Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
81


__ADS_3

Hujan turun deras ditengah gelapnya malam, membuat siapapun lebih betah didalam ruangan. Ruby duduk berselimut diiatas tempat tidur, ia baru saja menyelesaikan sholat isya'nya. Air wudhu dan suasan hujan membuat badannya lebih terasa dingin. Entah karena cuaca atau mungkin karena traumanya yang belum hilang ketika Hiko menyentuhnya petang tadi.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, Hiko membawa kantong berisi makanan cepat saji dan dua botol minuman. Ia meletakkannya diatas meja kemudian menghampiri Ruby, ia duduk didepan Ruby dan mengusap rambut Ruby yang masih setengah basah.


"Udah tenang?" tanya Hiko.


Ruby mengangguk, "Maaf ya, Mas."


Hiko menggelengkan kepalanya, "Itu salahku, kamu tidak perlu minta maaf."


Ruby diam tak menjawab.


"Makan dulu, yuk." Ajak Hiko.


Ruby mengangguk, ia melepaskan selimut yang menutupi badannya. Ia memakai rok piyama panjang yang biasa dipakaianya dirumah. Tertutup, tapi masih membuat pikiran liar Hiko muncul ke permukaan. Apalagi belahan dada yang sempat dilihatnya tadi, sudah hampir bisa menghentikan aliran darah Hiko.


Plak!


Hiko memukul kepalanya sendiri agar kembali fokus. Ia tidak bisa membiarkan miliknya tegang disaat-saat seperti ini. Celana jeans yang dipakainya akan membuat miliknya merasa tak nyaman.


"Mas, kenapa?" Ruby mengusap kepala Hiko.


"Gak apa. By. Gak apa!" Hiko buru-buru berdiri.


Ruby merasa aneh dengan sikap Hiko, namun ia mengabaikannya dan segera menysul Hiko ke kursi yang ada didekat cendela balkon.


"Makasih ya, Mas. Hujan-hujan mau pergi beliin makanan." Ucap Ruby.


Hiko mengangguk, "Bukan aku sih yang pergi, tapi Genta. Aku cuma nungguin dia di lobby." Hiko terkekeh kecil.


"Ih. Nyesel aku udah bilang makasih."


"Tapi kan aku udah jalan kebawah, nganter sama nungguin Genta."


"Gak ada gregetnya, Mas." Acuh Ruby, ia mulai melahap makanannya.


Hiko tersenyum dan membelai rambut Ruby dengan jari-jari tangannya kemudian menyelipkannya dibelakang telinga Ruby. Ia menopang dagu menikmati wajah Ruby dan mengabaikan nasinya sendiri.


"Ngelihatin aku gak bisa kenyang, Mas." Ucap Ruby.


Hiko tersenyum dan mulai melahap makanan miliknya, ia lebih sering menatap Ruby daripada menatap makanannya. Tahu-tahu sudah habis begitu saja, pergi mencuci tangan lebih dulu barulah kembali menghampiri Ruby.


Ruby mengemas box bekas tempat makan mereka dan membuangnya. Ruby pergi ke kamar mandi dan mencuci tangan di wastafel. Tiba-tiba saja Hiko berdiri tepat dibelakangnya, mata mereka bertemu di pantulan kaca.


"Kenapa, Mas?" Tanya Ruby.


Hiko memeluk erat perut Ruby dari belakang dan menenggelamkan wajah di satu sisi bahu Ruby.


Canggung? iya!


Ruby mematung dibuatnya.


"Nafas, By." Bisik Hiko.


Ah, iya! Batin Ruby. Ia menarik nafas panjang dan segera menyelesaikan cuci tangannya.


"Sejak pertama aku suka dengan harum sabun dan shampoo mu yang murah ini."


"Iiiih!"


Ruby mencubit lengan Hiko, "Jahat banget!" kata Ruby.


Hiko mengangkat wajahnya dan menatap cermin, "memang murah, kan?"


"Iya, sih. Hahaaha." Tawa Ruby menggema dikamar mandi.


"Mas sampai kapan mau gini?" Tanya Ruby.


