Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
92


__ADS_3

Break makan siang saat shooting film layar lebar Hiko gunakan untuk sholat dan bersantai-santai di teras mushola terdekat lokasi shooting. Tak ada siapapapun disana, hanya hIko yang sibuk mengembangkan senyum dengan sorot matanya terus-terusan menatap layar ponsel.


"Ck!" Decaknya kesal ketika seseorang merebut ponselnya. Ia melihat Nara sedang berdiri didepannya.


"Balikin hape gue!" pinta Hiko tak ramah.


Nara melihat layar ponsel Hiko yang masih menyuguhkan chat whatsapp, "Kiriman Allah?" Ia membaca nama contact yang tersuguh dibagian atas layar dan melihat profile picture pemilik nama tersebut.


"Ruby?" pekik Nara.


Hiko merebut ponselnya.


"Kamu chat dengan Ruby semesra itu?" tanya Nara.


"Apa salahnya chat mesra sama istri gue?" Hiko balik bertanya.


"Ko! Kamu sadar apa yang kamu bicarain?" tanya Nara.


Hiko mengangguk hingga membuat Nara tercengang menatap Hiko.


"Kalian gak sedang menghianatiku, kan?" tanya Nara, matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Rasa itu tumbuh gitu aja, Ra. Dia istri gue, sudah seharusnya gue cintai dia. Entahlah, apa ini bisa disebut penghianatan atau bukan." Jawab Hiko.


Nara memejamkan matanya, air matanya menetes begitu saja menghadapi kenyataan yang menyakitkan ini. Ia mengambil nafas dalam, mencari kekuatan untuk membuka matanya.


"Kalian sudah melupakan apa alasan kalian menikah? Bukankah itu untuk aku? untuk kita? untuk rencana pernikahan kita."


"Ya, itu salah satu alasan gue menikahinya. Tapi gue punya alasan sendiri kenapa gue mau nikahin dia!"


"Jangan katakan kamu menyukai Ruby sejak awal?"


Hiko menggeleng, "Biarkan itu jadi rahasiaku dan Tuhanku."


Nara menarik nafas panjang sekali lagi.


"Maafin gue, Ra. Gue salah buat lo seperti ini."


Nara tertunduk semakin erat memejamkan matanya, menahan agar air matanya tak terlalu banyak yang terbuang.


"Gue harusnya gak bawa lo sejauh ini, seharusnya gue cuma nolongin lo dan---"


"Memanfaatkan tubuhku buat kepuasanmu aja?" pangkas Nara. Ia menatap Hiko dengan air matanya yang tak mau berhenti.


"Maafin gue, Ra. Gue salah artiin perasaan gue ke lo." Hiko tulus meminta maaf pada Clara.


"Kamu peduli dan sayang ke aku, Ko! Walau aku tahu itu gak banyak, tapi kamu punya rasa sayang ke aku. Dari sedikit rasa itu kamu udah buat aku cinta mati ke kamu, aku butuh kamu karena cuma kamu yang peduli dengan kehidupanku."


"Maafin gue, Ra." Hiko hanya bisa mengucapkan kalimat itu.


"Please! Jangan tinggalin aku, Ko! Kamu gak bisa tinggalin aku gini aja. Aku butuh kamu."


Berulang kali Nara ingin meraih tangan Hiko, memohon padanya untuk tidak meninggalkannya. Tetapi, berulang kali juga Hiko menghindarinya tak mau tersentuh oleh Nara.


"Hargai Ruby, dia sudah ingetin lo buat gak sentuh gue." Hiko memperingatkan Nara.


"Kamu nyuruh aku hargai dia? Dia ngerebut kamu dariku, Ko!"


"Dia gak pernah ngerebut gue dari lo, Ra. Gue yang datengin dia."


"Kenapa?" tanya Nara, "Kenapa kamu harus mendatanginya?"


"Entahlah, itu sesuatu yang sulit untuk gue jawab."


Nara menghapus air matanya dan menatap Hiko, "Apa aku harus menjadi seperti Ruby untuk mendapatkanmu kembali?"


Hiko menggeleng, "Gue ini cuma sampah, Ra. Lo akan ngorbanin keyakinan lo cuma buat sampah kaya gue?"


