Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
29


__ADS_3

Mohon maaf yaaa kemarin tidak bisa up karena authornya lagi bersibuk ria..


***


Statement yang dikatakan oleh Maria dalam sekejap sudah menjadi tranding di sosial media dan ditampilkan di berita-berita gosip televisi. Pantas saja ketika jam makan siang membuat Ruby menjadi pusat perhatian teman-teman kantornya.


"Apa ada yang salah dengan pakaianku?" Tanya Ruby ketika tiba di atap gendung kantornya.


Walau dia sedang berpuasa, tak membuatnya berdiam diri didalam ruangan seorang diri. Ia tetap pergi ke tempat favoritnya bersama Tasya dan Irma yang sedang menikmati makan siang mereka.


"Ih, ini yang mau ku tanyain dari tadi, By." Kata Irma.


"Kenapa?" Ruby panik merabai kerudung hingga kemejanya.


Irma menyodorkan ponselnya.


"Kok ada fotoku sama mas Hiko?" Ruby mengambil ponsel Irma dan melihat caption pada postingan salah satu akun gosip di Instagram.


"Lo ada hubungan apa sama Hiko, By? Beneran kalian mau nikah? Bukannya calon suami lo juga anak kyai?" Tasya mencecar Ruby dengan pertanyaan yang sudah ia simpan sedari tadi.


Ruby meraba ponselnya di saku roknya namun tidak ia temukan, "Maaf ya, Aku ke bawah dulu ambil hape ku."


Ruby bergegas meninggalkan Tasya dan Irma yang sudah menunggu penjelasan darinya. Ia pergi kembali ke mejanya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.


Tak ada seorang pun di ruang Animator saat itu, hanya ada Ruby yang sedang mengambil ponselnya. Ia mencoba menghubungi Nara untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya, tetapi ponsel Nara tidak aktif.


"By!"


Ruby terkejut ketika tiba-tiba Heru masuk ke dalan ruangan.


"Ya, Pak?" Ruby meletakkan ponselnya dan menghadap Heru.


Heru menyandarkan pantatnya di pinggiran meja yang ada di depan Ruby, wajahnya serius dengan kedua tangannya yang masuk ke dalam saku celananya.


"Aku tidak tahu kalau kamu sedekat itu dengan Hiko?" Heru menatap Ruby penuh curiga.


"Saya tidak terlalu dekat dengannya, pak. Saya sendiri juga heran kenapa bu Maria memberikan pernyataan seperti itu."


"Aku tahu, pasti itu alasan yang dibuat manajernya Hiko untuk menjaga nama baik artisnya."


Ruby sedikit terkejut dengan dugaan Heru. "Bagaimana anda bisa tahu?"


Heru hanya tersenyum kemudian menatap kosong keluar cendela. "Aku sudah memutuskan untuk melepaskan Nara."


Ruby diam. Tidak sedih, senang juga tidak. Ia hanya tak tahu harus menjawab apa.


"Seharusnya aku melepaskan Nara sejak dulu." Ucap Heru lagi, pandangannya masih tak berpaling dari cendela. "Aku sudah berusaha melakukan apapun untuk membuatnya mencintaiku."


"Anda tidak bisa mengambil cinta seseorang dengan paksa, pak. Apalagi dengan kekerasan. Itulah yang membuat Nara lebih memilih Hiko." Sejujurnya Ruby kesal dengan Heru yang berani menyakiti sahabatnya.

__ADS_1


Heru terkejut dengan ucapan Ruby.


"Maaf, saya bicara terlalu jauh." Ucap Ruby menyesal.


"Tidak, By. Bukan itu yang ku maksud." Heru menggelengkan kepala dan menegakkan posisi duduknya. "Apa maksudmu dengan ku yang melakukan kekerasan?"


Ruby terlihat ragu ingin mengatakannya. "Maaf sebelumnya, pak. Bukan lancang ingin ikut campur dalam rumah tangga anda dan Nara. Tapi saya tidak setuju ketika anda tidak mendapatkan apa yang anda inginkan membuat anda memiliki alasan untuk menyakiti fisik Nara."


Heru terbelalak, "Maksudmu, aku melakukan KDRT?" Tanya Heru


Ruby mengangguk, "Nara pernah bercerita pada saya."


"Ck!" Heru berdecak kesal, "Bisa-bisanya dia bicara seperti itu. Sekalipun aku belum pernah menyentunya selama aku dan dia menikah."


"Apa?" Kini giliran Ruby yang terkejut.


"Aku tidak pernah menyentuhnya, sama sekali tidak pernah. Aku tahu sejak awal dia mencintai orang lain. Ku pikir seiring berjalananya waktu, aku bisa membuatnya mencintaiku. Tapi sampai sekarang itu semua masih saja menjadi harapan yang tidak pernah terwujud."


Ruby menatap Heru tak percaya, siapa diantara Heru dan Nara yang membohonginya.


"Aku tidak memaksamu mempercayaiku. Aku hanya sedang menceritakan apa yang ku alami." Heru menjawab tatapan Ruby.


"Jadi, anda sudah tahu hubungan Nara dan Hiko sejak awal?" Tanya Ruby.


Heru menggeleng, "Setahun yang lalu aku memutuskan untuk mencari tahu kebenarannya. Awalnya aku hanya menutup mata dan telinga, berusaha membohongi diri sendiri bahwa Nara akan kembali padaku. Tapi, ternyata aku tetap tidak kuat melakukannya. Dan ku putuskan mencaritahu semuanya."


