Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
53


__ADS_3

Sinar mentari sudah mulai mengambil alih cakrawala. Bintang-bintang mulai memudar dibalik cahaya emas sang mentari. Bulan sudah tak berarti di langit pagi. tapi ia masih enggan meninggalkan singgasananya.


Ruby sudah sibuk membantu Maria di dapur. Beberapa asisten mulai mengerjakan pekerjaan Rumah. Usai sholat subuh tadi Handoko dan Maria membicarakan rencana resepsi pernikahan pada Ruby. Ia tak terlalu terkejut, karena Hiko sudah memberitahunya semalam.


Usai sarapan, Hiko dan Ruby mengantar kepergian Handoko dan Maria ke Bandara karena mereka akan menemui keluarga Ruby di Malang, mengundang secara resmi keluarga Ruby untuk menghadiri resepsi pernikahan putra putri mereka.


"Apa itu?" Tanya Hiko melihat sebuah rantang plastik dipangkuan Ruby.


"Makanan untuk mas Abriz." Jawab Ruby.


"Cowok yang suka lo itu?"


Ruby menatap sinis Hiko.


"Apa mas keberatan jika menurunkanku di rumah mas Abriz? Kita nanti melewati gang rumahnya, kan?" Tanya Ruby.


"Ngapain lo kesana?" Tanya Hiko, "Lo udah mulai suka dia?"


"Jangan bicara yang enggak-enggak!" Bantah Ruby. "Aku cuma mau lihat keadannya."


Hiko hanya diam tak menjawab.


Ruby mengira Hiko akan mengantarnya kembali pulang, tapi ternyata Hiko benar-benar mengantarnya ke rumah Abriz.


"Jangan lama-lama, habis naroh itu cepet balik, lo lagi gak fit. Gue ada shooting sampai sore, gak bisa jemput lo." Pesan Hiko sebelum Ruby keluar dari mobilnya.


Ruby mengangguk, "Iya, Mas." Ruby mengambil tasnya kemudian keluar dari mobil. "Assalamu'alaikum." Ucapnya sebelum menutup pintu mobil.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Hiko.


Ruby menutup pintu mobil dan menuju ke rumah Abriz. Hiko tak lekas pergi, ia masih ingin memandangi kepergian Ruby. Menghilangnya Ruby di keramaian gang membuat Hiko menyalakan mesin mobilnya dan mulai beranjak pergi.


Semenatara itu Ruby sudah sampai didepan pagang rumah Abriz. Pintu pagarnya masih tergembok dari dalam, ia menekan tombol bel yang menempel di dinding pagar.


Pintu rumah terbuka, Lyla muncul dari balik pintu. Ia tersenyum lebar melihat Ruby datang berkunjung. Gadis yang juga memililiki lesung pipit itu berlari kecil membuat rambut panjangnya bergoyang-goyang.


"Assalamu'alaikum, Lyla." Sapa Ruby.


"Wa'alaikumsalam, mbak Ruby." Lyla sibuk membuka kunci gembok pagar rumahnya. "Aku senang Mbak kesini lagi. Ayo masuk, Mbak." Ajak Lyla setelah membuka pintu pagar.


"Terimakasih ya, Lyla." Kata Ruby, "Aku bawain makanan untuk sarapan pagi kamu dan mas Abriz."


"Wah, kebetulan banget kami belum sarapan. Biasanya yang masak mas Abriz, tapi sekarang gak bisa."


"Alhamdullillah, ternyata bisa langsung di makan."


"Mas Abriz! Ada mbak Ruby nih datang." Teriak Lyla ketika mereka sudah ada di ruang tamu, "Silahkan duduk, Mbak."


"Iya, Lyla."


Lyla meninggalkan Ruby ke dalam untuk mengambil piring yang akan digunakan mereka sarapan. Sedangkan Ruby duduk di ruang tamu, memperhatikan ruangan tersebut. Polos, tidak ada sat pun foto disana sehingga dia tidak bisa menebak seperti apa keluarga Abriz.


"Assalamu'alaikum, By." Abriz keluar dari sebuah ruangan.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Bagaimana kabarnya?" Tanya Ruby.


