
Dua manusia yang sedang tersekat oleh keadaan itu masih terdiam saling menatap. Sorot mata itu mampu mewakili mulut yang tak bisa mengucapkan isi hati mereka. Lidah bisa saja berdusta. tapi mata tak bisa melakukannya, indra pengelihatan itu terlalu murni untuk melihat dan memandang apapun, termasuk cinta.
Perihal cinta mereka tak perlu ada yang meragukan. Semua yang tahu kisah mereka bisa dengan mudah menebak jika pasangan itu masih saling mencintai, masih saling menjaga hati dan sedang menunggu takdir menuntun mereka untuk menjadi halal satu sama lain.
"Aku pergi dulu, Mas." Pamit Ruby memecah keheningan dalam ruangan itu. "Assalamu'alaikum,"
"Aku akan tetap memperjuangkan hubungan kita, By!"
Kalimat Hiko menghentikan langkah Ruby.
"Aku tidak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya. Bagiku, memilihmu adalah keputusan terbaikku!"
Ruby hanya diam menatap Hiko yang sedang menatapnya penuh keyakinan.
"Aku tidak ingin memberimu jawaban apapun, Mas. Biarlah Allah yang menjawab kisah ini." Ujar Ruby, "Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumsalam,"
Entah untuk keberapa kalinya Hiko selalu melihat kepergian Ruby tanpa bisa menahannya. Seperginya Ruby, ia kembali duduk dan menatap foto-foto Ruby yang menempel sempurna pada dinding didepannya.
Aku sudah berusaha memantaskan diri, tapi mengapa Allah belum mengijinkan kita berdampingan? Semulia itukah kau, hingga Allah menjagamu begitu erat dari seorang pendosa sepertiku?
***********
Ruby menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Pikirannya sedang kacau. Ia sedang ada dipersimpangan jalan yang harus memilih antara perasaannya atau keluarganya. Ia mengambil ponselnya dan menelepon umminya.
"Assalamu'alaikum, Ummi." Sapa Ruby ketika sambungan teleponnya sudah terhubung.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Bagaimana? Kalian sudah saling mengenal?" tanya Nyai Hannah tanpa basa basi
"Sudah, Ummi."
"Bagaimana? Apa kamu bisa menilainya, Nak?"
"Sepertinya mas Habibie pria yang baik, Ummi. Dia orang yang santun tapi sepertinya pendiam."
"Apa kamu sudah memberinya jawaban?"
"Belum, Ummi. Ruby belum bisa meyakinkan hati Ruby."
"Nak ...,"
"Ruby masih sangat mencintai mas Hiko, Ummi."
"Kamu bisa mencintai calon suamimu kelak, Nak. Seiring bergulirnya waktu. Bukankah kamu juga sudah pernah melakukan hal yang sama pada Hiko?"
"Ummi, tapi kali ini berbeda? Apa tidak bisa Ruby kem--"
"Ummi tidak bisa menerimanya kembali, By. Ummi tidak bisa. Kamu bisa minta yang lain pada Ummi, tapi Ummi mohon jangan yang itu."
"Maafkan Ruby, Ummi." Keluh Ruby.
"Maafkan Ummi juga, Nak. Ummi tunggu jawaban kamu segera." Kata nyai Hannah. "Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumsalam, Ummi."
Ruby meletakkan ponselnya, ia menghela nafas panjang. Itulah alasan kenapa untuk kembali dengan Hiko sangat sulit. Karena Umminya tak merestui.
Sejak meninggalnya Nara, Nyai Hannah sudah memperingatkan Ruby untuk tidak berharap kembali menikah dengan Hiko. Nyai Hannah sudah memaafkan Hiko dan tidak memiliki dendam apapun pada Hiko. Tapi, ia tak bisa menghilangkan bagaimana kehidupan putrinya sangat terluka karena pria itu.
Sedangkan Ruby juga sudah enggan untuk membantah kedua orangtuanya lagi. Sudah cukup kesalahan yang ia perbuat dari masa lalunya dan ia tak mau mengulanginya lagi. Sungguh, ia lebih menginginkan hidup dalam kesendiriannya dibandingkan ia harus hidup bersama orang lain. Sebab ia tidak siap untuk jatuh cinta lagi, tidak siap untuk membuka hati lagi.
***********
Sudah hampir satu bulan Hiko dan Ruby tak pernah bertemu, Hiko masih melakukan rutinitas pagi ataupun sorenya di sepanjang jalan Malioboro, tapi tak sekalipun ia bisa bertemu dengan Ruby.
