
Ruby segera menarik dan menyembunyikan tangannya dibawah meja. Ia terlihat panik, takut jika orang lain mengetahui bahwa ia pernah mencoba untuk bunuh diri.
Sedangkan Abriz sudah sangat penasaran dengan apa yang membuat Ruby melakukan hal itu. Tapi ia harus menahanya, ia tahu jika itu bukanlah sebuah pertanyaan yang mudah untuk dijawab oleh Ruby.
Tasya segera menghabiskan sisa minumannya, "Kalian masih mau disini?" Tanya Tasya sambil mengambil kantong belanjaannya.
"Iya, anak cowok balik jam segini? Dikira cacingan, Sya." Kata Rangga
"Oke, Gue balik dulu, ya." Pamit Tasya.
"Oke, Hati hati."
"Saya pamit duluan, Mas. Assalamu'alaikum." Pamit Ruby, ia tak berani menatap Abriz.
"Wa'alaikumsalam." Sahut Abriz dan Rangga.
Ruby bersama Tasya meninggalkan Cafe, hanya perlu berjalan kaki untuk kembali ke Hotel tempat mereka menginap. Para pejalan kaki masih ramai mengisi trotoar, pekerja seni yang masih sangat berenergi menunjukkan bakat-bakatnya menghibur siapa saja yang ingin menikmati, Suara lonceng dari delman dan ketukan sepatu kuda di jalanan menjadi alunan khas kota Jogja.
"Abriz kayanya serius suka sama lo, By." Tasya membuka percakapan.
"Aku gak bisa melarang perasaan orang, Mbak. Biarlah dia dengan perasaannya dan aku dengan perasaanku." Jawab Ruby.
Tasya diam sejenak, "Kenapa lo bisa nikah dengan kak Hiko, By? Bukannya lo udah tunangan sama anak kyai juga?" Walau Ragu, akhirnya Tasya menanyakan pertanyaan yang selama ini ia dan Irma simpan.
"Namanya Iqbal, Mbak. Muhammad Iqbal Marzuki, Pria yang ditakdirkan Allah untuk ku cintai tanpa ku miliki." Ruby menatap Tasya, senyuman mengembang dibibirnya. Senyum yang mengungkapkan sebuah kesedihan.
"Dan, Kak Hiko?"
"Dia ...." Ruby diam sejenak, mencari kata yang tepat untuk Hiko, "Suamiku ..." Jawabnya ragu.
Ruby kembali menatap jalan, fikirannya teringat sosok pria tinggi berkulit bersih dengan wajah rupawan namun berkelakuan tak lebih baik dari hewan. Ia menghela nafas dalam. Walau seperti itu dia tetap suamiku, batinnya.
***********
Pagi itu suasana salah satu dome Universitas Seni di Yogyakarta sangat ramai, pembukaan pameran dan festival film animasi tingkat Provinsi sudah terlaksana. Dihadiri oleh beberapa pejabat dan rektor universitas berkeliling ke tiap-tiap stand. Ruby dan teman-temannya selalu ikut dibelakang. Mereka juga bertugas sebagai juri, sesekali mereka menggali informasi ketika melihat sebuah karya yang unik.
Jam makan siang menghentikan kesibukan mereka. Tidak termasuk Ruby. Setelah salah seorang pembawa acara memberitahu jika Ruby adalah komikus dari The King, membuat banyak mahasiswa ataupun mahasiswi yang ingin berebut selfie dengannya.
Ruby merasa tidak nyaman terlalu dekat dengan mahasiswa yang mengambil foto terlalu dekat dengannya. Tak hanya sekali Ruby memperingatkan siapapun, tapi tetap saja masih banyak yang tidak bisa menjaga jarak dengannya. Tasya yang melihat pun ikut kesal, larangan dia pada penggemar Ruby sama sekali tidak di indahkan.
Sampai seseorang menarik tangan Ruby dan merangkul Ruby dalam pelukannya. Reflek Ruby menarik tubuhnya menjauh. Ia mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang berani berbuat kurang ajar seperti itu padanya.
"Mas Hiko!" Pekiknya, terkejut dengan kehadiran pria itu didepannya.
Riuh suara mahasiswi menghampiri Hiko, meneriakkan namanya. Hiko hanya tersenyum membalas sapaan para penggemarnya.
"Kak, Selfie dooonk..." Teriak beberapa orang.
"Maaf, Ya. Tolong hargai privasiku disini. Aku kesini karena istriku, dan aku disini sebagai suaminya. Tolong hargai perasaan istriku, ya." Pinta Hiko semanis mungkin.
