerah. Ia tetap berjalan cepat membuntuti Ruby yang sudah melewati pintu lobby.


Bruk!


Ruby hampir terjatuh ketik menabrak seseorang. Aroma parfum itu seketika membuat Ruby mundur selangkah dan menatap orang yang sudah ditabraknya.


"Mas Hiko? Ngapain disini?" Tanya Ruby.


"Udah segede ini ngapain lo masih lari-lari?" Hiko menatap Ruby keheranan.


Ruby menatap pria dibelakangnya, membuat Hiko juga menatap pria dibelakang istrinya tersebut.


"Siapa lo?" Tanya Hiko tak ramah.


"Lo siapa?" Abriz balik tanya dengan nada yang tak ramah juga.


"Dia suami saya!"


Kalimat Ruby membuat Abriz terbelalak. "Jadi, kamu benar sudah menikah?"


"Lo suka sama istri gue?" Tanya Hiko remeh.


Hiko menarik bahu Ruby dan merangkulnya. Kali ini Ruby tak bisa menolak walau sebenarnya ia ingin sekali menjauhkan dirinya dari Hiko.


"Lo telat, dia udah jadi milik gue." Ucap Hiko.


Ruby bisa melihat pria didepannya itu sedang kecewa, ia segera memalingkan wajahnya ketika Abriz menatapnya.


"Aku kira kita berjodoh."


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Hai kakak-kakak readers tersayang, aiko sekarang ngetik ulang novel ini dan ngetiknya dari hape. Jadi maaf yaa kalau telat up nya. Aiko usahain bisa up tiap hari, dan maaf yaa kalau ada typo nya. karena ngetik, langsung up.


Bagi kalian yang mau kritik novel ini sangat dipersilahkan, aiko terbuka. Tapi kalau menghujat, maaf ya kalau langsung aiko hapus dan blokir. hahaha, Jahat ya! Tapi aiko kan sayang sama karya aiko sendiri, sejelek apapun aiko bikinnya pake otak dan tenaga. Jadi gak rela kalo ada orang ngomong kasar di kolom komentar.


Jangan lupa like, comment dan vote untuk novel ini. Terimakasih dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2