
Usai mengantar Almer ke sekolah, Hiko langsung mengikuti anak buahnya yang sedang da proyek pemotretan di salah satu sudut Malioboro. Tujuannya tentu bisa berharap bertemu Ruby.
"Do! Lo beneran dari kemarin pagi standby disini terus? gak kemana-mana?" tanya Hiko.
"Iya, Bos. Beneran!" Jawab pria gemuk bernama Edo itu.
"Lo lihat cewek ini gak? duduk disini kemarin." Hiko menunjukkan hasil bidikan Edo di ponselnya.
"Bos nih, kalo yang bening-bening langsung kelihatan. Aku punya yang lebih jelas, Bos."
Edo menunjukkan beberapa foto Ruby di layar kameranya, "Cakep kan bos? Idaman banget nih cewek." Puji Edo.
Hiko benar-benar senang, itu benar-benar Ruby, dia sudah di tanah air sekarang, disini, dekat dengannya.
"Hapus semua foto cewek ini atau gue hapus lo jadi karyawan gue!"
"Astaqfirullah, Bos. Kejem amet."
"Udah, hapus aja!"
Hiko mengembalikan kamera pada Edo dan ia mulai menyusuri sepanjang jalan Malioboro. Inilah alasan kenapa empat tahun lalu dia pindah ke Jogja, karena jalan ini. Disinilah ia mempunyai kenangan indah bersama Ruby.
Aku selalu berjalan sendiri disini, sendirian. Berharap kelak aku bisa berjalan bersamamu lagi disini. Mungkinkah itu?
Entah sudah berapa kali Hiko menyusuri jalan Malioboro, sisi kanan maupun sisi kiri. Menatap wajah tiap tiap orang. berharap menemukan rindunya disana, tapi dia masih kurang beruntung.
Suara qiro'ah menjelang adzan duhur mulai terdengar di masjid-masjid sekitar jalan Malioboro. Hiko melupakan sesuatu, ia harus menjemput Almeer dan mengantar Almeer menemui Nara.
Hiko segera bergegas menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir. Ia segera pergi ke sekolah Almeer. Padatnya jalanan sekitar Malioboro harus membuatnya semakin bersabar melajukan kendaraannya perlahan.
Namun ada satu sosok yang membuatnya mematung hingga memutar waktu ke beberapa tahun lalu. Wanita yang mengenakan sebuah gamis hitam, berkerudung coklat susu itu sedang berdiri diseberang jalan menunggu sesuatu. Ruby, rindunya dan cintanya. Ia menemukannya.
Tiin tiinn tiiin.
Suara kendaraan dibelakang Hiko menyadarkan lamunannya. Ia ingin turun menghampiri Ruby. Tapi Jalanan terlalu padat, jika ia berhenti pasti akan membuat kemacetan disana. Satu-satunya harapan Hiko hanya segera berputar arah dan berharap Ruby masih disana atau memanggil Ruby dari dalam mobil, kemudian menyuruh wanita itu menunggunya. Gak keren banget, tapi itu sangat diperhitungkan keberhasilannya.
Baru beberapa langkah maju ke depan dan Hiko ingin mencoba keburuntungannya, Ia sudah gagal. Ruby sudah masuk ke dalam sebuah mobil sedan hitam yang tidak ia ketahui siapa didalamnya.
"Pasti cewek di dalamnya!" Hiko menghibur dirinya sendiri.
Ia berharap bisa cepat melewati kemacetan dan segera berputar arah mengejar Ruby.
Tapi waktu masih belum memihak padanya, Hiko sudah mengejar Ruby tapi tetap saja ia tidak bisa menemukan mobil yang membawa Ruby beberapa waktu yang lalu. Ia ingin tetap mencari, tapi anaknya sudah menunggu cukup lama saat ini.
Akhirnya Hiko menahan ego dan ambisinya kemudian membawa mobilnya pergi ke sekolah Almeer.
Sekolah itu sudah terlihat sepi, Hiko buru-buru berlarian di koridor sekolah menuju ke ruang guru. Kehadiran Hiko disana menjadi angin segar untuk para ibu guru, hampir semua ibu guru di ruang guru berdiri menyambut Hiko.
"Assalamu'alaikum, Bu. Maaf, saya mau jemput Almeer." Hiko menatap putranya yang duduk cemberut di salah satu kursi.
