
Setelah pembicaraan panjang semalam membuat Ruby dan Hiko tak saling bertegur sapa pagi ini. Ketika Ruby pergi untuk sarapan di dapur, Hiko memilih menghindari Ruby dan pergi kembali ke kamarnya. Walau cukup canggung, tapi Ruby lebih memilih seperti ini dengan Hiko.
Usai sarapan, Ruby bergegas berangkat ke kantor dengan menggunakan ojek online. Hiko hanya menatap kepergian Ruby dari cendela kamarnya. Dia diam, sedang menyesal telah melukai perasaan wanita itu.
Ia keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Ruby, mengembalikan memorinya tentang semua kejadian semalam. Semua kalimat yang keluar dari bibir Ruby seakan terputar ulang disana.
"Kurasa aku sudah masuk terlalu jauh di hubungan ini mas, aku takut melibatkan perasaanku terlalu dalam disini dan tidak bisa mengendalikannya. Aku bisa saja terluka melihat kamu bersama wanita lain, tapi aku tidak punya hak melarang keinginanmu. Aku sadar siapa aku, dimana posisiku."
Kalimat itu yang masih jelas teringat dikepalanya. Membuatnya menyimpulkan sesuatu, Apakah Ruby punya perasaan ke gue? Batinnya.
Ia mengambil bingkai foto dimana ada Ruby dan Nara disana. Ia terkekeh kecil, menertawakan pikirannya tentang perasaan Ruby padanya. Bisa-bisanya dia menyimpulkan hal konyol seperti itu. Mengingat seperti apa pria yang sangat dicintai Ruby, dibandingkan dengan bayangan Iqbal saja ia tak pantas.
"Lo ngapain pagi-pagi disini?"
Suara Genta mengejutkan Hiko. Ia meletakkan bingkai foto kembali ke tempatnya.
"Lagi galau pilih siapa?" Tanya Genta ketika melihat bingkau foto yang baru saja diletakkan Hiko.
Hiko beranjak keluar kamar Ruby dan menuju ke balkon, ia duduk di sebuah kursi rotan menatap ke langit pagi yang dihiasi beberapa awan mendung disana. Genta ikut duduk di kursi rotan yang lainnya.
"Lo beneran ngehabisin waktu di Jogja sama Ruby?" Genta memulai pertanyaan seriusnya.
Hiko mengangguk. "Dia minta cerai dari gue." Ucap Hiko tanpa mengalihkan pandangannya.
"Hah! Secepat ini? Lo apain dia, Ko?"
"Dia denger waktu gue ngeyakinin Nara, mungkin dia denger waktu gue bilang ke Nar kalo gue cuma iseng aja jalan sama dia."
Genta mendengus kesal, "Lo cuma ajak dia jalan dan lo bilang itu cuma iseng, dia minta cerai? Wooooh, beda kelas banget ya kalau sama anak pak kyai."
"Gue cium dia."
"HAH!!"
"Gue udah beberapa kali nyium dia, dan cuma kemarin di Jogja itu yang dia gak marah."
"Gila Gila Gila Gila!" Genta berdiri mondar mandir dengan berkecak pinggang, "Lo emang the best kalau urusan cewek, sampai-sampai cewek kek Ruby bisa lo tahklukin!"
"Diem bacot! Gue lagi pusing, nih!"
"Kenapa?"
Hiko diam, ia ingin meminta pendapat Genta tapi ia sendiri tidak tahu harus cerita darimana, apa yang dirasakannya saja ia tak paham.
"Lo jawab apa waktu dia minta lo cerain dia?" tanya Genta.
"Gue gak bisa ceraiin dia." Jawab Hiko.
"Kenapa?"
"Ya karena gue gak mau?"
"Gak mau kenapa?"
Hiko kesal dengan pertanyaan Genta, "Lo mau jadi penyidik?" Tanya Hiko.
"Gue cuma pengen tahu alasan lo aja!"
"Kan udah gue jawab karena gue gak mau."
"Itu bukan alasan, Ko!"
"Terserah lo aja! Males gue ngomong sama lo!" Hiko berdiri dan kembali ke kamarnya.
Genta terus tersenyum melihat tingkah Hiko. "Gengsi aja digedein! Awas aja kalo terlambat sadarnya!" Gumam Genta.
************
Inwork Studio.
Semua tim Animator sudah berada dibalik meja masing-masing. Sudah disibukkan dengan pengerjaan proyek film animasi mereka. Semua wajah nampak serius, hampir tidak ada yang bsrkerja sambil mengobrol, hanya alunan musik yang mencoba untuk mencairkan suasana kantor.