Kekecewaan menghinggapi para fans Hiko, perlahan mereka membubarkan diri dan meninggalkan Hiko. Tasya, Abriz dan Rangga pun menghampiri Hiko dan Ruby.
"Mas, kenapa tiba-tiba disini?" Tanya Ruby
Hiko mengangkat kedua bahunya, "Gue ajak dia pergi dulu, Ya. Gak janji bakal gue balikim tepat waktu." Hiko menarik Ruby keluar dari keramaian dome.
Ruby menurut saja, memperhatikan pria bertopi hitam yang sedang memecah keramaian, membuka jalan untuk Ruby. Tangan Ruby erat ditarik tepat dibelakangnya, memastikan Ruby tidak bersenggolan dengan orang lain.
"Temenin gue makan siang." Pinta Hiko, ah bukan, itu sebuah nada paksaan.
Ruby menurut saja.
Hiko mengajak Ruby keluar kampus mengenakan motor sewaannya. Menuju salah satu rumah makan recomended yang sebelumnya sudah ia cari lewat situs pencarian di ponselnya. Sebuah rumah makan lesehan dengan gazebo-gazebo yang memiliki nuansa khas Jawa menjadi pilihan Hiko.
"Aku gak bisa lama-lama, Mas." Kata Ruby ketika ia duduk bersila diatas bantal busa tipis.
Hiko diam saja membuka menu makanan didepannya dan menyebut beberapa nama makanan yang ingin ia makan pada seorang pelayan yang sudah berdiri menunggunya.
"Lo apa?" Tanya Hiko pada Ruby.
"Samain aja, Mbak. Minumnya air putih aja ya, Mbak." Kata Ruby pada pelayan.
"Baik, mohon ditunggu." Kata pelayan kemudian meninggalkan gazebo Hiko dan Ruby.
"Mas kenapa tiba-tiba disini, sih?"
Otak Hiko berpikir keras mencari alasan kenapa dia disini? Ia sendiri tidak tahu jika tiba-tiba Genta semalam mengiriminya sebuah tiket perjalanan ke Jogja pagi tadi, ia mendapat waktu tiga hari untuk menenangkan diri. Tanpa pikir panjang, dia pun langsung berangkat. Informasi dari teman-teman Ruby yang dicari oleh Genta membuat Hiko dengan mudah menemukan Ruby.
"Mas ..." Ruby masih menunggu jawaban.
"Gue liburan." Jawab Hiko.
"Sendirian? atau dengan Nara dan Mas Genta?" Tanya Ruby lagi.
"Sendiri, bawel amat sih?" Protes Hiko.
__ADS_1
Ruby menatap Hiko curiga, "Mas ngikutin aku kesini, ya?"
Pertanyaan Ruby membuat Hiko terkejut. Dia tidak bisa membohongi diri sendiri jika memang alasan dia berada disini karena Ruby.
"Ngapain juga gue ngikutin, lo! Genta aja emang tiba-tiba ngasih gue tiket ke Jogja. Ya udah sekalian aja nyari lo, biar ada yang disuruh-suruh." Hiko memberi alasan.
Ruby mencoba percaya saja.
Gazebo milik Hiko dan Ruby hening seketika, membuat telinga mereka lebih peka mendengar suara gesekan dedaunan yang diterpa angin, suara kicau burung bahkan suara candaan orang dari gazebo disekitar Ruby dan Hiko.
"Aku pergi sholat dulu, mas." Ruby berdiri dan meninggalkan Hiko.
Hiko meluruskan kakinya, menendang angin dengan kesal dibawah meja. "Anj*ng! Apa-an sih gue nih, ngomong kesana kemari gak ada isinya!" Umpatnya.
Hiko benar-benar merasa mati gaya didepan Ruby, Bagaiamana bisa dia bersikap seperti itu didepan wanita. Terlihat bodoh! kata yang cocok sekali untuknya. Hiko mengatur emosinya, sesekali ia memukul kepalanya sendiri untuk menyadarkan pikirannya agar fokus.
Tak terlalu lama Ruby meninggalkan Hiko, ia kembali dan semua makanan sudah tersedia diatas meja.
"Maaf ya, Mas, nunggu lama." kata Ruby sambil duduk.
Hiko hanya mengangguk.
Dengan awalan sebuah do'a, Ruby mulai melahap makanannya.Tak banyak pembicaraan antara Hiko dan Ruby, hanya sesekali Hiko menanyakan jadwal Ruby setelah ini.
"Ntar malem temenin gue kesini." Hiko menunjukkan layar ponselnya pada Ruby, sebuah bukit untuk melihat indahnya lampu-lampu kota Yogyakarta.
