Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
106


__ADS_3

"Mbak Ruby!!! Mbak!!!"


Azizah terlihat berlarian menghampiri Ruby dan Nara.


"Kenapa Zizah?" Ruby panik melihat kedatangan Azizah.


Azizah berhenti sejenak, mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal karena sudah berlarian mencari keberadaan Ruby.


"Mbak, nama mbak Ruby dan mbak Nara di sebut-sebut sama Ghea di acara live talkshow ."


Ruby dan Nara terkejut.


"Dia bicara apa, Zizah?" tanya Nara panik.


"Cerita pelan-pelan Zizah, biar gak ada kesalahpahaman." Ujar Ruby.


"Zizah gak lihat awalnya, Mbak. Zizah tadi nyalain TV mau lihat acara kesukaan Zizah, tapi masih ada acara talkshow itu. Kayaknya Ghea itu keceplosan bilang kalau ada artis yang udah nikah sama anak ulama ngehamilin asisten manajernya."


"Astaqfirullahaladzim..." Ruby menatap Nara yang terpaku.


"Dan, waktu host nya mengulik lebih jauh Ghea juga memberi isyarat kalo artis itu adalah orang yang udah mengambil kehormatan istrinya, dia nikahin istrinya juga cuma karena kasian dan rasa tanggung jawab, Ghea memang gak nyebutin nama Mbak Ruby, tapi semua isyaratnya menunjuk ke Mbak Ruby. Dia bahkan punya video yang memperkuat perkataannya mbak. Tapi dia cuma nunjukkin ke host nya."


Kini Ruby yang jatuh lemas ke lantai mendengar kelanjutan kalimat Zizah.


"By! Kamu gak apa kan?"


"Mbak Ruby!!"


Nara dan Zizah panik melihat keadaan Ruby yang duduk dilantai. Wajahnya pucat pasi, sorot matanya kosong.


"Mbaak..." Zizah yang ketakutan menggoyang-goyangkan tubuh Ruby pelan.


"Jangan sampai Abi dan Ummi tahu, Zizah! Kamu udah matiin TV-nya kan?" tanya Ruby.


"Semuanya kumpul di depan TV, Mbak. Karena Zizah mau tunjukin teman Zizah yang ikut acara kesukaan Zizah itu."


Ruby memejamkan matanya, Ia membayangkan bagaimana kecewanya Abi dan Umminya sekarang. Ia memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya diantara lutut dan dadanya. Bahunya bergerak naik turun, menjadi tanda jika ia sedang menangis.


"Aku harus temuin Ghea, By!" Kata Nara.


Ruby tak bergeming.


Nara menatap Zizah, "Bawa Ruby ke rumah saja, Zizah. Aku akan pergi." Kata Nara.


Zizah mengangguk.


"Aku pergi dulu ya, By." Tak menunggu jawaban Ruby, Nara langsung bergegas pergi.


"Mbak ..., kita pulang yuk." Ajak Zizah.


Ruby menggeleng, "Mbak gak tahu harus menghadapi Abi dan Ummi, Zizah. Mbak bingung ..."


"By ..."


Suara itu membuat Ruby mendongakkan kepalanya, Iqbal terlihat baru saja duduk didepannya.


"Kenapa kamu kemari, Mas? Pergilah, aku tidak ingin dilihat siapapun, terutama olehmu!" Ruby kembali menenggelamkan wajahnya.


Iqbal diam dan terus menatap wanita yang sedang menangis didepannya itu.


"Seharusnya aku tak menyerah begitu saja dan terus memperjuangkanmu. Aku menyesali keputusanku waktu itu!" Ujar Iqbal.


"Pergilah, Mas." Pinta Ruby pelan.


"Bagaimana aku bisa pergi ketika melihatmu seperti ini?"


Ruby diam dalam tangisnya.


"Ketahuilah, By. Tidak mudah bagiku melihatmu seperti ini sedangkan aku bukan seorang yang halal memberikan pundakku untuk menjadi sandaranmu." Ujar Iqbal,


"Menangislah sepuas yang kamu mau, By! Tuntaskan semuanya disini, dan jika kamu bangkit, jadilah Ruby yang lebih kuat lagi. Aku ada diantara orang-orang yang mendoakan kebahagiaanmu, By." Lanjut Iqbal.


Ia berdiri dan menatap Azizah, "Jaga mbak mu, Zizah." kata Iqbal kemudian pergi.


Zizah terus mengusap punggung Ruby, menunggu dengan sabar hingga wanita itu tenang.


**********


Genta mengendarai motornya dengan kesal, tak ada senyum dibalik kaca helm bogo polkadotnya. Matanya tajam menyusuri jalanan yang padat. Ia melihat penggalan-penggalan pernyataan Ghea di acara talkshow siang tadi sudah beredar di sosial media. Ia menyesal sudah meremehkan gadis manis berhati licik itu.


