Sang Pemilik Kehormatan

Sang Pemilik Kehormatan
58


__ADS_3

Mobil sedan putih milik salah satu brand ternama kembali menyusuri halaman pesantren Darul Hikmah. Mobil itu terhenti di halaman rumah pemilik pesantren. Pria tinggi dengan memakai kaos putih dan celana jeans hitam itu keluar dari mobil, menyita perhatian beberapa santri yang sedang membersihkan halaman rumah pemilik pesantren.


"Assalamu'alaikum, Mas." Ramah pria itu menyapa para santri yang dilewatinya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Sahut para santri.


Ia melepas sepatu yang dikenakannya dan menapaki teras rumah yang masih basah bekas air hujan semalam.


"Nak Hiko?"


Kyai Nur yang baru saja akan keluar rumah mendapati Hiko berada di teras rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Pak Kyai." Hiko mencium tangan Kyai Nur.


"Wa'alaikumsalam, Ayo masuk-masuk. Mau jemput Ruby. ya?"


Hiko mengangguk, "Iya, Pak Kyai. Mau antar Ruby ke kantor juga."


Kyai Nur mempersilahkan Hiko duduk, "Masih baru selesai sarapan, mungkin masih ganti baju dia." kata Kyai Nur, ia menatap Hiko yang duduk didepannya itu.


Hiko duduk santun menunduk dan kedua tangannya terpangku diatas pahanya, memgadu pelan kedua ujung ibu jarinya.


"Kamu dulu mondok dimana?"


Deg!


Hiko terkejut dengan pertanyaan Kyai Nur, tapi ia tetap harus menjawab pertanyaan itu.


"Saya mondok di Darunnajah, Bandung, Pak Kyai." Jawab Hiko


Kyai Nur tersenyum, "Berapa taun di pondok pesantren Almarhum Kyai Hasanudin?"


"Enam tahun, Pak Kyai."


"Lama, Ya?"


"Iya, Pak Kyai." Hiko sedikit mendongakkan kepalanya. "Bagaimana Pak Kyai bisa tahu jika saya pernah mondok?"


"Hahahahaha." Kyai Nur tertawa, "Dari caramu jalan, bersalaman, berbicara dan memandang sudah terlihat jika kamu pernah jadi santri."


Hiko mengangguk, dalam hati dia sedang mengutuk dirinya sendiri karena sudah mengajukan pertanyaan bodoh. Tapi tetap saja, memang berbeda rasanya jika bicara dengan seorang Kyai.


"Mas kenapa kesini?" Ruby yang sudah siap dengan tas ransel dipunggungya terkejut melihat Hiko sadang bercengkrama dengan paklek-nya.


"Jemput kamu lah." Jawab Hiko.


Ruby terdiam menatap Hiko.


"Alhamdullillah, kamu ada yang ngantar, By." Ucap Nyai Fatimah yang muncul dari belakang bersama Nyai Hannah. "Gak perlu desak-desakan naik Trans Jakarta."


"Assalamu'alaikum, Ummi, Nyai." Sapa Hiko pada Nyai Hannah dan Nyai Fatimah.


"Wa'alaikumsalam, Nak."


"Pulang jam berapa semalam?" Tanya Nyai Hannah.


Hiko menatap Ruby terlebih dahulu sebelum menjawab, "Baru pulang ini tadi dan langsung kesini, Ummi."


"Semalam gak tidur, dong?" Tanya Nyai Hannah lagi.


"Sempat tidur sebentar, Ummi."


Ruby pergi memakai sepatunya diteras rumah, sedangkan Hiko berpamitan dan pergi mengikuti Ruby.


"Ruby berangkat dulu ya Ummi, Paklek, Bulek." Pamit Ruby.


"Iya. Hati-Hati."


"Assalamu'alaikum..." Ucap Ruby dan Hiko sebelum meninggalkan teras rumah.


"Wa'alaikumsalam."


Ruby dan Hiko masuk ke dalam mobil, dan segera meninggalkan halaman pesantren Darul Hikmah.


Mobil mulai memasuki jalanan yang padat, Ruby tetap diam dengan pikirannya yang sedang berkecamuk. Ia sedang mencoba berdamai dengan diri sendiri untuk menghadapi pria yang sedang fokus mengemudikan kendaraan itu. Ruby mendengar percakapan antara pakleknya dan Hiko di ruang tamu tadi, Bagaimana dia bisa percaya dengan mudah jika pria itu pernah menjadi seorang santri setelah melihat kelakuan bejatnya.