"Ngapain, Mas? Aku besok pagi sudah harus balik ke Jakarta." Tolak Ruby.
"Temenin, atau lo gue tinggal ditengah jalan?" Ancam Hiko.
Ruby mendengus kesal, ia tak bisa berbuat apa-apa karena memang dia tidak bawa tas, dompet bahkan ponselnya. Hiko tersenyum menang melihat Ruby tak bisa menolaknya.
Mereka pun melanjutkan makan siang dengan obrolan-obrolan, oh bukan bukan, perdebatan-perdebatan kecil yang membuat Ruby menjadi tersudutkan dan terlihat kesal.
Usai makan siang, Hiko mengantar Ruby kembali ke dome universitas tempat Ruby menjalankan tugasnya.
"Ntar jam tujuh gue tunggu di lobby hotel! Jangan telat!" Kata Hiko.
Ruby sibuk melepaskan kait pengikat di helmnya, Hiko menarik pinggang Ruby hingga mendekat padanya.
"Mas!" Protes Ruby.
Hiko mengacuhkannya, ia membantu Ruby melepaskan kait pengikat helm. "Gini aja gak bisa." Gumam Hiko, Ia melepaskan helm dari kepala Ruby dan meletakkannya di spion motornya.
"Makasih." Ucap Ruby.
Wajah Ruby bersemu merah, ia merasa gugup dan malu dengan perlakuan Hiko barusan.
"Assalamu'alaikum ..." Ucapnya kemudian berlari meninggalkan Hiko.
Hiko tersenyum melihat Ruby yang sedang malu dan salah tingkah. Sebelum banyak orang memperhatikannya, segera ia meninggalakan kampus itu.
*********
Ruby sudah duduk menunggu Hiko di ruang tunggu hotel tempatnya meninap. Ia memakai gamis abu-abu yang dipadukan outer motif bunga dan pasmina hitam yang menutup kepala hingga terjuntai menutup dada. Sneakers putih kesayangnnya sudah berulang kali ia ketuk-ketukan dilantai hanya untuk sekedar membunuh waktu.
"Lama!" Ucapnya ketika seorang pria tampan yang memakai kaos putih dibalut dengan jaket bomber hitam dan celana jeans hitam terlihat keluar dari balik pintu lift.
Sneakers putih milik salah satu brand terkenal menapaki ubin hotel, sedikit terdengar decitan dari pergesekan alas sepatu dengan lantai ketika ia berlari kecil menghampiri Ruby.
Ruby berdiri dan siap mengutarakan kekesalannya pada Hiko. Tapi perhatian orang-orang di sekitarnya membuat ia mengurungkan niatnya memaki pria itu.
"Maaf, maaf." Ucap Hiko yang sudah melihat wajah kesal Ruby. Ia merangkul bahu Ruby dan mengajaknya keluar Lobby.
"Gak usah pegang-pegang, Mas." Ruby menepis tangan Hiko menjauh dari bahunya.
pib pib!
Sebuah alarm mobil sedan menyala tepat ketika Hiko menekan sebuah tombol yang ia pegang.
"Mobil siapa, Mas? Tadi siang kamu bawa motor, sekarang bawa mobil." Tanya Ruby keheranan.
"Dikasih orang." Jawabnya asal.
Hiko dan Ruby segera masuk ke dalam mobil. Tak lupa Hiko memakai aplikasi untuk memandu perjalanannya agar bisa sampai ke tempat tujuannnya tanpa harus nyasar kesana kemari.
Lebih dari setengah jam perjalanan yang ditempuh oleh Hiko dan Ruby hingga akhirnya mereka terhenti disebuah pelataran parkir yang ada di perbukitan.
"Aduuuh." Ruby mengusap lengannya ketika keluar dari mobil, ia tidak tahu jika akan pergi ke tempat bersuhu dingin seperti ini.
"Ayo!" Hiko menjentikkan jarinya.
Mereka menghampiri meja kasir untuk memesan minuman dan makanan ringan yang akan menemani mereka saat menikmati pemandangan. Usai mendapat nomor meja, mereka menuju ke sebuah bangunan terbuka semi permanen yang menyuguhkan pemandangan lampu-lampu kota dibagian bawah, dan taburan bintang-bintang di atas langit.
Hiko memilih sebuah meja meja yang menyatu dengan pagar pembatas. Deretan lampu-lampu kecil berwana kuning menghiasi disekitar mereka, cahaya cafe dibuat tak terlalu terang agar pengunjung bisa menikmati cahaya bintang dengan baik.
__ADS_1
Ruby duduk tepat disamping Hiko. Tempat yang lebih dingin dari pelataran parkir tadi, tapi ia tak mau mengajak pindah karena memang tempat ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah.