"Papa sudah datang, Nak. Senyum dulu, ya?" bujuk bu Lilis, wali kelas Almeer.
Almeer berdiri membawa tasnya asal menghampiri Hiko. "Papa kok lama, sih? Al telat sholat dhuhur, kan?" Protes Almeer.
Hiko tersenyum, "Maaf ya, Al. Kita nanti mampir di masjid ya sambil ke tempat Mama Nara." Kata Hiko, "Pamit ke bu Lilis dulu, Al."
"Al pamit dulu ya, Bu." Pamit Almeer sambil mencium tangan bu Lilis, "Assalamu'alaikum ..."
"Terimakasih ya, Bu. Assalamu'alaikum ..." Pamit Hiko.
"Wa'alaikumsalam ..."
Hiko dan Almeer bergegas pergi ke dalam mobil kemudian membawa mobil keluar dari lahan parkir sekolah dan berhenti ke salah satu masjid terdekat.
"Kita sholat dulu ya, Al."
__ADS_1
Almeer mengangguk, ia mengambil sarung kecil yang ada di laci dashboard mobil.
Keduanya segera masuk ke dalam masjid, mengambil wudhu dan sholat. Usai Sholat Hiko duduk terlebih dulu di teras masjid bersama Almeer.
"Al, laper?" tanya Hiko.
Almeer mengangguk, "Iya, Pa."
"Kita makan dulu ya, trus ke tempat Mama Nara." Kata Hiko.
Almeer mengangguk.
Hiko dan Almeer pun pindah ke sebuah rumah makan untuk makan siang. Almeer sudah mulai semangat bercerita tentang semua kegiatannya disekolah tadi. Biasanya Hiko sangat antusias, tapi kali ini berbeda, membuat Almeer kesal.
"Papa dengerin aku gak, sih?" tanya Almeer.
"Dengeeer, Al." jawab Hiko.
"Tapi wajah papa kaya orang bingung? Oom Genta bikin pusing papa lagi?" tanya Almeer.
Hiko menggeleng dan tersenyum, "Oom Genta kan emang tiap hari bikin pusing, Al."
"Trus kenapa?"
"Udah, makanannya dihabisin."
Almeer melanjutkan makannya, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Papa ketemu Mama Ruby?"
Hiko tersenyum, "Iya."
"Kok gak diajak ketemu, Al? Al kan pengen ketemu, Pa." Rengek Almeer.
"Papa belum ketemu langsung, Al. Cuma ketemu dari jauh." Jawab Hiko.
"Papa belum tahu rumahnya Mama Ruby, Al. Mana bisa kita kesana."
"Yaaah..." Almeer kecewa.
"Al juga bantu do'a ya, supaya bisa ketemu Mama Ruby."
"Kan tiap Al sholat udah Al do'ain, Pa"
"Alhamdullillah, terimakasih ya, Al."
Almeer tersenyum lebar, kemudian mereka berdua melanjutkan makan siang mereka.
Usai makan siang, Hiko kembali melajukan kendaraannya menuju ke tempat Nara berada. Almeer juga mengajak Hiko mampir ke toko bunga untuk diberikan pada Nara. Cukup lama perjalanan ke tempat Nara, memakan waktu setengah jam lebih dan akhirnya mereka berhenti di sebuah komplek pemakaman.
Pemakaman?
Iya, tempat tinggal Nara saat ini ada dibawah tanah.
Hiko memandu langkah Almeer menuju ke tempat peristirahatan terakhir Nara. Sebuah batu nisan bertuliskan nama Nara, tanggal lahir dan tanggal kematian sudah didepan mata.
"Assalamu'alaikum, Mama." Almeer mengucap salam, tak ada raut wajah kesedihan disana.
Hiko menatap putranya dengan penuh rasa bangga juga kasihan.
Sejak mendapat kabar jika dirinya tidak bisa kembali sehat sempurna usai melahirkan, Nara mulai mendoktrin Almeer yang bahkan belum bisa merangkak dengan selalu menyebut Ruby dengan sebutan Mama. Banyak foto Ruby yang terpajang dikamarnya, setiap saat setiap waktu, Nara selalu menceritakan tentang betapa baiknya Ruby padanya, betapa sayangnya Ruby pada Almeer. Hingga akhirnya Nara berhenti menceritakan semua kebaikan Ruby pada Al sekitar satu tahun yang lalu, ketika ia menghembuskan nafas terakhir dikarenkan sakit jantung dan gagal ginjal akibat preklamsia yang dideritanya semasa kehamilan.