Rumah Ghea nampak sepi, tak ada mobil Ghea disana. Sepertinya dia belum pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk menunggu gadis itu hingga datang. Belum lama ia menunggu, Ia melihat mobil Nara berhenti didepannya.

__ADS_1


"Kak Genta udah tahu berita itu?" tanya Nara ketika keluar dari mobil.


Genta turun dari jok motornya, "Lo ngapain kasih tau orang lain tentang pemerkosaan Ruby dan kehamilan Lo!" Bentak Genta.


"Aku gak cerita ke siapapun kak tentang kehamilanku!" Elak Nara.


"Trus dia tahu darimana semua itu!? Lo diem-diem ngerencanain semua ini sama Ghea kan!!"


"Enggak, Kak! Demi Tuhan, aku gak cerita itu ke siapapun. Aku tinggal sebentar di rumah Ghea karena aku gak tahu harus menghindari kalian kemana. Ghea datang gitu aja nawarin buat aku nginap di rumahnya."


Amarah Genta tertahan sebentar ketika melihat mobil Ghea berhenti di belakang mobil Nara. Gadis cantik itu keluar dengan Beberap asistennya.


"Kalian lagi berantem, ya?" tanya Ghea.


Genta dan Nara langsung menghampiri Ghea. Nara mendorong tubuh semampai Ghea.


"Gila kamu, Ghe! Kamu nusuk aku dari belakang!?"


"Stop!!" Ghea menunjuk CCTV di sudut carport. "Gue bisa laporin kalian ke polisi.


"Gue yang akan laporin lo ke polisi duluan!! Lo udah mencemarkan nama baik artis gue!!" Teriak Genta.


"Oya? artis lo yang mana? Gue gak merasa buat nama orang lain buruk!" Balas Ghea.


"Lo kira semua orang gak tau yang lo bicarain di TV tadi siapa? Gue pastiin bakal ada surat undangan dari kepolisian buat Lo!! " Bentak Genta berapi-api.


"Gue gak pernah nyebutin nama tuh!! Silahkan aja kalau mau proses!! Toh kenyataannya juga seperti itu." Kata Ghea, ia merogoh tas branded lengan kirinya. "Lagian gue punya bukti."


Ghea memutar sebuah video ketika Genta menceritakan semua kejadian yang dialami Ruby pada Handoko.


"Kapan lo ambil ini?" tanya Genta geram.


Ghea mengangkat kedua bahunya, "Kalian tahu kan kalau video ini sampai ke tangan polisi? Kira-kira siapa yang akan dipenjara?" Ghea tersenyum penuh kemenangan.


"B*ngs*t, Lo!! Dasar wanita licik!!" Sentak Genta.


"Udah deh, balik sana! Nangis-nangis sana meratapi nasib!!" Usir Ghea.


"Kamu jahat banget, Ghe!" Ujar Nara penuh penyesalan sudah mengenal gadis didepannya itu.


"Lo salah udah manfaatin gue bust kepentingan Lo! Lo kira gue bakal diem aja setelah apa yang terjadi gak sejalan dengan keinginan gue?" Ghea menatap sinis Nara, "Lo manfaatin gue, gue juga manfaatin lo! Gue gak bisa dapetin Hiko, tapi gue bisa pansos dengan keadaan ini! Hahahahaa..."


"Haaargh!!" Teriak Genta dan mengacak-acak rambutnya.


Genta pergi ke motornya, memakai helm dan pergi meninggalkan rumah Nara. Kali ini tujuannya adalah rumah Hiko. Ia harus segera memberitahu Hiko semua ini.


Baru sampai didepan rumah Hiko, Ia melihat Hiko juga baru keluar rumah dengan terburu-buru.


"Ta!! Lo lihat semua kan!?" Tanya Hiko panik.


"Lo mau kemana?" tanya Genta.


"Gue harus minta maaf sama keluarga Ruby, Ta!"


Genta membenarkan tindakan Hiko tapi ia juga ragu dengan tindakan Hiko.


"Gue ikut, Lo!" Genta segera masuk ke dalam mobil Hiko.


Hiko mengeluarkan mobilnya ke jalanan dan segera membawanya menuju ke Darul Hikmah. Ia mencoba untuk tetap fokus berkendara walau pikirannya sangat kacau. Masalah seakan datang bertubi-tubi kepadanya.


**********


Lama perjalanan akhirnya mobil Hiko terhenti di halaman parkir pesantren Darul Hikmah. Ia meyakinkan diri dan menguatkan diri untuk bisa menghadapi kemurkaan mertuanya. Satu tujuannya kali ini, dia datang untuk meminta maaf, tidak ada hal lain yang dia inginkan.


Langkah cepatnya tiba-tiba melambat ketika ia melihat seorang pria yang sebenarnya tak ia sukai berjalan menghampirinya. Itu Iqbal, wajah ramah dan tenangnya tak terlihat.


BUG!!