"Gue gak ngapa-ngapain sama Nara semalam." Hiko membuka pembicaraan.


Ruby menatap Hiko, Siapa sebenarnya pria ini? Batin Ruby, ia mengacuhkan penjelasan yang baru saja keluar dari mulut Hiko.


"Kenapa? Lo gak percaya?" Hiko menatap Ruby sejenak, "Gue sendiri juga bingung, kenapa akhir-akhir ini gue gak mood nge-sex sama Nara!"


"Ih, Bicaranya. Fulgar banget sih!" Protes Ruby.

__ADS_1


"Banyak yang lebih fulgar. Itu bahasa internasional, banyak orang yang pake kata itu." Bantah Hiko.


"Kok bisa orang lulusan pesantren bicaranya kaya gitu."


Ups!


Ruby keceplosan.


"Lo nguping pembicaraan gue sama Kyai Nur, ya?" Protes Hiko.


Ruby memalingkan muka, "Gak sengaja kedengeran."


"Tapi lo lanjut ngedengerin, jadi namanya nguping!"


"Lagian mana ada coba santri kaya kamu! Pasti paklek tertipu sama acting kamu, Mas!" Ruby tak mau tersudutkan.


"Fa'ala yaf'ulu, fa'lan wa maf'alan, fahuwa faa'ilun, wa dzaaka maf'uulun uf'ul, laa taf'ul maf'alun, maf'alun mif'alun."


Ruby terkejut mendengar penuturan wazannya dari ilmu tasrif fi'il tsulatsi mujarrad yang memang wajib dipahami para santri.


"Kaget?" Tanya Hiko.


Ya, Ruby sampai tak bisa berkata apa-apa. Ia memilih diam menatap lurus ke jalan. Apa benar kata umminya semalam, jika ia harus mengenal Hiko lebih jauh?


*********


Siang ini Ruby makan siang bersama Tasya dan Irma seperti biasa. Ada rasa penasaran dibenak Tasya dan Irma sedari tadi, mereka penasaran dengan sikap Ruby yang tidak terlalu bersemangat seperti biasanya. Lebih banyak diam seakan memikirkan banyak hal.


"Cerita, By. Jangan dipendam sendiri, lo kan punya gue sama Irma." Kata Tasya.


Ruby tersenyum, "Aku cuma lagi terkejut aja mbak dengan kejadian yang ku alami pagi ini." Ucapnya sambil mengunyah makanannya.


"Kejadian apa, By?" Tanya Irma antusias.


"Menurut kalian masuk akal gak sih kalau ada orang, dia bekas santri tapi kelakuannya brengsek abis?" Ruby balik tanya.


"Aku belum pernah ketemu sih." Kata Irma.


"Tapi pasti ada lah, Ma. Walau kita belom pernah ketemu. Tapi pasti ada alasan kenapa dia bisa berubah." Ujar Tasya.


"Iya, betul. Pasti ada alasan." Kata Irma setuju.


"Serius amat. Ngobrolin gue ya?" Tiba-tiba Abriz masuk dalam pembicaraan ketiga cewek itu.


"Gimana kemarin?" Tanya Abriz, menanyakan kejadian kemarin sore.


"Jangan sedih gitu donk," Bujuk Abriz. "Mau gak aku DM Yuwen biar terima pertemanan kamu di Instagram?"


"Beneran?" Mata Ruby berbinar-binar.


"Ya asal kamu jangan sedih terus gitu. Gak enak dipandang." Kata Abriz.


"Tapi emang dia bakal ngabulin permintaan mas Abriz?" Tanya Ruby.


"Eh, aku sama dia ce es sekarang." Kata Abriz, ia menepuk bahunya.


"Yuwen siapa sih, By?" Tanya Irma.


"Komikusnya Go Hanae!" Jawab Ruby.


"Ya Allah, beneran mas Abriz temenan sama dia? Siapa nama akun imstagramnya? Aku mau follow juga." Irma membuka ponselnya.


Ruby mengeluarkan ponselnya dan membuka akun instagramnya untuk mencari akun Yuwen.


"Mas Abriz bilangin suruh terima akunku juga ya. Irma21." Kata Irma.


"Beres-beres." Abriz menjentikkan jarinya.


Entah kenapa hal sepele seperti itu bisa membuat Ruby bersemangat sekali. Ia bisa menyelesaikan sisa pekerjaannya yang menumpuk tadi pagi dengan cepat dan tepat sehingga dia bisa pulang tepat waktu, tak perlu lembur.


