
Matahari sudah tenggelam beberapa waktu yang lalu, Ruby baru saja selesai melaksanakan sholat magribnya di mushola kantor. Ia duduk ditepian pagar taman depan kantor, menikmati jingga yang menarik hadirnya sang malam. Dia tidak sedang menunggu siapapun, hanya sedang ingin lebih lama berada disana karena enggan jika pulang ke rumah Hiko.
/Gue gak akan pulang malam ini. Jangan lupa minum obat lo./
Sebuah pesan datang dari nomor tak dikenal, ia tahu siapa pemilik nomor itu namun tak ada niatan sedikitpun untuk menyimpan nomornya. Ruby tak memberikan balasan pada pesan itu. Kembali diam dan menatap langit.
"By,"
Seseorang memanggilnya, ia menoleh ke belakang. Ada Tasya dan Abriz disana. Mereka memang selalu lembur sejak kemarin untuk mengejar target proyek yang sudah semakin dekat dengan deadline.
"Sedang apa? Kok belum pulang?" Tanya Abriz.
"Belum dijemput?" Tanya Tasya.
Ruby menggeleng, "cuma lagi menikmati waktu aja, Mbak."
Abriz duduk disamping Ruby, tentunya ia memberi jarak diantara mereka.
"Belom baikan sama suamimu?" tebak Abriz.
"Pengantin baru kok sering marahan kamu nih, By?" goda Tasya. "Mau ku anterin pulang, By?"
"Ku anter aja, By." sela Abriz.
"Pake apa? Pake awan kinton?" goda Tasya.
Ruby juga terkekeh kecil.
"Pake ..." Abriz berfikir sejenak, "naik taxi online bisa, naik busway juga bisa. Di drama korea juga suka gitu kan kalo nganter Cewekny pulang. Gak perlu bawa mobil."
"Mas mas, kamu nih. Nyicil motor sana! Gimana Ruby mau terima kamu lha wong masa depanmu aja gak jelas." goda Tasya lagi.
"Ntar kalo udah nikah juga ada rejekinya sendiri, Sya." jawab Abriz, ia memanyunkan bibirnya.
"Semangat boleh gede, tapi modal digedein juga lah, Mas. Inget, saingan kamu itu udah punya modal gede." Tasya menepuk punggung Abriz beberapa kali.
"Udah, ah. Aku balik dulu ya, By." Pamit Tasya.
"Iya, Mbak. Hati-hati." sahut Ruby, ia melambaikan tangan mengantar kepergian Tasya.
"Mas gak pulang juga?" tanya Ruby.
Abriz menggeleng, "nungguin kamu."
"Gak usah, Mas. Nanti malah akan menimbulkan fitnah."
Perkataan Ruby tak membuat Abriz lantas pergi, ia tetap dengan posisinya.
"Apa karena aku tidak lebih kaya darimu sehingga kamu mengabaikan lamaranku, By?" tanya Abriz.
"Aku tidak pernah berfikir seperti itu, Mas." Jawab Ruby, "aku masih istri sah dari suamiku, Mas. Aku tidak mungkin membuka hati untuk orang lain."
Abriz menghela nafas panjang, mereka diam sejenak.
"Kenapa kamu memilih pergi ke jepang? Bukannya itu malah membuat suamimu dan wanita itu semakin dekat." Tanya Abriz.
Ruby hanya mengangguk, "Memang seharusnya mereka semakin dekat dan aku yang menjauh."
Abriz menatap Ruby keheranan. "Apa---"
"Aku akan pulang sekarang, Mas." Ruby memaotong kalimat Abriz. Ia berdiri meninggalkan Abriz dan sibuk dengan ponselnya.
"Iya, Mbak tunggu disana saja. Biar saya jalan kesana sebentar, daripada putar balik nanti jauh dan masih kena macet." Terdengar ia sedang berbicara dengan seseorang di telponnya.
"Naik Ojol, By?" Tanya Abriz.
Ruby terkejut ketika melihat Abriz masih mengikutinya. "Iya, Mas." Jawabnya sambil terus melangkah. "Drivernya nunggu di seberang jalan sana."
"Kenapa gak nunggu disini aja sih?" Tanya Abriz.