"Hahahaha, sekarang baru terasa sakitnya, By." Jawab Abriz


Ruby sangat merasa tidak enak, dia bingung harus berbuat apa.


"Ayo kak, sarapan." Ajak Lyla.


"Iya, kalian saja. Aku kebetulan sudah sarapan." Jawab Ruby.


"Makasih loh. By. Kamu mau repot-repot bawakan ini." Ucap Abriz.


"Sama-sama, Mas." Jawab Ruby, "Apa ada yang bisa saya bantu di rumah ini, Mas?" Tanya Ruby.


"Gak usah, By. Kamu duduk aja." Kata Abriz.

__ADS_1


"Aku masakin kalian untuk makan nanti aja, ya?"


"Wah, enak tuh!" Sahut Lyla mendengar rencana Ruby.


"La..." Abriz mengingatkan Lyla.


"Ada bahan, La?" Tanya Ruby pada Lyla.


Lyla mengangguk, "Ada kak di kulkas."


Ruby mengangguk, "Kalian makan dulu ya, aku mau telepon mas Hiko dulu."


Lyla dan Abriz mengangguk.


Ruby pergi keluar rumah dan mencoba menghubungi Hiko.


"Assalamu'alaikum, Mas. Sepertinya aku lebih lama ada di sini." Ucap Ruby ketika panggilan teleponnya sudah terhubung.


"Wa'alaikumsalam. Mau ngapain lo disana?"


"Aku masih mau masakin makanan buat mereka, biasanya mas Abriz yang masak buat adiknya tapi sekarang gak bisa karena tangan mas Abriz luka."


"Hah! Gue aja gak pernah lo kirimin makanan, gak pernah lo masakin. Orang lain malah lo kirim makanan, sampai dimasakin pula!" Protes Hiko.


Ruby hanya mendengarkan omelan Hiko,


"Assalamu'alaikum, Mas." Ruby menutup panggilan telponnya.


*********


Genta dan Nara sudah bisa menebak dari raut wajah Hiko jika dia sedang bad mood. Entah apa yang membuatnya bad mood sebelum ia tiba di lokasi shooting, yang jelas ini akan membuat Genta dan Nara akan kerepotan.


Hiko duduk dikursi miliknya dengan kesal. "Berapa scene hari ini?" Tanya Hiko.


"Ada perubahan dari tim, habis ini gue masih mo rapat sama mereka." Jawab Genta.


Nara memberikan sebotol minuman dingin untuk Hiko, "Kenapa sih? Pagi-pagi gini udah bad mood?" Tanya Nara.


"Ra! Tolong ambilin baju-bajunya Hiko di mobil gue, ya?" Pinta Genta.


"Iya, Kak." Nara meninggalkan Hiko dan Genta.


Genta mendekati Hiko, "Ruby bikin lo badmood?" Tebak Genta.


"Bisa-bisanya dia pagi-pagi udah minta nyuruh gue anterin dia ke rumah cowok yang suka dia, bawain makanan pula. Eh, barusan telpon kalau dia mau disana lebih lama. Mau masakin buat cowok itu!" Ujar Hiko dengan kesal.


Genta hanya senyum-senyum geli dan tetap mendengarkan keluhan Hiko.


"Tuh cewek emang gak tahu diri banget, gak tahu terimakasih! Padahal gue udah obatin luka dia semalam, eeh baiknya malah ke orang lain! Anj*ng emang!"


"Perhatian banget lo ke dia? Sampai obatin lukanya juga?" Tanya Genta.


"Dia kan tanggung jawab gue, Ta! Mikir gak lo kalo Abinya lihat anaknya luka? Gue dikira jadi cowok gak bisa jaga anak orang, dipandang remeh gue!"


Genta mengangguk-angguk. "Udah, habis ini lo siap-siap take aja! Inget, profesional!"


Hiko hanya mendengus kesal.


Nara kembali membawakan baju yang akan dikenakan Hiko shooting dan Hiko segera ganti pakaian untuk bersiap ambil gambar.


Hiko memang seorang actor profesional, mood-nya tidak akan mempengaruhi proses shooting. Ia selalu memberikan yang terbaik didepan kamera, sehingga tidak akan menyusahkan kru film.