Ruby dibuat kagum dengan Heru yang berusaha mempertahankan rumah tangganya walau sebenarnya dia sudah sangat kesakitan.


"Apa anda akan mempublikasikan hubungan mereka?" Ruby balik bertanya


Heru menggeleng, "Aku memang sempat kesal kemarin, ketika harus memukul Hiko dan membongkar perselingkuhan mereka didepan umum. Aku terlalu kekanak-kanakan. Ku kira dengan begitu akan membuat Nara merasa bersalah dan akan kembali padaku, tapi hal itu malah membuatku tidak pernah bisa bertemu dengannya lagi."


"Saya memang sahabat Nara, saya sangat menyayanginya. Tapi itu bukan alasan untuk saya membenarkan perselingkuhannya. Jika dia memang sudah berpisah dengan anda, saya mendukung Nara untuk mendapatkan kebahagiaan." Jawab Ruby atas pertanyaan Heru sebelumnya.


Heru tersenyum tipis, senyum yang mencoba menerima kenyataan dengan ikhlas.


"Apa anda akan memecat saya?" Tanya Ruby.


"Hahaha," Heru tertawa kecil mendengar pertanyaan itu, "Apa alasanku untuk memecatmu? Selama ini kerjamu bagus dan sangat memuaskan."


Ruby bersyukur dalam hati, ia takut jika dia akan kehilangan pekerjaan yang sudah dia idam-idamkan selama ini hanya karena pemilik perusahaan ini bercerai dengan sahabatnya.


"Anda benar-benar ingin melepaskan Nara, pak?" Tanya Ruby.


Heru mengangguk, "Bukankah aku juga berhak bahagia dengan orang yang bisa membalas perasaanku?"


"Ah, iya betul."


"Mencintai memang mudah, By. Tapi aku baru sadar, bertahan dengan mencintai tanpa balasan itu bodoh. Karena aku sudah menyiksa diriku sendiri, menahan sakit sendiri dan tidak memberikan diriku sendiri kesempatan untuk bahagia."

__ADS_1


Heru melepaskan lipatan tangannya dan tersenyum pada Ruby, "Terimakasih sudah mendengarkan ceritaku." Ia menunduk dan mengusap bagian belakang kepalanya. "Aku malah membicarakan urusan pribadi denganmu saat jam kantor, membuatmu kehilangan jam makan siang."


Ruby hanya tersenyum.


"Aku akan pergi. Aku titip maaf padanya, karena aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untuknya. Semoga Tuhan selalu memberkati dan menyayanginya."


"Aamiin, akan saya sampaikan pesan dan doa anda pada Nara."


Heru tersenyum dan meninggalkan ruang animator.


Ruby menatapi punggung pria bertubuh tinggi itu meninggalkan ruangan timnya. Dia tidak menyangka jika rumah tangga sahabatnya menyimpan banyak luka dari satu dengan lainnya dan kini mereka memutuskan untuk saling merelakan dan melepaskan untuk menggapai kebahagiaan mereka masing-masing.


Ruby kembali melihat ponselnya dan berusaha menghubungi Nara, namun Nara masih belum menyalakan ponselnya. Ruby memilih untuk mengiriminya pesan agar Nara menghubunginya kembali jika sudah menerima pesan darinya.


**********


Seorang pria yang memakai setelan jas biru tua dengan kemeja putih baru saja turun dari sebuah mobil sedan mewah berplat merah. Ketukan sepatu pantofel yang sedang mengegahi lantai marmer menggema ke sudut-sudut rumah mewahnya.


Ia melonggarkan dasi dan membuka kancing atas kemejanya, wajahnya terlihat keras dan beku, tatapan matanya tajam bak elang yang sudah siap menerkam mangsanya.


"Loh, Papa kok sudah pulang?"


"Kenapa Mama seenaknya saja memberikan statement pada wartawan? Bahkan sampai menunjukkan foto putri Kyai Abdullah pada mereka?" Hardik Handoko ketika melihat istrinya.


Melihat Handoko yang baru datang tiba-tiba mengharsiknya membuat Maria menanggalkan senyumnya.


"Mama kan bicara sesuai fakta, Pa. Apa yang salah? Lagian ibu mana yang tidak marah mendengar orang lain menjelek-jelekan anaknya." Jawab Maria.


"Tapi mama gak bisa seenaknya menyebut nama Ruby, apalagi sampai menunjukkannya pada wartawan. Pakai kalimat calon istri pula? Bagaimana jika Kyai Abdullah melihatnya, Ma? Ngelamar saja belum, sudah bilang seperti itu. Papa jadi tidak enak dengan beliau."


"Ya sudah, kita lamar saja Ruby buat Hiko! Toh Mama juga suka dengan Ruby!" Tantang Maria.


Handoko menarik nafas panjang mendengar perkataan istrinya. "Mama gak malu kalau lamaran kita di tolak?"


Maria mengernyitkan keningnya.


"Bagaimana bisa seorang kyai besar melepaskan putrinya yang sholehah pada laki-laki yang minim pendidikan agamanya, urakan dan susah diatur seperti Hiko?"


Ucapan Handoko cukup membuat Maria mengunci mulutnya. Dalam benaknya ia memang membenarkan kata-kata suaminya. Ia terlalu menyukai Ruby sampai melupakan sifat dan sikap putranya.


-Bersambung-


.


.


.


.

__ADS_1


.


Authornya gak pernah lelah buat nyuruh readers like, comment dan vote. hehehe.


__ADS_2