"Makin lama nanti, Mas. Macet kaya' gitu."Ruby menunjuk kemacetan didepan kantornya.
Ruby melangkah tergesa-gesa menyebrangi tumpukan kendaraan yang sedang menikmati kemacetan. Langkahnya melambat ketika melihat sebuah mobil sedan putih dengan dua orang yang sangat ia kenali didalamnya.
Hiko dan Nara sedang bercanda tawa di dalam mobil. Harusnya Ruby senang melihat mereka berbaikan, tapi ada rasa yang menelisik dan membuat hatinya tak nyaman.
BRUK!!
"Aduh!!"
Ruby tersandung ban depan salah satu motor, hingga menyita perhatian beberapa orang termasuk Hiko dan Nara.
"By, gak apa?" Tanya Abriz khawatir, ia mengulurkan tangannya tapi hanya sentuhan angin yang menyambutnya karena Ruby berusaha berdiri sendiri.
"Maaf ya, Mas." Ucap Ruby pada pria pemilik kendaraan.
"Gak apa, Kak" Jawabnya.
Ruby kembali melangkah dengan menahan sedikit sakit dibagian Lututnya. Ia menyempatkan mencuri pandang kedalam mobil Hiko yang berjarak tak jauh darinya, tanpa diduga tatapan mata Hiko dan Ruby bertemu. Dengan cepat Ruby membuang muka dan setengah lari menuju ke seberang jalan.
__ADS_1
"Kamu beneran gak apa, By? Ada yang luka?" Tanya Abriz ketika Ruby akan naik ke atas motor Ojek online.
Ruby menggeleng, "Enggak, Mas." Jawabnya, "aku pulang dulu ya, Mas. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam ..."
***********
Ruby baru saja menyelesaikan makan malamnya dan mencuci semua peralatan makan. Matanya belum terkantuk karena tubuhnya sudah membaik hari ini. Ia pergi ke kamarnya, mengambil tablet dan styluspen-nya kemudian dibawanya ke ruang tengah.
Ruby menyalakan tv, memilih acak stasiun tv untuk menghilangkan suasana sepi di rumah Hiko. Setelah merasa cukup nyaman, Ruby membuka file komiknya dan mengerjakan komiknya yang tertunda.
Perih mulai terasa ditelapak tangan dan lututnya akibat perkenalan antara kulit Ruby dan aspal jalanan ibu kota. Walau cukup mengganggu tetap ia abaikan karena hanya sebuah luka gores ringan.
Lama Ruby masuk di dunia imajinasinya, fokus mengerjakan komik hingga cukup selesai beberapa lembar halaman. Ia mengangkat kepalanya karena ia sudah merasakan tengkukya yang mulai terasa penat.
"Alhamdullillah ..." Ia menganarik kedua tangannya keatas untuk meregangkan otot-ototnya.
Jam di dinding sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Ruby mematikan tv yang sedari tadi melihatnya, dan mamtikan lampu-lampu ruang bawah. Tak lupa ia mengunci pintu ruang tamu rumah Hiko.
Langkah tangannya terhenti ketika ia ingin mengunci pintu ruang tamu. Seakan ada yang menahan pintu dari luar dan saat ia buka ternyata Hiko sedang berdiri di luar pintu.
Tak ada sapaan dari keduanya, hanya saling menatap dalam diam. Untuk beberapa saat mereka terpaku ditempat yang sama, hingga akhirnya Ruby memilih beranjak pergi lebih dulu.
"Gimana keadaan lo?" tanya Hiko, ia melangkah masuk mengikuti Ruby.
"Aku baik-baik saja. Mas tidak perlu mengkhawatirkan aku." jawab Ruby tanpa membalikkan badannya.
Hiko menarik tangan Ruby dan menahannya, dengan cepat Ruby menepis tangan Hiko. "Jangan menyentuhku!" ucapnya lirih tapi sangat tajam terdengar di telinga Hiko.
Hiko meraih kembali tangan Ruby, melihat kedua telapak tangannya. Sedikit merah disana kemudian ia menarik Ruby untuk duduk diatas sofa ruang tamu. ia duduk berjongkokt tepat didepan kedua lutut Ruby lalu menyingkap bagian bawah rok gamis Ruby.