Terlihat Abriz dengan wajah babak belurnya tetap bekerja dengan serius. Walau kedatangannya tadi bagi sempat membuat heboh semua orang.
Tiba-tiba saja Lena-sekretaris Heru datang menghampiri meja kerja Ruby.
"Mbak Ruby, bisa datang ke ruangannya pak Heru?"
Ruby terlihat kebingungan, tapi ia mengangguk. Menyimpan semua file yang sudah dikerjakannya, kemudian pergi mengikuti Lena.
Tok tok tok,
Lena mengetuk pintu ruangan Heru, memberi tanda jika dirinya akan masuk.
"Mbak Ruby disini, Pak." Kata Lena.
"Oh, Iya! Suruh masuk, Len." Ucap Heru.
Lena mengangguk, "Silahkan, Mbak." Ia mempersilahkan Ruby untuk masuk.
"Permisi." Ucap Ruby ketika masuk.
"Ayo, By. Duduk dulu." Ucap Heru.
Ruby melihat ada dua orang pria paruh baya dengan bentuk wajah khas orang jepang disana. Ia duduk di sofa yang terpisah dengan para tamu itu.
"Kenalkan, By. Ini Tuan Nakamoto dan Tuan Izizaki."
__ADS_1
Ruby mengapitkan kedua telapak tangannya didepan mulutnya, memberi salam pada dua pria tersebut.
"Mereka perwakilan dari salah satu studio animasi terbesar di Jepang, By." Ucap Heru.
Ruby tersenyum dan sedikit membungkuk, "Ohayo gozaimasu. Hajimemashite, Ruby desu. Douzo yoroshiku." Ruby memperkenalkan dirinya menggunakan bahasa jepang.
"Kami bisa berbahasa indonesia dengan sangat fasih, Nona Ruby." sahut Pria gemuk dengan banyak uban dirambutnya, "Saya Nakamoto. Dan ini, adik Saya Izizaki." Ia menunjuk pria bertubuh kurus disampingnya.
"Saya, Izizaki. Senang bisa bertemu denganmu." Ucap Ruby
Ruby mengangguk.
"Mereka kesini karena tertarik dengan bakat-bakatmu, By." Ucap heru, "Mereka ingin kamu bekerja di studio animasi mereka."
Ruby terkejut, "Di Jepang?"
"Iya!" Tiga orang itu mengangguk kompak.
Nakamoto memberikan sebuah kartu nama dengan bertuliskan 'Sunrise Animation'pada Ruby, Ia hampir melompat kegirangan menerima kartu nama itu.
"Kami juga akan menangung sekolah S2 mu jika kamu mau berkarir bersama kami." Tambah Izizaki.
"Sebenarnya berat aku mengatakan ini, kamu salah satu animator terbaik yang ku miliki. Tapi, aku juga tidak bisa egois karena ini menyangkut karir kamu." Ujar Heru.
Ruby tak berhenti mengembangkan senyum dibibirnya, ia terlalu senang sampai tidak bisa berkata apa-apa. Itu impiannya.
"Kami juga ingin merekrut pemilik komik Go Hanae, Yuwen!"
"Yuwen??" Ruby setengah berteriak mendengar nama itu disebut, Benarkah aku bisa bekerja dengan idolanya? Ya Allah, begitu besar nikmat yang engkau berikan kepadaku. Batin Ruby.
"Tapi kami terlalu sulit menghubunginya, dia terlalu sedikit membuka data pribadinya." Kata Nakamoto.
Ruby menatap Heru, "bukannya mas Abriz bisa membantu Tuan Nakamoto dan Tuan Izizaki, Pak?" tanya Ruby.
Heru mengangguk, "mereka sudah melakukannya, tapi belum ada satupun balasan dari Yuwen."
Ruby hanya mengangguk-angguk.
"Bagaimana dengan tawaran kami, Nona Ruby?" Tanya Nakamoto.
Ruby menatap Heru. Ia merasa tidak enak jika harus meninggalkan Inwork Studio. Heru sudah memberikan banyak peluang padanya.
"Jangan menatapku seperti itu. Kamu gak perlu merasa tidak enak padaku. Aku senang jika kamu bisa sukses disana, biar aku bisa membanggakan pada orang-orang pernah punya pegawai sekreatif kamu. Hahahaha." Ujar Heru. "Baiknya kamu bicarakan ini dengan suami dan keluargamu."
Deg!
Seketika Ruby teringat bahwa dia sekarang adalah seorang istri. Mau tidak mau dia harus meminta ijin pada Hiko.
Nakamoto memberikan satu map folder berisikan kontrak perjanjian kerja. "Kamu bisa baca terlebih dahulu kontrak ini, kami menawarkan kontrak perjanjian kerja bersama kami selama tiga tahun."