Pernikahan Hiko dan Nara tak pernah berlanjut, Hiko tak pernah mengucapkan ijab qabul lagi usai kelahiran Almeer kedunia ini hingga wanita itu meninggal. Perasaan Hiko hanya sebatas peduli, karena dia Mama dari putranya. Mungkin ia bisa berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan kesalahan Nara. Tapi jika menyangkut hati, dia tidak bisa berbohong, pemilik hatinya hanya Ruby. Dan dia tidak mempunyai keinginan untuk membaginya dengan yang lain.
Hiko masih menatapi putranya yang bercerita, bernyanyi sambil menggoyangkan badannya didepan makam Nara. Entah apa yang selalu dikatakan Nara pada anak sekecil itu hingga putranya selalu terlihat tegar dan tidak bersedih.
Adzan ashar membuat Hiko dan Almeer menyudahi pertemuannya dengan Nara. Mereka meningalkan makam dan kembali pulang. Tentu tak lupa mereka mampir di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat ashar barulah mereka lanjut pulang ke rumah.
__ADS_1
Jam pulang kantor membuat jalanan Jogjakarta sedikit lebih padat kendaraan, Hiko harus lebih bersabar mengendarainya mobilnya. Almeer sedang terlelap ditempat duduknya, ia sesekali mengusap putranya itu. Ia mengisi kebosanannya sambil melihat kearah kanan dan kiri jalan. Kedai Martabak manis di tepi jalan membuatnya tergoda dan ingin membelinya sambil menunggu jalanan agak lenggang.
Hiko menepikan mobilnya dan memarkirkannya didepan kedai martabak. Al bangun ketika mesin mobil terhenti, ia menatap sekitar dan kebingungan karena bukan di halaman rumahnya.
"Beli martabak manis dulu, sayang." Kata Hiko.
"Asssyiiiik." Teriak Almeer semangat.
Mereka berdua segera turun dan pergi ke kedai martabak manis. Ramai pengunjung karena memang ini salah satu kedai martabak manis terbaik di Jogjakarta.
"Mas, satu ya! Rasa coklat susu aja." Kata Hiko pada pria muda yang sedang sibuk memotong-motong martabak manis.
"Oke, Mas. Agak lama ya nunggunya."
"Beres!" Hiko mengacungkan jempolnya karena sudah paham kebiasaan beli di kedai ini.
Ia dan Almeer selalu duduk didekat tempat pembuatan martabak manisnya, karena Almeer sangat suka melihat proses pembuatan martabaknya.
"Min. Requestnya mbak yang cantik itu apa? Aku kok lupa."
"Lah, kamu yang diajak bicara kok malah tanya ke aku."
"Cantik, Min. Otakku udah nggelambyar kemana-mana."
"Ya tanya sana."
Perdebatan dua pria pegawai kedai itu membuat Hiko terkekeh dan penasaran secantik apa wanita yang bikin mas-mas itu gagal fokus.
Ia mendongakkan kepala mencoba mencari beberapa pemesan yang antri di berbagai sudut kedai.
"Mbak, kerudung coklat muda." Panggil pegawai martabak.
Saat itu juga Hiko melihat wanita cantik berkerudung coklat muda mendongakkan kepalanya menatap pegawai martabak.
"Requestnya tadi apa?"
Wanita itu berlari kecil menghampiri tempat pembuatan martabak.
"Martabak manis rasa coklat, keju, sama kacang. Coklatnya yang paling banyak. kejunya sedengan aja, kacangnya ditaburin dikit aja diatas kejunya. Trus potongannya harus jadi dua belas."
Belum wanita itu menjawab, Hiko sudah menjelaskannya pada pegawai didekatnya itu. Tentu saja hal itu membuat pegawai martabak juga wanita yang berdiri tak jauh didepannya itu terkejut.
"Martabak spesial untuk Tabina Ruby Azzahra." Lanjut Hiko dengan senyum tipis dibibirnya.
Ia tak menyangka bisa bertemu pemilik rindunya ditempat ini. Wanita itu mematung terkejut menatap Hiko yang sedang duduk tak jauh didepannya.
"Apa kabar, By?" Sapa Hiko.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, comment dan vote ya kakak. Terimakasih.
yang nanyain IG nya author apa.
follow aja LinAiko17.
__ADS_1