"Kamu berharga buat aku, Ko! kamu lebih penting dari segalanya yang ku punya."


"Jangan bodoh, Ra. Jangan Gila! Keyakinan bukan sebuah hal yang bisa kita khianati semudah kita mengkhianati janji kita pada manusia. Kalau pun lo ingin meyakini apa yang gue yakini, jangan buat cinta pada manusia sebagai alasan. Gunakan hati dan pikiran lo!"


"Ko---"


"Gue mau makan siang dulu." Hiko beranjak meninggalkan Nara.


"Jadikan aku istri keduamu, Ko."


Ucapan Nara membuat Hiko menghentikan langkahnya.


"Aku rela menjadi yang kedua, asal bisa memilikimu..." Nara diam sejenak, "walau tidak seutuhnya."


Hiko kembali menatap Nara yang sedang penuh harapan padanya.


"Jadikan aku istri keduamu." Ulang Nara.


"Kalo gue nikahin lo, itu artinya gue harus ngelepas Ruby." Jawab Hiko, "Dan gue gak bisa lakuin itu, Ra."


Hiko menatap Nara, iya ingin benar-benar meyakinkan Nara jika tidak ada alasa lagi untuknya menerima Nara dalam hatinya.


"Setelah satu-satunya orang yang peduli padaku pergi, kini kamu juga ikut pergi meninggalkanku, Ko?" lagi-lagi air matanya menetes, "Kamu benar-benar akan pergi meninggalkanku, Ko?"


Hiko mengangguk. "Sebenarnya Ruby gak ijinin gue bicarain hal ini ke lo, karena dia peduli tentang keadaan lo yang masih berduka. Tapi sepertinya takdir berkata lain, lo harus tahu lebih cepat."


Hiko menatap Nara sejenak kemudian ia melanjutkan langkahnya yang terhenti untuk kembali ke lokasi shooting.


Benar memang, Hiko memang memiliki sedikit perasaan pada Nara. Tapi hal itu tak membuat niatnya benar-benar meninggalkan Nara goyah. Bagaimanapun juga, Ruby lebih utama baginya.


**********


Sementara itu di kantor Inwork Studio, Ruby baru saja meletakkan luch box bekas makan siangnya di dapur lantai tiga. Ia sedikit kesal karena tiba-tiba saja Hiko tidak membalas chat-nya. Sampai-sampai Irma dan Tasya tak berhenti menggodanya.

__ADS_1


"By!"


Ruby, Irma dan Tasya menghentikan langkah mereka sebelum masuk ruang animator. Heru sedang berjalan menghampiri mereka.


"Selamat siang pak Heru." Sapa mereka bertiga.


"Selamat siang." Jawab Heru.


"By, kita duluan ya." Pamit Tasya.


"Iya, Mbak."


Tasya dan Irma menganggukkan kepala pada heru kemudian masuk ke dalam ruang animator.


"Ada apa, Pak?" tanya Ruby.


"Ikut ke ruanganku sebentar, By." Ajak Heru.


"Baik, Pak."


Mereka berdua beranjak pergi ke ruangan Heru.


"Persyaratan kamu untuk pergi ke Jepang sudah selesai?" tanya Heru setelah keduanya duduk di sofa.


"Alhamdulillah, sudah semua, Pak. Tinggal ambil visa saja." Jawab Ruby.


"Kontrak kerja kamu dengan Inwork Studio berakhir minggu depan, aku juga tahu kamu akan sibuk dengan Abriz mengurusi desain kostum yang akan digunakan drama Go Hanae. Aku akan membiarkan kalian fokus pada Go Hanae saja, ku anggap kontrakmu akan berakhir besok. Manfaatkan sisa waktumu dan Abriz yang sedikit itu untuk membuat karya yang spesial sebelum keberangkatan kalian ke Jepang." Ujar Heru.


"Tapi tanggung jawab saya di proyek ini masih belum selesai, pak."


"Aku akan mencarikan orang yang bisa menggantikanmu." kata Heru.


Ruby terlihat sedih, "Terimakasih karena Pak Heru selalu membantu saya."


"Kamu berhak mendapatkannya, By. Semoga kelak Ilmu mu bisa kamu tularkan pada generasi penerus di Negeri ini."