Jam makan siang sudah tiba, Hiko masih disibukkan dengan salah sati scene yang terasa berat karena lawan mainnya berulang kali membuat kesalahan. Berulangkali Hiko mengumpat didalam hati, tapi dia tak bisa merusak image-nya sebagai seorang actor yang ramah.


"Cut cut cut!" Teriak Sutradara. "Lo yang bener donk, Ka! Tinggal nunggu lo doang nih. Kasihan Hiko tuh! Istrinya dah nungguin dari tadi!"


Hah! Istri?


Hiko melihat ke tempat duduknya dan benar, Ia melihat Ruby sedang duduk disana bersama Genta dan Nara.

__ADS_1


Entah kenapa kehadiran Ruby disana membuat amarah Hiko mereda.


"Maafkan saya ya, Kak. Semoga kalimatnya kali ini benar." Ucap Dika, lawan main Hiko.


"Beneran, Ya!" Ancam Hiko dengan senyuman.


Proses pengambilan gambar di mulai. Beberapa kali take masih ada kesalahan yang dilakukan lawan main Hiko. Akhirnya Hiko menyerah, dan meninggalkan tempat pengambilan gambar untuk menghampiri Ruby.


"Ciye... Gak sabaran banget nyamperin istrinya." Goda para kru film saat melihat Hiko menghampiri Ruby.


Hiko hanya tersenyum. Ia langsung mencium kening Ruby dan mengusap lembut pipi Ruby.


Tentu saja hal itu membuat Ruby, Nara dan Genta terkejut. Ruby ingin langsung melayangkan protes, tapi melihat beberapa orang yang memperhatikan mereka membuatnya mengurungkan niat.


"Tumben datang kesini sayang?"


Ruby menunjuk tempat makan bersusun, "Nganter itu."


"Duuuuh, pengantin baru. Bikin iri aja." Goda dari salah satu kru membuat Ruby harus tersenyum dan menahan marah.


Ruby juga merasa tak enak dengan Nara yang terus menatap Hiko menandakan tak suka dengan tingkah Hiko pada Ruby.


"Aku langsung balik, ya?" Kata Ruby, Ia berdiri.


"Ngapain balik cepet?" Cegah Hiko, "Makan siang bareng dulu." Hiko mengambil kotak makan yang dibawa Ruby dan menarik tangan Ruby.


Ruby mengikuti Hiko dengan menatap Nara seakan meminta maaf pada Nara. Nara memberikan anggukan walau sebenarnya ia tak menyukai Ruby pergi bersama Hiko.


Hiko membawa Ruby duduk di salah satu bangku panjang dibawah pohon, ia membuka kotak makan yang sudah disiapkan Ruby.


"Kenapa mas harus cium aku sih!" Protes Ruby ketika melihat tak ada orang disekitarnya.


"Bukannya wajar suami ngelakuin itu ke istrinya?" Jawab Hiko.


"Tapi kita bukan suami istri seperti itu."


Hiko diam melahap makan siangnya, "Lo masak sendiri?"


"Jangan ngalihin perhatian!"


Hiko meletakkan kotak makannya dan menatap Ruby. Lama, sampai membuat Ruby cukup canggung, tersipu malu dan mengalihkan pandangannya.


"Jangan lihat aku seperti itu." Ucap Ruby.


"Lo bilang jangan ngalihin perhatian? Gue udah fokus ke elo, malah gak boleh ngelihatin. Maksudnya apa coba?"


"Maksudku jangan mengalihkan pembicaraan."


Hiko mengangguk-angguk dan kembali melahap makanannya. "Oya! Jangan malu-malu kaya tadi di depan cowok lain."


"Kenapa?"


"Udah, nurut aja!"


Ruby menatap curiga pria yang sibuk makan didepannya itu. Ia duduk diam menunggu pria itu Hingga selesai makan.


-Bersambung-


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, comment dan votenya ya kakak.. Like nya harus 300 keatas pokoknya. wqwqwq

__ADS_1


Follow akun mangatoon aiko juga dan masuk grub ya, aiko bisa kasih kabar disana jam berapa aiko up episode barunya.


Terimakasih dukungannya kakak.


__ADS_2