Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
35


__ADS_3

Kamar berukuran 4x4 meter itu terasa sunyi walau penghuninya bertambah. Ruby masih duduk diatas kursi meja belajarnya, sedangkan Hiko sedang asyik dengan ponselnya diatas tempat tidur Ruby.


Ruby melirik sinis pria yang sedang menguasai tempat tidurnya itu, rasa bencinya tak hilang begitu saja walau kalimat ijab qabul sudah dilafalkan.


Ia masih mengingat jelas bagaimana ekspresi gugup pria itu ketika menyentuh ubun-ubunnya dan mengikuti doa yang dibimbing abinya. Sangat berbeda sekali dengan sikap angkuh dan cueknya saat ini.


"Mas kapan kembali ke kamar mas sendiri?" Tanya Ruby.


"Gak dibolehin sama Nyokab gue." Jawab Hiko cuek.


"Saya tidak bisa tidur dengan mas." Ujar Ruby.


"Ya tidur aja di kamar lain. Lo kan yang punya rumah ini, bebas donk pilih kamar manapun."


Ruby diam menahan kesal, halal gak sih bakar dia? Batin Ruby. Tak mau semakin kesal, Ruby memutuskan mengambil baju ganti dan pergi keluar kamar.


"Kemana. By?" Tanya Nyai Hannah ketika melihat putrinya masih belum tidur.


"Ruby gak bisa tidur dengan mas Hiko, Ummi." Rengek Ruby.


Nyai Hannah menutup mulutnya karena tertawa kecil, "Ya harus dibiasain donk, nak."


Rubby menggeleng, "Gak bisa Ummi, Ruby mau tidur dikamar belakang saja."


"By, mulai sekarang jangan menjaga jarak dengan suamimu, dia adalah surgamu. Menjauh darinya sama saja menjauhkan kamu dari surga Allah, Nak."


Ruby menghela nafas kesal, tanpa bicara apapun Ruby meninggalkan Nyai Hannah dan masuk ke kamar mandi.


Usai berganti baju dan wudhu, Ruby dengan sangat terpaksa kembali ke kamarnya. Ia mendapati Hiko yang sudah terlelap disana,


Tempat tidurnya memang cukup besar untuk dibuat tidur berdua, tapi tubuh Hiko berada hampir di tengah kasur, membuat ruang untuk Ruby semakin sempit. Ia sama sekali tak mau bersentuhan dengan Hiko.


Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dengan duduk diatas kursi meja belajarnya. Ruby menggunakan lengan kirinya sebagai bantal kepala, matanya belum terkantuk karena air wudhu membuatnya semakin segar. Ia menatap keluar cendela kamarnya yang hanya tertutup gorden tipis.


Jari-jarinya bergantian mengetuk meja, sekilas ia melihat sebuah cincin perak yang cukup pas melingkar di jari manisnya. Ruby tersenyum masam, dengan masih tertidur ia mengambil dua kotak kecil dari dalam laci meja belajarnya. Ia membukanya, menjajarkannya diatas meja. Ada satu buah cincin emas dengan berbeda model dimasing-masing kotaknya.


Aku menolak pria yang benar-benar mencintaiku dan mendapatkan laki-laki berakhlak buruk seperti itu. Apa yang sedang Allah rencanakan padaku? Apa Ia ingin bicarakan padaku?


Ruby menutup masing-masing kotak kecil tempat dua buah cincin yang seharusnya ia kembalikan pada pemiliknya tapi ia belum ikhlas jika harus mengembalikannya.


Lama menatap dua kotak itu, membuat matanya semakin terkantuk hingga akhirnya ia terlelap berbantal lengan diatas meja belajar.


**********


Bunyi suara ayam dibelakang rumah samar terdengar ditelinga Ruby. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan retina matanya dengan cahaya lampu dari luar kamar yang masuk ke dalam kamarnya.. Ia menatap langit-langit kamarnya yang minim cahaya, berusaha mengumpulkan kembali beberapa nyawanya yang sedang melancong ke beberapa tempat hingga mengahasilkan mimpi-mimpi yang terkadang tak ia pahami.


Ia menyibakkan selimut yang menutupi kaki hingga pinggangnya kemudian duduk menarik kedua tangannya keatas untuk menghilangkan rasa kantuknya. Ia menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah tiga pagi.


Ia membetulkan jilbabnya yang sedikit berantakan karena tidurnya. Tunggu! Kenapa aku memakai ini? Batinnya. Ruby menatap meja didekat cendela kamarnya, semalam dia tidur disana dan dia terbangun ada diatas tempat tidur. Segera Ruby melihat ke samping.


Hhuuft.


Ruby menghela nafas lega, dia tidak mendapati Hiko disana.


*Bagaimana bisa aku pindah ke atas tempat tidur? Atau tanpa sadar aku berjalan pindah kesini? Atau, mas Hiko yang memindahkanku?

__ADS_1


Ah, berfikir apa aku ini? Mana mungkin dia punya hati nurani seperti itu*.


Ruby memutuskan untuk menghentikan semua dugaannya dan segera mengambil wudhu untuk mendirikan sholat malam.


Langkahnya terhenti didepan pintu kamarnya ketika ia baru kembali dari tempat wudhu. Matanya tertuju pada seseorang yang sedang tidur dalam kegelapan di ruang tengah rumahnya.


"Kenapa suamimu tidur disitu, By?"


Pertanyaan kyai Abdullah membuat Ruby terkejut.


"Bangunkan dia, ajak dia sholat dan suruh istirahat di kamar." kata Abi kemudian berlalu ke arah mushola rumah.


Ruby menuruti perintah Abinya, ia menghampiri Hiko dan mengambil bantal sofa yang ada diatas sofa. Ia menggoyang-goyangkan kaki Hiko menggunakan bantal.