"In Shaa Allah, Pak."


"Kamu bisa berpamitan dengan teman-temanmu nanti dan fokuslah bersama Abriz mulai besok." kata Heru.


"Baik, Pak." Jawab Ruby, ia tak segera berdiri karena masih ada sesuatu yang ingin ditanyakan tapi ia enggan untuk bertanya.


"Kenapa, By?" tanya Heru.


"Mmm..." Ruby masih ragu ingin bertanya.


"Kamu mau bertanya tentang Abriz?" tebak Heru


Ruby mengangguk, "Untuk apa mas Abriz menerima kontrak kerja di Sunrise Animation, sedangkan dia sendiri pemilik perusahaan Animasi ini, Pak?"


Heru tersenyum, "Dia tidak mau mewarisi sesuatu yang tidak pernah ia mengerti."


Jawaban Heru membuat Ruby semakin bertanya-tanya.


Ruby menganggukkan kepalanya.


"Saya permisi ya, Pak. Saya sekalian pamit, terimakasih atas semua bantuan dan pertolongan pak Heru pada saya selama ini."


Heru menganggukkan kepalanya, "Iya, By. Sama-sama."


"Permisi, Pak. Selamat siang."


"Siang, By."


Ruby pun meninggalkan ruangan Heru dan kembali ke ruangannya. Belum masuk ke ruangan ia bertemu dengan Abriz dan beberapa teman tim laki-lakinya.


"Habis dari ruangan kak Heru ya, By?" tanya Abriz.


Ruby mengangguk, "Iya, Mas."


"Ini hari terakhir kamu kerja juga?" tanya Abriz.


"Mas juga?" Tanya Ruby.


Abriz mengangguk.


"Wah, kalau gitu pulang kerja nanti ada pesta perpisahan ya." Sahut Rangga.


"Setuju tuh! Gue pesenin tempat yang asyik!" Sahut lainnya.


"Gimana, By?" tanya Abriz.


"Boleh juga, Mas." jawab Ruby.


"Oke, deh."


"Yes! Party kita!" Seru yang lain.


**********


Sebuah rumah makan keluarga menjadi tempat berkumpulnya tim animator Inwork Studio. Meja panjang terjajar sempurna dengan berbagai menu olahan ayam dan ikan disana. Semua tim sudah duduk di kursi mereka masing masing memutari meja panjang tersebut.


Sambutan Abriz sebagai ketua tim menjadi awalan sebelum akhirnya mereka menyantap makanan diatas meja tersebut.


Riuh kekompakan dan saling melempar candaan menemani santap makan bersama mereka.


Adzan Magrib menghentikan canda tawa mereka. Bagi mereka yang memiliki tingkat keimanan diatas rata-rata segera menuju ke mushola kecil yang disediakan pihak rumah makan tepat di depan tempat parkir kendaraan, sedangkan yang lainnya tetap meneruskan percakapan dan makan-makan mereka.


Ruby, Abriz dan Irma termasuk salah satu diantara teman-teman animator yang pergi ke mushola. Mereka bergabung mendirikan sholat magrib berhama'ah bersama beberapa pengunjung maupun karyawan rumah makan.


Usai sholat, Irma pergi ke kamar mandi mushola. Akhirnya Ruby memilih untuk menunggu di depan mushola.

__ADS_1


Bangku panjang didepan mushola menjadi tujuan tempat duduknya.


"Ku kira suami kamu bakal ikut, By." Tiba-tiba saja Abriz menghampirinya.


"Gue ke dalem dulu, Briz!" Teriak salah seorang teman tim mereka.


"Woke!" Sahut Abriz, ia duduk di ujung bangku yang dibuat duduk Ruby.


"Mas Hiko lagi ada shooting, Mas. In Shaa Allah nanti dia jemput kesini." Ruby menjawab pertanyaan Abriz sebelumnya.


"Bisa besok kita mulai bikin desain kostum untuk karakter-karakter Go Hanae?" tanya Abriz.


"Boleh, Mas. Nanti mas kasih tahu aja ketemuan dimana."


"Sekalian aja di lokasi shooting besok, besok kan hari pertama shooting."