PLAK!
Sebuah tamparan dari tangan Ruby mendarat di pipi Hiko, memberi bekas kemerahan disana. Hiko menatap Ruby marah, begitu pula dengan Ruby.
"Beraninya kamu membuka rok ku tanpa ijin dariku, Mas?" Tanya Ruby.
"Gue gak perlu ijin untuk sentuh istri gue sendiri." Kata Hiko.
"Aku bukan istrimu yang sesungguhnya, jangan perlakukan aku seenakmu." Ruby berdiri.
Hiko ikut berdiri dan menghadang langkah Ruby yang akan beranjak pergi. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua lembar plester bergambar tokoh kartun disana.
"Gue cuma mau lihat apa kaki lo luka." Ucap Hiko, ia meraih tangan Ruby dan meletakkan plester yang dibawanya diatas telapak tangan Ruby.
Ruby menatap Hiko.
Terdengar suara getaran ponsel Hiko di sakunya, ia mengambil dan mengangkatnya.
"Iya, sayang. Masih dibikinin sama mamang nasgornya. Tunggu ya?"
Sebuah kalimat yang cukup membuat Ruby terkejut.
"Gue balik ke rumah Nara dulu." Hiko melepaskan tangan Ruby dan meninggalkan ruang tamu.
"Kenapa kamu harus berbohong dan datang jauh-jauh kemari, Mas?"
Pertanyaan Ruby membuat langkah Hiko terhenti tepat sebelum ia membuka pintu ruang tamu. Hiko membalikkan badan dan menatap Ruby.
"Jaga diri lo baik-baik, mungkin untuk beberapa waktu gue gak akan pulang kesini." Kata Hiko.
Ruby diam dan menatap Hiko.
"Gue akan tinggal dengan Nara untuk beberapa waktu." Hiko memperjelas.
Ruby masih terdiam.
Hiko menghela nafas kemudian pergi meninggalkan ruang tamu. Ruby hanya menatapi kepergian Hiko dari balik cendela. Walau berat melihat pria itu pergi, tapi ia merasa akan lebih baik jika sementara jauh dengan Hiko.
**********
Pagi pagi sekali Ruby mendapat sebuah pesan dari Rika, jika ia sudah mendapat kabar baik dari Yuwen. Yuwen menerima tawaran kerjasama dengan Star House milik Rika. Karena itu Rika meminta Ruby agar bisa datang ke kantornya untuk membahas serial drama The King yang sudah akan berakhir.
Sepulang dari kantor, Ruby pergi ke kantor Star House menemui Rika. Disana ia juga bertemu dengan Genta, pria itu sedang duduk di ruang tunggu yang ada didepan ruangan Rika, sibuk memainkan game di ponselnya.
"Mas Genta." Sapa Ruby.
daGenta mendongakkan kepalanya, "hei, By! Kesini juga?"
"Iya, Mas." Ruby melihat ke sekitar, "sendirian, Mas?" tanya Ruby.
Genta mengangguk, "Hiko dan Nara masih di lokasi shooting, kemungkinan dia akan sering lembur sekarang. The King sudah tinggal beberapa episode lagi."
"Iya, Mas."
"Mbak Ruby, Mas Genta. Silahkan masuk, sudah ditunggu bu Rika." Ucap salah seorang sekretaris Rika.
Ruby dan Genta pun masuk ke dalam ruangan Rika. Ada seorang pria berpakaian formal sudah duduk mengisi salah satu sofa. Apa itu Yuwen? Ruby bertanya dalam hati.
__ADS_1
"Silahkan duduk." Ucap Rika.
Ruby dan Genta duduk di sofa yang terpisah.
"Kenalkan, ini Bagus, sekretaris sekaligus kuasa hukum dari Yuwen."
"Halo, saya Bagus." Sapa Pria itu ramah.
"Saya Genta."
"Saya Ruby."
Genta dan Ruby memperkanalkan diri bergantian.
"Genta ini Manajer Hiko, dan Ruby ini pemilik komik The King." Rika memperjelas pekerjaan Genta dan Ruby.