"Mas Hiko bangun." Ucapnya, tangannya tak henti menggoyangkan kaki Hiko dengan bantal.


"Hmm..." Jawab Hiko tanpa membuka mata.


"Ayo sholat malam, mas." Ajak Ruby.


Seketika Hiko membuka matanya, matanya memicing melihat Ruby. "Jam berapa nih?" Tanya Hiko.


"Sudah hampir jam tiga, ayo buruan wudhu."


Hiko pergi ke tempat wudhu, sedangkan Ruby langsung masuk ke kamarnya.


Dua sajadah sudah tergelar diatas lantai kamarnya Ruby, ia sudah mengenakan mukenah dan duduk diatas sajadah menunggu Hiko yang akan menjadi imam sholatnya.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka. Hiko muncul dari balik pintu dengan wajah dan ujung rambut yang masih basah, jemarinya sibuk membetulkan gaya rambutnya yang lepek karena air.


"Baru sadar kalau gue seganteng itu?" Tanya Hiko.


"Buat apa ganteng kalau gak punya akhlak yang baik." Cibir Ruby, rasa kagumnya lenyap seketika saat bibir tipis pria itu bersuara.


"Ngapain lo diem mulu disitu?" Tanya Hiko lagi.


"Nungguin mas lah!" Jawab Ruby kesal.


"Gue? Buat apa?" Hiko duduk diatas tempat tidur, ia menatap sajadah kosong didepan Ruby. "Lo gak nyuruh gue jadi imam lo kan?"


Ruby berdiri kesal, mengambil sajadah yang disiapkannya untuk Hiko lalu melemparkannya ke Hiko. "Buang-buang waktu aja nungguin kamu!" ucap Ruby.


"Siapa juga nyuruh nungguin gue."


Ruby menghela nafas panjang, menenangkan diri dan barulah ia memulai sholatnya. Sedangkan Hiko sibuk dengan ponselnya, lalu mengeluarkan beberapa baju untuk ganti karena dia harus kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi.


***********


Nyai Hannah sudah sibuk didapur bersama Ruby dan dua santri putri yang membantunya, Maria pun tak sungkan ikut disana. Sinar matahari sudah mengintip dari batas langit timur, bersiap menggulung suasana subuh.


Kyai Abdullah sudah berbincang dengan Handoko dan Hiko didepan teras rumah sejak pulang dari masjid subuh tadi. Mereka membahas tentang resepsi pernikahan dan tempat tinggal Hiko dan Ruby kelak.


"Sejak kecil Ruby sudah sering bilang kalau dia nikah gak mau pake resepsi, katanya malu harus berdiri dilihatin banyak orang." Ujar kyai Abdullah. "Tapi kalau pak Handoko mau bikin resepsi, nanti saya bujuk Ruby. Semoga saja dia mau ya, pak."

__ADS_1


"Hahahaha, memang terlihat kalau dia anak manis dan pemalu ya kyai."


"Uhuk uhuk!" Hiko tersedak pisang goreng yang dimakannya ketika mendengar papanya mengatakan Ruby anak yang manis dan pemalu.


"Kenapa, Ko?" Handoko menepuk-nepuk punggung putranya.


"Gak apa, Pa." Ia menepuk dadanya.


"Dan mengenai tempat tinggal mereka nanti, kebetulan Hiko sudah punya rumah sendiri. Memang tidak terlalu besar pak, tapi Inshaa Allah cukup nyaman untuk tempat tinggal mereka berdua." Ujar Handoko.


Kyai Abdullah mengangguk, "Iya, Pak. Inshaa Allah jika ada waktu, saya dan umminya Ruby akan mampir kerumah anda untuk bersilaturahmi."


Tiba-tiba saja sebuah mobil terhenti di halaman, membuat pembicaraan Kyai Abdullah dan Handoko terhenti. Seorang pria berkemeja hitam dengan celana jeans keluar dari dalam mobil. Wajahnya ramah walau tanpa senyum merekah dibibirnya.


"Assalamu'alaikum, Kyai." Ucapnya.


"Wa'alaikumsalam, Iqbal?" Kyai Abdullah menghampirinya.


Iqbal mencium tangan kyai dan langsung memeluknya, air matanya mengalir begitu saja.


"Maafkan kami ya, nak."


Iqbal segera melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.


"Kenapa Ruby sekejam ini pada saya, kyai?" Ucapnya.


Kyai Abdullah hanya menepuk bahu Iqbal. Ia menarik pelan tangan Iqbal, "Ini adalah suami Ruby. "


Hiko berdiri, kedua kalinya Hiko bertemu iqbal. Hiko mengulurkan tangannya, "Hiko."


Iqbal menyambut tangan Hiko, "Iqbal." ia melepaskan tangan Hiko, "Aku mendoakan semoga Allah memberkahi kalian dalam segala hal dan mempersatukan kalian dalam kebaikan."


"Aamiin." Sahut Hiko. Baik banget nih orang, lagi patah hati aja masih do'ain orang yang bikin dia terluka, batin Hiko.


PYAARR


Praaaang!


Nampan yang dibawa Ruby jatuh dan membuat semua gelas diatasnya berserakan dilantai ketika ia melihat Iqbal berdiri di depan Hiko.


"Ruby!"


Iqbal baru berniat menghampiri Ruby, namun gadis cantik itu bergegas masuk ke dalam rumah.


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hiko udah tanggung jawab nih ke Ruby, authornya masih mau ngumpulin hatersnya Hiko nih. Udah berkurang apa nambah.


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like, comment dan vote untuk novel ini ya. Author ucapin banyak banyak makasih karena selalu dukung author.


__ADS_2