"Boleh, Mas. Aku bisa sekalian berangkst bareng mas Hiko." kata Ruby.


Abriz mengangguk, "Kamu gak masuk?" tanya Abriz.


"Nungguin Irma, perutnya sakit." Jawab Ruby.


Abriz mengangguk, dan keduanya diam untuk sesaat.


"Kenapa kamu mau terima tawaran Sunrise Animation untuk menjadi karyawan mereka, Mas? Sedangkan kamu punya Studio Animasi sendiri?" tanya Ruby.


Abriz menatap Ruby, "Aku hanya pewaris yang terpaksa memiliki. Aku ingin bekerja dengan tanganku sendiri, bukan dari hasil warisan. Toh aku juga tidak begitu mengerti dengan perusahaan. Karena aku terlalu suka menggambar. Hahahahaha."


Ruby hanya diam memandang Abriz.


"Gak lucu, ya?" tanya Abriz malu sendiri.


Ruby mengangguk.


"Makanya sejak papa dan mamaku meninggal, aku menyerahkan semuanya pada Kak Heru. Dia lebih kompeten di bidang ini."


"Ooh ..." Ruby mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, "Kenapa juga harus jadi ketua tim diperusahaanmu sendiri, Mas?"


"Karena aku sangat berkompeten di bidang itu. Terbukti kan, bagaimana cara kerjaku pada proyek kita. Dengan cepat kita semua menyelesaikannya dengan caraku." Abriz menyombongkan diri.


Ruby menyebikkan bibirnya, "kamu congkak sekali ya, Mas?"


"Itu sifat dasar manusia, hahahaha." Sanggah Abriz dengan tawanya. "Dan yang paling penting membuat aku mau kerja di Inwork studio adalah kamu." Sambung Abriz.


"Aku?" tanya Ruby.


"Yap!"


Ruby menatap Abriz dengan keheranan.


"Aku gak sengaja lihat CV kamu di rumah kak Heru. Pas juga ketua tim kalian mau cabut, langsung aja aku minta ke kak Heru buat gantiin posisi dia."


"Ckckck, seberuntung itu ya mas kamu."


Abriz menggeleng, "Belum, By." kata Abriz, "Aku akan beruntung jika menikahimu."


Keduanya terdiam dan saling memandang, hingga mereka saling membuang muka karena lampu mobil yang masuk ke tempat parkir menyorot tepat pada mereka.


Ruby kembali menatap ke depan setelah melihat lampu mobil mati. Ia mengerjapkan matanya, menyesuaikan retina matanya pada cahaya baru.


Sedan putih yang sangat ia kenali sudah terparkir tak jauh didepannya. Seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam itu keluar dari dalam mobil.


Ekspresi kesal terlukis jelas diwajahnya, berjalan menghampiri Ruby dan Abriz.


Ruby berdiri dari duduknya, "Mas datang lebih awal?" Sapa Ruby pada suaminya.


Hiko mengangguk, "Iya. kebetulan partner aku pinter. Jadi cepet kelar." Ia menatap Abriz tak ramah.


"Lebih baik kita saling mengacuhkan saja!" Kata Abriz pada Hiko lalu ia berdiri, "Aku akan masuk ke dalam dulu, By!"


"Iya, Mas." Jawab Ruby.


Hiko masih menatap kepergian Abriz dengan wajah dinginnya. Ruby menarik kedua pipi Hiko agar menatap wajahnya.


"Gak usah cari masalah." kata Ruby.


Hiko menghela nafas, "Kenapa kalian bicara berdua?" tanya Hiko.


"Habis sholat, Mas. Trus nungguin Irma masih di kamar mandi." Jawab Ruby. "Mas udah Sholat?"


"Ini aku mau sholat dulu."


"Iya udah, aku tunggu. Nanti kita masuk ke dalam ya, makan di dalam sama-sama." kata Ruby.


"Iya, sayang. Aku sholat dulu, ya?"


Ruby mengangguk, membiarkan Hiko masuk ke dalam mushola. Dan dia kembali duduk lagi.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Maaf ya, cuma bisa up satu episode. Nyempetin di tengah-tengah kesibukan.

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan votenya ya kakak.


__ADS_2