Lama juga, ya? batin Ruby.
Ruby mengambil map folder tersebut membuka lembar demi lembar tanpa membacanya.
"Kami sangat berharap kamu bisa bekerja dengan kami, Nona Ruby." Ucap Izizaki.
Ruby mengangguk, "Saya akan bicarakan dengan suami dan keluarga saya terlebih dahulu."
Nakamoto dan Izizaki mengangguk.
"Terimakasih dan maaf jika kami harus membuang waktu kerjamu dengan percakapan ini." Kata Nakamoto.
"Tidak, Tuan. Saya senang karena anda memberi saya peluang emas ini." Jawab Ruby.
Ruby berdiri, "Saya akan kembali bekerja." Pamit Ruby
"Iya, By." Jawab Heru, Nakamoto dan Izizaki hanya mengangguk.
Ruby bergegas keluar, ia melompat kegirangan sambil memeluk map foldernya. Tak peduli Lena sedang memperhatikannya keheranan. Ruby hanya tersenyum, tanpa memberi penjelasan ia berlari masuk ke ruangannya.
"Kenapa, By?" Tanya seorang temannya ketika melihat Ruby masuk dengan wajah berseri-seri.
Ia tak menjawab dan hanya langsung pergi ke meja kerjanya. Ia memeluk map folder yang diletakkannya diatas meja, menenggelamkan wajahnya diantara dada dan lengannya hingga memancing rasa penasaran teman-temannya.
"By, Kenapa kamu?" Tanya Irma.
Ruby hanya menggelengkan kepalanya.
"Lo dipecat?" Tanya Tasya.
Ruby menggeleng. Ia mengangkat kepalanya. menunjukkan map folder bergambar beberapa tokok anime dan bertuliskan Sunrise Animation dilengkapi dengan huruf hiragana pada teman-temannya.
"Aku dapat tawaran kontrak dengan Sunrise Animation Jepang!" Ujarnya Riang.
"Hwaaaaaah!!" Seru teman-temannya antusias.
"Kereeeen, By!"
"Beruntung kamu, By."
"Aku juga mau kesana ..."
Riuh ruang animator, berbeda sekali dengan suasanya sebelum Ruby pergi ke ruangan Heru. Ia senang ternyata teman-temannya juga senang mendengar kabar bahagia itu.
Ruby bekerja lebih semangat hari ini. Cuaca mendung, kegelisahan hatinya tentang permasalahannya dengan Hiko dan Nara seakan terhapus karena penawaran dari Sunrise Animation.
**********
__ADS_1
Hujan turun deras sore ini, semua taxi online maupun ojek onlinesedang sibuk-sibuknya jika hujan begini. Ruby memilih pulang mengenakan busway. Dengan diantar Tasya, ia pergi ke halte busway. Beruntung perumahan tempat tinggal Hiko tak jauh dari halte busway.
Ruby tiba di halte tujuannya, hujan masih turun deras disana. Ia memilih untuk menunggu sedikit reda, karena ia tak membawa payung.
Hari hampir gelap, rintik hujan sudah tak sederas tadi. Ruby memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam perumahan. Banyak kendaraan yang lalu lalang disana, tapi perhatiannya tertuju pada sebuah sedan putih yang sangat ia kenali sedang melintas mendahuluinya.
Ah, rasa bahagia Ruby hilang seketika saat mengingat siapa pemilik mobil itu.
Hujan kembali turun lebih deras, membuat Ruby berlari dan berteduh didepan toko yang sedang tutup.
Hari semakin gelap, Ruby enggan jika harus menunggu reda. sedangkan rumah Hiko masih jauh dan dia tidak mau jika harus berjalan sendirian di malam hari. Akhirnya ia memutuskan untuk nekat menerjang hujan.
Sampai di rumah. Ruby segera mandi dan melaksanakan sholat magrib. Setelah itu dia mengeluarkan barang-barangnya dari dalam tasnya yang basah. Beruntung tak ada satupun yang basah disana, terutama kontrak kerja dari Sunrise Animation.
"Hatchih!"
Ruby merasa tubuhnya tidak enak, hidungnya terasa gatal dan kepalanya sedikit pening.
"Kehujanan dikit aja udah flu." Batin Ruby. Ia menjajarkan semua isian tasnya diatas meja kerja. kemudian membawa tasnya untuk di jemur dihalaman belakang.
Ruby mencari obat flu di dalam kotak obat, tapi ia tak menemukan apapun. Akhirnya ia memilih untuk membuat teh hangat saja untuk menghangatkan badannya kemudian lanjut istirahat dikamarnya.