"Terserah aku lah." Jawab Hiko, ia melepaskan pelukannya dan menggendog Ruby.


"Mas! Mau ngapain!?" Teriaknya histeris. Tangannya reflek melingkar dileher Hiko.


"Hush! Kedengeran sama kamar sebelah dikira kamu ku apa-apain nanti." Kata Hiko, ia membawa Ruby keatas tempat tidur dan mendudukkannya disana.


"Mas mau apa!?" Tanya Ruby penuh waspada, ia menarik selimut hingga menutupi dadanya.


"Mau yang anget-anget!" Jawab Hiko.

__ADS_1


"Aku bakal teriak kalau kamu macem-macem, Mas." Ancam Ruby.


"Hahaha," Hiko tertawa, ia mengambil ponsel Ruby dan ponselnya dari atas nakas kemudian duduk disisi lain kasur.


Ia duduk bersandar di headboard tempat tidur, "Sini!" kata Hiko pada Ruby sambil menepuk dadanya.


Ruby menggeleng cepat.


"Gak aku apa-apain, By."


Hiko gemas dan menarik Ruby, membuat wanita itu bersandar di dadanya. Tangannya melingkar di bahu Ruby, ia membuka ponsel Ruby dan membuka folder galery.


"Mas mau apa?" Tanya Ruby.


"Lihat hasil-hasil foto tadi. Mau ku kirim ke whatsapp ku." kata Hiko, ia membuka aplikasi whatsapp dan mencari-cari namanya. "Kamu simpan nomerku apa?" tanya Hiko.


"Mmm ..." Ruby bingung ingin menjawab apa.


Hiko menatapnya, menunggu jawabannya.


"Belum aku kasih nama." Jawab Ruby selirih mungkin.


"Hah!" Hiko terkejut sampai menarik diri dari headboard, melepaskan pelukannya dari bahu Ruby dan menatap Ruby keheranan.


Ruby tertunduk merasa tak enak dengan Hiko.


"Bisa bisanya kamu gak simpan nomerku?"


"Habisnya gak penting sih." Jawab Ruby.


Hiko kembali terbelalak, membuat Ruby semakin tertunduk. Hiko mengambil ponselnya dan memperlihatkannya pada Ruby.


"Nih, nomer kamu aja ku simpan."


Ruby melihat nomer miliknya tersimpan dengan nama sohib Nara disana.


"Ya udah, sini aku kasih nama."


Ruby meraih ponselnya, namun Hiko menepisnya.


"Biar aku save sendiri aja! Aku gak percaya ke kamu." Kata Hiko sinis. Ia sibuk mengetik dilayar ponsel Ruby.


"Udah." Hiko memberikan kembali ponsel Ruby.


"Kamu ganti aku marah!" Ancam Hiko.


"Lebih baik kita marahan aja, Mas."


"Yaa jangaaan dooong." Hiko merebut ponsel Ruby, "Sejak kita kenal sampai kemarin malam kita tengkar terus, masa udah damai gini kamu ngajak tengkar lagi?"


"Iih, kasih nama sewajarnya saja lah, Mas." Ruby berusaha merebut ponselnya kembali, namun Hiko semakin menjauhkannya dari Ruby.


"Ayolaaaah, Mas." Ruby masih berusaha mengambil.


Hiko yang gemas dengan sikap Ruby malah menariknya, membuat tubuh Ruby terjatuh diatasnya. Hiko meletakkan ponsel Ruby diatas nakas dan mengunci tubuh Ruby dengan kedua lengannya.


"Aku gak tau kalau kamu seagresif ini." Bisik Hiko.


"Mas, lepasin." Ruby mencoba menarik diri, namun tetap tak bisa terlepas.


"Mau dilepasin?" goda Hiko.


"Iya! Tapi tanpa syarat." Jawab Ruby.


"Bilang aja kamu mau lama-lama dipelukanku. Iya, kan?"


Ruby hanya memutar bola matanya, "Udah ah, Mas." Pintanya.