Bagus tersenyum pada Ruby, "Saya dan Yuwen salah satu penggemar komik anda." Bagus menunjukkan layar ponselnya, wallpaper dalam layar tersebut adalah cover dari komik The King milik Ruby.
"Terimakasih, kemampuan saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Yuwen." Ruby merendahkan diri.
"Jangan bicara seperti itu, kalian sama sama memiliki karakter yang sangat kuat. Mungkin karena itulah banyak perusahaan yang melirik bakat kalian." Tukas Bagas.
Ruby hanya tersenyum.
"Silahkan bu Rika, bisa sampaikan hasil pembicaraan kita tadi." kata Bagus.
Rika mengangguk kemudian menatap Ruby dan Genta.
"Jadi gini, Yuwen bersedia jika Go Hanae dijadikan serial drama oleh Star House. Tapi dia meminta Hiko kembali menjadi pemeran utama di Go Hanae, dan dia meminta Ruby membantunya untuk desain kostum untuk para pemainnya."
Ruby dan Genta saling memandang.
"Yuwen sangat mengagumi acting Hiko yang sangat natural, ditambah lagi dia punya tampang badboy sesuai dengan karakter utama Go Hanae. Hahahahaha." Candaan Bagus mendapat respon datar dari Genta.
"Maaf-maaf, tapi memang kami sangat mengagumi Hiko. Saya harap dia mau menerima peran itu. Apalagi dia juga menguasai bela diri dengan sangat baik, cocok sekali." Bujuk Bagas.
Genta mengangguk, "Dia memang multitalenta."
Bagas menganggukkan kepalanya. setuju dengan pendapat Genta. Kemudian ia menatap Ruby, "kami juga berharap Mbak Ruby bisa membantu kami."
"Tapi kan di tiap karakter sudah ada kostumnya masing-masing?" Tanya Ruby.
"Dia ingin memodifikasinya tanpa mengubah desain utamanya." jawab Bagus.
Ruby mengangguk, "Saya bukan ahlinya sih, tapi saya juga ingin bekerjasama dan mendapat ilmu dari Yuwen." Kata Ruby semangat.
"Oke, Sip!" Bagus mengacungkam jempolnya, "Hiko bagaimana?" tanyanya pada Genta.
"Saya akan bicarakan padanya setelah mendapat naskah dari bu Rika."
"Oke, baik! semoga kita semua bisa bekerjasama." kata Bagus.
"Kenapa Yuwen tidak ikut kemari?" Tanya Genta.
"Dia ada di Jakarta, cuma kebetulan hari ini dia sedang bertemu salah seorang perwakilan dari studio animasi dari Jepang." Jawab Bagus.
"Dia serius Menerim kontrak kerja dengan Sunrise Animation?" tanya Ruby.
Bagus mengangguk, "berkat kamu juga dia mau menerima tawaran itu."
Ruby tersenyum senang.
Obrolan mereka berlanjut tak terlalu lama. Bagus pergi dulu setelah ia memastikan semua berjalan sesuai kemauan Yuwen. Genta dan Ruby berbincang lebih dulu di ruang tunggu lobby Star House.
"Kamu benar-benar akan pergi ke Jepang, By?" tanya Genta.
Ruby mengangguk, "Iya, Mas. Aku serius akan hal itu."
"Kamu akan meninggalkan Hiko, By?" tanya Genta lagi.
Ruby menggeleng, "bukan aku yang meninggalkannya, Mas. Tapi dia yang meninggalkanku."
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Hai kakak-kakak readers. Terimakasih selama ini sudah membaca karyaku.
Hari ini aku ingin memberikan informasi ulang jika sehari aku cuma bisa up dua episode dan aku usahakan bisa up setiap hari, jikapun ada satu hari aku gak bisa up bukan berarti besoknya aku kasih double up ya kak. Kecuali aku bilang sebelumnya jika akan ku kasih bonus, pasti beneran aku kasih.
Tiap hari author Up setiap pukul 15.00 WIB. Jika ada perubahan akan aku umumkan di grub ataupun di kolom komentar episode terakhir.
__ADS_1
Jangan lupa selalu tinggalkan like, comment dan vote untuk penyemangatku.
Terimakasih