"Hatchih!"
Suara bersin Ruby terdengar hingga ke kamar Hiko, membuat Hiko geram ingin menghampiri wanita itu. Tapi ia malas jika harus berdebat dengan Ruby. Biarkan saja, ntar juga berhenti sendiri. Katanya pada diri sendiri.
Hari semakin malam, hujan pun tak kunjung berhenti. Hiko keluar kamar untuk makan malam. Ia melihat semua makanan masih utuh, Ruby belum menyentuhnya. Tiba-tiba saja ia merasa khawatir mengingat suara bersin Ruby tadi.
Ia kembali ke lantai dua, kamar Ruby sudah gelap terlihat dari ventilasi diatas pintu kamarnya. Hiko membuka pelan pintu kamar Ruby, ternyata pemilik kamar itu sudah terlelap dibawah selimut tebal.
Hiko melangkah masuk mendekati Ruby, dalam gelap ia melihat kilau bercahaya di kening Ruby. Itu bulir keringat yang terkena cahaya dari luar cendela kamar, membuat Hiko menyalakan lampu kamar Ruby. Dan benar saja, banyak keringat dingin mengumpul di kening Ruby, ia mengambil tisu diatas nakas dan mengelapnya.
"Demam?" Gumamnya ketika menyentuh kening Ruby. "Ck! Sial! Keras kepala banget sih jadi cewek! Udah sakit gini nyusahin orang."
Hiko pergi ke dapur, menghangatkan air untuk mengompres Ruby. Ia juga mengambil obat demam yang diberikan Ruby padanya saat di Jogja kemarin.
Sebuah handuk hangat yang menempel di kening Ruby membuat gadis itu terbangun. Matanya memicing melihat Hiko yang sedang duduk disampingnya. Ia menepis tangan Hiko pelan.
"Diem. nurut aja! Lo sakit! Gak usah keras kepala." Kata Hiko.
Ruby memejamkan matanya pasrah.
Hiko meninggalkan Ruby ke dapur mengambilkan makan malam untuk Ruby dan segera kembali ke kamar Ruby, sebelum wanita itu terlelap kembali.
"Duduk, gih. Makan malam dulu, trus minum obat." Hiko sedikit memaksa menarik badan Ruby untuk duduk.
"Aku mau tidur aja, Mas." Kata Ruby.
Hiko meletakkan sepiring nasi diatas pangkuan Ruby, "Mau lo makan sendiri apa gue suapin?" Tanya Hiko.
"Aku bisa sendiri." Kata Ruby.
Hiko menunggu Ruby untuk melahap makanannya, hanya beberapa suap kemudian Ruby meletakkan piringnya diatas nakas. Hiko memberikannya beberapa obat dan segelas untuk diminum Ruby.
"Terimakasih, mas bisa keluar. Aku ingin tidur." Kata Ruby.
Hiko berdiri, tidak keluar kamar tapi berpindah tempat duduk di kursi meja kerja Ruby.
"Kalo lo tadi ikut gue gak bakalan sakit kaya gini." Ia memperhatikan barang-barang Ruby yang terjajar diatas meja.
Mata Hiko langsung tertuju pada map folder, dari judul depannya ia bisa melihat itu kontrak kerja. Rasa penasaran membuat Hiko membuka beberapa lembar isi map folder itu. Sebuah kontrak berbahasa inggris dengan nama Ruby dan perusahaan Jepang.
Menyadari hal itu, Ruby turun dari tempat tidur dan mengambil kontrak kerja itu dari tangan Hiko dan menyembunyikan dibalik badannya.
Hiko menatap Ruby curiga, "Lo mau ke Jepang?" Tanya Hiko.
"Bukan urusan, Mas." Jawab Ruby, "Mas bisa keluar dari kamar ini. Aku ingin beristirahat."
"Berapa lama?"
Ruby diam.
"Gue tanya berapa lama!?" Tanya Hiko setengah berteriak.
"Ini urusan pribadiku, Mas."
"Gue gak ijinin lo pergi!"
"Aku akan tetap pergi dengan atau tanpa ijin darimu, Mas." Tegas Ruby.
Lagi lagi mereka hanya saling menatap dalam diam. saling mencari arti dalam tiap-tiap sorot mata itu. Rintik hujan dan dentik jarum jam menjadi satu-satunya pengisi suara untuk membunuh kesunyian diruangan itu.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Udah kelihatan belom nih sampai sini siapa yang bakal jadi jodohnya Ruby?
Like, comment dan vote dari kakak kakak sangat ku tunggu..
__ADS_1
Terimakasih kakak..