Sore ini Hiko juga mengajak Almeer untuk jalan-jalan sore di Malioboro, duduk bersantai di sebuah bangku sambil menikmati ice cone.
"Pah!" Panggil Almeer.
"Ya, Al?" Sahut Hiko.
__ADS_1
"Kenapa Mama Ruby gak pernah nemuin Almeer lagi? Apa Almeer tidak baik, Pa?" tanya Almeer.
Hiko menggeleng, "Mama Ruby masih sibuk, sayang. Sabar, ya. Nanti kalau sudah tidak sibuk, In shaa Allah Mama Ruby nemuin Almeer."
"Benar, Pa?"
Hiko mengangguk sambil mengusap kepala putranya.
"Mama Ruby benar-benar akan jadi mamanya Almeer kan, Pa?" tanya Almeer.
Hiko tersenyum, "In Shaa Allah, Almeer berdo'a saja sama Allah."
Almeer menitipkan es yang dibawanya pada Hiko lalu menengadahkan tangannya, "Ya Allah, semoga Mama Ruby bisa jadi Mamanya Al dan semoga Al bisa ketemu Mama Ruby karena Al kangen. Aamiin."
"Aamiin." Sahut Hiko, ia mengembalikan es milik Almeer.
"Al habis ini mau kemana?" tanya Hiko.
"Mau ke rumah Mama Ruby saja, Pa. Gimana?"
"Tapi Papa belum tahu rumah Mama Ruby dimana, Tuh."
Satu yang ia sesali ketika usai bertemu dengan Ruby adalah tidak meminta nomor telepon ataupun tempat tinggalnya sekarang. Mungkin karena setiap kali mereka bertemu, terlalu banyak hal serius yang mereka bicarakan hingga tak sempat menanyakan hal-hal lain.
"Lain waktu kalau ketemu Mama Ruby pasti Papa tanyakan, ya?"
"Mama Ruby, Pa!"
Almeer tidak menanggapi pembicaraan Hiko dan malah berlari menghampiri wanita cantik yang memakai gamis coklat susu dan kerudung warna peach yang sedang berjalan sendirian.
"Mama Ruby!" Almeer langsung memeluk paha Ruby.
Ruby terkejut karena tiba-tiba saja ada seorang anak kecil memeluknya. Namun Ia tersenyum ketika anak itu mendongakkan kepalanya, Almeer tersenyum lebar menatap Ruby.
"Assalamu'alaikum, Mama Ruby." Sapa Almeer.
"Wa'alaikumsalam, Almeer sayang." Ruby mencakup kedua pipi Almeer.
Ruby mengajak Almeer menepi, ia menatap sekita mencari orang yang bertanggung jawab atas pria kecil itu. Dan ia menemukan sosok pria tinggi yang memakai kaos putih dan celana jeans hitam dengan topi hitam menutup rambutnya. Ia hanya memberikan sedikit senyum di bibirnya sambil berjalan menghampirinya.
"Wa'alaikumsalam, By." Jawab Hiko.
"Mama Ruby dari mana?" tanya Almeer.
"Pulang kerja, Sayang. Jalan-jalan bentar disini." Jawab Ruby.
"Mau jalan-jalan bareng Almeer?"
Ruby menatap Hiko, "Boleh?" tanya Ruby.
"Aku akan sangat senang, By." Jawab Hiko
"Oke, mau kemana nih?" tanya Ruby.
"Pah, ke bukit pah." Kata Almeer.
"Dingin, ah. Kita kan gak bawa jaket." Tolak Hiko, "yang deket-deket aja."
Almeer memayunkan bibirnya dan duduk di bangku kosong yang ada didekatnya kemudian melahap habis sisa ice cone-nya.
"Ya udah, kita pulang dulu ambil jaket, ya." Kata Hiko, tak tega ketika melihat Almeer cemberut.
"Yes!! Makasih Papa!!"
Hiko langsung menggendong Almeer kemudian menatap Ruby, "Kamu gak masalah pergi kesana?" tanya Hiko.
Ruby mengangguk, "Gak apa kok, Mas."
"Gak capek?" tanya Hiko lagi.
"Enggak, Mas." Jawab Ruby.
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju ke mobil dan kembali ke rumah Hiko untuk mengambil jaket. Tak lupa Hiko meminjamkan jaketnya untuk Ruby juga dan kemudian mereka segera berangkat menuju tempat tujuan mereka. Bukit dimana Ruby mempunyai kenangan manis bersama Hiko.
Jalanan begitu padat sore itu karena berbarengan dengan jam pulang kerja, membuat perjalanan mereka tak terlalu lancar. Adzan magrib menjeda perjalanan mereka, Hiko menepikan mobilnya disebuah masjid besar yang ada ditepi jalan raya.