"Darimana mas tahu tempat ini?" Tanya Ruby.
"Instagram." Jawab Hiko, ia mengeluarkan kamera dan mengambil foto disekitarnya tanpa meninggalkan tempat duduknya.
"Gila! Bagus banget emang!" Ucap Hiko ketika melihat hasil jepretannya.
Ruby ikut mengintip layar kamera Hiko, "Dih ... Kirain foto apa-an. Taunya cewek juga!" Cibir Ruby.
"Lo cemburu? Ya udah, gue foto nih!" Hiko membidik wajah Ruby yang sedang terheran mendengar ucapannya.
"Jangan ambil fotoku tanpa ijin." Kata Ruby mencoba merebut kamera Hiko dari tangan Hiko.
"Heh, Kamera mahal nih." Hika menjauhkan kameranya dari Ruby.
"Sini! Aku gak ikhlas fotoku ada disana!"
Ruby masih keukeh menarik tangan Hiko hingga wajahnya hampir menempel di dada Hiko. Hingga membuat jantung pria itu berdetak lebih cepat dan pikirannya sudah berkeliaran kemana-mana.
Hiko menarik tubuh Ruby dan memeluknya, "Diam! Ada ulat di bahumu!"
"Hah!! Gak mau gak mau gak mau!" Teriak Ruby geli dan hampir menangis, ia semakin erat memeluk Hiko dengan ketakutan. "Mas buangin mas!" Pintanya.
Hiko tersenyum licik, "Gue juga geli sama ulet! Jauh-jauh sana!" Hiko mendorong tubuh Ruby.
"Gak mau! Buangin, Mas! Suami macam apa sih kamu itu, istrinya ketakutan malah gak mau bantu."
Hiko tertawa tanpa suara, "Jadi kalo lagi seperti ini lo anggap gue suami lo?" Ucapnya.
"Udah mas, tolong buangin. Aku geli beneran nih!" Ruby masih histeris dan membuat beberapa orang memperhatikan mereka.
"Gue buangin, tapi lo perlakuin gue sebagai suami lo!"
"Iya! Iya! Cepetan!"
Hiko tertawa menang, ia meletakkan kameranya diatas meja dan mengambil tisu untuk mengambil ulat yang sebenarnya tidak ada di bahu Ruby kemudian membuang tisu itu dibalik pagar.
"Udah!" Kata Hiko.
Ruby menarik diri dari badan Hiko dan bergidik geli melihat bahunya. Hiko masih tersenyum licik, ia memegang kedua pipi Ruby yang merona merah dan mengusap air mata yang ada di sudut mata Ruby.
Melihat perlakuan Hiko itu membuat Ruby tersipu malu, ia tak berani menatap Hiko.
"Lo inget persetujuan lo tadi kan?" tanya Hiko.
"Yang apa?" Ruby balik bertanya.
"Lo setuju perlakuin gue sebagai suami lo."
"Hah!? Aku bilang setuju?"
Hiko mengangguk dengan senyum sumringah. Ia menopang pipinya dengan telapak tangan, menatap Ruby penuh kemenangan.
"Enggak-enggak, aku gak mau! Aku bicara dibawah tekanan tadi!" Tolak Ruby
Hiko menggelengkan kepalanya. "Kesepakatan sudah terjadi, sayang." Kata Hiko sambil mencubit lembut pipi Ruby dengan gemas.
Ruby mematung, ia masih tidak bisa terima dengan keputusan Hiko.
"Mas tahu perjanjian awal kita kan? Aku gak bisa ngelakuin hal itu."
"Sex maksud lo?"
"Hih! Kata-katanya itu loh!"
Hiko tertawa terbahak-bahak, "Tenang aja .... Gue gak minat sama lo! Lakuin semua kewajiban lo sebagai istri, kecuali itu."
Ruby hanya menatap Hiko yang terlihat sangat bahagia sudah bisa menindasnya. Ya, memang seharusnya Ruby melakukan kewajibannya. Toh, Hiko tidak meminta apa yang Ruby tidak bisa berikan padanya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Terimakasih yang sudah sabar menunggu. Follow Aiko agar bisa masuk grub ya kak. Biar bisa berbagi informasi disana.
Oya, sehari aiko cuma bisa up 2 episode ya. Aiko harap kakak-kakak bisa memahami. karena diminta tambahan atau di protes kenapa cuma dua episode sedih banget akuuuh. Padahal udah berusaha bisa up tiap hari. Semoga kita bisa saling memahami ya kakak.
__ADS_1
Jangan lupa like. comment dan vote nya ya kakak.
Terimakasih banyak