Hiko terkekeh, ia menarik tubuh Ruby dan menjatuhkannya ke samping, Hiko menghadapkan tubuhnya ke arah Ruby. Menopang kepalanya dengan tangan, dan satu tangannya yang lain sibuk membelai rambut Ruby, menyibakkan rambut rambut yang menempel diwajah perempuan itu.


Hiko menatap lekat wajah Ruby, memahat tiap inci wajah itu didalam benaknya. Tatapan itu membuat pemilik wajah menjadi tak nyaman dan salah tingkah.


"Aku ragu tidak bisa melepaskanmu." Kata Hiko.


Ruby menatap Hiko dan menggelengkan kepalanya, "Jika kamu terlalu sulit melepaskan, biar aku saja yang pergi, Mas."


"Tetap saja aku harus melihatmu pergi."


Ruby terdiam.

__ADS_1


"Apa aku perlu menghamilimu agar kamu tidak pergi dariku?"


"Pertanyaanmu membuatku ingin membakarmu hidup-hidup, Mas."


Hiko tersenyum. Ia menyelipkan tangannya dibawah kepala Ruby, menarik perempuan itu ke dalam dekapannya. "Dasar bar-bar." cetus Hiko.


Ruby tertawa kecil.


Keduanya diam sesaat dalam pikiran mereka masing-masing.


"Apa kamu sedang menginginkan seuatu dariku, Mas?" Tanya Ruby.


Hiko mengangguk, "Tapi aku bisa menahan keinginanku." Jawabnya, "Mmm ... Enggak-enggak, lebih tepatnya aku sedang menahannya."


Ruby sedikit menarik diri dan mendongakkan kepala menatap Hiko, "Maafkan aku, Mas. Itu terlalu sulit untukku."


Hiko memberi kecupan lembut di kening Ruby, "Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya."


"Apa kamu akan melakukannya dengan wanita lain?" tanya Ruby, "Jangan dijawab, Mas!" Sergahnya kemudian memalingkan wajahnya.


Hiko tersenyum, ia menarik lembut wajah Ruby untuk menatapnya. "Aku tidak tahu jika cemburumu semanis ini."


"Aku tidak sedang cemburu." Ruby mencoba mengelak.


Hiko kembali mengecup kening Ruby, "Iya iya ..."


"Jangan mikir yang enggak-enggak, Mas."


"Iya, aku kan tadi udah bilang iya." Nada Hiko masih terdengar mengejek.


"Iiih!!"


"Adduuuuh duuuh. Ampun ampun!" Hiko mengerang kesakitan ketika Ruby mencubit pinggangnya.


Ruby melepaskan cubitannya dengan kesal.


"Tega banget!" Protes Hiko sambil mengusap pinggangnya.


"Biarin!"


Hiko gemas mencubit pipi Ruby kemudian memeluknya. Keduanya kembali terdiam dalam pikiran mereka masing-masing.


"Sejak menyentuhmu untuk pertama kalinya itu, aku gak bisa melakukannya dengan wanita lain." Kata Hiko.


Deg!


Ruby terkejut. Tak tahu apakah dia harus senang mendengar pengakuan Hiko.


"Aku hanya bermain-main dengan tubuh mereka, tapi nafsuku hilang begitu saja ketika aku akan melakukannya. Paling maksimal ya cuma mainin ..."


Cup!


Ruby mengecup bibir Hiko, "Jangan diterusin."


Hiko terkejut dengan ciuman singkat itu. Sesingkat itu! Iya, sangat singat! Namun cukup membuncang benteng pertahanannya, membuat darahnya memanas dan seakan seseorang mengaliri listrik disekujur tubuhnya.


"By!"


"Ya?"


"Jangan pernah lakuin itu lagi." Kata Hiko.


Ruby terdiam, "Maafkan aku, Mas." Ucapnya menyesal.


Hiko menggeleng, "Ciuman sesingkat itu sudah bisa membuatku hampir gila menahan diriku agar tidak menyentuhmu!"


Hening.


Ruby dan Hiko hanya saling memandang tanpa suara.


-Bersambung-


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sebelum lanjut wajib like dan comment ya kakak.. Jangan langsung lanjut ajah ya.


__ADS_2