Mereka bertiga pergi melaksanakan sholat magribnya berjamaah dengan pengunjung masjid lainnya. Ruby selesai lebih dulu, ia menunggu di sebuah bangku yang ada di halaman masjid.
Dari jauh ia melihat bapak muda yang ganteng dengan putra kecilnya keluar dari masjid dengan wajah bersinar, senyum mengembang lebar di bibir Ruby, hatinya terlihat damai melihat pemandangan itu. Hiko mendidik Almeer ilmu agama dengan baik, waktu mengubah pria itu menjadi seorang yang bertanggung jawab.
Ah, detak jantungnya semakin berdebar cepat kala pria itu berjalan menghampirinya dengan senyuman yang bisa membuat hati para wanita manapun luluh.
Ruby segera menundukkan wajahnya, menyembunyikan pipinya yang mungkin sudah bersemu merah lantaran malu dengan sendirinya. Astaqfirullahaladzim, ucapnya dalam hati. Ia sedang tidak bisa mengontrol hatinya.
"Kenapa, By?" tanya Hiko khawatir.
"Gak apa, Mas." Ruby menggeleng dengan kepalanya yang masih menunduk.
"Mama Ruby sakit?" tanya Almeer, "Mukanya merah."
Ruby semakin menunduk dan menggeleng. "Enggak, Sayang. Mama baik-baik aja, kok."
"By ...," Hiko menahan senyumnya, ia tahu betul apa yang terjadi dengan wanita itu. "Aku boleh aja menua, tapi gantengku gak akan hilang. Ya, kan?"
Ruby menatap Hiko, ia menyebikkan bibirnya sambil menahan senyumnya. "PeDe banget kamu, Mas."
"Nih, apalagi habis kena air wudhu. Makin cakep!"
"Congkaknya tetep gak berubah ya walau tambah tua?"
Hiko tersenyum gemas, ia hampir tak bisa menahan tangannya yang sangat ingin menyentuh pipi Ruby.
"Udah, yuk. Berangkat." Ajak Ruby.
Hiko mengangguk, mereka pun beranjak ke mobil dan melanjutkan perjalanan.
Tak butuh waktu lama mereka sampai disebuah pelataran parkir. Lebih ramai dan lebih bagus dari terakhir Ruby dan Hiko kesini beberapa tahun lalu.
Almeer terlihat senang sekali, ia berlari sambil meloncat-loncat kegirangan. Bukan karena ini pertama kalinya ia kemari, justru ia sering menghabiskan waktu berdua disini bersama papanya. Yang membuatnya senang karena kali ini ia merasa keluarganya lengkap. Ia tak perlu iri melihat jika anak lain datang bersama mamanya.
"Al, lihat jalannya. Hati-hati." Hiko memperingatkan.
Almeer hanya menganggukkan kepalanya dan mengacungkan jempolnya kemudian melanjutkan langkahnya memandu jalan menuju tempat favoritnya.
"Almeer senang sekali, Mas. Baru pertama kali kesini?" tanya Ruby.
Hiko menggeleng, "Aku sering ajak dia kemari, By. Mungkin kali ini berbeda." Hiko menatap Ruby, "Karena ada kamu, ia pasti merasa keluarganya lengkap."
Ruby tak tahu harus senang atau sedih mendengar jawaban Hiko.
"Aku tidak akan membahas hal itu. Kita harus bersenang-senang kali ini." Ujar Hiko.
Mendengar itu Ruby langsung tersenyum dan kembali melangkah bersama Hiko menuju tempat duduk yang biasa Almeer dan Hiko tempati. Bersyukur tempat favorit itu belum ada yang menempati.
keduanya duduk dan seorang pelayan menghampiri mereka untuk memesan menu yang dipilih. Usai menerima pesanan, Pelayan pun segera pergi untuk menyiapkan menu yg dipilih pelanggannya.
"Tuh kan, kalau gini asyik. Ada Papa, ada Mama dan ada Almeer. Lengkap kan, Pa!" Cetus Almer tiba-tiba.
Hiko tersenyum dan mengusap kepala Almeer.
"Kapan Mama Ruby akan tinggal dengan kami? Almeer udah gak sabar."
Ruby terdiam menatap Hiko, kali ini sorot mata Hiko juga mempertanyakan hal yang sama. Hal itu membuat Ruby semakin tersudut dan bungung.
-Bersambung-
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, comment, vote dan bintang limanya ya kakak. Terimakasih.