Satu tinjuan dari tangan Iqbal di pipi Hiko bisa membuat pria tersungkur di tanah. Karena merasa tak terima dengan perlakuan Iqbal, Hiko membalasnya. Keduanya terlibat baku hantam di depan halaman parkir rumah kyai Nur. Tak ada yang mau mengalah dan tetap bergelut melampiaskan kekesalannya satu sama lain.


Genta dibantu beberapa santri yang lewat langsung memisahkan mereka. Tak ada makian diantara mereka, hanya sebuah tatapan kebencian dan kemarahan.


"Kenapa kalian membuat keributan disini!" Ujar Kyai Nur yang baru datang.


Para santri segera melepaskan tangan mereka dari Hiko dan Iqbal, menunduk dan mundur beberapa langkah ke belakang.


Kyai Abdullah dan Kyai Marzuki yang juga baru datang ikut terkejut melihat wajah Hiko dan Iqbal penuh luka, dan baju mereka sangat kotor penuh dengan debu.


"Apa yang terjadi disini?" tanya Kyai Abdullah.


Antara Hiko dan Iqbal tak ada yang menjawab, keduanya diam tertunduk.

__ADS_1


Langkah derap kaki berlarian dari balik rumah tamu mengalihkan perhatian mereka semua. Ruby, Azizah dan Ehsan berlarian menuju halaman parkir.


Tentu saja Ruby terkejut dengan apa yang terjadi pada suaminya dan juga Iqbal. Ehsan memberirahunya jika Hiko dan Iqbal terlibat pertengkaran, tapi ia tak tahu akan separah ini.


Ruby tak tega melihat wajah Hiko dan lengannya yang biasanya bersih kini kotor dan penuh lebam dan goresan yang berdarah.


"Bersihkan badan kalian!" Ujar Kyai Abdullah kemudian meninggalkan halaman parkir dan kembali ke rumah.


Semuanya membubarkan diri. Kyai Marzuki mengakak Iqbal masuk ke rumah tamu tempat Mereka menginap. Ruby menghampiri Hiko, Ia tak bisa berkata apa-apa karena terlalu sedih melihat keadaan Hiko.


"Ehsan, Mbak pinjem pakaian kamu untuk mas Hiko, ya?" pinta Ruby pada Ehsan.


"Iya, Mbak." Ehsan bergegas pergi.


"Aku cari obat buat Hiko dulu, By." Kata Genta.


Ruby mengangguk dan Genta segera pergi.


"Kita ke rumah tamu aja, Mas. Mas bisa bersihkan diri disana." Kata Ruby.


Hiko mengangguk.


"Zizah ambilin handuk dan perlengkapan mandi dulu, Mbak."


"Makasih, Zizah."


Zizah pergi ke dalam rumah dan Ruby mengajak Hiko pergi ke rumah tamu yang kosong.


"Duduk dulu, Mas. Aku siapin kamar mandinya." Ruby beranjak masuk ke dalam.


"By!!" Hiko menahan tubuh Ruby dan memeluk tubuh Ruby dari belakang.


Ruby diam, ia tak berusaha mengelaknya. Pelukan itu masih tetap nyaman walau berkali-kali pemilik badan itu menyakitinya. Sebuah cinta yang membuatnya begitu terlihat bodoh.


"Aku datang untuk meminta maaf pada keluargamu, By." Kata Hiko.


Ruby hanya mengangguk.


"Haruskah aku memohon juga pada Abi dan Ummi untuk bisa membawamu kembali, By?"


Ruby melepaskan kedua lengan Hiko yang merengkuh bahunya, ia membalikkan badannya dan mencakup kedua pipi Hiko.


"Aku akan pergi ke Jepang, Mas." Kata Ruby.


Hiko menggeleng tidak setuju.


Ruby mengusap darah yang ada disudut bibir Hiko, "Aku mungkin gagal di urusan jodoh dan percintaan, tapi aku ingin berhasil dengan impianku." Kata Ruby.


"Kamu akan benar-benar meninggalkanku, By?"


Ruby mengangguk, "Ada yang lebih membutuhkan keberadaanmu daripada aku, Mas."


"Aku tidak menginginkan mereka, aku hanya menginginkanmu."


"Kamu tidak bisa memilih disini, Mas. Aku juga tidak ingin menjadi pilihanmu." Kata Ruby.


"By ..."


Ruby menempelkan jari telunjuknya dibibir Hiko. "Bukannya banyak yang mengatakan jika cinta tak harus memiliki, Mas. Kita coba lakukan itu." pinta Ruby.


Hiko menarik tangan Ruby, "Gak semudah itu, By! Kamu akan terluka, begitupun aku. Kita akan sama-sama terluka. Jika kita saling mencintai bukankah seharusnya kita bersama dan saling menjaga?"


Ruby menggelengkan kepalanya sekali lagi, "Aku akan selalu memilikimu didalam do'aku, Mas."


Keduanya diam, saling memandang dalam kekerasan hati mereka masing-masing. Hiko tak membenarkan sudut pandang Ruby, Begitupula dengan Ruby yang tak membenarkan sudut pandang Hiko.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, comment dan votenya kakak.


Terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2