Jam pulang kantor sudah berakhir beberapa waktu yang lalu, Ruby masih merapikan mejanya sambil menunggu pekerjaan Abriz selesai. Karena ia akan memberikan setelan jas yang ia beli kemarin lusa pada Abriz.


"Ayo, By." Ajak Tasya.


"Iya, Mbak. Bentar. Nunggu mas Abriz." Jawab Ruby.


"Ngapain nunggu dia, By?" Tanya Irma yang ikut menghampiri meja Ruby.


"Kan aku mau kasih setelan jas yang kapan hari kita beli itu, Ma." Jawab Ruby.


"Belum lo kasih?" Tanya Tasya.


"Aku titipin di resepsionis kemarin, mbak."

__ADS_1


"Itu, dia udah selesai." Kata Irma, menunjuk Abriz yang sudah memakai tasnya.


"Mas Abriz! Turun bareng ya!" Ajak Ruby.


"Oke, Ayo!" Sahut Abriz.


Akhirnya Abriz, Ruby, Tasya dan Irma turun bersamaan.


"Gak biasanya kamu ngajakin pulang bareng?" Tanya Abriz pada Ruby ketika pintu lift terbuka di lantai satu. "Udah suka sama aku ya?" Goda Abriz.


Ruby hanya menatap Abriz datar, "Ada yang mau ku berikan buat mas, Abriz." Ruby tak mau menanggapi candaan Abriz.


Ruby berlari kecil menghampiri meja resepsionis untuk meminta barang yang ia titipkan kemarin pagi, kemudian kembali menghampiri Abriz, Tasya dan Irma.


"Buat gantiin jas yang diberikan Pak Heru." Kata Ruby.


"Wah, beneran!" Abriz menerima pemberian Ruby, "Tapi, bukannya kamu bilang kalau mau beliin satu toko ya, By?"


"Uangku gak cukup, Mas. Aku tidak sekaya yang kamu bayangkan." Kata Ruby.


"Coba lihat Instagram kamu deh." Kata Abriz.


"Kenapa emang?" Ruby mengambil ponsel di saku roknya.


"MasyaAllah!" Ucap Ruby terkejut.


"Kenapa, By?" Tasnya dan Irma menatap ponsel Ruby.


"Yuwen follback aku!" Ruby terlihat kegirangan, seperti anak kecil yang baru saja diberikan es krim kesukaannya.


"Kok aku enggak." Keluh Irma ketika melihat ponselnya.


"Yuwen pilih-pilih kali, Ma." Kata Abriz, "Secara Ruby juga punya komik terkenal. Lah, kamu punya apa???"


"Ih. Jahatnyaaaa."


"Makasih ya mas Abriz, udah bantu aku lebih dekat dengan idolaku." Ucap Ruby.


"Gue gak nyangka lo bisa bikin istri gue sesenang ini?"


Ruby di buat terkejut dengan kehadiran Hiko diantara mereka.


"Makanya serahin dia ke gue, gue bisa bikin dia lebih bahagia dibanding lo." Sahut Abriz.


Tasya dan Irma saling melirik, sepertinya mereka sudah berada ditempat yang salah.


"Kami pulang dulu ya, By." Pamit Tasya.


Ruby mengangguk, membiarkan ketudua temannya pergi.


"Kita sebaiknya pulang mas." Ruby menarik kaos Hiko.


Hiko melepaskan tatapannya dari Abriz, memilih pergi bersama Ruby.


"Gue gak suka lo deket-deket cowok itu!" Kata Hiko. "Lo jauh-jauh dari dia."


"Kenapa? Dia ketua tim ku."


"Kalau gue bilang jauhin ya jauhin." Tegas Hiko


"Kalau aku nyuruh kamu jauhin Nara, gimana? Kamu mau lakuin itu mas?"


Hiko menatap Ruby, "Enggak, lah! Gila aja!"


"Kenapa?"


"Gue kan sayang dia."


"Jadi aku juga harus sayang ke mas Abriz dulu biar Mas Hiko gak melarangku deket dengannya?" Tanya Ruby.


Hiko menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Ruby, ia menatap wanita yang sedang berjalan mendahuluinya itu. Ada rasa tak terima dibenaknya ketika Ruby mengatakan hal itu.


-Bersambung-


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hayooo, ada yang penasaran dengan siapa Hiko dan masalalunya? Silahkan ditebak-tebak.


Jangan lupa kasih like, coment, vote dan bintang 5 untuk novel ini ya. Terimakasih kakak.


__ADS_2